Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Cari kosan.


__ADS_3

Hari Jum'at adalah hari yang paling baik di antara hari lainnya.


”Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari Jum’at, (karena) pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim).


Nadira selalu meyakini jika hari jum'at adalah hari yang penuh berkah. Tetapi, lain untuk satu hari ini.


Nadira terus merasa kesal dan emosi dari tadi pagi. Seolah larva panas sedang meleleh dari ubun-ubunnya.


Dan sekarang. Ia sedang menunggangi kuda besinya, menunggu lampu merah berubah warna menjadi hijau.


"Kita ke taman pancing." suara Rini di dekat telinga Nadira yang duduk di jok belakang.


Dahinya mengerut. "Ngapain ke sana?" Dengus Nadira, memastikan alasannya.


"Ya cari kosan lah. Emangnya mau mancing." Jawab Rini dari belakang.


"Boleh tu yang terakhir." Maksud Nadira kata mancingnya.


"B-canda aja, kita kan gak bawa pancing." seriusan Rini menanggapinya.


"Dah ijok tu.. jalan pir," Rini menepuk pundak sebelah kanan Nadira.


"Bengong aja," imbuh Rini jadi tidak sabaran.


"Sabar neng! yang depan aja belum jalan." Dengus Nadira makin dibuat kesal oleh temannya ini.


Belum lagi Nadira harus merasakan panasnya terik matahari siang ini. Masih juga dengerin celotehan Rini. Ampun, rasanya mau meledak aja di tempat.


"Coba masuk gang itu." Perintah Rini, dan langsung ditururti oleh Nadira.


Nadira dan motornya melaju memasuki sebuah gang, yang cuma bisa dilewati satu mobil.


Nadira memarkirkan motornya di depan warung klontong. Rini? sudah turun lebih dulu. Bahkan sudah mengobrol dengan pemilik warung.


"Ada Dir!" kata Rini sumringah. Berjalan mendekati Nadira.


"Apanya?" tanyanya jengah.


Pasalnya dari pagi-pagi sekali mereka sudah keluar, dan belum juga nemu kosan nganggur sampai sesiang ini.


"Ya kosannya." Gas Rini, masih penuh energi. "Yuk ah,"


"Kemana?"


"Ya ikut ibu itu, liat kosannya. Kamu tu gimana sih!" Rini mulai kesal kepada temannya ini.


Padahal yang butuh kosan Nadira, tapi kenapa jadi Rini yang sibuk sendiri, kepingin cepet-cepet dapet kosan.


"Lumayan bagus, besar!" Kata Rini, me-ngomentari bangunan yang penuh pintu berjajar di depanya.


Ade nama pemilik warung kelontong, yang memandu Rini dan Nadira. Membuka salah satu pintu kamar, bertempel stiker yang sudah sedikit robek bergambar angka tujuh.


"Liat-liat aja dulu. Kamar mandi dalem kok." Ade mempersilahkan kedua gadis itu untuk mengecek kamar itu.


Nadira dan Rini memasuki kamar itu.


"Lumayan besar, Dir." Senyum Rini mengembang lebar, bicaranya penuh semangat.


"Ada dapurnya lagi. Jadi bisa masak sendiri di kosan." masih Rini.


"Coba, kita liat kamar mandinya?"


krek.

__ADS_1


"Bersih banget! dan luas lagi. Gimana, Dir?"


Nadira lagi mainan ponsel, sambil nyandarin punggungnya ke dinding.


"Dira!" gas Rini, di samping bahu Nadira.


Menaikkan matanya untuk mengintip layar smartphone Nadira. "kok malah main mobile legend sih?,"


"Gimana menurut kamu kosannya? mau gak?" tanya Rini, mulai emosi.


Nadira masih asik bermain game. "Bagus." Cueknya.


"Terus, ambil gak?" sensus Rini.


"Boleh lah, timbang enggak ada." Jawab Nadira.


"Bener nih?"


"Hemm." Nadira lagi fokus nyerang musuh.


"Ya dah, aku tanyain dulu berapa sewanya." "Ya."


Rini keluar untuk mencari Ade. Ade sedang mengobrol ria dengan penghuni kos lain.


Nadira masih main game. Bahkan dia sudah jongkok di tempatnya nyandar tadi. Sangking asiknya.


Doubel kill


You have slain an enemy


"Dira!"


Victory


"Yes." Nadira megenggam erat ponselnya. Senyum lebar mengembang dengan cepat. Nadira sangat senang karna baru pertama ini, ia main game dengan lancar.


Sambil berdehem. Nadira menoleh. Pasang raut penuh tanya? tanpa dosa.


"Astajim.... aku dah manggil kamu seribu kali, Dir." Rini yang di mulut pintu. Dengan langkah lebar, menghampiri Nadira.


Rini berdiri di depan Nadira sambil berkacak pinggang.


