
Arkana menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai bawah. Pandangannya berkeliling, mencari keberadaan Nadira. Namun tidak kunjung di temukan. Arkana sudah mencarinya ke ruang tv dan dapur, pun tidak ada sosok gadis itu. Bayang-bayangnya saja tidak terlihat.
Arkana merasa heran. Dimana sebenarnya sosok yang dicari oleh Arkana. Seisi Villa sudah diobrak-abrik. Bahkan kalau bisa dijungkir balikkan Villa ini, hanya untuk mencari Nadira. Tetap saja tidak ketemu.
Dia mulai resah dan mencoba untuk menenangkan pikirannya. Menghirup udara segar di luar Villa, mungkin bisa mengurangi keresahannya. Dia segera berjalan menuju pintu keluar.
"Selamat siang, Tuan."
Security menghampiri Arkana yang berdiri tepat di mulut pintu utama. Security sengaja menghampirinya untuk menyampaikan pesan dari Nadira.
"Lalu dimana dia sekarang?"
Tegas Arkana dengan nada tinggi. Setelah mendengar pesan dari Nadira yang disampaikan oleh Securitynya.
"Lalu kau biarkan gadis itu pergi begitu saja?"
"Iya. Saya pikir, Anda sudah tau."
Pak Wan merasa gelisah. Merasa bersalah kepada majikannya. Dia takut jika Tuan Arka akan marah padanya. Karena kesalahannya ini. Dia memang baru bekerja di Villa ini. Sifat Arka, tentu Pak Wan sudah tau betul.
"Asem." Arkana mengumpat karena kesal. Kesal, karena Nadira ingkar dengan perkataannya. Dia tidak habis pikir jika Nadira pergi begitu saja dari Villanya. Padahal Nadira sudah janji, akan tinggal selama seminggu untuk merawatnya.
"Apa dia membawa barangnya?"
Tanya Arkana, mulai santai pelafalannya. Pak Wan menengadahkan wajahnya. Dengan sopan dia menjawab "Iya."
Jawaban singkat Pak Wan cukup untuk membuat Arkana frustasi.
Segera disuruh security itu kembali ke tempatnya. Agar rasa kesalnya tidak bertambah. Arkana lekas kembali menuju kamarnya. Berniat untuk mengambil ponsel miliknya yang di tinggal di sana.
Setelah sampai di kamarnya. Diraih ponsel yang sedang di charger itu dari atas meja. Kontak dengan nama Vio segera dipanggilnya. Lama sudah Arkana menunggu jawaban dari Vio. Akhirnya panggilan keduanya segera tersambung.
"Apa yang kamu katakan kepada Nadira?" Nada Arkana tegas, menunjukkan kemarahan.
"Kamu- " Arkana mencoba menahan amarahnya kepada Viola. Dia merasa sangat marah dengan jawaban Viola via telepon ini. Namun dia merasa ada benarnya juga. Nadira belum jadi pacarku, kenapa aku harus pusing memikirkannya. Biarkan dia pulang ke kosnya jika dia ingin.
Arkana memutus panggilan itu setelah selesai bicara. Dia mulai merasa tenang setelah berbicara dengan Viola. Sekarang dia tidak ambil pusing dengan kepergian Nadira. Dia yakin jika sebentar lagi gadis itu akan mendarat kepelukannya.
Di sebuah supermarket, Nadira terlihat sedang bekerja. Di gang body care, dia sedang menyusun beberapa produk sabun milik kantornya. Karena raknya rendah. Dia melakukannya dengan posisi berjongkok. Satu per satu produk itu diambil dari dalam kardus. Lalu dengan rapi medisplay-nya di rak. Selesai dengan body wash, Nadira mulai membuka kardus berisi shampo. Karena posisi raknya tinggi, Nadira melakukannya dengan berdiri. Dia melakukanya dengan rapi, sama seperti sebelumnya. Sudah habis 5 kardus shampo ia display. Dia beralih ke produk pasta gigi. Ini adalah produk terakhir yang akan Nadira display hari ini. Baru satu kardus selesai disusun di rak. Seseorang teman dari gang sebelah datang menghampirinya.
