
Selamat membaca.
Jangan lupa tekan Like-nya untukku.
Pukul 18:28, masih suasana Pantai.
Langit yang berwarna orange, sudah berganti warna menjadi hitam putih. Hari semakin gelap, di ikuti dengan langit yang menghitam. Bahkan suara adzan magrib samar terdengar di telinga. Karena jarak dari sumber suara yang terlampau jauh.
Warga lokal Pulau B yang bekerja di dekat pantai, segera melakukan sembahyang Trisandya. Bahkan ada pengunjung pantai yang juga ikut sembahyang di sana, hamparan pasir putih.
30 menit berlalu dari kepergian Surya, dan dua sejoli. Mereka belum juga kembali ke tempat Arkana dan Nadira.
Nadira terlihat gusar. Bukan karena ketiga orang yang tidak kunjung datang itu. Tetapi, ini sudah magrib. Ia ingin segera pulang, untuk menunaikan kewajibannya.
"Pulang yuk?" Ajaknya kepada Arkana. Ia sudah bosan, sedari tadi hanya duduk diam menatap langit yang perlahan menghitam.
"Pulang?" Ulangnya lagi, memastikan. Sedari tadi gadis itu hanya diam, dan sekarang minta pulang. Bahkan tidak ada obrolan sama sekali. Terkadang Arkana bertanya, namun di jawab simple oleh gadis itu.
"Iya..." wajahnya sudah mulai lesu.
Arkana menoleh ke belakang sebentar. "Tetapi mereka belum balik. Kita tunggu sebentar lagi, ya?" Berusaha memberi pengertian dengan suara pelan.
Nadira menghela nafas berat. "Oke." Jawabnya dengan menoreh senyum yang di paksakan.
Lima menit kemudian.
Di angkat lengannya. Di tengok jam tangan itu. Ia menutup kelopak matanya sebentar, seraya menghela nafas kasar.
"Kita ke sana yuk." Ia menunjuk ke arah minimarket seberang jalan, yang terhalang oleh tembok.
"Ke sana, mana?" Ia bingung dengan arah yang ditunjuk oleh tangan Nadira.
Keduanya saling manatap satu sama lain.
"Minimarket. Kita susulin mereka. Sebenernya mereka tu beli apa sih. Lama banget! Udah setengah jam lebih nih." Arkana hanya membisu, mendengar celotehan gadis itu.
Wajah Nadira merengut. "Gak tau juga, kalau belinya di Buleleng sana," ia menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya itu.
Alis itu di naikkan sebelah. Ia penasaran dengan satu kata dari kalimat Nadira. "Buleleng?" samar terdengar di telinga Nadira.
"Ya, Buleleng. DI Sana, jauh!" Tunjuknya asal. kemana saja, selain arah pantai.
Nadira bangkit. Di tarik lengan pria itu dengan sedikit memaksa. "Yuk,"
Arkana ikut bangkit, menuruti perintah gadis itu.
Langkah keduanya sudah sampai di parkiran. Kaki keduanya berhenti sebentar saat hendak menyeberangi jalan di depan mereka.
Nadira dan Arkana berdiri bersebelahan. Pandangan si pria tertuju ke Minimarket. Pandangan si gadis malah fokus ke satu tempat parkir, dimana Beni memarkirkan mobil.
Ia mulai menelisik ke segala arah. Mencari keberadaan mobil yang tadi ia naiki bersamaan dengan Arkana dan temannya.
Arkana menggandeng tangan gadis itu. Untuk segera melangkah, menyeberangi jalanan yang sudah mulai sepi. "Ayo!"
"Bentar."
Ia melepas tangan Arkana.
__ADS_1
"Kenapa lagi?" Ia hampir hilang kesabaran dengan tingkah Nadira.
Tadi buru-buru mau ke Minimarket. Sekarang, malah jalan ke sana. Maunya apa sih ni cewek? heran gue!
Arkana berjalan, menyusuli kepergian Nadira.
Setelah Nadira merasa jika Arkana sudah berdiri di belakangnya. Ia berkata, "tuh kan. Emang firasat aku tuh gak pernah salah! Dari tadi, perasaan ini udah enggak enak banget." Gerutunya dengan suara lirih.
"Kenapa?" Ia bertanya. Karena tidak mendengar dengan jelas suara Nadira.
"Kita ditinggal. Kamu tau? tadi pacar-nya Vio parkirin mobilnya di sini, kan?" Ia menginjak-injak aspal itu dengan geram. Rasanya ingin sekali ia mengahancurkan tempat itu.
"Dan sekarang, liat?" Ia menunjuk tempat di depannya, yang sudah rapat dengan kendaraan beroda dua dan empat.
"Mobilnya enggak ada.... Mereka sengaja tinggalin kita di sini." Ia merengut, memalingkan wajah dan berbalik badan.
Arkana menghela nafas, seraya menutup kelopak matanya sebentar. Lalu merogoh saku celana, untuk meraih ponselnya. Digenggam ponsel itu. Dicari kontak Surya, lalu ia menekan icon hijau untuk memanggil.
