Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Pulang ke Rumah.


__ADS_3

Setelah kegelisahan semalam. Nadira tidak lagi memusingkan Arkana. Nadira memulai lagi aktivitas kerjanya di supermarket yang berbeda. Setelah pulang bekerja, Nadira mampir ke rumah orang tuanya.


Setelah berkendara motor selama 30 menit.


Terlihat rumah kecil berlantaikan keramik warna putih, dengan warung makan seadanya di terasnya. Rumah itu terdapat di sebuah gang kecil yang hanya cukup untuk jalan satu mobil.


"Assalamu'alaikum, ibu, ayah." Ucapan salam Nadira saat hendak masuk rumah orang tuanya.


"Wa'alaikumsallam, Nadira sayang!" Ibunya yang terkejut melihat putrinya kembali ke rumah.


"Baru pulang kerja?" Lanjut ibunya bertanya.


Nadira berjalan mendekati ibu, yang sedang duduk di ruang tamu sembari menonton tv. Nadira menyambut dan mencium tangan ibunya.


Ibu pun langsung memeluk Nadira. Ia meluapkan rasa kangennya. Seolah putrinya tidak pernah pulang selama bertahun-tahun lamanya.


"Iya, dira tadi baru pulang kerja. Langsung kesini bu!" Ucap Nadira menyandar di bahu ibunya, merasa sangat nyaman dan hangat.


"Hmmm, kamu bukan putri ibu lagi sekarang." Melepas pelukannya.


"Kenapa enggak pernah pulang, udah bosen ya liat i-bu sama a-yah!! Hah?" Memukul pantat putrinya. Raut ibu seketika berubah galak.


"Aaduh aduh, ibu. Sakiiiit." Dengan nada merengek manja.


"Ampun bu, minta maaf ya! Waktu itu Dira lagi sibuk ngerjain skripsi, jadi enggak bisa sering-sering pulang." Mencoba memberi penjelasan berdasarkan fakta..


"Kalau sering-sering pulang, bisa-bisa skripsinya enggak cepat selesai. Nanti Dira enggak bisa wisuda tahun ini. Iya kan?" Lanjut Nadira memelan. Sedang membujuk ibunya.


"Terus kalau sibuk, vidio call juga enggak bisa!?" Tanya ibu, semakin galak. Ia berjalan ke kursi untuk kembali duduk.


Nadira menghela nafas panjang. Me-angkat bendera putih, tanda menyerah.


Ia memang tidak jago mengelak dari omelan ibunya.


*Kalau begini terus.. bisa tambah panjang nih ngomel-ngomel nya.


"Hemm." Nadira tersenyum tipis. Sebuah ide secara tiba-tiba muncul di benaknya. 'Harus dialihkan ke topik lain." batinnya


"Oh ya bu! baju couple yang aku siapin. Kata penjahitnya sebentar lagi selesai loh!. Kayaknya bakalan bagus kalau di pakai sama ibu! Pasti kelihatan tambah cantik!" Dengan nada merayu.


"Em. Bawa kesini kalau sudah selesai. Biar ibu sama ayah coba dulu!." Jawab ibu. Sudah mulai melunak.


"Oh ya, emang hari H wisudanya kapan?" Tanya ibu sambil melihat Nadira yang mulai duduk.

__ADS_1


"10 hari lagi bu, tepatnya tanggal 22 november ini." Jawab Nadira.


"Emm, ayah kemana kok enggak ada?" tanya Nadira yang dari tadi menunggu ayahnya keluar dari persembunyian.


"Ayah ada di gudang meubel." Jawab ibu.


"Lagi buat furniture untuk isi restaurant kita nanti." Lanjut ibu menjelaskan.


"Restaurant?" Mata Nadira terbelalak. "Emangnya ibu ada modal untuk...."


"Oh, iya! Putri ibu sudah makan apa belum? Ibu ambilin ya! Tunggu sebentar!" Cepat-cepat ibu memotong perkataan Nadira dengan alasan makan. Ibu pun melangkah ke teras, tak lain menuju warung kecilnya untuk mengambil makanan kesukaan Nadira.


Tidak lama, ibu pun masuk kembali kedalam ruang tamu dan menyerah kan piring berisi nasi dan lauk pauk kesukaan Nadira. "Nih, nasi sama lauk kesukaan kamu! Cepat dimakan, keburu dingin!." Kata ibu sambil menyodorkan piring.


Terdengar suara beberapa pelanggan di depan rumah yang hendak makan. Ibu yang mendengar suara mereka. Kembali keluar rumah dan menyambut pelanggannya dengan ramah tamah.


Nadira merasa ada yang aneh dengan kelakuan ibunya itu. Dia merasa jika ibu menyembunyikan sesuatu dari dia. Namun untuk menutupi kecurigaannya, ia segera menyantap makanan itu. "Ya kebeneran. Makan aja dulu. Emang lagi laper banget.. Soal itu, pikirin nanti lagi." batin Nadira.


Setelah selesai melayani pelanggan. Ibu masuk kembali ke ruang tamu. Ia melihat piring Nadira yang sudah bersih. Ia pun tersenyum.


Nadira yang melihat kehadiran ibunya. Sontak mengambil piring itu dan pergi ke dapur.


Tak lama, Nadira kembali dari dapur dan duduk di sebelah ibunya. Dengan mengambil nafas panjang, ia mulai bebicara.


