Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Ciuman Pertamaku.


__ADS_3

Nadira berjalan. Menyusul Arkana ke lantai dua. Suara-suara keras didengarnya dari arah kamar itu.


Membuatnya bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang dilakukan pria itu.


Langkah kaki Nadira dipercepat. Agar lekas sampai di kamar itu. Saat langkahnya hendak memasuki kamar. Dia terhenti dimulut pintu. Matanya terbelalak. Melihat keadaan kamar sekarang.


"Apa dia gila?" Nadira merasa jika perbuatan Arkana diluar batas wajar.


Semua barang-barang di kamar itu telah dirusak oleh Arkana. Tidak ada yang tersisa sama sekali. Selain hancur berantakan. Tidak ada kata lain yang bisa me-gambarkannya.


Arkana mengetahui kehadiran Nadira. Dia berbalik. Menatap ke arah gadis ini. Tidak! Tatapannya kosong. Tidak ke arah Nadira. Hanya saja wajahnya menatap lurus ke depan. Seolah sedang menatap gadis yang tetap berdiam di pintu.


Pria ini berjalan. Melewati Nadira yang terus memandangnya. Namun pria ini, sama sekali tidak menghiraukan itu. Sampai langkahnya terhenti. Karena Nadira menahan lengan Arkana.


Arkana tidak bergerak. Juga tidak berkata. Amarahnya sudah menyulut sampai ke ubun-ubunnya. Namun pria ini berusaha tenang. Dengan tidak bersuara sedikit pun. Dia tidak ingin membuat Nadira takut. Jika amarahnya meluap sekarang.


"Kenapa merusaknya?"


Nadira bertanya dengan lantang.


Menatap netra pria yang sama sekali enggan untuk melihatnya.


"Kenapa diam? Kamu bisu?"


Tanyanya lagi. Merasa aneh dengan sikap pria ini.


Nadira bergerak dari posisinya. Sekarang gadis ini tepat berdiri di depan Arkana. Tangan Arkana tidak dilepas sama sekali. Pria ini pun tidak berkelit dari genggaman Nadira.


"Aku menolaknya. Apa perlu dirusak? Dijual lagi kan bisa! Atau untuk kekasih mu kelak. Apa tidak bisa berpikir dengan waras?"


Kekasihku kelak? Kamu yang membuatku tidak bisa berpikir waras. Bagaimana bisa, kamu menyalahkan hatiku yang menyukaimu.


Arkana menyungging senyum kaliĀ  ini. Namun ada perasaan aneh yang ditangkap oleh Nadira. "Pria ini terlihat menakutkan setelah tersenyum. Lebih baik jika memasang wajah datar saja." Begitu pikir Nadira, menahan mulutnya yang hendak berucap.


"Sudah selesai ngomongnya?"


Tanya Arkana. Setelah beberapa menit, keduanya hanya saling pandang.


"Ya."


Gerakan Arkana tidak diduga oleh Nadira. Pergelangan tangannya memutar cepat. Untuk meraih lengan gadis ini.


Sekarang Arkana sudah me-genggam tangan Nadira. Memaksa gadis ini ikut dengannya. Arkana dengan cepat membuka pintu kamarnya. Yang berada tepat di sebelah kamar itu.


Setelah masuk ke dalam kamar. Arkana segera mengunci pintunya. Melangkah mendekati ranjang besarnya.


Tangan Nadira yang masih digenggam. Membuatnya terseret. Mengikuti langkah pria ini. Dia mulai merasa gelisah. Merasa was-was dan takut dengan pria ini. Sekarang Nadira baru merasakan takut yang sesungguhnya, ketika berhadapan dengan seorang pria.


Mengapa dia membawaku ke kamarnya?

__ADS_1


Nadira semakin takut. Arkana dengan kasar melempar Nadira ke atas ranjang. Lalu dengan cepat menyusulnya.


Aku harus lari. Begitu pikir Nadira singkat karena ketakutan. Saat Nadira hendak bangkit. Tiba-tiba terhenti. Karena tubuh pria ini sudah menindihnya.


Sekarang Arkana sudah berada di atas tubuh Nadira. Menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Menatap begitu dalam ke netra Nadira yang terlihat sendu.


Nadira merasa takut dan gugup kali ini. Keringat dingin mulai keluar. Menetes perlahan dari atas kepala. Mengalir sangat pelan ke belakang telinga dan lehernya. Seluruh tubuh Nadira bergetar merinding.


"Kenapa?" Arkana menatap lurus ke arah wajah Nadira.


"Tadi suara kamu begitu lantang. Sampai telinga ku sakit mendengarnya." Nada suaranya sungguh membuat nyali Nadira menciut.


Arkana menyungging senyum di ujung bibirnya. Menambah rasa gelisah untuk Nadira. Lelaki ini mulai mendekatkan wajahnya. Dengan senyum licik, yang masih dipertahankan.


Tangan Nadira bergerak. Gerakan tangannya tidak karuan, ke kanan dan kiri. Mencoba memukul pria ini, yang membuatnya takut.


Beberapa kali Arkana menghindari tangan Nadira. Plak. Tangan gadis ini mengenai wajahnya. Arkana dengan sigap meraih kedua pergelangan tangan Nadira. Lalu diletakkan di samping kepala Nadira. Kedua tangan mereka saling menggegam meski Nadira terus membrontak.


Kali ini. Tangan Nadira tidak dapat bergerak lagi. Hanya mulutnya yang masih bisa bersuara.


"Lepaskan. Kamu dengar?"


Teriak Nadira. Membuat dahi Arkana berkerut.


Wajah Arkana perlahan mendekat. Pandangannya mengarah ke sepasang bibir seksi. Yang membuat pria ini, terus menelan salivanya. Dengan cepat di raih sepasang bibir itu dengan lembut.


