Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Siapa?


__ADS_3

"Hoam." Nadira menguap sambil merenggangkan kedua tangannya.


Nadira melihat jam yang menunjukkan pukul 05:40.


Nadira bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jendela. Digeser gorden warna putih itu dan dibuka jendelanya. Nadira merasakan wajahnya tertabrak oleh angin sejuk yang berebut untuk masuk ke dalam.


Nadira menutup mata lalu menghirup oksigen dengan leluasa. Setelah Nadira puas melakukannya, ia pergi ke toilet untuk mandi.


Selesai mandi Nadira langsung ganti baju kerja dan tidak shalat subuh, karena sudah dua hari ini ia sedang datang bulan.


Nadira sudah rapi dengan baju kerja lengkap dengan make up-nya. Nadira keluar dari kamar dengan membawa ransel kerja di punggungnya.


Nadira diam sejenak didepan pintu kamarnya. Menatap lekat-lekat pintu kamar sebelah, milik Arkana. Nadira berjalan ke depan kamar Arkana dan tangannya akan mengetuk pintu itu.


Nadira menggeleng pelan. "Jangan Nadira... Nanti siang aja ngomongnya, sekarang dia sedang tidur. Bukannya di maafin, bisa-bisa dia makin marah." Nadira menganggukkan kepalanya. "Iya, ngomongnya nanti aja. Sekarang aku kerja dulu." Nadira sudah yakin dengan tekadnya.


Nadira berjalan dan sampai di ruang makan. Nadira melihat Viola dan Surya yang sedang sarapan.


"Tumben sekali mereka jam segini udah bangun." Kata Nadira lirih, merasa tidak percaya melihat keduanya sudah di ruang makan jam 06:00 pagi.


Surya menyadari kehadiran Nadira. "Pagi Nad! Sini sarapan." Kata Surya sambil tersenyum.


"Ah, iya..." Nadira mendekat lalu menarik kursi dekat Viola dan duduk. Nadira mengambil piring sambil terus memperhatikan Viola.


Viola terus mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya. Viola juga sengaja memotong telur goreng dengan keras sampai terdengar suara gesekan antara sendok dan piring.


"Kamu, nggak apa-apa?" Kata Nadira, entah kenapa ia merasa khawatir dengan Viola.


"Biarin aja. Dia emang gitu kalau ditinggal Beni. Entar juga waras sendiri.... anggap aja nggak liat." Kata Surya memberi saran.


"Emang Beni kemana?" Kata Nadira penasaran.


"Balik Jakarta sama Arka. Emang Arka enggak bilang?" jawab Surya.


Nadira mencoba untuk mengingat, dan sepertinya Arkana tidak pernah mengatakan apapun soal pergi ke Jakarta hari ini.


Surya menatap Nadira dengan serius. "Dia nggak bilang sama kamu?" tebak Surya.


Nadira menggeleng. "Mungkin dia lupa... he." Nadira merasa aneh dengan jawabannya itu.


"Aish... Bukannya kalian udah pacaran? Seharusnya dia bilang sama kamu kalau mau pergi, kan? Dasar dua pria itu. Apa susahnya pamit sama pacar kalau mau pergi. Bikin kesel aja." Surya berhenti mengomel saat sadar ada kalimat yang seharusnya tidak ia katakan.


Nadira merasa canggung saat ini, karena hubungannya dengan Arkana sudah terbongkar.


Brraak.


Suara dari meja yang dipukul oleh tangan Viola. Tatapan mata Viola langsung menghunus Surya di tempat.


"Hehe..." Surya tersenyum lebar menunjukkan barisan giginya. "Maaf, keceplosan..." Viola melotot kepada Surya.


"Emang bener mereka pacaran, kan? Kenapa harus di tutup-tutupi?"


"SURYA!" Bentak Viola dan langsung berdiri.


Nadira hanya diam dan menundukkan kepalanya. Entah kenapa Nadira tidak punya keberanian untuk membalas perkataan Surya.


"Ya ya ya... Nggak boleh ada yang tau kalau mereka berdua pacaran! Bahkan kita yang satu rumah dibuat kayak orang begok gara-gara mereka."


"Sur..." Kata Viola memelan.

__ADS_1


"Apa hebatnya pacaran? kalian beneran saling cinta?" Surya menatap Nadira yang terus bungkam.


