Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Terpaksa.


__ADS_3

Menjelang malam hari di Rumah Sakit.


Di kamar pasien 057 tempat Arkana di rawat. Dia terbaring di ranjang nya. Dan belum juga siuman.


Tepat pukul 18:20.


Arkana terlihat menggerak kan tangan nya. Dia seakan ingin membuka mata. Namun sulit bagi nya.


"Tidak, ti-dak. Jangan lukai Hana.


Aku saja, jangan sentuh dia.


Aku mohon, aku mohon jangan!."


"Ja! ngan! sentuh Hana ku-- " berteriak keras.


Teriakan itu membuat Nadira terkejut.Dia yang baru selesai dari shalat magrib. Segera bangkit dan menghampiri Arkana.


"Hah- hah- hah- " nafas memburu Arkana seakan tiada oksigen di ruangan itu.


Nadira melihat Arkana yang begitu berbeda saat ini.


Dia terlihat takut, gelisah, badan nya gemetaran. Mungkin kah ada sesuatu yang menyakit kan di masa lalu. yang sedang di ingat nya saat ini.


Nadira merasakan sedih itu, seakan dia yang mengalami. ketika air mata Arkana menetes. Di peluk Arkana dengan hangat.


"Tenang! Ada aku disini. Tidak akan ada yang menyakiti dirimu dan Hana kamu."


Nadira merasakan tubuh Arkana yang bergetar. Tangan Arkana memeluk Nadira begitu erat. Dia masih menangis, begitu pilu. Nadira pun tidak sanggup menahan air matanya.


"Apa yang terjadi pada diriku? Ketika melihat dia seperti ini. Hati ku ikut hancur, aku merasa sedih karena nya. Detak jantung ku bedeguk kencang. Mau lepas rasa nya. Bisa mati aku kalau terus memeluk nya seperti ini."


Nadira perlahan melepas pelukan nya. Arkana sudah sedikit tenang saat ini. Namun dia belum sadar siapa yang memberi nya pelukan hangat itu.


"Kamu tunggu sebentar. Aku panggil Dokter." Nadira bangkit dari duduk nya.


Arkana meraih tangan Nadira.


"Jangan pergi!" Begitu raut wajah nya meng-gambarkan.


"Aku hanya keluar sebentar panggil Dokter. Aku tidak akan pergi, oke." Begitu meyakinkan.


Arkana mengangguk dan melepas tangan Nadira. Dia pun segera keluar.


Nadira, aku tidak percaya kamu bisa ada di sini. Melihat diriku yang begitu menyedih kan. Aku takut kamu membenci diriku yang seperti ini.


Arkana terlihat sangat frustasi saat ini.


Beberapa saat kemudian.


Nadira kembali bersama Dokter dan satu perawat wanita. Dokter segera memeriksa kondisi Arkana.


Nadira tersenyum hangat melihat Arkana. Dia berdiri tepat di sebelah Arkana. Tatapan nya menjadi kekuatan bagi Arkana.


Kamu begitu bercahaya, dan baik hati. Bagaimana aku tidak jatuh hati. Di saat pertama kali aku melihat dirimu, Dira.


Begitu isi hati arkana ketika melihat senyuman hangat dari Nadira.


Dokter telah selesai melakukan pemeriksaan. Dia ingin mengatakan keadaan Arkana saat ini. Tiba-tiba dia menghentikan sang Dokter. Dia meminta agar Nadira bisa keluar terlebih dulu.


5 menit kemudian.


Nadira menunggu di luar. Dia duduk termenung. sedikit kesal karena Arkana meminta nya menunggu diluar.


Kenapa dia meminta ku menunggu di luar. Aku juga mau dengar apa yang di katakan oleh Dokter. biar aku tau kapan kamu bisa keluar dari RS.


"Arka menyebalkan! Kalau bukan karena mereka memojokkan ku soal keprimanusiaan. Aku tidak akan di sini. Aku benci Rumah Sakit."


Dokter bersama perawat telah keluar. Senyuman di layangkan oleh Nadira. Dia pun segera masuk kembali.


Beberapa saat setelah nya.

__ADS_1


Masuk perawat pria dan wanita. Sangat sopan dengan senyuman. Bergegas


memindahkan Arkana ke kamar lain.


Kami menyusuri lorong Rumah Sakit. Kami juga naik lift menuju lantai dua. Perawat membawa kami menuju ke kamar VIP. Tepat nya kamar dengan nomor 03.


Kamar nya lebih besar. Hanya ada satu ranjang di sana. Sofa panjang berwarna biru tua lengkap dengan meja kaca. Tv yang menempel di dinding. Serta kamar kecil juga ada di dalam.


Tentu, ini kamar VIP. Dimana-mana kalau VIP atau VVIP pasti ada fasilitas khusus.


Jangan heran orang kaya mah, BEBAS.


Nadira duduk di sofa. Dirasakan begitu empuk dan halus. Bahkan sofa di rumah Ayah tidak sebagus ini.


*Kalau orang seperti aku. Masuk kamar dengan 4 ranjang. Sudah termasuk baik. Terkadang juga menggunakan jasa Jaminan Sosial. Kalau sakit nya hanya demam, pusing. Paling-paling minum obat warung. Lalu kerikan saja sudah sembuh.


Kadang kehidupan ini terasa begitu tidak adil. Yang kaya berfoya-foya untuk kamar mewah. Sedang yang miskin, demi kesembuhan rela mengantri begitu panjang. Kadang pelayanan nya juga kurang baik. Uang sangat berkuasa*.


Setelah perawat selesai dengan tugas nya. Mereka segera meninggalkan kamar itu. Hanya tersisa Arkana dan Nadira di sana.


