
Updatenya lama?
Maaf keun ya! 😊😊😊
..
..
Ke esokkan harinya. Di Villa Arkana.
Langit terlihat indah. Langit yang berwarna biru cerah dan sekumpulan awan putih, terlihat sangat serasi pagi itu. Matahari berbentuk bulat besar sudah muncul dari ufuk timur. Cahaya kuning perlahan merambat untuk menyinari bumi. Secercah cahaya orange memasuki celah jendela kamar Nadira. Sinarnya menyilaukan mata Nadira, yang sedang terjaga.
Kelopak mata Nadira perlahan terbuka. Tidurnya terganggu karena cahaya yang menyilaukan.
"Emm. Udah pagi ya?" Tubuh Nadira digerakkan dengan kedua tangan di tarik keatas. Bermaksud untuk merenggangkan otot tubuhnya setelah tidur.
Punggung tangannya di gunakan untuk menggosok bagian matanya.
"Oh iya..." Nadira baru teringat sesuatu. Kepalanya menengok kesamping. Diraih ponselnya yang ada di meja kecil dekat ranjang. Seketika matanya melebar. Saat melihat layar ponsel itu.
"Sial! Kesiangan." Ia segera menyibakkan selimut. Tubuhnya segera bangkit dari ranjang. Lalu berlari ke arah kamar mandi, untuk membersihkan diri.
15 menit berlalu. Terdengar langkah kaki yang dengan terburu-buru menuruni anak tangga. Langkah itu membawa tubuh Nadira menuju pintu keluar.
"Non!"
Terdengar suara wanita. Nadira tetap saja berjalan dengan cepat seolah ia sedang di kejar setan kredit.
"Nyonya!"
Wanita itu kembali bersuara.
Nadira merasa jika panggilan itu bukan untuknya. Namun suara itu terus terdengar. Seolah sedang memintaanya untuk berhenti di tempat, saat ini juga.
Dan benar. Ia berhenti di mana langkah terakhirnya berpijak.
Nadira berbalik. Mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya, kearahnya sendiri.
"Anda sedang memanggil saya?"
Tanyaku kepada wanita yang sudah sedikit berumur itu. Wanita itu bergerak dari tempatnya berdiri. Berjalan mendekatiku.
"Benar, Non. Maaf, tapi Non Nadira mau kemana? kenapa jalannya terburu-buru begitu."
"Eh." Siapa wanita ini? kenapa terus-menerus memanggilku nona... Apa dia tidak salah ngomong?
Nadira cuek. "Saya mau pergi kerja. Oh ya, nama saya Nadira. Biasa di panggil Dira. Jangan panggil nona apa lagi nyonya, heum."
Nadira memberi senyum simpul kepada wanita itu. Lalu melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Tunggu, Non."
Nadira berhenti. Lalu berbalik. "Nadira. Dira." Katanya, mengoreksi panggilan wanita itu.
"Iya. Non Dira."
Nadira menggaruk pucuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Menghela nafas pelan. "Ya, terserah deh,"
Ampun ini emak-emak ngeyel banget deh. Nyerah ngomong sama emak-emak yang modelan nya kayak gini.
Batinnya, yang sudah tidak peduli soal panggilan itu.
"Non Dira tunggu sebentar di sini."
Lalu wanita itu berjalan cepat menuju dapur.
Walau sudah tidak sabaran lagi, namun Nadira masih tetap menuruti perintah wanita itu. Untuk menunggu wanita itu kembali menghampirinya.
Wanita itu menghampiri Nadira dengan kotak nasi di tangan kananya. "Ini bekal non Dira," memberikan kotak nasi yang dibawanya.
__ADS_1
Nadira ragu. Tetapi masih diambilnya. "Makasih," memberi senyum simpul.
Wanita itu tersenyum. Ia senang misinya telah berhasil.
"Nama saya Sriatun, pembantu baru di sini. Non Dira bisa panggil saya, Bi Sri."
"Oh," dengan wajah datar. Otaknya langsung menyerap informasi barusan.
"Dan itu bekal yang,-"
"Ah, ya udah-udah," Nadira melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
Nadira berjalan mundur. "Perkenalanya nanti lagi. Udah jam tuju, saya berangkat kerja dulu."
Nadira berbalik untuk membenarkan jalannya. Ia berhenti di mulut pintu yang baru saja dibuka.
Ia menatap lurus kearah wanita itu, lalu berteriak. "MAKASIH BEKALNYA BIK TUN." Tersenyum sebentar. Ia melanjutkan langkahnya meninggalkan Villa.
Bik Tun tersenyum untuk Nadira, namun tidak terlihat oleh gadis itu. Karena Nadira sudah pergi lebih dulu.
***
Nadira duduk di kursi kantin Mall ArStar, bersama dengan teman kerjanya yang lain. Ia membuka bekal yang di bawanya tadi.
Nasi putih, tumis suir ayam, tumis buncis sama wortel.
Bugh
Sebuah pukulan dari telapak tangan mendarat di pundak Nadira.