"Kalau cuma pura-pura suka, gue saranin loe berhenti. Dari pada nantinya loe yang sakit hati karena memberi harapan palsu." Surya berbalik badan dan pergi meninggalkan Nadira dan Viola di ruang makan.


Viola kembali duduk. Tangan Viola merangkul pundak Nadira dari belakang. "Kamu nggak apa-apa?" Viola menatap Nadira yang masih menunduk.


"Eish... Jangan menyalahkan Kak Arka, dia nggak bilang apa-apa kok soal hubungan kalian berdua. Kita aja yang terlalu peka... dan ternyata tebakan itu benar."


Nadira masih menunduk. Ia merasa ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan kuat. Rasanya sesak dan sulit untuk bernafas.


Viola berkata lagi, agar Nadira merasa baik.


"Kita juga baru tahu tadi malam. Kak Arka marah karena kita terus menyebut nama kamu. Dan kamu ingat! Waktu dia bilang N.A.D.I.R.A. dibaca apa? Hahaha." Viola terkekeh saat mengingat itu.


"Dari situ kita tahu kalian berdua pacaran... Setahuku ya! Serapi dan sebersih apapun Kak Arka, kalau ada yang mengotori rumah atau mobilnya. Kak Arka nggak akan marah kalau itu kami. Tapi tadi malam itu jelas beda, dia marah karena Surya memanggil kamu 'bocah itu'..." Viola melihat Nadira yang perlahan menaikkan wajahnya.


Viola merasa sangat lega. "Hah, nggak sia-sia aku banyak bicara." Viola tersenyum dan Nadira juga.


"Terimakasih, Viola." Kata Nadira. Setitik air bening mengalir lurus ke bawah pipi Nadira. Nadira segara mengusap air matanya.


"Sama-sama." Viola berdiri. "Aku juga sudah merasa lebih baik sekarang... Aku akan pergi ke Rumah Sakit."


"Iya, aku juga harus kerja." Kata Nadira.


Baru selangkah Viola pergi. Dia berbalik badan dan berkata kepada Nadira. "Oh ya! Dia bukan orang yang akan main-main dengan cinta." Viola tersenyum dan melanjutkan jalannya.


Nadira berpikir. "Maksud dia Arkana, kan?" Nadira tersenyum. Perasaannya menjadi lebih baik dan hatinya terasa sangat lega. Mirip seperti menghirup aroma mint, di hidung rasanya plong.


"Ya, aku juga bukan tipe orang yang suka memainkan perasaan."


Empat hari kemudian.


Setibanya Nadira di basemant sampai dirinya turun dan berjalan. Semua pasang mata para karyawan, SPG dan SPB tidak melepaskan sosok Nadira sedetikpun. Mereka menatap Nadira dengan aura kebencian yang sangat besar. Bahkan beberapa dari mereka mulai menjadikan Nadira topik pembicaraan.


Nadira sadar akan hal itu saat dirinya sudah di dalam SmartMall. Saat Nadira mengisi absennya. Beberapa karyawan dan SPG yang lalu lalang terus menatapnya seolah ingin membunuh Nadira di tempat.


Nadira menatap satpam yang duduk di depannya, namun dia hanya menggeleng tidak tahu. Nadira menghela nafas dan berpikir positif. "Mungkin cuma perasaan ku aja." Katanya.


Nadira melewatkan breafing karena harus pergi ke gudang untuk mengecek barang yang baru datang.


Sudah tiga jam Nadira ada di gudang dan akhirnya tugas mengecek pun selesai. Nadira pergi ke kantin karena sudah waktunya istirahat jam pertama.


Di Kantin.


Nadira duduk sendiri menikmati makanannya. Sesekali matanya melihat smartphone miliknya, yang ada di dekat piring.


"Sudah lima hari ini, Arkana pergi dan tidak ada satu kabar pun darinya." Nadira menghela nafas. Meraih smartphone miliknya.


Nadira membuka kontak yang di namai 'Arkana'. Nadira nampak ragu untuk menghubungi pacarnya itu.


"Lebih baik aku telepon atau SMS?" Nadira berpikir sejenak. "Atau lebih baik nggak usah? Hah, aku takut dia masih marah. Biarin aja deh... Siapa tahu bentar lagi dia nelpon."