"Be suod Dir?" Tanyanya kepada Nadira.
Nadira mengalihkan pandangan kepada seseorang yang menayainya ini. Dari nada suaranya, dia sudah tau jika ini adalah Mbok Ayu. Wanita yang sudah berkepala tiga ini asli penduduk pulau B. Logatnya bicara pun terdengar khas Bali. Nadira dengan senyum ramah menjawab pertanyaan Mbok Ayu. Dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kalau belum selesai tinggal aja dulu. Kita istirahat, makan dulu. Nanti lanjut lagi."
"Ntar aja Mbok, nanggung. Aku makan di istirahat bagian kedua aja. Mbok duluan mu."
"Ini udah istirahat bagian kedua. Kamu mau nunggu istirahat keberapa? Emangnya kamu gak sholat, apa?"
Setelah mendengar kata shalat. Akhirnya Nadira menjeda pekerjaannya.
Memutuskan untuk istirahat bersama Mbok Ayu. Nadira dan Mbok Ayu sudah sampai di loker. Keduanya langsung mencuci tangan, agar bersih dari debu-debu ringan yang menempel.
Mbok Ayu sedang membuka lokernya. Mengeluarkan kotak nasi yang dibawanya dari rumah. Sedang Nadira. Dia duduk termenung dengan terus memandangi jari tangannya. Terlihat seperti sedang membersihkan noda hitam di kukunya.
"Yuk ke kantin." Ajak Mbok Ayu yang sedari tadi memperhatikan Nadira. Dia seperti tau apa yang sedang di pikirkan gadis itu.
Di tengah jalan menuju kantin. Nadira berkata ingin pergi ke Mushola dulu. Mbok Ayu pun mengangguk, tau akan kewajiban apa yang harus Nadira lakukan.
Mbok Ayu terus berjalan menuju kantin. Sedang Nadira berbelok sedikit menuju Mushola. Segera dia mengambil air wudhu untuk mensucikan dirinya. Menghilangkan najis-najis ringan yang menempel. Di raih mukena merah jambu dari lemari kayu bersekat, bertulis nama Nadira.
Segera di tunaikan kewajibannya di waktu sore itu. Di rekaat terakhir, Nadira mengucap salam. Lalu mengusap wajahnya dengan dua tangan.
Dia kembali bersujud, mencoba pasrah akan takdir Tuhan padanya. Dia sadar, jika ia hanya hamba yang lemah tak berdaya dan penuh dosa. Hanya bisa memohon ampun untuk kesalahan-kesahannya di masa lalu. Meminta agar hari-harinya kedepan semakin baik dari kemarin. Kedua orangtua dan adiknya diberi sehat selalu.
Nadira segera bangkit dari sujudnya. Merasa dirinya terlalu serakah ketika berdo'a. Dilepas mukena yang membalut tubuhnya. Segera dia keluar dari Mushola langsung menuju kantin.
Di Kantin.
"Siap Mba Dir." Jawab gadis ceria bernama Tika. Dia anak dari juru masak di kantin. Sehabis pulang sekolah selalu bantu ibu dan kakaknya di sini.
Nadira berjalan menuju ke tempat duduk Mbok Ayu. Tidak lama dia duduk. Datang Tika dengan semangkung mie yang tadi dipesan oleh Nadira.
"Makasih ya, Tik."
"Sama-sama Mba Dira!" Tika langsung pergi dan kembali membantu Ibunya.
"Kok makan mie aja Dir? Nanti sakit, kamu."
"Lagi males makan nasi Mbok."
Jawab Nadira pelan, yang sama sekali tidak bisa dibantah oleh Mbok Ayu.
