
Maaf ya! Karena udah lama banget aku gak up 'MCN'. Maaf udah buat kalian nunggu selama ini 🙏🙏 Karena apalah dayaku jika banyak kesibukkan di dunia nyataku. 😧😭 Harap kalian bisa ngertiin ya 😊😘😘
***********
Ke esokkan harinya, di pagi hari.
Di dalam kamar Nadira. Sudah agak lama suara alarm yang berasal dari ponsel Nadira memenuhi ruang kamarnya. Namun Nadira baru saja membuka kelopak matanya. Padahal alarm itu sudah berbunyi sejak subuh tadi. Dan ia baru saja terbangun pukul 06:00 pagi ini, sungguh tidak seperti Nadira yang biasanya.
Nadira beralih ke posisi duduk. Menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Kepalanya menoleh melihat sekeliling, seperti sedang mengamati ruangan itu. Sebentar ia menunduk menatap selimut yang masih setia membalut setengah tubuhnya.
Nadira menghembus nafas kasar. Memejamkan matanya. Di angkat kepala itu menatap lurus kedepan.
"Masih hidup! masih di kamar yang sama, masih di villa Arkana... Yang semalem, pastinya bukan mimpi 'kan?"
Nadira meraup wajah lusetnya. Ia sungguh berpikir keras tentang bagaimana ia harus bersikap saat bertemu dengan Arkana nanti.
Karena hubungan mereka sudah beralih dari yang bukan siapa-siapa menjadi sepasang kekasih. Ia bahkan tidak habis pikir jika mereka sudah jadian semalam.
"Aku pasti dihasut oleh setan semalam." Lagi-lagi Nadira menghela nafas.
"Bisa-bisanya, aku setuju gitu aja." Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Tampak menyesal, namun kata-katanya sudah pasti tidak bisa ia tarik kembali.
"Karena sudah jadian! harus dijalani sesuai arus.... Semoga ini yang terakhir!" Kata Nadira kepada dirinya sendiri sambil berdo'a penuh harap kepada Tuhan.
Karena waktu masih terus berjalan dan hari semakin siang. Nadira menyibakkan selimut. Turun dari ranjang. Berjalan pelan menuju toilet, sambil tangannya menggaruk rambutnya yang sedikit gatal. Ia akan mandi keramas pagi ini, berharap itu bisa menambah semangatnya untuk menghadapi dunia yang amat keras padanya.
Di ruang makan.
Arkana menarik kursi untuknya duduk. Melihat ke sisi dapur dan hanya menangkap Bik Tun seorang diri yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Pikirnya mungkin Nadira masih di atas dan sebentar lagi akan turun. Namun sudah agak lama Arkana menunggu, Nadira belum juga muncul. Arkana pun buka suara untuk bertamya kepada Bik Tun.
"Dari tadi non Nadira belum turun, Den. Mungkin masih tidur." kata Bik Tun dari dapur sana, sebagai jawaban kepada Arkana.
"Heum. Tumben! Biasanya jam segini dia udah sibuk di dapur untuk buat sarapan." Arkana diam sejenak. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa tidak nyaman karena Nadira belum juga turun.
"Apa dia sakit?" tebak Arkana karena terlalu khawatir. Karena Nadira biasanya tidak begini. Biasanya Nadira subuh-subuh sudah bangun dan membuat keributan di dapur. Hari ini ada yang beda.
Arkana bangkit dari kursi. Hendak membawa tubuhnya itu pergi ke kamar Nadira.
"Sarapan dulu, Den." kata Bik Tun mengingatkan Arkana.
Arkana berhenti sebentar lalu menoleh Bik Tun. "Nanti bik. Mau liat Nadira dulu, takut ada apa-apa gak ketahuan." Setelah selesai berkata Arkana kembali berjalan menuju lantai dua dengan tujuan yang masih sama yaitu kamar Nadira.
Sudah sampai di depan pintu kamar Nadira. Arkana berdiri dalam diam sejenak. Telinganya di dekatkan ke pintu. Mencoba mendengarkan suara dari dalam sana namun tidak terdengar apapun.
