
Bab sebelumnya.
Nadira sudah sampai di area parkiran. Sudah di dekat motor miliknya.
"Hah, males banget liat tingkah laku mereka yang brengsek itu." Gumam Nadira sambil menaiki motornya.
"Siapa yang brengsek?!"
Terdengar suara laki-laki yang begitu mengejutkan Nadira. Lalu Nadira menoleh dan melihat ke arah sumber suara. Nadira melihat ada seorang pria tampan yang berdiri tepat di belakangnya menyongsong aura mematikan.
...****************...
Nadira merasa akan ada hal yang tidak baik menghampiri dirinya. Nadira menoleh dan dilihatnya Dewa berdiri di belakang dengan tangan menyilang di dada.
Suasana terasa hening setelah kehadiran Dewa. Itu semua karena sikap Nadira yang acuh tak acuh. Nadira tak bergeming dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Dewa. Ia sibuk menggerakkan motornya untuk keluar dari parkiran.
"Loe tuli?" tanya Dewa tanpa ekspresi.
Nadira masih enggan bersuara.
"Hei..." seru Dewa kesal.
Nadira semakin acuh, tak menghiraukan kehadiran dan pertanyaan Dewa. Sedangkan Dewa, dirinya terus menghadang jalan Nadira dengan berdiri di depan motor itu.
"Siapa Loe sebenarnya?" Kata Dewa.
Mendengar pertanyaan Dewa. Nadira hanya memandang Dewa tanpa bersuara. Ia masih bersikukuh tak ingin menjawab. Sejenak keheningan melahap suasana mereka berdua yang saling memandang itu.
"SIAL." Karena tidak ada jawaban. Dewa merasa menyesal sudah bertanya.
"Lain kali kita balapan lagi, gimana?" kata Dewa.
"Gue harap, Loe bisa." lanjutnya
"Gue belum puas kalau cuma tanding satu kali... Gue nggak mau ngakuin kalau Loe jago." menyeringai di depan wajah Nadira yang tertutup helm.
"Oke! Tapi tunggu ada waktu luang." Nadira berkata dengan nada yang disamarkan seperti suara pria.
"Hemm, Oke!" Dewa cukup puas akhirnya pria ini mau bicara. Tetapi Dewa merasa aneh dengan suara pria ini.
"Oh iya, nama gue Dewa. Loe?"
Membuka sarung tangan. Dewa ingin berjabat tangan dengan pria ini.
Nadira membuka sarung tangannya. "N.D." Kata Nadira dengan nada disamarkan seperti suara pria. Lalu menyambut tangan Dewa tanpa ragu.
Nadira tertegun ketika hendak melepas tangannya. Dewa menggenggam tangan Nadira begitu erat, seperti enggan melepaskan. Nadira menarik paksa tangannya, namun tiba-tiba Dewa tampak tersenyum kecil. Nadira merasa khawatir dengan kelakuan Dewa yang seketika aneh.
"Asem, gue kalah sama cewek!" Batin Dewa tidak merasa kesal melainkan penasaran. Dewa jelas merasakan kehalusan kulit wanita ini saat berjabat tangan. Suaranya juga terlalu kentara jika dibuat-buat mirip pria.
"Di pertandingan selanjutnya kalau Loe kalah. Loe harus buka helm, gimana?" kata Dewa dengan nada rendah.
Nadira merasa ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan itu. Namun seketika Dewa meyakinkannya lagi.
"Loe kan udah sekali ngalahin gue. Kenapa masih ragu?" Dewa diam sejenak. "Tenang! ada uangnya juga kok." tambah Dewa.
Nadira masih berpikir untuk mengiyakan taruhan dari Dewa.
__ADS_1
"Cuma buka helm, enggak buka baju kan?!" Kata Dewa terus membujuk.
Dewa yang semakin penasaran dengan Nadira, terus memikirkan cara agar wanita ini setuju.
"Satu lagi deh! Yang menang bisa memerintahkan apa saja kepada yang kalah. Bagaimana?" Dewa mengucapkan dengan serius.
Nadira mengangguk. Yang artinya dirinya sudah setuju.
Dewa tersenyum lebar. Dewa merasa senang sekarang.
Setelah itu Dewa pun menepi dari depan motor Nadira dan tangannya mempersilahkan untuk pergi.
Nadira pun segera menyalakan motornya dan melaju pergi meninggalkan Dewa di parkiran.
***
Keesokan harinya.
Pagi hari di ARStart Mall. Nadira terlihat sedang merapikan produk yang ada di rak. Di tangannya terlihat lap kain kecil yang ia gunakan untuk menghilangkan debu. Ia terus bergerak dari rak satu ke rak yang lainnya. Ia bekerja sampai tak terasa jika hari sudah beranjak siang, dan jam istirahat makan siang pun tiba.
Pukul 12:00 waktu jam makan siang pertama. Nadira pergi istirahat, ia berjalan menuju loker untuk mengambil handphone. Setelah itu ia berjalan menuju mushola untuk shalat dhuhur berjamaah dengan pegawai lain. Selesai shalat ia menuju ke kantin Mall. Nadira memesan sepiring nasi dengan lauk pauk.
Nadira duduk dan makan bersama dengan SPG dan SPB lainnya. Terlihat mereka asyik mengobrol dan sembari menyantap makanan masing-masing.
Seketika Nadira tersadar ketika melihat juru masak dan pelayan kantin berbeda.
"Juru masak kantin?" Kata Nadira dengan tangannya menunjuk kearah dapur.
"Sudah seminggu di ganti." Jawab Putu pegawai tetap ARStart Mall.
"Oh." Kata Nadira dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah kalau menurut ku sih, sama aja." Kata Made dengan santai. Berkata dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
"Ya enggak lah, jelas enakkan masakan juru masak yang ini." Kata Tari ketus.