"Iya, mereka semua langganan makan di sini. Dari sarapan, makan siang, makan malam." Jawab ibu menjelas kan.


"Terus kalau sudah ramai pelanggan nya, kenapa! Ibu mau pindah?" Tanya nadira mencoba bertanya perlahan.


"Bukan pindah, cuma ibu mau buka restaurant prasmanan. Kalau rumah ya tetap disini !" Jelas ibu nadira kepada putri nya.


"Kalau pindah pelanggan nya gimana, kan sayang! " ucap nadira merasa khawatir.


"Soal rejeki sudah ada yang mengatur! Lagi pula ibu beli ruko nya di depan jalan besar situ, enggak jauh dari sini kan!" Menunjuk ke arah luar rumah.


"Mungkin 100m aja sampek, pelanggan ibu yang disini, masih bisa jalan kaki kesana." Jawab ibu panjang untuk meyakinkan putri nya.


"Lagi pula mereka semua kerja di kompeksi baru di sini, dan semua yang tinggal di mess rata rata laki laki. Jadi mereka selalu makan di warung ibu. Kamu jangan khawatir !". Lanjut ibu menjelas kan panjang sekali.


"Iya, kalau ibu sama ayah memang sudah berunding! Aku akan dukung pasti nya." Jawab nadira yang merasa lega mendengar penjelasan ibu nya.


"Soal ruko!! Berapa harga nya? Ibu sewa atau beli? " tanya nadira yang masih merasa ibu nya menyembunyikan sesuatu.


"Awal nya di suruh sewa, tapi karena yang punya mau pindah ke jawa. Jadi terpaksa di jual ! " jawab ibu nadira masih dengan senyuman pahit.

__ADS_1


Nadira yang melihat ekspresi wajah ibu nya saat menjawab pertanyaan nadira. Ia langsung tahu, bahwa masalah nya pasti uang.


"Jangan sampai gadai sertifikat rumah!" Nadira sontak mengingatkan Ibunya. "Dira bakal bantu semampunya, ibu harus ingat ini." imbuh Nadira.


Ibu Nadira mengiakan ucapan putrinya, raut wajahnya memperlihat kan kesedihan. Dirinya merasa tak enak hati karena selalu merepotkan putri sulung nya itu.


Setelah puas berbincang dengan Ibu, dan bertemu Ayahnya. Malam itu Nadira pun lekas pulang, mengingat besok ia harus kerja. Setelah lama di perjalan, Nadira sampai di kosnya. Setelah mandi dan memakan bekal makanan yang di bawakan oleh Ibunya. Nadira duduk di atas kasur dan menatap laptop yang menayangkan video Drama Korea.


Sedang asyik menonton, tiba-tiba smartphone Nadira berdering. Namun Nadira tidak menghiraukan, dan terus melanjutkan kegiatannya. Panggilan itu tidak berhenti dan smartphone nya terus berdering sampai lima kali


Nadira mulai kesal dan terpaksa mengambil smartphone nya. "Siapa sih, ganggu aja! Udah malem juga!" Suara Nadira ketus menggerutu sembari menjawab panggilan telepon itu.


"Siapa?" tanya Nadira ketus, tapi matanya masih fokus nonton.


"Alex, Dimana lu?" Kata pria itu, Alex ini temannya Nadira.


"Dikos lah! Kenapa?" Jawab Nadira datar yang pandangannya masih fokus nonton.


"Gue mau minta tolong nih! Bisa enggak?" Tanya Alex dengan nada memelas.


"Minta tolong apaan, malam-malam begini!? Lagi mager! Ogah keluar kosan!." Jawab Nadira ketus, pandangannya belum beranjak dari layar laptop itu.


"Please, ma-lem ini aja! Gue minta tolong banget Dir." Terdengar suara Alex yang dengan nada memohon itu membuat luluh Nadira "Yeah, minta tolong apa?" Nadira yang baik hati tak kuat mendengar permintaan temannya yang memohon.


"Gantiin gue balapan, jam 1 nanti malem." Ucap Alex dengan nada mulai tenang


"Aduh, gimana ya! Kamu tau aku udah lama enggak ikut balapan. Jadi motorku," Nadira terdiam sejenak. "Kayaknya enggak bisa!." Jawab Nadira yang kembali fokus nonton.


"Soal motor gampang, gue siapin? Ini soal harga diri gue Dir, please! Kata nya tadi loe bisa... " kembali berbicara dengan nada memohon.


"Ya tadi aku kira mau minta tolong apaan!. ." Sahut nadira menghela nafas.


"Tenang aja, gue minta tolong enggak cuma cuma kok. Lagian hadiah untuk pemenang nya, juga lumayan. loe bisa ambil uang hadiah nya! Gimana?" Alex yang tak berhenti, terus berfikir untuk membujuk nadira.


Nadira yang mendengar ucapan alex, mulai tergiur dengan tawaran itu. Seketika ia berhenti menonton dan mematikan laptop nya. Dengan suara begitu semangat ia berkata.


"Oke, kalau gitu aku gantiin. Dimana lokasi nya?" Tanya nadira dengan serius.


"jalan pantai serangan!" jawab alex.


"ok aku ke sana!! " sahut nadira bersemangat.


Setelah bersepakat via telpon, nadira segera bersiap dan bergegas untuk segera pergi ke lokasi.

__ADS_1


__ADS_2