Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Cemburu


__ADS_3

Arkana duduk di dalam mobil sedeng menunggu Nadira. Sambil menunggu, ia mendengarkan lagu lewat earphone yang terhubung dengan smartphone-nya. Ia menoleh dan melihat Nadira berdiri dengan dua wanita yang tidak dikenalnya. Karena terlalu lama menunggu, pria itu memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan menghampiri tiga wanita itu.


"Nad." Kata Arkana dan menghentikan langkahnya di sekitar jarak ½ meter dari tempat Nadira.


Spontan ketiga wanita yang berdiri berjajar, dengan posisi Nadira diapit Feni dan Putri. Menoleh ke arah samping kiri untuk melihat siapa pemilik suara cool dan rada serak itu.


Ketiga wanita itu mematung lagi. Netra mereka sama-sama menangkap wajah Arkana yang tampan.


"Kenapa lama banget keluarnya?" Kata Arkana setelah pandangan netranya dengan Nadira saling bertemu. Arkana tidak peduli dengan dua wanita disisi Nadira yang tidak dikenalnya itu. Matanya hanya menangkap wajah pacarnya.


Mata Nadira melebar dan mulutnya menga-nga. Saat itu juga, Nadira sedang memutar otaknya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan Arkana.


Nadira mengerjap sebentar dan mulai menjawab dengan pelan dan hati-hati. "Em, tadi lama karena beresin barang di loker dulu. E terus aku juga mesti absen dulu... AA aya jadi agak lama. hehe mmm 'Maaf ya'." Kata Nadira dengan seringai yang tampak canggung.


"Sudah hampir setengah jam, aku nungguin kamu di dalam mobil." Kata Arkana tenang. Arkana mencoba untuk lebih sabar terhadap Nadira.


Hanya dengan melihat rahang Arkana yang mengeras. Nadira mengetahui jika pria ini sangat marah. Namun mendengar suara Arkana yang di pelankan dan berpura-pura sabar. Justru membuat Nadira merasa bersalah.


"Aku minta maaf. Lain kali pasti tepat waktu. Maafin ya?" bujuk Nadira dengan sedikit senyuman manis yang diyakini akan meluluhkan hati pacarnya.


Arkana menggeleng pelan membuang nafas kecil dan senyuman tipisnya. Tanpa sadar dia tersipu karena senyuman Nadira. Ya, senyuman itu yang selalu membuatnya luluh dan jatuh cinta.


"Oke! aku maafin, tapi kali ini aja. Lain waktu, enggak!" Arkana mencoba untuk tidak terhipnotis terlaku lama oleh senyuman Nadira.


Feni dan Putri yang berdiri disisi Nadira hanya melihat dua orang itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Ehem." Dehem Putri dan Feni serentak. Lalu membuang wajah kearah mana saja.


Nadira dan Arkana hampir saja melupakan keberadaan Putri dan Feni. Andai tidak ada mereka berdua...


Nadira dan Arkana tersenyum tipis dan menggeleng kecil secara bersamaan. Saat netra keduanya saling bertemu. Lagi-lagi Nadira dan Arkana sama-sama saling menahan tawa. Bagaimana bisa, keduanya sama-sama melupakan orang-orang disekitar dan berbincang nyaman?


Diwaktu yang sama. Putri dan Feni melihat Arkana secara seksama dari kepala sampai kaki. Melihat lagi dari kaki sampai ke kepala secara teliti.


Putri dan Feni saling menatap dengan kodean, fiks! Keduanya berbalik badan dan sama-sama mengait lengan Nadira. Keduanya berjalan sambil menyeret paksa Nadira sampai lima langkah kedepan.


Arkana ingin menolong pacarnya, namun Nadira segera menggeleng. "Jangan! aku nggak apa-apa." Begitu kira-kira Arkana menafsirkan gerakan mulut Nadira.


Feni dan Putri sudah merasa cukup jauh dari Arkana.


Keduanya mulai memberi pertanyaan,yang dimulai dari Feni.


"Siapa cowok itu?"


"Kenapa dia bisa jemput kamu?"


"Apa hubungan kalian berdua?"


"Ini alasan kamu, kenapa hari ini gak bawa motor?"


"Bukan siapa-siapa." Jawab Nadira. Sambil berusaha melepas lengannya namun belum berhasil.

__ADS_1


"Yang bener?" Tanya Putri menekan.


"Iya, bener!" Tegas Nadira bohong.


"Kenapa dia jemput kamu, kalau kalian gak ada hubungan?" Feni mengulangi pertanyaan di awal. Masih penasaran banget.


"Kita 'temenan'. Memangnya kita harus punya hubungan apa, baru bisa jemput?" Nadira balik bertanya. Dan pertanyaan itu berhasil membungkam mulut keduanya sebentar.


Diwaktu yang bersamaan saat Putri dan Feni sedang berpikir. Nadira berhasil melepaskan tangannya.


Nadira mengelus tangannya yang baru saja terbebas secara bergantian. Senyumnya mengembang melihat Arkana. Nadira berjalan menuju pacarnya itu.


Nadira terpaksa berhenti karena lengannya ditahan oleh Putri dan Feni. "Apa lagi?" Katanya geram.


Feni dan Putri berdiri mengapit Nadira. Dengan wajah berbinar keduanya berkata. "Bener cuma temen?"


"Beneran." Kata Nadira meyakinkan dua temanya.


