
Hai... Selamat membaca ya. Jangan lupa tekan Like, sebelum atau sesudah membaca. Terimakasih.š
Nadira hanya diam. Lagi-lagi perasaan aneh muncul secara tiba-tiba dan memenuhi hatinya. Ia senang, bingung, ragu-ragu, juga ada perasaan takut.
Ia takut jika pria yang sedang memeluk tubuhnya ini hanya akan mempermainkan perasaannya. Ia ingin menerima Arkana. Namun, ia terlalu takut untuk memulai sebuah ikatan. Apa lagi ini melibatkan perasaan. Ia sedang berpikir. Bagaimana caranya agar hubungan diantara ia dan Arkana tetap baik-baik saja.
"Lagi-lagi kamu diam. Apa aku gak pantas untuk jadi pacar kamu?"
Perlahan pelukan itu melonggar. Ia sedikit kecewa dengan sikap Nadira. Ia merasa sedang dipermainkan oleh gadis itu.
Ia menghembuskan nafas pelan. Nadir sedih, karena pelukan itu perlahanĀ melepasnya. Ia juga merasa kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri, yang tidak mampu melangkah maju. Untuk memulai sebuah hubungan yang baru.
"Aku..." ia tidak sanggup melanjutkan kalimat itu.
Arkana bergeser. Sedikit memberi jarak duduk di antara dirinya dan Nadira.
Huh. "Aku kenapa?" Ia menoleh ke Nadira. Menatap gadis itu denganĀ geram.
Lagi-lagi Nadira diam. Lidahnya keluh. Tubuhnya bergetar kecil. Hatinya terasa perih bagai tersayat belati. Sulit untuknya bernafas lega, walau oksigen bertebaran dimana-mana.
Arkana ikut diam. Ia sudah tidak berselera lagi untuk bersuara. Ia duduk dengan sedikit menekuk kakinya. Dikeluarkan bungkus rokok dari saku celananya. Diambil satu batang rokok lalu di letakkan di sela-sela bibirnya.
Huh...
Sekumpulan asap rokok bertebaran ke udara. Beberapa isapan dan hembusan itu dilakukan oleh Arkana.
Nadira masih diam. Ia benar-benar tidak dapat berkata-kata untuk saat ini.
Arkana mematikan sebatang rokok yang masih sedikit itu. Lalu kembali mengambil sebatang rokok dari bungkusnya dan menyulutnya dengan api yang berasal dari korek.
Nadira masih diam. Ia terlihat cuek dengan kegiatan Arkana.
"Bagi satu batang."
Wajah itu menoleh. Melihat Nadira yang baru saja berkata untuk meminta rokoknya. Diberikan bungkus rokok itu kepada Nadira beserta koreknya.
Dikembalikan lagi bungkus rokok itu, setelah ia mengambil satu batang. "Makasih."
__ADS_1
"Hem." Arkana meraih bungkus rokok itu, lalu meletakkannya di atas pasir putih. Di tengah jarak keduanya, bungkus rokok itu bagai sekat untuk mereka.
Ia mengesap rokok itu. Wajahnya menoleh ke samping untuk membuang asap rokoknya. Beberapa kali ia mengesap rokok itu. Ia baru ada keberanian untuk berkata kepada Arkana.
"Aku pernah sekali punya pacar."
Arkana sedikit menoleh Nadira. Ujung matanya menelisik gadis itu. Ia penasaran dengan kelanjutan kalimat itu. Namun ia hanya diam, sama sekali tidak bersuara untuk bertanya.
Merasa perkataannya tidak di respon oleh Arkana. Ia merasa canggung. Namun, ia masih memilih untuk melanjutkan ceritanya itu. Sambil sesekali mengesap rokok yang ada di sela jari tangan kanannya.
"Waktu itu, aku masih SMA. Dia cinta pertamaku." Ia mulai mengingat masa-masa SMAnya dulu yang terasa begitu indah.
"Kami pertama kali kenal di tempat latihan bela diri. Waktu itu aku diem-diem ikut pencak silat, tanpa sepengetahuan orangtuaku."
Nadira menjeda perkataannya. Ia menghempaskan asap rokoknya jauh ke atas. Ke udara. Ia ingin sekali melayang bebas seperti asap itu. Tapi ia juga tak ingin seperti asap itu yang dihisap dirasa lalu dihempas.
"Gak perlu waktu lama setelah kenalan. Kami langsung jadian. Menurutku, dia baik, perhatian, dewasa, pengertian. Aku suka, dan kita saling cinta."
