
Sepasang mata pria itu masih memandangainya. Menanti jawaban dari pertanyaan yang ia berikan.
Wajah Nadira terlihat malas. Ia tidak tau harus berkata apa lagi kepada Arkana. Ia melangkah masuk ke dalam kamar kosnya. Kepala saja sudah pusing, ditambah pertanyaan bodoh. Bikin naik darah aja nih orang. Di batinnya, ia menggerutu tanpa pria ini tau.
Arkana melangkah memasuki kamar, mengikuti Nadira dari belakang. "Biar aku aja." Tangannya meraih koper yang ingin di bawa Nadira. Dan tidak sengaja menyentuh punggung tangan Nadira.
Arkana mendapati sepasang mata itu langsung menatapnya. Entah kekuatan muncul dari mana. Sentuhan itu mampu menggetarkan hati mereka. Rona merah mulai menerpa pipi keduanya.
Segera dilepas koper itu oleh Nadira. "Makasih!" Jawab gadis itu ragu. Menghindar dari sorot mata Arkana yang memandanginya. Demi apa? Jantungku begeduk kenceng banget. Mau copot rasanya. Nadira menghela napas, berharap pipinya tak lagi memanas.
Pria itu menelan salivanya. Senyuman kecil tergambar di wajahnya. Ia mengingat kejadian lalu, saat bibir gadis itu digulatinya. "Maaf!" Pintanya. Dan semakin serius pandangan itu ke arah Nadira.
Nadira menoleh kembali. Melihat wajah pria yang berdiri disampingnya. "Untuk apa?" Ia benar-benar tidak tau harus memaafkan kesalahan yang mana.
Arkana berkedip, menyelaraskan pandangan matanya. Dia tidak tau harus menjawab apa. Ingin ia jelaskan kesalah pahaman di antara mereka. Namun ia sudah terlanjur minta maaf.
"Aku gak tau harus jelasin dari mana. Tapi cewek yang waktu itu ke villa. Dia bukan pacarku." Jelasnya serius.
Nadira menaikkan kedua alisnya. "Oh." Katanya dengan mebentuk bibirnya seperti angka O.
Jawaban singkat itu membuat Arkana semakin kelabakan untuk menjelaskan. Banyak kata yang ingin ia katakan. Tetapi sangat sulit untuk menyusun kata itu menjadi suatu kalimat. Agar jadi penjelasan yang tepat untuk gadis itu.
"Aku gak bohong. Dia sepupunya Surya. Kami gak punya hubungan apa-apa."
Lagi-lagi gadis ini menaikkan kedua alisnya.
Arkana memejamkan matanya sebentar. Ia merasa harga dirinya telah jatuh kali ini. Tapi biar saja lah. Pria itu terus menjelaskan kepada Nadira. Dia akui, sangat sulit untuk mendekati gadis ini. Sekarang ia harus terus berusaha untuk mendapat maaf dari Nadira.
"Beneran. Dia dokter. Dia cuma dateng untuk lepas jahitan ku."
Nadira berdesis. Ia sama sekali tidak percaya dengan itu semua. Pria ini pikir, Nadira bodoh untuk tidak mengerti kegiatan kalian di kamar waktu itu.
"Kamu gak perlu jelasin apapun. Lagian kita gak punya hubungan sama sekali."
__ADS_1
Dasar cowok brengsek. Umpatnya yang tak berani ia katakan langsung.
Jelas-jelas gadis ini menyukai Arkana. Tetapi ia masih saja menutupi perasaannya karena penjelasan bertele-tele itu.
Arkana menarik lengan Nadira.
"Ikut aku!" "Kemana?" Tanya Nadira menahan diri untuk menolak ajakan itu.
"Kita ke rumah Vio. Biar dia yang jelasin ke kamu. Soal yang kemarin kamu dengar." Ini cara terakhir yang ia dapat dari otaknya itu.
Nadira menarik lengannya agar terlepas dari cengkraman Arkana.
"Gak perlu. Aku gak butuh penjelasan dari dia." Diletakkan tangannya kebelakang tubuhnya.
"Aku sayang sama kamu. Please! Kamu salah paham. Aku gak seburuk yang kamu kira, Dir!" Arkana menghela napas panjang. Ia merasa frustasi kali ini. Entah bagaimana lagi ia menjelaskan kepada gadis ini. Bahwa itu semua hanya salah paham. Itu cuma akting yang dimain kan Vio. Agar aku tau, kalau kamu beneran cemburu.