"Ya... Enak kan masakan yang sekarang." Jawab mereka sama, secara bergantian.
"Kalau aku tetap sama aja!" Sela si Made yang terkenal doyan makan.
"Kok bisa, apa nya yang sama, Made?" Tanya Mba Tika dengan wajah penasaran.
"Ya-- sama-sama bisa dimakan." Kata Made dengan senyuman kecil sembari menyuap mulutnya dengan nasi.
"Semprul tenan, Made ini." Kata Mba Tika lekat dengan logat jawanya. "Aku kira kamu punya pendapat lain, karena itu suka masakannya. Ternyata cuma doyan makan, tapi enggak bisa bedain rasa. Hu..." ketus Mba Tika dengan nada kesal.
Seketika semua orang di meja itu termasuk Nadira di buat tertawa oleh perbincangan Made dan Mba Tika. Suasana berubah menjadi begitu hangat dan akrab meski mereka memiliki suku dan agama yang berbeda-beda. Namun dalam pertemanan ini, perbedaan itu menjadi hilang dan berubah menjadi kunci erat pertemanan mereka.
Mereka terlihat terus mengobrol dan tertawa kecil. Namun jam makan siang ternyata sudah habis. Mereka pun segera bergegas untuk turun ke lantai satu dan kembali bekerja.
Setelah turun ke lantai satu, Nadira berjalan menuju lorongnya. Dari jauh ia melihat seorang pria tampan dengan setelah jas hitam berdiri di drug store. Nadira terus berjalan dan tak mengalihkan pandangannya dari pria tampan itu.
"Dir. Dira -- Nadiraaa--" Dengan suara keras.
"Iyaa..." Jawab Nadira lalu menoleh ke segala arah untuk mencari sumber suara dan ternyata itu Rini.
"Kesini. Buruan." Seru Rini memanggilnya tanpa sungkan.
__ADS_1
Nadira berjalan menuju kearah Rini sembari menutupi wajah dengan telapak tangannya. Nadira merasa malu, banyak customer yang melihat ke arahnya karena seruan Rini memanggilnya.
"Kalau manggil biasa aja, jangan teriak-teriak." Kata Nadira sedikit kesal, dengan wajah cemberut.
"Ye! Lagian berapa kali di panggil masih bengong aja. Awas kesambet." Kata Rini.
Celotehan Rini membuat Nadira seketika teringat oleh pria tampan yang dilihatnya tadi.
"Em, bantuin nih bongkar barang, terus pajang di rak." Kata Rini dengan nada memerintah yang ramah.
Nadira pun segera membantu partner satu lorongnya itu. Nadira, Rini dan dua SPG lain yang memang bertugas di bagian snack, mulai mengerjakan pekerjaan itu. Namun Nadira masih penasaran dengan pria tampan tadi.
"Eh, lihat cowok yang di drug store itu enggak? Ganteng ya?" memandang kearah pria tampan yang berdiri di drug store.
"Cowok! mana?!" Tanya Rini yang masih fokus mengerjakan kesibukannya.
"Itu! Yang pakai setelan kemeja hitam." Kata Nadira.
"Lihat dulu!" Kata Nadira lalu menyentuh dua sisi pipi Rini dengan telapak tangan. Kemudian memutar kepala Rini kearah drug store.
"Itu, yang itu loh Rin." Seru Nadira penuh bersemangat.
"Oh. Itu?" Kata Rini datar. "Coba kamu yang lihat." Rini membalik keadaannya kepada Nadira.
"Itu Pak Arkana, manager baru kita. Sudah lupa?!" Kata Rini dengan nada yang santai merusak rasa penasaran Nadira.
"Hah? Pak Arkana?" Kata Nadira kemudian melepas kan tangan Rini dari kepalanya.
Seketika Nadira terdiam dan melanjutkan kegiatannya. Ia merasa malu karena tak mengenali Arkana dan sudah memuji pria itu di depan Rini.
Rini hanya tersenyum melihat kelakuan Nadira. Rini merasa jika Nadira sudah mulai tumbuh rasa suka kepada Pak Arkana. Rini merasa harus membantunya untuk melakukan pendekatan, hehe.
"Dir bisa tolong ambilkan gunting di drug store?" kata Rini meminta.
"Minta mereka berdua aja." Kata Nadira mengarah kepada dua teman SPG lainya.
Kedua temannya melihat kearah Rini, seakan bertanya. Namun Rini menggelengkan kepalanya, seolah berkata 'jangan mau pergi'. Mereka pun menolak dan berbalik menyuruh Nadira. Akhirnya Nadira terpaksa pergi ke drug store untuk mengambil gunting.
Nadira berjalan dengan wajah cemberut. Setelah sampai di depan drug store, Nadira hanya diam membatu. Ia merasa gugup dan mendadak bisu, hanya menundukkan kepalanya. Pura-pura melihat produk yang ada di etalase.
"Kenapa dir?" Tanya Angga yang bertugas siang itu untuk menjaga drug store.
"Ah,, itu. Aku mau, em, mau--" Nadira berkata dengan terbata-taba karena terlalu gugup.
"Mau apa?" Tanya Angga dengan lembut.
"Emm, itu. Aah, apa ya tadi? Jadi lupa mau apa!"
Nadira tampak lucu dengan ekspresi bingungnya.
Seketika Arkana terlihat menahan tawanya, karena melihat kelakuan Nadira barusan.
Menyadari ia telah di tertawai oleh Arkana, sekilas wajahnya berubah ekspresi. Nadira kesal karena melihat Arkana yang menahan tawa di depannya. Nadira merasa kalau Arkana sedang mengejeknya.
......................
Bersambung >>
__ADS_1
Kasih ❤️ kalian untukku ya guys.