"Besok-besok telingamu tinggalin aja di rumah, kalau gak di pakek. Toh gak ada guna juga dibawak! Dari tadi dipanggil-panggil, gak nyaut juga. Heran! itu telinga? apa gantungan wajan? sih."


Nadira bangkit perlahan dari posisi jongkoknya. Menarik bibir ke samping, sampai tercetak senyum tipis.


Hanya helaan nafas yang keluar dari mulut kecilnya. Tapi, jika yang berkata itu orang lain, mungkin Nadira tidak sesabar ini.


"Yuk! pulang," Nadira meraih pergelangan tangan kanan Rini, sedikit memaksa temannya ini untuk meninggalkan tempat itu.


Nadira sangat hapal, jika Rini sudah meluapkan amarahnya. Itu berarti kosnya tidak berhasil disewa. Lebih baik segera mengajak temannya ini pulang. Sebelum emosinya meluap di depan orang-orang itu, malah bikin malu.


"Kok berhenti, sih? Aku mau pulang." Keluh Rini, kesal. Ia tidak mau turun dari jok motor.


"Aku maunya berhenti. Gi ma na dong?"


Dengan wajah datar, Nadira turun dari kuda besinya.


Nadira memasuki angkringan penjual es buah, lalu memesan dua gelas.


Dari tempatnya duduk. Nadira melihat ke arah Rini. "Ke sini!" panggilnya. Rini cemberut sambil menggeleng keras.


Temannya ini kekeh tidak mau turun dari motor.

__ADS_1


"Ya udah kalau gak mau! aku minum sendiri es buahnya!." Nadira menyeruput es buah segar, yang sudah ada di depannya.


Nadira menengadah-kan kepalanya. Jemarinya dengan lentur, mengelus dari bawah dagu sampai ke lehernya.


"Eeeemm. Sumpah!! Seger banget!" emang enak minum es buah, kalau cuaca lagi panas begini.


Rini menengok Nadira sebentar, lalu kembali menatap layar ponselnya. Ia mau pulang. Ingin segera bertemu dengan teman tidurnya, bantal guling.


Tetapi, es buah itu keliatan seger banget. Ah.... Aku gak akan kalah sama es buah. Pokoknya mau pulang!!!


Beberapa detik kemudian.


"Kamu gak akan menang, ngelawan pesona es buah!" Cibir Nadira kepada temannya ini.


Rini sudah duduk di kursi, depan Nadira.


"Nih," tangan Nadira menggeser gelas es buah di atas meja, ke hadapan Rini.


Rini masih cemberut. "Makasih," meraih gelas dalam genggamannya. Dan segera mulut Rini menyeruput es buahnya dengan sedotan.


"Gimana? segerkan..." Tanya Nadira memastikan pendapat Rini.


Rini belum berhenti menikmati es buahnya. Rasa segar dan dingin, sudah menyejukkan hati Rini yang terbakar emosi.


"Huh," helaan nafas Rini. "Seger! makasih ya, Dir. Kamu emang paling ngerti aku." Rini tersenyum.


"Iya. Sahabat harus begitu."


"Dira....." Rini meraih tangan Nadira.


"Maaf ya, hari ini kita gak berhasil dapet kos untuk kamu." Rini merasa bersalah. Tentu saja itu bukan salahnya, hanya saja ia tak enak hati kepada Nadira.


"Gak masalah. Lagian bukan salah kamu," Nadira menyeruput es buahnya.


"Sebenernya, aku udah pernah cari kos. Tapi, setiap kos yang aku datengin. Pasti udah penuh. Dan kalau pun masih ada kamar kosong, setelah mereka tau namaku. Yang punya kos langsung bilang. 'Maaf ya, kamar ini sudah di pesan orang lain' selalu gitu."


Rini menaikkan satu alisnya. "Kok bisa."


"Gak tau!" Jawab Nadira, sambil menaikkan kedua bahunya.


"Kayaknya ada yang aneh? kamu ngerasa gitu, gak?" Tanya Rini. Ia merasa ada yang tidak benar.


"Aku juga. Tapi, aneh dimananya?"


"Ya orang-orang itu. Setiap tau namamu, mereka bilang kosnya ada yang pesan. Tadi, bu ade juga ngomong gitu. Persis banget!" Rini jadi serius.


"Masak sih?" Nadira memastikan.


"Beneran. Kalau kamu gak narik aku, tadi. Bakal aku hancurin itu bangunan," Rini masih dengan celotehannya, memaki bu Ade sesuka hatinya.


Nadira terdiam dalam renungan. Kalau bener, apa kata Rini. Itu artinya ada orang yang sengaja melakukkan ini semua. Tapi kenapa?


Jakarta. Ruangan Presdir.


krek.


Beni masuk ke ruangan Arkana.


haaciii


haaciii


haaciii

__ADS_1


"Kenapa loe?" tanya Beni kepada Arkana, yang terus bersin. "Sakit?" imbuhnya.


"Gak tau nih. Tiba-tiba bersin aja gitu."


__ADS_2