
Sudah agak lama Nadira menunggu. Dirinya tetap sabar menunggu kedatangan Arkana dengan duduk di sana, seorang diri.
Telinga Nadira menangkap suara kaki yang begitu cepat, mendekat.
Ada seseorang yang datang.
Kepala Nadira menoleh. Netranya menangkap sosok pria gagah sedang berdiri di ujung sana. Sekarang, pria itu berjalan ke arahnya.
Sosok ini mengambil langkah yang besar, untuk segera sampai di hadapan Nadira. Langkahnya terhenti di dekat meja bundar itu.
Sosok ini berdiri di samping kanan Nadira. Menyerahkan buket mawar putih kepada Nadira.
Kepala Nadira mendongak. Untuk bisa menjangkau pandangan si sosok ini. Matanya mendelik tidak percaya. Saat tau sosok ini adalah, "Kamu?"
"Iya. Aku. Emangnya siapa?"
Hati Nadira mulai tenang saat ini. "Aku kira, kamu gak dateng."
"Mana mungkin." Arkana memajukkan tangannya, memberi ulang buket mawar putih itu kepada Nadira.
Tangan kanan Nadira mengambil bunga itu. Dihirup pelan pucuk bunga mawar putihnya. Untuk menghirup aroma harum dari mawar putih ini.
Arkana tersenyum. Merasa senang, karena Nadira menyukai bunga yang ia berikan.
Bukannya duduk di kursi. Arkana malah berlutut. Dengan satu lutut kiri menempel ke lantai dan lutut kanan untuk menopang siku tanganya.
Nadira tertegun. Menatap pria ini dengan perasaan tidak percaya. Tidak percaya ada seseorang yang akan berlutut di depannya. Dan Arkana yang pertama.
Arkana sedikit mendongak. Agar pandangannya menjadi lurus dengan Nadira. Tangannya meraih jemari lentik Nadira. Netranya tidak lepas memandangi wajah ayu gadisnya ini.
"Apa jawabanmu?" tanya Arkana. Ia tak mau menunggu lama.
Keduanya masih saling menatap di satu garis lurus.
"Sama seperti sebelumnya."
"Kamu yakin?" Sekali lagi Arkana meminta kejelasan. Semakin erat pula tangan Arkana menggenggam jemari Nadira.
Wajah serius Nadira. "SANGAT YAKIN." Tegasnya. Tanpa sedikit pun keraguan.
Arkana menundukan wajah. Merasa wajahnya telah rusak oleh coretan. Hatinya sakit. Dadanya tiba-tiba sesak. Ia ingin menghirup semua oksigen di ruangan ini. Untuk menghidupkan dirinya lagi, dari kematian sedetik.
Ya. Ini yang terakhir. Terakhir kali, aku genggam tanganmu. Melihat wajahmu. Mendengar suaramu. Tabahkan hatimu arkana. Ini hanya cinta sepihak. Kau harus sadar jika sudah di tolak tiga kali berturut-turut. Wajahmu mau di taruh dimana? jika berita ini tersebar keluar. Kau akan jadi bahan tertawaan orang lain, karena jadi budak cinta.
Setelah merasakan dirinya sedikit tenang. Arkana bangkit dari lantai. Tangannya perlahan melonggarkan genggaman. Tubuhnya berbalik. Hendak meninggalkan ruangan ini.
Nadira menaikkan wajahnya. Menatap wajah Arkana yang kesuh penuh kekecewaan. Pasti sakit sekali rasanya. Ia pun tidak ingin merasakan sakit karena penolakan cinta.
"Tunggu!" Nadira menangkap pergelangan tangan Arkana. Menahan kepergian pria ini.
Nadira berdiri. "Kamu mau kemana?" tanyanya penuh heran.
Arkana tertawa geli. "Mau kemana?" tanyanya ulang untuk diri sendiri.
Tubuhnya tidak berbalik untuk melihat Nadira. "Aku cukup sadar diri. Kamu menolakku lagi. Mana mungkin kita berdua masih duduk berhadapan di satu ruangan yang sama. Aku tidak sememalukan itu."
__ADS_1
"Tapi aku gak malu!" Tegas Nadira keras.
Lagi-lagi Arkana tertawa geli. "Itu kamu!" Kepalanya menoleh Nadira yang di belakangnya. Lalu ia menggeleng kecil. "Bukan aku!"
"Ya. Itu aku-" menjeda bicara untuk menunjuk diri sendiri. "Dan kamu."
menunjuk dada Arkana.
"Aku enggak." tolak Arkana.
"Kamu juga." tuduh Nadira.
"Aku gak memalukan." Tekan Arkana. Tidak terima.
"Yakin?" tanya Nadira memastikkan.
Hanya deheman yang keluar dari mulut Arkana, sebagai jawaban.
"Biasanya, pasangan serasi itu saling bertautan. Contoh, baju. Warna dan corak harus mirip. Biar orang-orang tau kalau mereka itu cuople. Jadi, kalau aku memalukan. Kamu juga MEMALUKAN." Nadira sengaja melafalkan dengan pelan, kata memalukan di akhir kalimatnya.
"Pasangan?" Arkana mendekatkan wajahnya. Mengoreksi perkataan gadis ini.