"Dimana?" Kata Arkana, setelah panggilannya terhubung dengan Surya yang di seberang sana.
"Gue, di hotel."
"Sama Beni juga?" Tanyanya lagi. Ia tidak habis pikir, jika mereka pergi ke hotel.
"Ya gak lah. Gue sama Anggi." jawab Surya masih santai.
"Terus Beni dan Vio, kemana? Gue sama Nadira udah mau pulang nih." Ia sudah mulai geram, merasakan kelakuan sahabat-sahabatnya yang tidak terkordinir itu.
"Tadi sih, bilangnya mau ke Nusa Dua. Liat hotel Nyokab loe yang baru buka itu...." masih santai.
"Ah. Bentar-bentar...."
Kata Surya yang di seberang sana, mencoba menjeda obrolan itu.
"Buka dikit lagi... Kamu suka gaya ini?"
"iiiyaah... pelan-pelan."
"Pasti. Kamu tinggal merem melek aja. Oke"
"mmmm.. "
"Sakit?"
"eng gak."
"Apa aku bilang, ini akan nikmat."
Ponsel itu masih melekat di pipi, dekat telinganya. Arkana mendengar semua percakapan Surya.
Sial. Batin Arkana. Ia menduga jika sahabatnya itu sedang *** *** dengan pacar barunya di hotel.
Fak. Dasar curut! gue ditinggalin di sini.. eh mereka enak-enak kan pada main di hotel. Emang pada cari mati !!!
"******." Diputus panggilan itu. Ia merasa sangat kesal sekarang.
Suara teriakkan Arkana, membuat Nadira berbalik badan ke arah pria itu. Bahkan banyak pengunjung, yang melihat dan melirik ke arah Arkana.
__ADS_1
"Kamu meneriaki aku?" Sarkas Nadira.
Ia segera menggeleng, dengan sedikit rasa canggung. "Enggak lah, mana berani."
Ia mengangkat tangan, menunjuk tempat parkir yang di seberang sana.
"Coba cari di sana. Siapa tau, mereka cuma pindah parkir aja." ia tersenyum canggung.
"Oke!" Jawab gadis itu cepat. Segera Nadira berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Arkana.
Arkana mengetik sesuatu di layar ponselnya. Mungkin itu sebuah pesan. Lalu ia melangkah mengejar ketertinggalan-nya dari Nadira.
***
Hotel 3X, jarak 2 menit dari Pantai Kuta.
Di sebuah kamar hotel. Surya yang sudah berada di atas tubuh seorang wanita. Tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh kedua insan itu.
Mereka asik bercumbu, mengeluarkan hasrat masing-masing.
Dering ponsel itu tidak berhenti. Dan itu sangat menggangu konsentrasi Surya.
"Lihat dulu, siapa tau penting." Begitu kata wanita yang dikenal dengan panggilan Anggi.
Helaan nafas itu terdengar kasar. Tubuh itu masih di posisinya. Hanya tangan Surya yang bergerak untuk meraih ponselnya.
Isi pesan dari 'Arka'.
BONUS BULANAN HANGUS. KALAU LOE BERTIGA GAK BALIK KESINI DALAM WAKTU 5 MENIT.
Tck. Surya menarik tubuhnya dari Anggi.
"Tunggu sebentar ya." "Emm," jawab Anggi dengan anggukan kecil.
Surya berjalan menjauhi ranjang. Ia membuat panggilan kepada Arkana.
"Halo." Kata Surya saat panggilannya sudah tersambung.
"Gue gak masalah sama bonus hangus. Tapi loe bisa pakek ini sebagai alesan untuk berduan sama Dira, kan!!!" begitu kata Surya lagi, merasa geram.
"Gue kasih tau lewat chat... Tapi jangan ganggu gue lagi." panggilan itu terputus.
"Gak tau nanggung apa.. lagi enak juga. Bos reseh!"
Surya berbalik. Kembali ia melangkah menuju ranjang, tempat Anggi menunggu. Surya duduk perlahan di ranjang itu. Tangan dan sorot matanya masih fokus ke layar ponselnya.
Anggi bergerak mendekati Surya. Kedua tangannya melingkar di tubuh pria itu dari belakang. "Sabar ya." kata Surya dengan lembut. Ia menatap Anggi sebentar, lalu kembali menatap layar ponselnya.
2 menit kemudian.
Surya sudah selesai dengan ponselnya. Diletakkan ponsel itu di atas meja kecil dekat ranjang.
Disentuh dengan lembut tangan Anggi yang masih melingkari tubuhnya. Wajahnya menoleh, agar dapat bertatap muka dengan Anggi. Diciumi bibir gadis itu. Sebentar berciuman. Surya kembali mendapatkan sinyal yang kuat. Ia pun segera melanjutkan pertempuran-nya dengan Anggi yang sempat tertunda.
Berikan 👍 dan ❤ kalian untukku.
Terimakasih.
__ADS_1