Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Sesal, untuk Siapa?


__ADS_3

Masih di dalam Kafe.


Nadira, Alex dan Fiona masih duduk bersama didalam Kafe.


Menikmati minuman mereka masing-masing. Waktu sudah menunjukkan pukul 12:30. Sudah satu jam mereka mengobrol bersama.


"Kamu kenapa senyum-senyum?" Tanya Alex kepada kekasihnya, Fiona.


"Enggak pa pa!" Jawabnya, cepat.


"Kamu pasti sangat senang karena keluarga Alex kaya raya!"


"Kok kamu tau?" Tanya Fiona, tercengang.


Aku pikir dia pintar, ternyata salah.


Itu sangat jelas di wajahmu, bodoh!


Nadira mencibirkan mulut saat memalingkan wajah.


Bagaimana Nadira selalu bisa menebak semua jalan pikiran Fiona dari tadi. Dia sampai takut, kalau-kalau Nadira juga bisa mendengar isi hatinya.


"Kelihatan banget! Papa nya emang adil, kalau kamu hamil diluar nikah. Dan bilang kalau itu anak Alex. Papanya pasti meminta Alex menikahi kamu, tetapi selama anak diperut kamu belum lahir. Maka kamu dan Alex tidak bisa bertemu. Ketika bayi kamu lahir, akan langsung dites DNA. Kalau cocok, kamu bisa jadi istri sah Alex. Kalau tidak cocok, kamu dalam bahaya."


"Jadi, jangan macem-macem!" Imbuh Nadira, memperingati dengan tatapan sinis.


Deg.


Fiona diam membisu, setelah mendengar penjelasan dari Nadira. Keceriaan yang sedari tadi terukir diwajahnya semakin memudar. Sekarang wajahnya terlihat lesu. Kecemasan, takut, menyesal, semua bercampur jadi satu.


"Kamu tenang aja, aku pasti tanggung jawab kalau kamu hamil"


Kata Alex, mencoba menenangkan kekasihnya itu. Karena memang dia yang merenggut keperawanan dari Fiona.


Hmm, tapi cewek kamu banyak. Bukan cuma aku, kan!


Batin Fiona ada yang disesalinya.


Alex dan Fiona masih berbicara berdua. Nadira pun mengintip jam tangan yang dia kenakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12:45.


"Kalian bahas deh berdua, gue mau turun. Siap-siap kerja!" Kata Nadira, yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Oke!" Jawab Alex.


"Oh ya, Dewa yang waktu itu, mau tanding lagi sama loe, gimana?" Imbuh Alex.


"Kapan-kapan kalau gue senggang." Jawab Nadira, kemudian berjalan pergi. Meninggalkan kedua temannya, yang masih duduk disana.


Nadira segera turun kelantai satu, berjalan menuju loker. Bersiap untuk mulai melakukan kegiatan berkerjanya. Dari me-display produk, mirroring, mencatat produk sell out dan lainnya.


Di Villa Arkana.


Di dalam sebuah kamar yang cukup luas, terdapat 4 orang lelaki. Sibuk memindahkan, dan menyusun barang-barang disana. Mendekorasi ruangan kamar, seperti keinginan pemilik Villa ini.

__ADS_1


Hampir semua isi ruangan, di dominasi dengan warna biru dan putih. Dari mulai sprei, selimut, dan semua yang ada diatas ranjang warnanya biru. Sofa warna biru, horden warna putih. Dindingnya pun di cat ulang, dengan warna biru.


Tidak lama datang seorang lelaki, dia hanya berdiri ditengah pintu.


Menyandarkan satu tangan kepintu.


"Bagaimana?" Tanya Arkana, kepada 4 orang yang sedang sibuk itu.


"Berapa lama lagi akan selesai?" Imbuhnya lagi, sembari mengedarkan pandangannya, ke sekeliling ruangan kamar itu.


Salah satu dari mereka ada yang mendekat kearah Arkana.


"Sudah hampir selesai, Pak."


Jawab lelaki itu kepada Arkana.


"Berapa lama? Saya tidak mau, jika orang yang punya kamar sudah pulang. dan pekerjaan kalian belum juga selesai." Kata Arkana, sedikit kesal. Dia merasa para pekerja ini sangat lemot.


"Sebentar lagi selesai Pak, saya jamin. 1 jam lagi akan segera rampung!" Jawab lelaki itu gemetaran, terintimidasi dengan tatapannya.


"Ya sudah, lanjutkan!" Kata Arkana, berjalan pergi.


Dia menuju kamar miliknya, yang hanya berada di sebelah kamar yang sedang di perbaiki. Dia masuk, dan berbaring perlahan di atas ranjang.


Tangannya meraih ponsel yang dia letakkan di atas bantal. Yang berada di sebelahnya. Di ketik ketik ponsel itu, dia membuat panggilan kepada seseorang.


"Ya, halo!" Kata Arkana, menjawab perkataan seorang di sebrang via telpon. Yang lebih dulu menyapanya.