Arkana mengetuk pintu itu sekali lalu memanggil, "Dira." Arkana diam menunggu sejenak.
Belum ada jawaban. Diketuk lagi pintunya, ini yang kedua. Lalu memanggil gadis itu, "Dira." Arkana diam dan menunggu jawaban dari dalam sana.
Arkana mengetuk lagi pintu itu untuk yang ketiga kalinya. Baru saja mulutnya terbuka untuk mengucap kata 'Dira' Pintu itu sudah terbuka dan Nadira berdiri disana dengan tatapan heran.
Nadira melihat wajah Arkana dengan senyuman masamnya. "Ada apa, sih? dari tadi ketuk-ketuk pintu terus." Tanya Nadira kesal, karena hampir saja telinganya tuli oleh suara yang dibuat Arkana.
"Heum." senyum Arkana mengembang bebas dengan perasaan sedikit bersalah. Ia sudah melihat jelas raut Nadira yang marah itu. Maka ia berusaha membujuk.
__ADS_1
"Maaf! Aku kira kamu sakit. Tumben jam segini belum turun." Kata Arkana pelan yang terdengar khawatir.
"Oh... Gak sakit kok! Aku cuma pingin tidur lebih lama, lagi males bangun." Jawab Nadira pelan. Ia merasa sedikit senang karena sekarang ada orang yang khawatir tentangnya.
"Bener?" tanya Arkana.
"Heum." jawab Nadira dengan anggukan kecil.
Arkana semakin dekat. Menempelkan punggung tangannya ke dahi Nadira.
"Ngapain, sih?" kejut Nadira, meski tidak menghindar.
"Lagi periksa kamu." jawab Arkana datar.
"Aku enggak sakit!" Tegas Nadira.
Arkana menurunkan tangannya. "Iya. Sekarang aku percaya." Jawabnya dengan senyuman.
Kepala Arkana maju. Ia ingin melihat wajah cantik Nadira sedekat mungkin agar tidak ada yang menghalangi pandangannya itu.
Jarak wajah keduanya hanya beberapa inci saja, sampai keduanya bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.
"Kamu ngapain, sih?" geram Nadira penuh heran. Dengan gaya merengutnya yang khas Nadira banget.
"Liatin pacar aku." Jawab Arkana santuy dengan senyum pepsodentnya.
Huh. Nadira memejamkan kelopaknya sebentar. Tidak habis pikir dengan kelakuan Arkana yang konyol ini.
Saat Nadira terpejam, Arkana dengan cepat mengecup bibir indah di depan matanya itu.
"Ar ka na?" kata Nadira penuh penekanan.
"Apa?" Tanya Arkana santai yang sudah mundur sedikit lebih dulu. Takut tiba-tiba tangan Nadira refleks dan mendarat di pipinya, kan gawat.
Nadira melihat ke kanan lalu kekiri. Takut jika tiba-tiba ada seseorang yang melihat mereka. "Jangan kayak gitu. Kalau ada yang liat.. gimana?" Katanya memperingati.
"Gak akan ada yang liat. Mereka mana berani." Jawab Arkana enteng. Toh ini Villanya siapa yang berani mengamati dan mengomentari kegiatannya bakalan END.
"Tapi aku gak suka." Kata Nadira.
"Gak suka, tinggal kasih kucing. Gitu aja kok repot." Jawab Arkana masih dengan senyumannya. Ia pura-pura tidak memgerti dengan maksud Nadira itu.
"Ar- "
"Ar ar... apa?" Kata Arkana yang langsung memotong perkataan Nadira.
"Sekarang, kita udah resmi pacaran. Semua orang di villa ini udah tau, kalau kamu itu wanitaku. Nyonya Arkana!" Jelas Arkana yang sama sekali tidak dapat dimengerti oleh Nadira.
Nadira hanya melongo mendengar semua itu. Ia berkata dalam hatinya.
Apanya yang wanitanya dan nyonya Arkana. Kita aja baru jadian semalem. Dasar tukang halu...
Arkana meraih pergelangan tangan Nadira. Menarik pelan tangan Nadira. "Yuk!"
