
Tok Tok. Suara pintu yang diketuk. Pemilik kamar itu segera berlari kecil. Samar-samar langkah kakinya terdengar oleh telinga Viola.
Ia merasa gugup. Banyak kata yang sedang ia susun di dalam otaknya itu. Sesegera mungkin merangkai kalimat yang pas, untuk ia katakan nanti. Ia melakukan senam wajah yang seharusnya dilakukan saat bangun tidur. Yah. Ia merasa itu cukup membantunya untuk lebih releks dan bersikap natural.
Klek. Pintu di depannya sudah terbuka sedikit.
Ia menautkan kedua alisnya, "Kamu?" Tanya Nadira saat wajah Viola muncul di depan-nya, ketika pintu itu terbuka.
Ia tersenyum lepas. Melepas kegelisahan yang sedari tadi menempeli dirinya. Ia sempat berpikir, jika pintu itu tidak dibuka. Maka ia akan tamat hari ini juga.
"Iya. Ini aku." Senyum Viola perlahan memudar, mengikuti suaranya.
Ia masih terpaku di sana. Melihat wajah yang penuh senyuman itu, dari pintu yang terbuka sedikit.
Kenapa gadis ini lagi. Aku nyesal, udah ngira kalau dia Arka. Bikin sepet mata aja!
"Boleh, aku masuk? Ada yang ingin aku bicara kan dengan kamu." Viola menunjukkan ketulusannya. Ia sungguh ingin berbaikkan. Semoga saja gadis itu menerimanya untuk masuk kedalam. Sungguh. Sedari tadi ia terus berdo'a di dalam hati kecilnya.
Nadira merasakan kejujuran dari gadis itu. Memang ada sesuatu yang harus diluruskan diantara keduanya. Itu juga bisa menghapus kesalahpahaman-nya dengan Arkana.
"Ya. Silahkan! Aku juga merasa begitu," pintu itu ia tarik sampai terbuka lebar. Langkah Viola segera memasuki kamar itu. Pintu itu kembali di tutup oleh Nadira.
Ada dua sofa berwarna coklat, dengan meja bundar di antara keduanya. Tubuh Viola sudah duduk di sofa, sebelum pemilik kamar itu meminta. Meski itu bukan villanya, tetapi Nadira juga punya hak akan kamar itu. Karena Nadira yang menempatinya sekarang.
Sorot mata itu menatap tajam. Memperhatikan gadis yang sudah duduk di sofa itu.
"Kenapa?" Suara Viola keluar, karena tatapan yang tidak mengenakan itu. "Apa aku harus duduk di lantai?" Ia mengarahkan satu jari lentiknya ke bawah sana.
Nadira berjalan mendekati sofa, lalu menjatuhkan pantatnya di sana. Huh. Ia menyungging senyum tipis di ujung bibirnya.
"Kalau kamu mau. Boleh! Silahkan." Nadanya terdengar sangat ramah. Bahkan ia seperti sedang menyuruh gadis itu melakukannya.
Mata itu memicik. Ia tidak habis pikir, jika gadis itu benar-benar memintanya duduk di lantai.
Dia sungguh cocok dengan Kak Arka. Sama-sama gesrek. Nyebelin. Kasar.
Tubuh itu beringsut. Ia merasa saat tubuhnya turun dan duduk di lantai. Maka harga dirinya juga ikut turun bersamanya.
Aku jadi prihatin dengan diriku sendiri. Seorang Dokter sepertiku harus duduk di lantai. Hanya untuk menjelaskan kesalahpahaman. Omama.
Sepasang mata itu melihat wajah Viola yang amat frustasi. Nadira terkekeh. Lalu beringsut dari sofa. Ia ikutan duduk bersila di lantai. "Sekarang. Mau ngomong apa?"
Ia tidak akan sekurang ajar itu, membiarkan seseorang duduk dibawah, sedangkan ia duduk di sofa. Ia jadi berpikir. Mungkin gadis itu merasa sangat bersalah. Sampai mau menuruti candaannya barusan.
Viola tertegun. Menatap penuh kagum, ke arah gadis di sebelahnya itu.
__ADS_1
Aku salah. Dia tidak seburuk yang aku pikirkan. Aku mulai suka.
Tidak terasa senyum tipis tertoreh di wajah Viola.
"Aku mau jelasin soal yang kamu dengar dari dalam kamar Kak Arka waktu itu." Ungkap Viola. Ia sudah bertekad sedari tadi, untuk memulai perbincangan.
"Emm," ia sangat santai. Anggukkan pelan sebagai isyarat, agar Viola melanjutkan perkataannya itu.
"Sebenarnya aku bukan pacarnya Kak Arka. Hari itu aku iseng, karena pingin tau aja. Sebenarnya kamu itu pacar dia atau bukan."
Terus. Begitu jawab Nadira dengan menancapkan sikunya ke paha. Ia kepalkan tangannya, lalu ditempelkan ke wajah bagian pipi kiri, untuk menopang kepalanya.
Bibir itu mengerucut. "Ya.... aku cuma penasaran aja sama hubungan kalian berdua. Karena," ia menjeda bicaranya. Melihat ke arah pintu. Ia takut jika ada seseorang yang mencuri dengar pembicaraan mereka dari luar sana.
Wajahnya menoleh. Ikut melihat ke arah yang sama dengan Viola.
Dengan suara lirih, gadis itu bertanya kepada Nadira.