Wajah merengut Nadira menoleh, sebelum tanganya mengelus pundak yang baru saja di pukul oleh Rini.
"Tumben bawa bekel?" tanya Rini, ikut duduk di kursi sebelah kiri Nadira.
"Di bawain."
"Sama?" Rini menoleh temannya itu.
"Siapa tu ART?" wajah Rini koplo.
"Asisten rumah tangga, Rin."
Rini membentuk mulutnya menyerupai huruf O. "Pembantu?,"
Nadira cuek. "Eum," sibuk dengan bekalnya. Di rasa-rasain, masakan bik Tun enak juga. Nadira makan dengan lahapnya.
"Aku gak minta Dir, selow aja makanya."
Nadira menoleh. "Eunak, kamuo mauok?" ngomong sambil ngunyah.
Rini menatap Nadira, lalu menggeleng. Menandakan ketidak inginanya itu.
Tanganya memungut sebutir nasi di dekat bibir Nadira.
Bibirnya di tarik kesamping sampai membentuk sebuah senyuman.
"Buat kamu aja." Kata Rini serius.
Nadira memiringkan wajahnya. "Yauo udah kalauo gaok muau." masih mengunyah makananya.
Dilantai bawah, Mall ArStar. Di satu lorong khusus kebutuhan badan, yang di beri bener H&B. Nadira berdiri di depan rak yang khusus berjejeran produk milik Perusahaan, tempatnya kerja.
Di tangan kanan Nadira ada satu botol shampo yang terus ia pegangi. Karena produk itu masih promo untuk bulan ini.
Beli dua gratis aku. Beli satu dus dapet spg-nya 😆
"APAAN SIH THOR. Jangan percaya ya, pembaca. Yang bener itu, beli dua gratis satu."
Nadira merengut. Diangkat botol shampo yang di peggangi.
__ADS_1
"Pergi lu thor, jangan ganggu cerita gue."
Bendera putih melambai. "Oke, gua pergi. BYE!"
"Heum. Ganggu aja. Bisa ancur ceritaku kalau ada kamu!"
Seseorang menghampiri Nadira. "Hei.."
Nadira terkejut. "Ngagetin aja kamu, Rin."
"Gitu aja kaget. Makanya, jangan suka ngomong sendiri." Duduk jongkok di dekat kaki Nadira.
Nadira melihat Rini dengan tatapan dingin. "Siapa juga yang ngomong sendiri." mengelak dari kenyataan.
Wajah Rini mendongak, untuk melihat wajah Nadira. "Ngeles. Dari jalan sana," menunjuk arah dari mana ia datang.
"Aku tu udah liat kamu ngomong sendirian. Ngomong sama siapa coba, padahal gak ada orang di sini."
"Ngomong sama hantu."
"Hantu?" Bulu kuduk Rini mulai berdiri.
"Yang bener? jangan nakut-nakutin aku dong."
Nadira memasang tampang serius.
"Beneran, gini-gini aku juga indigo."
Tubuh Rini bangkit dengan cepat. Memeluk tubuh Nadira dari samping kanan. "Jangan bohong. Kamu gak pernah cerita soal itu sama aku."
Nadira menarik bibirnya kesamping sampai membentuk senyum kecil. Ia berhasil mengerjai temanya ini.
"Ya. Kamu kan penakut. Gak mungkin aku cerita soal kemampuanku."
Nadira melebarkan matanya. Menarik nafasnya dalam. Pandangannya fokus ke satu titik yang ada di atas sana.
Rini menyadari keanehan dari pergerakkan Nadira. "Kamu kenapa?" tanya Rini ragu.
"Sshht," menoleh Rini.
"Ada yang lagi liatin kita dari tadi."
Dengan serius, mencoba meyakinkkan perihal kemampuan indigo-nya kepada Rini.
Rini menelan salivanya. Bulu lembut di sekitar tengkuknya kembali berdiri rata.
"Serius? Dimana?" tanya Rini pelan.
"Disana." telunjuk tangan kanannya mengarahkan pandangan Rini ke titik yang dimaksud Nadira.
Rini mengeratkan pelukanya ke tubuh Nadira. "Kayak apa bentuknya?"
Nadira menoleh Rini. Keduanya saling menatap.
Sekian detik kemudian, Nadira berkata "Dia kecil. Warnanya item. Matanya cuma satu, tapi besar."
Rini meringis. Menyipitkan matanya yang sudah sipit. "Serem," katanya.
"Emang." Kata Nadira, seolah sedang membanggakan keberaniannya.
"Dia hantu jenis apa?" tanya Rini asal. Memastikkan apakah benar jika Nadira punya kemampuan untuk melihat mahluk astral.
Emm. Nadira sedikit ragu.
"Aku gak tau dia ini jenis hantu apa. Tapi, dia punya nama." jelas Nadira seolah beneran tau.
"Siapa namanya?" tanya Rini makin dibuat penasaran.
"CCTV."
__ADS_1
plak
Pucuk lengan Nadira terasa panas, karena pukulan Rini.