__ADS_1
"Kemana?" tolak Nadira menahan diri.
Arkana menatap Nadira lalu berkata. "Ke bawah."
"Ngapain?" tanya Nadira lagi.
"Sarapan... kamu gak laper?" Tanya Arkana datar. Dan masih setia menatapi wajah Nadira.
"Ah. Iya.. Sarapan. Laper lah.. he he." Jawab Nadira dengan cengiran yang terlihat rada kikuk campur malu. Karena sempat berpikir yang tidak-tidak.
"Yuk turun." Kini Nadira yang berbalik mengajak Arkana, karena sangking canggungnya.
Arkana mengangguk setuju. Lalu mulai berjalan lebih dulu membuat Nadira juga ikut berjalan karena tanganya tertarik.
Di lantai bawah, ruang makan.
Arkana menarik satu kursi dan mempersilahkan Nadira untuk duduk di sana.
Nadira tersenyum sebagai ucapan terimakasih sebelum akhirnya ia duduk di kurai itu.
Setelah Nadira duduk. Arkana menarik kursi di sebelah untuk tempat duduknya sendiri.
Bik tun datang dengan mangkuk yang berisi sup ayam di tangannya.
Meletakkan dengan pelan mangkuk itu di atas meja. "Silahkan, Den, Non." begitu kata Bik Tun sebelum akhirnya kembali berjalan ke dapur.
"Bik-"
"Sstt." potong Arkana. Menghentikkan Nadira yang ingin memanggil Bik Tun.
Nadira melirik dulu sebelum ia menoleh ke Arkana. Sorot matanya seolah sedang mempertanyakan sikap pria di depanya ini.
"Biarin Bik Tun selain pekerjaannya. Kita makan berdua aja. Heum?" pinta Arkana dengan tatapan lembut ke arah Nadira.
Sedikit demi sedikit Nadira luluh dengan kata Arkana. Apa lagi melihat wajah yang sengaja di imut-imutin itu. Ah, Nadira merasa ingin sekali mencubit hidung Arkana yang mancung itu.
"Oke!" Senyum Arkana mengembang mendengar jawaban dari Nadira ini.
Arkana mengambil piring Nadira dan mulai mengisinya dengan nasi. Arkana tampak semangat sekali pagi ini. Ia bahkan gagal menyembunyikan perasaan senangnya karena berhasil mendapatkan Nadira. Senyum itu terus melekat di wajahnya.
Arkana mengangkat sendok berisi makanan. Menyodorkan sendok itu ke arah Nadira. "Aaa!" Pinta Arkana kepada Nadira.
Nadira bingung saat Arkana memintanya untuk membuka mulut. Nadira merasa malu, karena ini baru pertama kalinya ada seseorang selain ibunya mau menyuapinya. Nadira di suapi juga kalau biasanya dia sedang sakit parah.
Nadira menggeleng. Menolak suapan Arkana. "Aku gak sakit. Bisa makan sendiri." Katanya lembut namun tegas.
"Aaaa." lagi pinta Arkana tidak menyerah.
Nadira menatap lurus ke Arkana lalu menggeleng. "Aku gak sakit!" tegasnya sekali lagi.
Arkana masih memegangi sendok itu. Ia menghela nafas pelan melepas frustasinya.
"Aku tau. Tapi aku pingin kamu makan ini. Sekali aja, bisakan?" Kata Arkana lembut. Padahal di dalamnya ia sudah sangat menahan diri. Ada apa dengan pacarnya ini.
__ADS_1
"Heum, ya." Nadira melahapnya. Dan Arkana tampak senang dengan itu.
Dan mereka kembali makan seperti semula. Padahal Arkana berharap jika Nadira bisa melakukan hal yang sama seperti itu. Namun Arkana hanya melihat Nadira yang asik makan sendiri seolah di sebelahnya ini tidak ada seseorang. Arkana jadi berpikir. "Apakah benar Nadira pernah pacaran sebelumnya, atau tidak? Sikapnya masih sangat polos untuk hal sesederhana ini. Apa lagi yang begituan! Dia pasti belum ngerti."