"Baik. Nanti aku suruh Dokter aku, untuk ke tempat kamu." Jawab seorang wanita, via telpon itu.


"Ya!" Jawab Arkana, segera mengakhiri panggilan telpon itu.


Di letakkan kembali ponselnya ditempat awal. Arkana mulai memejamkan matanya perlahan. Dia merasa lelah, karena bosan sendirian. Tidak lama ponselnya berdering. Dia segera meraih ponsel itu dengan cepat.


"Halo!" Kata Arkana, setelah menerima panggilan itu.


"Halo!


Ka? Ka? Tuan. Tuan Arkana?"


Panggil seorang disebrang, karena Arkana sama sekali tidak bicara setelah mendengar suaranya.


"Halo, kamu dengar aku ngomong? Jawab, Bro!" Kata seorang via telpon itu, lagi.


"Ka?" Imbuhnya, belum mendengar suara Arkana.


"Ha?" Arkana sudah mau bicara, tadi dia begitu semangat. Karena dia pikir itu panggilan dari Nadira. Setelah dia dengar suara itu, adalah suara Beni. Teman yang menjabat sebagai sekertarisnya. Dia mendadak kesal, jadi malas bicara.


"Semua urusan disini sudah selesai. Aku mau susul kamu ke pulau B. Aku berangkat 4 hari lagi, boleh ya? Sekalian liburan."


Kata Beni dari sebrang sana.


"Iya, yang terpenting urusan disana sudah selesai. Suruh Felin urus semuanya. Bilang, setelah kamu selesai liburan. Dia.juga boleh ambil libur."

__ADS_1


"Oke, Terimakasih!"


Tut Tut Tut. Suara panggilan telah berakhir.


"Asem! Aku kira Dira yang telpon, ternyata si ****** malah minta libur!" Umpat Arkana, sembari melempar pelan ponselnya ke kasur.


Dia kembali memejamkan matanya pelan. Menutupi wajahnya dengan satu lengan kanannya. Dia sedang berpikir tentang Nadira.


Terbayang-bayang akan wajahnya yang cantik. Senyumnya yang manis. Suaranya yang terdengar merdu ditelinganya. Bibirnya,


"Ah, ingin sekali aku mencium bibirnya itu, Arggg" lamunannya terhapus karena keinginan yang belum terpenuhi. Dia tidak bisa berkhayal tentang itu. Harus segera melakukannya, kalau tidak! Dia bisa gila, karena terus memikirkannya.


"Tetapi aku berjanji, tidak akan memaksanya." Arkana menghela nafas panjang.


Sedikit menyesali ucapan yang dia janjikan sendiri kepada Nadira.


"Aku adalah lelaki sejati. Tidak akan ingkar dengan janji ku sendiri." Kata Arkana, sangat teguh dalam pendirian.


"Ya benar, Arka kamu harus segera mendapatkan gadis mu!" Kata Arkana, menyemangati dirinya sendiri.


Tidak lama, ponselnya kembali berdering. Dia malas menjawab panggilan itu. Bahkan sama sekali tidak melihat layar ponselnya. Sampai satu panggilan tidak terjawab.


10 detik kemudian, suara dering ponselnya kembali terdengar.


Arkana tidak bergeming, kembali memejamkan matanya perlahan.


Sampai dua panggilan tidak terjawab.


10 detik berikutnya, ponsel itu kembali berdering. Ini sudah yang ketiga kalinya. Arkana menjadi kesal karena seseorang yang menelpon nomornya.


"Ganggu aja!" Kata Arkana, sembari meraih ponsel itu.


Terpampang jelas nama Nadira di layar ponselnya. Wah, dia begitu semangat sekarang. Hendak di geser ikon berwarna hijau dilayar ponselnya.Tetapi panggilan itu tiba-tiba, diputus lebih dulu oleh Nadira.


Padahal dia sudah bersiap membuka mulutnya untuk berbicara. Senyum lebarnya, sekarang memudar.


"Si alan!" Umpat Arkana sangat marah.


30 menit sudah, Arkana menunggu panggilan telpon dari Nadira. Tetapi tidak juga menelpon kembali.


Terdengar suara lelaki memanggilnya. Dia pun keluar, tau kalau itu suara kurir sekaligus pekerja yang merenov kamar disebelahnya. Lelaki itu menyampaikan, kalau kamar itu sudah selesai di renovasi.


Arkana pun menuju kamar disebelahnya. Untuk memastikan hasil kerja mereka. Arkana masuk kedalam kamar itu. Dia terlihat sangat puas dengan kerja ke4 orang itu.


"Bagaimana, Pak?" Tanya salah satu dari mereka.


"Bagus, sangat sangat bagus" Arkana tersenyum lebar saat mengatakannya.


"Pembayaranya akan saya transfer ke Bos kalian." Imbuh Arkana.


"Baik, kalau begitu kami permisi dulu."


"Baiklah. Terimakasih!" Kata Arkana, berjalan mengantar mereka keluar dari Villanya.

__ADS_1


__ADS_2