Arkana masih diam. Begitu juga dengan Nadira. Kedua nya saling curi pandang. Namun saat wajah mereka bertemu. Menatap satu sama lain. Kedua nya saling mengelak.


Deg.


Kenapa laki-laki ini terlihat imut saat dia malu. Dan jadi semakin tampan. Ahh, apa yang sedang aku pikirkan. Lebih baik tanya dia lapar atau tidak.


"Oh ya, apa kamu lapar? Mau makan? " menutupi rasa canggung nya.


Nadira yang duduk di sofa panjang. Berjarak hampir 2 meter dari ranjang Arkana.


"Iya, mau!" Singkat jawaban Arkana malu.


Wajah Arkana yang tersipu malu. Membuat Nadira tersenyum saat menyadari nya.


"Tunggu sebentar, aku keluar beli makanan. Kamu mau makan apa?"


"Apa saja."


"Maaf ya lama." Melihat Arkana yang baru membuka mata saat dia masuk.


"Ngak masalah, aku yang minta maaf. Karena udah ngerepotin kamu." Melihat Nadira yang sibuk menyiapkan makan untuk nya.


"Jangan sungkan. Anggap aku lagi tanam kebaikan." Jawab Nadira ceria.


"Bisa makan sendiri?"


Menyerahkan kotak berisi bubur.


"Bisa." Jawab Arkana yakin yang sebenarnya bohong.


Nadira juga mulai makan. Dia duduk di sofa. Dengan lahap dia menghabiskan makanan nya.


Setelah selesai dia mendekati Arkana. Terlihat dia sangat kesulitan untuk makan. Nadira berinisiatif untuk menyuapi nya. Tapi dia takut kalau arkana menolak. Dia pun berdiam duduk di sebelah Arkana.


Gadis ini terkadang perhatian, terkadang tidak. Apa dia tidak melihat kalau aku kesulitan untuk makan. Tidak punya rasa simpati.


"Kamu sudah selesai makan." Tanya Arkana galak.


Setelah dia menghela nafas panjang. Dan meletak kan sendok di tangan nya.


"Sudah, kenapa?" masih pasang wajah polos.


"Tolong suapi aku!"


HAH?


Nadira terkejut mendengar itu. Dia pikir Arkana memang tidak bisa makan sendiri. Karena ego dia tidak akan meminta bantuan Nadira. Tetapi sekarang dia meminta bantuan dan mengatakan tolong.


"Wah, aku sangat terkejut mendengar ini. Aku kira kamu tidak akan mau kalau aku menyuapi kamu."


Nadira segera bangkit meraih bubur dan sendok nya.

__ADS_1


Baik lah, aku akan menanam lebih banyak kebaikan.


"Buka mulut. Aaaa " begitu perintah Nadira.


Arkana makan dengan lahap. Entah dia sangat lapar, atau terlalu senang karena Nadira yang menyuapi nya.


"Oh iya, aku sampai lupa!"


"Lupa apa?" Tanya Nadira.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Ah, sudah aku katakan. Aku sedang menanam kebaikan. Untuk bekal nanti saat aku meninggal. Hihi " begitu jawab Nadira ceria dengan tawa khas nya.


Tetapi yang di maksud Arkana bukan lah itu.


"Maksud ku, kenapa kamu bisa tau kalau aku di sini?"


Nadira baru sadar kalau dia di sini karena desakan Arya, Ayah dan Ibunya.


"Kalau itu, ingat anak laki-laki yang menolong kamu tadi siang?"


Arkana mencoba mengingat kejadian tadi siang. Saat seseorang mencoba menusuk lelaki yang membantu nya. Saat lelaki itu terjatuh. Dia menghadang tusukan itu. Dan mengenai perut sebelah kanan nya. Setelah itu dia pingsan tidak tau apa lagi yang terjadi.


Aah.


"Dimana dia?"


"Dia sudah pulang. Dia yang meminta aku. Untuk menunggui kamu sampai.siuman."


"Dia? meminta kamu?"


wajah Arkana terlihat senang tapi juga.bingung.


"Kenapa bisa?"


"Karena dia adik aku."


Aku tidak menyangka kalau lelaki itu adalah adik Nadira. Aku di terkena tusukan pisau sampai masuk Rumah Sakit. Tetapi saat siuman. Aku melihat wanita yang ku sukai. Tidak tau ini di sebut SIAL atau KEBERUNTUNGAN.


"Oh ya, apa kata Dokter?"


Tanya Nadira setelah selesai dengan kegitan nya.


"Ah, tidak begitu serius. Hanya luka kecil dan tidak terlalu dalam."


Meneguk air yang di berikan oleh Nadira.


"Kapan bisa pulang?"


Arkana tertegun mendengar pertanyaan ini.


Pulang, kenapa? bahkan aku ingin lebih lama di sini. Agar bisa selalu bersama dengan kamu.


"Jangan salah paham. sebenar nya aku sangat membenci Rumah Sakit. Begitu banyak bau obat." Jelas Nadira karena melihat kecemasan di wajah Arkana.


"Soal itu, aku belum tau."


Nada bicara dingin.


"Hmm, begini. Aku sudah berjanji kepada adik ku untuk merawat kamu. Jadi, apa bisa aku merawat kamu di rumah saja." Jelas Nadira begitu tidak suka dengan Rumah Sakit.


Hmmm, bagus jika kamu telah berjanji kepada adik kamu. Pulang kapan pun tentu bisa asalkan tetap bersama kamu. Calon adik ipar, aku meyukai mu, haha.


"kalau begitu, kita pulang besok."


Arkana menjawab dengan semangat 45.


#Bersambung»


Mohon dukungan nya. Karena Novel ini sedang saya ikut sertakan dalam Lomba Menulis Season 3. Dukung dengan klik LIKE, Vote, dan Beri Ratting. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2