"Cius?" Putri bertanya dan makin sumringah.


Feni juga mulai tersenyum lebar mendengar jawaban Nadira.


"CIUS." Nadira menaikkan nada suaranya. Nadira mulai dibuat kesal.


"Ya udah kalau gitu." kata Putri dan Feni lalu melepaskan lengan Nadira. Segera keduanya melangkah menghampiri Arkana.


Nadira menutup kedua kelopak matanya dan menghela nafas berat untuk mengeluarkan kekesalannya.


Nadira baru saja membuka mata. Netra itu langsung menangkap sosok Arkana yang ditempeli Feni dan Putri. Tiba-tiba darahnya kembali terasa mendidih dan mulai naik sampai ke pucuk kepala.


Putri dan Feni melihat Nadira sekilas. Lalu memberi isyarat agar Nadira diam dulu, jangan ganggu.


"Kalian gak pulang?" Nadira bertanya lagi dengan nada terendahnya. Ia masih berusaha menahan emosinya. Namun raut wajah Nadira tidak terlihat baik.


Putri dan Feni melihat Nadira lagi lalu berkata. "Sebentar lagi... Kita mau kenalan dulu sama temen kamu, oke!"


"Temen?" Kata Arkana kaget.


"Iya! Nadira bilang kalau kalian cuma temen." Jawab Putri dan Feni refleks dengan fakta.


"Huh!" Arkana begitu kesal sampai tidak bisa berkata-kata. Lebih kesalnya lagi pertanyaan itu untuk Nadira, kenapa dua manusia yang tidak penting itu yang menjawabnya. Sungguh membuat Arkana semakin E M O S I.


Nadira melihat raut wajah Arkana yang marah. Nadira langsung maju dan ingin menjelaskan tentang kesalahan ini. "Eh, gini-gini aku bisa jela..."


"Ngga perlu!"


"Ini cuma salah paham."


Arkana menangkap tangan Nadira.


"Kita pulang ke rumah sekarang." Begitu kata Arkana dan menarik paksa Nadira sampai memasukkannya ke dalam mobil. Mobil Arkana segera melaju meninggalkan tempat parkiran itu.

__ADS_1


Angin malam berhembus dan terasa dingin sekali.


Putri dan Feni masih berdiri mematung di tempat yang sama. Hanya melihat tanpa berkata saat pria itu membawa Nadira dengan mobilnya.


"Kamu denger dia ngomong apa, tadi?" Feni bertanya ke Putri dengan wajah bengong.


"Ya. Namanya Arkana." Kata Putri cengengesan. Putri masih tenggelam di dalam pesona ketampanan Arkana dan belum bisa lepas.


"Kalimat Arkana?" Feni kembali bertanya dan masih dengan wajah bengong.


"Iya. Aku juga lihat, dia ganteng banget. Sumpah! Baru kali ini aku liat cowok seganteng itu! Ah, Andai bisa jadi pacaranya, hehe." Jawaban Putri melesat jauh dari pertanyaan. Sekarang ini hanya ada sosok Arkana dalam mata dan pikirannya.


Mendengar bacotan Putri yang tidak masuk diakal justru membuat Feni tersadar total. Feni segera mencubit lengan Putri dengan keras.


"Aww." Mata Putri mendelik. "Sakit, tauk!" Putri mengelus-elus kulitnya yang masih terasa sakit dan berbekas merah.


"Salah siapa? aku tanya apa kamunya jawab apa." Feni melengos tanpa merasa bersalah.


"Ish," Putri kesal sampai tidak tertahan. "Aku bales pokonya." Putri mencoba untuk mencubit balik Feni namun tidak bisa dan membuatnya semakin kesal.


"F E N I." Teriak Putri kesal.


"Apa?"


"Aku mau bales.."


"Kalau kamu bisa, silahkan!"


"Ishh..." Putri mencoba membalas mencubit namun Feni mengelak dengan lihainya.


Feni kesal dan menghempas tangan Putri yang bersikap kekanak-kanakan. "Udah ah, kamu tau nggak cowok itu tadi siapanya Nadira?"


Putri berhenti dan berpikir. "Emm... temen?"


"Nggak yakin deh aku. Kayaknya dia bohong!"


Putri berpikir lagi. "Terus menurut kamu... cowok itu tadi pacarnya Nadira?"


"Kayaknya, sih?" Feni sedikit ragu-ragu, takut salah menebak.


"Tapi kan, Nadira bilang kalau mereka cuma temenan aja."


Feni menghela nafas. "Ya Nadiranya sih emang bilang gitu, tapi kamu lihat reaksi cowoknya tadi? dia langsung marah!"


"Em iya juga ya... ya udah. Kita tanya aja sama Nadiranya lagi, kalau cowok itu bukan pacarnya. Kita bisa PDKT an sama cowok itu.. gimana?" Usul Putri.


"Oke!" Feni langsung setuju. "Siapa cepat dia dapet."


Lanjutnya lagi.


"Oke!"

__ADS_1


Malam semakin dingin. Angin berhembus dengan tenang. Suasana hati yang memanas akan menjadi lebih tenang dan damai. Saat kalian keluar dari ruangan. Berjalan kecil sambil menikmati hembusan angin malam. Melihat langit luas yang dihiasi ribuan bintang. Akan lebih indah jika bersama dengan pasangan... ❤️❤️❤️


#SayangKalianPembacaku


__ADS_2