Mata Nadira melebar. Saat merasakan sesuatu, yang baru saja dimulai oleh Arkana. Benar. Ini ciuman pertamanya. Nadira tidak tau, harus berbuat apa. Dia merasa bingung. Mengetahui tangannya tidak dapat bergerak. Sedangkan kedua kakinya. Ditahan dan dihimpit oleh kaki Arkana.


Arkana segera menghentikan kegiatannya. Entah apa yang membuatnya berhenti. Mungkin, ingin melakukan yang lain.


Tidak. Nadira kehabisan nafas karena kegiatan Arkana barusan. Ya! Pengalaman pertamanya. Dan dilakukan dengan seorang ahli. Jelas, Nadira tidak bisa mengimbangi kemampuan Arkana dalam berciuman.


Arkana mendadak panik. Wajah tampannya, menggambarkan itu.


"Tarik. Buang pelan. Tarik. Buang pelan. Lewat mulut." Kata Arkana. Memandu gadis ini untuk mengatur nafas.


Setelah sekian dekit berlalu. Akhirnya Nadira dapat bernafas normal lagi.


Arkana merasa lega sekarang. Perasaan khawatir dan takut, mulai menghilang. Dia menghela nafas panjang. Tubuhnya melemas, kemudian dijatuhkan ke ranjang besarnya. Tepat di sebelah Nadira.


Kini keduanya terbaring bersebelahan di atas ranjang. Mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi diantara mereka. Perasaan yang masih menggebu-gebu tiba-tiba terhenti begitu saja. Membuat Arkana mengerutkan dahi. Sedari tubuhnya mulai terbaring.


Beberapa menit berlalu. Keduanya masih diposisi yang sama. Dengan mata yang terpejam. Hanya keheningan yang menyatukan Arkana dan Nadira. Merasakan ketenangan tanpa suara.


Nadira membuka matanya pelan. Diangkat kepalanya sedikit. Untuk melihat pria di sebelahnya.


Nadira melihat mata pria ini terpejam. Dia pikir jika Arkana sudah tertidur. Maka, Nadira mulai duduk perlahan. Lalu menggeser posisi tubuhnya pelan. Penuh kehati-hatian.


Setelah kakinya sudah menyentuh lantai. Nadira segera bangkit. Dengan kaki berjinjit. Dia melangkah cepat menuju pintu. Berharap Arkana tidak mendengar langkahnya.

__ADS_1


Sampai di depan pintu. Dengan segera Nadira membuka pintu yang terkunci itu. Sangat pelan. Sangat pelan dan hati-hati saat melakukannya.


Beberapa menit kemudian. Nadira sudah berada di dapur. Berdiri di depan kulkas besar dengan dua pintu. Tangan kanannya me-genggam botol kaca berisi air es.


Sesekali Nadira meneguk air itu langsung dari botolnya. Sambil menarik nafas pelan. Kepalanya masih dipenuhi oleh memori-memori, yang baru saja dialaminya.


Di kamar Arkana.


Pria ini membuka kelopak matanya perlahan. Setelah mendengar Nadira, menutup pintu kamarnya. Dia menyungging senyum kecil, di ujung bibirnya. Entah apa yang pria ini pikirkan saat ini. Yang pasti. Dia merasa, jika Nadira mulai menyukainya.


30 menit kemudian.


Ting Tong. Ting Tong.


Suara bel Villa berbunyi. Nadira segera lari ke arah pintu untuk membukannya.


Klek.


Setelah pintu terbuka. Terlihat seorang wanita muda berparas ayu. Dia terlihat begitu modis dengan style casualnya.


"Cari siapa?" Tanya Nadira kepada wanita ini. Setelah pintu itu benar-benar terbuka lebar.


"Benar ini kediaman Pak Arkana?"


Kata wanita ini, berbalik menanyai Nadira.


"Benar. Ada perlu apa ya?"


Tanya Nadira lagi. Dia merasa aneh, dengan kedatangan wanita cantik ini.


"Saya perlu bertemu dengan Pak Arka. Ada sesuatu yang harus saya lakukan dengannya." Jawab wanita ini dengan senyum yang sama-sama menusuk. Seperti perkataannya.


"Kalau begitu, tunggu di sini. Biar aku beritahu Arkana dulu."


Nadira menyungging senyum yang dipaksakan. Tangannya perlahan menutup pintu di depannya. Namun segera di tahan oleh tamu wanita itu.


"Sepertinya tidak perlu lapor. Lagi pula Pak Arka dengan khusus mengundang saya kemari." Kata tamu wanita ini. Seraya melangkahkan kakinya untuk memasuki Villa.


"Oh ya. Dimana kamar Pak Arka?" Tamu wanita ini menghentikan kakinya. Setelah cukup jauh dia berjalan memasuki Villa.


"Di situ? Di sana?" Tangannya dengan cepat menunjuk beberapa kamar di lantai bawah.


"Atau, " wanita ini menjeda kalimatnya. Menaikkan wajahnya ke atas. Pandangannya mulai diedarkan ke sekeliling. Melihat keadaan di lantai dua.


"Di lantai dua?" Lanjut wanita ini lagi, seraya tubuhnya berbalik. Membuat Nadira mengerutkan dahinya.


"Siapa nama anda?" Tanya Nadira. Mulai berjalan mendekati tamu ini. Nadira mulai merasa tidak nyaman dengan kehadiranya.


Siapa tamu wanita ini? baru datang sudah berani mencari kamar Arka. Brengsek. Tidak bisa melakukanya denganku. Dia langsung memanggil wanita ini.

__ADS_1


Apa kamu cewek bookingan?


__ADS_2