Nadira meneruskan makan sendirian. Karena Mbok Ayu selesai duluan, ya karena dia sudah makan dari tadi. Dia hanya menemani Nadira. Dengan cepat Nadira menghabiskan mie itu.
Mbok Ayu tersenyum kecil. Melihat Nadira yang sangat lucu dengan cara makannya. "Kamu abis diputusin pacar ya, Dir?" Celetusan Mbok Ayu langsung membuat mata Nadira melebar.
__ADS_1
"Nggak Mbok." Jawab Nadira jujur. Boro-boro diputusin. Pacar aja dia enggak punya. Batin Nadira.
"Terus kenapa men, dari tadi muka kamu kusut gitu. Kayak baju abis di ucek-ucek."
"Gak ada. Emang muka ku gini tiap hari." Jawab Nadira dengan memutar bola matanya.
"Jangan gitu nak'e. Cerita sama Mbok, kamu lagi ada masalah apa?" Mbok Ayu mencoba membujuk Nadira. Dia tau pasti jika gadis ini sedang dalam kesulitan.
"Butuh uang?" Selidik Mbok Ayu.
"Seng!" Tegas Nadira menyangkal bahwa itu tidak benar.
"Men, apa?"
Nadira hanya diam. Seolah dia bisu dan tuli yang tak mendengar dan berucap.
"Di dunia ini. Ada dua hal yang bisa buat kita jadi sedih, resah, lemah juga menderita. Kamu tau, dua hal itu adalah UANG dan CINTA."
Nadira mulai tertarik dengan pembahasan Mbok Ayu. Wajahnya sangat penasaran dengan perkataan Mbok Ayu selanjutnya.
"Demi cinta. Ada pilihan untuk mencari uang dan meninggalkan kekayaan yang mungkin 7 turun gak bakal habis hanya untuk orang terkasih. Tapi-" Mbok Ayu menjeda perkatannya. Dia memastikan jika Nadira benar-benar mendengarkan.
"Demi uang. Ada sebagian orang yang menjual cinta dan harga diri mereka. Semata-mata untuk hidup mewah bergelimang harta." Nadira tersenyum. Seakan membenarkan perkataan Mbok Ayu.
"Ada yang rela hidup semati hanya karena uang. Orang-orang seperti ini biasanya berkata. KALAU CINTA ITU BISA DATANG BELAKANGAN, YANG PENTING ITU UANG. Cinta gak bisa di makan. Kita makannya nasi. Nasi dibeli pakai uang, bukan cinta."
Nadira menyungging senyum di ujung bibirnya. Perasaannya mulai membaik setelah mendengarkan Mbok Ayu.
"Orang kaya sering jadi sasaran mereka. Dan yang harus kamu tau. Entah itu orang kaya, miskin. Ratu, Raja, budak, pelayan. Hitam, putih. Semuanya sama, punya perasaan."
"Kamu sedih karena cinta?" Tanya Mbok Ayu, dia begitu ingin mendengar kejujuran Nadira.
"Emm. Tapi dia bukan siapa-siapa ku, Mbok. Aku juga belum yakin sama perasaan ini."
"Tapi kamu suka dia?"
"Kayaknya sih." Nadira sedikit malu dan tidak percaya diri saat mengatakan ini.
"Dia suka kamu?"
"Aku gak yakin, Mbok. Dia bilangnya gitu." Nadira terlihat lesu. Energinya seakan terkuras saat menjawab pertanyaan ini.
"Mau denger saran dari Mbok, seng?" Nadira tersenyum dengan gerakan mengangguk. Seolah ingin segera mendengar saran dari Mbok Ayu.
__ADS_1
"JANGAN RAGU SEDIKIT PUN TENTANG CINTA. Jika hati dipenuhi rasa ragu, cintamu akan gagal."
Nadira dibuat tertegun dengan kalimat yang dikatakan oleh Mbok Ayu. Pikirannya seolah terbuka karena ini. Dia mulai menangguhkan hati untuk kedepannya.