"Kamu gak salah ngomong? kita bukan pasangan. Apalagi serasi." Imbuh Arkana, merasa ini tidak benar. Meski ia ingin itu jadi kenyataan
Nadira kembali duduk di kursi dengan santainya. Duduk miring, menghadap pria di depannya.
"Kita kan udah resmi jadian. Jadi, kita pasangan." dengan entengnya Nadira mengeluarkan kalimat itu dari mulut mungilnya.
Arkana diam. Tak mampu berkata-kata. Otaknya masih menyerap kalimat yang baru saja didengarnya ini.
Tangan Arkana melebar. Tangan kanan di letakkan di meja. Lalu tangan kirinya di letakkan di kursi yang diduduki Nadira. Tubuhnya condong. Memiringkkan kepala, agar pandangan keduanya sejajar. "Resmi jadian? serius?"
"Hemm." dehem Nadira, dengan segala artinya.
"Jadian?" ulang Arkana memastikan.
"Iya." kata Nadira, sambil memejamkan kelopaknya pelan.
"Yang bener?" lagi Arkana.
Nadira melebarkan matanya. "Iya. Iiiya." tekan Nadira. Kok lama-lama kesel ya. Udah dijawab dari tadi. Masih nanya mulu'.
Arkana memajukan kepalanya. Di cium dengan lembut dahi Nadira, yang sekarang sudah resmi jadi pacarnya.
Deg. Nadira kaget bukan main. Karena prianya ini tiba-tiba mencium dahinya. Seketika deguk jantungnya menjadi cepat. Pipinya jadi panas. Ia segera menutupi pipi dengan kedua tangannya. Tidak ingin jika Arkana melihat rona merahnya.
Arkana sumringah karena Nadira tidak menolaknya. "Sekarang aku harus manggil kamu, apa? sayang. Cinta. Honey atau bebz."
Nadira menautkan alisnya. "Apaan, sih?"
Tangannya Nadira mendorong pelan dada Arkana. "Udah-udah..... duduk sana!" perintah Nadira. Yang langsung di kerjakan Arkana.
"Aku pikir, kamu nolak aku lagi." kata Arkana dengan nada lesunya. Namun lebih terlihat wajahnya yang sumringah.
"Makanya jangan dipikir. Ditanya."
__ADS_1
Mata Nadira mendelik. "Kalau dipikir aja. Siapa juga yang tau."
"Tapi-"
"Tapi, apa?" potong Nadira secepat kilat.
"Kamu bilang. Jawaban kamu sama seperti sebelumnya. Aku pikir-"
"Pikir lagi." potong Nadira lagi.
"Jadi. Sebelumnya, kamu juga udah nerima aku untuk jadi pacar kamu?" tanya Arkana memastikan.
"Iya."
Siitan "Tau gitu, aku dengerin jawaban kamu waktu di pantai itu. Harusnya kita udah jadian dari hari itu." Arkana tampak kesal saat ini.
"Bukan salahku. Kamu yang gak mau dengar." Nadira menambahi penyesalan untuk Arkana.
"Yah. Emang salahku. Tapi-" menjeda bicara untuk meraih tangan Nadira.
"Mulai sekarang. Aku akan dengerin semua kata kamu." Arkana tampak serius dengan perkataannya ini.
Namun, Nadira yang mendengar. Merasa, jika ini hanya kalimat manis yang tidak berarti. "Semua?" ia memastikan.
Arkana berdehem. "Semua!"
Nadira menatap serius. "Deal?" "Deal!"
Keduanya saling memandang. Senyum dan tawa mereka saling bertautan. Seolah, tidak percaya dengan keadaan ini. Tidak percaya dengan waktu yang sudah menyatukkan mereka di ruangan ini.
"Ngomong-ngomong. Ini kafe, 'kan?"
Tanya Nadira.
"Iya. Kafe?" bingung Arkana.
"Tapi kenapa lebih mirip toko perabotan ya? Kamu ngerasa gitu, gak sih?"
Arkana menyipitkan matanya. Memutar bola matanya. "Toko perabotan?" ulangnya. Mungkin ia salah dengar.
"Iya. Liat!" Menunjuk barang di meja satu-satu. "Piring, gelas, sendok, garpu. Cuma pajangan aja. Gak berisi."
Arkana terkekeh. Perutnya dibuat kram oleh lelucon pacarnya ini. "Maaf. Maaf."
PROK. PROK.
Pelayan kafe dengan setelan jas. Bergiliran memasuki ruangan ini. Mendorong meja yang berisi macam-macam sajian masakan.
Dengan keterampilan yang sudah profesional, pelayan-pelayan ini meyajikkan masakan ke atas meja Arkana dan Nadira. Menuangkan minuman ke dalam gelas. Bahkan daging steak-nya, mereka yang potongkan.
Tanpa sadar Nadira menggeleng kecil. Memang hidupnya orang kaya. Beda sama kita yang begini. Apa keputusanku sudah benar? untuk bersanding dengan Arkana.
"Yuk! makan, sayang!" suara Arkana membuyarkan lamunan Nadira.
Nadira menarik bibirnya ke samping. "Iya. Waktunya makan!!"
__ADS_1
Keduanya menikmati makanan mereka dengan perasaan senang. Perasaan baru. Hubungan yang baru. Ini terasa amat menyenangkan, sampai mampu melupakan rasanya sakit, sedih, perih.