"Pintunya kamu kunci?" "Iya."
Sontak wajah keduanya menoleh bersamaan. Menatap wajah satu sama lain.
"Kenapa?" Tanya Nadira, merasa bingung dengan sikap gadis itu.
Ia merasa gadis itu semakin aneh saja. "Karena apa?" Ia mengingatkan kembali kalimat yang dijeda oleh Viola.
"Karena, kamu cewek pertama yang dia deketin." "Aku?" Sarkas Nadira, seraya mengacungkan telunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Ya...." jawab Viola dengan anggukkan pelan beberapa kali. Ia berusaha meyakinkan Nadira.
Huh. Nafas panjang dihemuskan kasar. Ia merasa jika perkataan Viola itu tidak lah benar. "Kamu yakin?" "Dia itu cowok brengsek. Palingan juga, dia punya banyak pacar di luar sana."
NO. Telunjuknya di acungkan ke atas, lalu digerakkan ke kanan ke kiri. "Kamu salah. Kak Arka gak kayak gitu." "Masak!" Sarkas Nadira tak percaya.
"Beneran," Viola sangat yakin akan itu. Ia tau betul kisah percintaan Arkana. Pria itu tidak pernah jatuh cinta sama sekali. Di otaknya hanya ada kerja. Kerja. Dan kerja.
"Dia itu cuek abis sama cewek. Bisa dibilang kalau dia itu 'anti cewek'. Makanya tante Elisa selalu jodoh-jodohin Kak Arka. Dari yang model, aktris, guru, bahkan cewek blasteran. Semuanya dia tolak."
Ia tertegun dengan kenyataan itu. "Tante Elisa." "Mama-nya Kak Arka," jawab Viola cepat.
"Cuma kamu satu-satunya cewek yang bisa deket sama dia." Imbuh Viola.
Nadira mengernyit. Bibir itu di naikkan sedikit ke pojok kiri. "Kamu sendiri, juga cewek." Ia merasa itu hanya bualan yang dibuat seakan jadi nyata.
Ia menghela nafas panjang. Ia tidak pernah sefrustasi ini, ketika memberi saran kepada pasiennya di Rumah Sakit. "Ya beda lah. Aku udah kayak adik sendiri di mata Kak Arka. BEDA sama kamu!"
__ADS_1
Ia memutar bola matanya. "Yah. Siapa tau aja, dari adik jadi pacar. Kamu diem-diem suka sama dia."
"Amit-amit. Tipe aku gak kayak dia. Lagian aku udah punya pacar!" Sarkas Viola merasa geram.
Ia mencondongan tubuhnya kedepan, "Arkana?" Begitu selidik Nadira.
Sontak Viola melebarkan matanya.
"Ya bukan lah. Pacarku itu lebih ganteng, lebih baik dan lebih perhatian. Gak kayak Kak Arka si GALAK itu."
Nadira mencibirkan bibirnya. Ia masih tidak mempercayai perkataan gadis di depannya itu. Ia masih ingat betul dengan suara ******* yang didengarnya waktu itu. Dan perkataan Viola belum membuatnya percaya.
Ia menangkap pergelangan tangan Nadira. "Ayo ikut aku."
***
Di ruang tv. Arkana, Surya dan Beni sedang duduk di sofa. Surya menyalakan tv untuk memecah keheningan di antara mereka. Pasalnya, sedari tadi ketiga orang ini hanya sibuk dengan ponsel masing-masing.
Surya menekan tombol remot. Ia mencari acara yang pas untuk ditonton. "Eh. Itu itu." Suara Beni menghentikan jari Surya untuk menekan tombol lagi.
Bibir itu saling menyambut. Hisapan dan ******* itu terasa sangat nikmat.
Woaahh. Tiga orang yang sedang sibuk, sontak menghentikan kegiatan mereka. Menatap layar tv yang sedang menayangkan adegan ciuman.
Tap tap tap tap.
Deru langkah kaki yang sangat kencang, tidak lagi terdengar oleh telinga mereka. Sorot mata mereka masih fokus dengan adegan ciuman itu.
Viola segera menghampiri Beni. Ia berdiri di depan kekasihnya yang sedang duduk di sofa. Tubuhnya membungkuk, untuk menjangkau wajah Beni. Ia menangkap wajah Beni. Lalu menyatukan bibir mereka.
Ciuman ini terasa nyata. Aku baru tau jika menonton adegan ciuman di tv, ternyata bisa meningkatkan halusinasi seseorang.
Deg. Mata Beni melebar, saat ia menyadari wajah Viola sudah di depannya.
Ia menghentikan kegiatannya. Melepas wajah Beni. Dan kembali berdiri dengan benar.
Nadira yang berdiri di belakang. Sedikit jauh dari sofa itu. Ia tertegun. Mulutnya menga-nga. Kaget dengan kegiatan yang dilakukan Viola barusan.
"Gimana? Kamu udah percaya, sekarang?" Sorot mata itu menatap serius ke arah Nadira.
Ia tersenyum tipis. "Ya. Aku percaya," tubuhnya berbalik. Nadira pergi meninggalkan ruang tv itu dan orang-orang di sana.
Huh. Viola menghempas nafas kasar. Dijatuhkan tubuhnya ke sofa. "Tidak ku sangka. Dia baru percaya dengan cara ini."
Ketiga pria itu terkekeh oleh tingkah Viola. Tanpa disadari. Arkana juga merasa lega sekarang.
__ADS_1