"Kata Dilan rindu itu berat... Dan ternyata benar..." Nadira merunduk merasa sedih. Namun seketika Nadira tersenyum untuk menyemangati diri sendiri. "Harus sabar, orang sabar di sayang Allah."


"Orang sabar di sayang pacar!"


Nadira menoleh dan ternyata itu suara Feni. Feni dan Putri baru datang dengan membawa makan di piring.


"Kalian..." Nadira merasa lega karena yang datang adalah temannya.

__ADS_1


"Aku kira kamu nggak kerja karena nggak ada pas breafing." Kata Putri.


"Mana mungkin! emang dia mau bayar kos pake apa kalau dia nggak kerja. Emangnya kamu, gelar S.pd malah jadi SPG." Jawab Feni mendahului Nadira.


Wajah Putri cemberut. Bibirnya manyun sampai 5cm. Nadira hanya menggeleng dan tertawa kecil mendengar kata Feni.


Ting.


Suara notifikasi dari smartphone Putri. Di pegang smartphone itu dan segera dibuka notifikasi nya. Mata Putri terbelalak melihat notifikasi di smartphone miliknya. Putri menatap Nadira dan foto yang ada di layar smartphone miliknya secara bergantian.


"Ada apa?" Kata Feni merasa aneh. Sedangkan Nadira hanya diam melihat Putri.


"Coba kalian lihat." Putri memberikan smartphone nya kepada Feni.


Feni menatap layar smartphone itu lekat-lekat. "Ini kamu, Dir?" Katanya terkejut.


"Aku?" Nadira tampak belum percaya. Feni memberikan smartphone itu kepada Nadira dan dilihat foto dirinya disana. "Benar. Ini aku. Apa ini?" Nadira mulai membaca judul berita yang mengiringi fotonya bersama Arkana.


"SPG cantik di antar jemput oleh Sugar Daddy dengan mobil mewah.... Huh!" Nadira menghembus nafas keras dengan kesal.


Nadira melihat layar smartphone itu lagi. "Situs resmi perusahaan?"


Nadira menutup matanya sebentar. "Siapa yang berani nulis berita palsu ini dan sebarluaskan? Pantas aja dari tadi banyak yang melihatku dengan tatapan benci. Ternyata gara-gara ini."


Feni dan Putri hanya diam. Keduanya menggeleng tidak tahu. Keduanya juga tampak ragu dengan Nadira.


"Kalian juga nggak percaya sama aku?" Feni dan Putri menggeleng.


"Kalian lebih percaya sama berita hoax ini? Ketimbang aku?"


Feni dan Putri menganggukkan kepala dengan cepat.


Nadira diam dan tampak kecewa.


"Kita sih percaya kalau beritanya palsu. Tapi kita nggak percaya sama kamu." Kata Feni. Putri menatap Nadira sinis.


"Kamu bilang kalian cuma teman. Ternyata kalian berdua pacaran. Kamu bohong!" Kata Putri cemberut dan mengambil balik smartphone miliknya.


"Hehe." Nadira menunjukkan barisan giginya. "Maaf." Lanjutnya memohon.


"Oke." Jawab Feni begitu juga Putri.


"Padahal kemarin aku dan Feni udah taruhan untuk dapetin Ar- uubb." Mulut Putri di bekap oleh Feni.


Feni tersenyum lebar kepada Nadira. "Taruhan apa?" Tanya Nadira penasaran.


"Haha... Maksudnya Putri kita berdua taruhan untuk dapetin Ar- e... Ar, ARISAN. Ha iya itu dia. Kita taruhan siapa yang lebih dulu dapet arisan akan ditraktir makan." Feni melepas tangannya dari mulut Putri. Putri sibuk membersihkan mulutnya.


"Oh." Kata Nadira.


"Dir, gawat." Kata Putri.


"Kenapa lagi?" Kata Feni.


"Banyak banget yang sudah salin tautan dan bagikan beritanya. Lihat ini," Putri mengarahkan layar smartphonenya ke Nadira dan Feni.


"Ke Facebook dan ke Twitter. Apalagi di Facebook, gila! Yang bagikan udah ribuan." Lanjut Putri menjelaskan.


"Kira-kira siapa pelakunya?" Kata Nadira mulai berpikir sejenak.

__ADS_1


__ADS_2