Arkana menoleh lagi karena dua kata, yaitu saling cinta. Ia melihat senyum tipis yang tercetak di wajah Nadira. Ia berpikir, mungkinkah Nadira masih mencintai pria itu?
"Usia kami selisih setahun. Waktu pertama jadian, aku masih kelas 10 dia kelas 11. Mungkin karena faktor itu, dia jadi bisa ngemong aku yang lebih muda setahun."
"Kami juga beda sekolah. Aku SMA dia di SMK. Karena itu, kami jadi jarang ketemu. Karena jarak itu kita putus. Tapi, setelah tiga bulan kita jadian lagi."
"Kenapa?" Celetuk Arkana. Ia sudah tidak tahan lagi untuk tidak berkomentar kali ini.
"Karena aku masih cinta sama dia. Selama tiga bulan terakhir itu aku enggak pernah deket sama cowok lain."
"Terus?" Ia makin penasaran.
"Waktu kelas 2 SMA aku pindah sekolah ke sini. Lagi-lagi ada jarak di antara kami. Namun, setelah lulus SMA hubungan kami jadi makin serius."
"Kalian mau nikah muda?"
"Ya enggak lah. Tapi itu salah satu janji kami. Untuk menikah dan jadi pasangan sehidup semati, di dunia dan akhirat."
"Sekarang?"
__ADS_1
"Kami udah putus. Ini ceritaku dulu."
"Terus, kenapa kalian putus?"
"Dia selingkuh."
"Udah aku duga!" Celetuk Arkana dengan geram. Memdadak ia jadi kesal dan marah, bukan dengan Nadira. Melainkan kesal dengan seseorang yang telah menyakiti Nadira di masa lalu.
"Gak masalah sebenernya kalau dia selingkuh. Karena jarak kami yang jauh, antar pulau. Mungkin dia kesepian saat aku gak ada di sisinya."
"Gimana ceritanya, selingkuh gak masalah!" Sarkas Arkana lagi. Ia kesal sampai ke ubun-ubun.
"Selama aku masih satu-satunya di hatinya, aku gak masalah. Tapi aku terlalu percaya diri kala itu. Satu hari selingkuhannya ngehubungin aku, minta untuk ngejauhin pacarnya yang juga pacarku."
Huh. Helaan nafas itu keluar begitu saja. Ia menutup kelopak matanya pelan, menyadari matanya mulai berair. Ia berusaha menahan air bening itu untuk tidak keluar.
"Waktu itu aku pergi ke kota S sendiri. Sengaja untuk ketemu sama dia. Aku minta dia untuk memilih diantara aku dan selingkuhannya itu. Tapi...."
"Apa?"
"Katanya dia gak bisa milih antara aku dan selingkuhannya itu. Dia pengen nikahin kita berdua. Dan gak mau ngelepas salah satu diantara kita."
"Lalu?"
"Pastinya aku kecewa. Dia berubah jadi orang lain dalam waktu singkat. Dan aku putusin untuk gak lagi berhubungan sama dia."
"Karena itu kamu takut, untuk memulai hubungan lagi sama aku?"
"Bener. Aku takut kecewa lagi. Aku takut dibohongi lagi. Aku takut dihianati. Aku takut jatuh cinta.... " Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Ia menyeka setitik air bening di ujung matanya. Hidungnya mulai berair seperti sedang flu. Tangannya bergantian mengelapi air matanya, dan menutupi hidunganya.
Ia sekarang tau, alasan kenapa Nadira selalu menolak dirinya. Menolak pengakuan cintanya. Bukan karena gadis itu tidak mencintainya, namun gadis itu hanya terlalu takut untuk memulai.
Arkana menyadari itu, karena ia juga pernah merasakan sakit yang sama dilubuk hatinya. Namun, ia merasa sedikit senang. Sepertinya ada harapan untuknya bisa bersama Nadira.
Arkana membuang putung rokoknya. Ia mengambil sapu tangan dari saku belakang celananya.
"Kamu masih cinta sama cowok itu?" tanyanya sambil mengusap pelan pipi berair Nadira, menggunakan kain berwarna coklat itu.
__ADS_1
"Enggak..." suaranya lirih namun terdengar jelas oleh Arkana.
"Kalau gitu jangan nangis! Aku gak mau lihat kamu nangis, ngabisin air mata, untuk seseorang di masa lalu yang udah nyakitin kamu."