Tangan Arkana mencoba meraih lengan Nadira. "Ikut aku. Aku bakal jelasin semuanya." Arkana tidak tau cara lain selain memohon kepada gadis ini. Rasa nyeri di kepalanya tidak lagi tertahan. Otaknya tidak sanggup lagi untuk berpikir. Rasanya sudah mau pecah kepala ini untuk merangkai penjelasan.
Lengan gadis itu ditarik kebelakang. Ia tak mau tangan pria itu menyentuhnya. "Dah malem. Violanya juga udah tidur kali." "Kamu sendiri? Malem-malem mau pindah kosan. Ngapain? Menghindar dari aku?" Sela pria itu cepat sebelum Nadira kembali membuka mulutnya.
Arkana menyungging senyum tipis. Nyeri di kepalanya sedikit berkurang saat mendengar itu. Ia pikir jika gadis ini ingin menghindar darinya. Ternyata pikirannya salah, Arkana pun merasa lega.
"Terus mau pindah kemana, sekarang?" Tanya Arkana penasaran. Ia kembali lembut kepada gadis itu.
Kedua bahu gadis itu di naikkan bersama. "Gak tau. Belum nemu tempat untuk nginep." Nadira melangkah kan kakinya. Ia berjalan ke arah pintu keluar. Arkana mengikuti langkahnya.
Klek.
Suara pintu di tutup. Sekarang kedua orang ini berdiri di depan pintu kosan Nadira.
Malam semakin gelap saja. Keduanya hanya saling menatap wajah satu sama lain. Udara berhembus dan terasa begitu dingin malam itu. Suasana masih sunyi diantara kedua insan yang masih berdiri di sana.
Nadira menghirup oksigen dimalam itu. Langit sangat cerah, menunjukkan letak bintang-bintang diatas sana. Nadira mendongakkan kepalanya, mencoba meluruskan pandangannya ke arah langit yang penuh bintang itu. Memancarkan cahaya ke semua tempat yang terasa gelap.
__ADS_1
Arkana tidak mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu. Ia merasa senang dapat melihat gadis ini tersenyum.
"Kamu suka bintang atau langit?" Tanya pria itu asal saja.
"Langit." Nadira tersenyum tiis saat mengatakan itu.
"Kenapa? Bukannya bagusan bintang?" Pikir Arkana lebih bagus bintang. Karena ia terlihat indah dan kerlap kerlip di atas sana. Sedangkan langit hanya hamparan luas, tidak ada yang istimewa.
Nadira memalingkan wajahnya. "Kamu tau?" "Hmm?" Jawab pria itu sekaligus kembali bertanya.
"Menurutku langit itu indah dan baik. Karena menampung semuanya di atas sana."
Arkana terkekeh geli. Menampung? dia pikir langit itu ember apa?.
Mata Nadira memicik ke arah Arkana. "Lanjutkan!" Perintah Arkana, wajahnya sudah memanas karena menahan tawa.
Nadira menghela napas sebelum kembali membuka mulut. "Langit ada di atas, tetapi ia tidak sombong. Langit selalu melihat kita yang di bawah dari atas sana tanpa menghujat."
Arkana membuang wajah saat senyuman tipis muncul di wajahnya. "Kamu itu ngomongin langit. Apa sifat manusia, ha?" Arkana merasa heran.
"Langitlah. Makanya aku suka langit."
"Hmm. Yah, Yah. Sakarepmu!" Ledek Arkana masa bodo dengan pemikiran gadis itu.
"Kalau kamu?" Nadira terlihat serius saat menatap Arkana. "Suka langit apa bintang?" Imbuhnya lagi, ia sangat ingin tau pandangan pria ini.
"Aku?" Melebarkan matanya. Nadira mengangguk.
Kalau aku? Tentu saja...
"Suka kamu." Arkana tersenyum dan mengedipkan matanya.
Nadira menggigit bibir bawahnya. Memalingkan wajah yang sudah memerah karena malu. Tidak tau kenapa, dua kata itu bisa menggetarkan hatinya. Ia mulai meletakkan tangan di bagian dada letak jatungnya. Merasakan betapa detak jantungnya berdeguk kencang sekali.
__ADS_1
Sssit. Aku suka dua kata itu...
Tanpa disadari. Arkana tidak perlu lagi menjelaskan kesalah pahaman diantara mereka. Dua kata itu, sudah menjadi jawaban bagi Nadira.