Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Zain.


__ADS_3

Ke esokkan harinya.


Arkana yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke Mall-nya. Tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari sekretarisnya. Dimana Arkana harus menghadiri rapat di perusahaannya, Jakarta. Akhirnya pagi itu, Arkana segera ke bandara untuk segera terbang ke kota Jakarta.


Sedangkan pagi itu. Nadira juga sedang bekerja di Store lainnya yang bernama SmartMall. Karena Nadira bekerja sebagai sales mobile atau SPG mobile, jadi sedikitnya ia mendapat tiga store berbeda yang harus di kunjunginya dalam seminggu.


Saat itu Nadira sedang sibuk menyusun atau bahasa store-nya me-display. Terlihat banyak sekali produk-produk dalam kardus yang harus disusunnya ke rak.


Tiba-tiba datang lah seorang pria, ia merupakan Manager SmartMall tersebut. Pria itu bernama Zain, dia adalah kakak kelas sekaligus teman Nadira saat sekolah SMA.


Zain terlihat berjalan dari kejauhan, ia berjalan menuju ke arah Nadira. "Dira!" sapa Zain yang berdiri di samping Nadira.


"Lama gak keliatan, tambah cantik aja kamu." lanjut Zain, menatap Nadira dengan senyuman.


"Ah, kamu bisa aja sih kak. Kamu yang  terlalu sibuk jadi gak pernah liat aku kesini." Nadira membalas senyum itu.


"Aku bantuin display, ya?" Kata Zain, ia langsung mengambil produk yang di kardus dan menyusunnya di rak.


"Ehh, gak usah kak... Sebentar lagi selesai kok. Kalau diliat spg yang lain nanti gimana? kan nggak enak." Ia merasa sungkan, sembari mengambil barang yang ada di tangan Zain.


"Kalau gak enak, kasih kucing aja!"


Jawab Zain dengan wajah datar.


"Apaan sih? kasih kucing! Pfftt..."


Nadira menahan tawanya.


"Kenapa?" Tanya Zain lugu.


"Nggak ada, nggak apa-apa kok." Nadira masih menahan tawanya.


"Kak Zain lucu banget. Kakak ngelucu, tapi ekspresi muka kamu tegang banget. Kayak abis kena sengat listrik.. Haha"


"Kamu--" Terhenti, seketika melihat wajah Nadira yang begitu cantik saat tertawa lepas. Ia justru merasa senang.


"Hmm, terusin aja. Aku senang bisa buat kamu tertawa." lanjut Zain tersenyum pada Nadira.


"Serius? Maaf ya kak!"


Ucap Nadira kepada Zain sembari menundukkan kepalanya.


"Ya, gak masalah asal kan itu Kamu!" sekilas melihat Nadira.


"Yuk lebih cepat, sebentar lagi jam istirahat makan siang." Kata Zain.


Zain dan Nadira pun dengan cepat menyelesaikan pekerjaan mereka. Sehingga menyisakan satu kardus shampo ukuran kecil yang harus di display di rak bagian atas. Karena tak sampai meraih rak atas, Nadira pun memutus kan untuk me-displaynya sambil naik di atas troli. Sedangkan Zain yang berdiri di samping troli, mengambil shampo dan memberikan pada Nadira.


"Alhamdulillah! Setelah ini, selesai kerjaan ku." Kata Nadira sembari terus menyusun shampo.


Dua menit kemudian.


"Akhirnya, selesai juga. Terima kasih ya kak Zain." Kata Nadira sembari melihat Zain dengan senyuman.


"Sama-sama, ayo turun." Dipegangi tangan gadis itu.


Namun tiba-tiba hells Nadira tersangkut di sela-sela besi troli. Nadira pun kehilangan keseimbangan, dan membuat troli bergerak tak terkendali.

__ADS_1


"Aah." Teriak Nadira sedikit tertahan.


Tubuh Nadira yang akan jatuh, segera ditopang oleh Zain sebelum menyentuh lantai. Pria itu tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya jatuh begitu saja..


Nadira terlalu terkejut sampai menutup mata. Jantungnya berdegup kencang. Kok tidak sakit? Batin Nadira.


Lantas ia membuka matanya perlahan. Sepasang mata Zain menatapnya serius. Nadira yang kaget, langsung mendorong tubuh Zain darinya.


"Maaf Kak. Aw, sstt sakit," Nadira menunduk dan menyentuh pergelangan kakinya.


"Sakit?" Menautkan alisnya.


"Coba aku lihat." Zain mulai menunduk di hadapan Nadira.


Pria itu menatap wajah Nadira yang meringis kesakitan. Zain mencoba membujuk Nadira, untuk membuka kaos kakinya. Wajah Nadira menunjukkan enggan. Zain pun tidak memaksa, ia mengambil sepatu Nadira yang masih menyangkut di troli.


"Silahkan." Ia mengisyaratkan, agar Nadira segera memakai sepatunya. Sepatu yang Zain letakkan di depan kaki gadis itu.


"Berdiri Kak, jangan kayak gini. Aku takut ada teman kerja yang lihat, kan malu!" Nadira kikuk, sembari memakai sepatunya. Ia juga memalingkan wajahnya dari tatapan pria itu.


"Kamu itu takut! atau malu?" Selidik Zain segera bangkit. "Lagian semua orang tau kalau kita teman. Aku juga kerja di sini. Jadi, kenapa aku nggak boleh bantu kamu?" Jelas Zain panjang.


Nadira hanya diam mendengar penjelasan dari Zain. Dia merenung sebentar, Benar juga kata Kak Zain. Kenapa aku jadi mikir yang aneh-aneh.


"Hey!! Jangan melamun!" Suara Zain membuat Nadira kaget.


"Oh ya, sudah jam makan siang, Kak Zain pergi istirahat dulu aja. Terimakasih sudah bantu aku." Kata Nadira sembari membereskan semua tumpukan kardus.


"Biar aku bantu buang sampah." Zain membantu Nadira mengumpulkan kardus kosong.


"Jangan Kak. Biar aku aja, Kak Zain sudah bantuin display, makasih banget. Jadi... biar aku buang sampah sendiri." Jawab Nadira menolak, dengan menggelengkan kepalanya.


"Bisa kan?" Ulangnya lagi dengan ekspresi memohon.


"Bisa... Nanti aku ke kantin setelah membuang sampah ini." Jawab Nadira dengan senyuman yang lebar.


"Oke, aku tunggu!" Kata Zain. Lalu mulai melangkah kecil meninggal kan tempat Nadira.


Nadira dengan cepat mengumpulkan kardus kardus kosong itu. Dan menumpuknya di atas troli, lalu membuangnya.


Beberapa menit kemudian. Nadira segera pergi ke loker dan mencuci tangan. Lalu ia segera menuju ke arah kantin.


Di kantin.


Zain sudah duduk di bangku kantin khusus Manager dan Staf. Pria itu terlihat melambaikan tangannya kepada Nadira.


"Kesini. Cepat." Seru pria itu sedikit berteriak.


Nadira yang berdiri di depan pintu kantin pun segera berjalan ke arah Zain. Ia segera duduk di hadapan Zain, namun perasaan aneh di rasakan oleh Nadira. Semua orang di kantin itu seperti sedang mengawasinya.


"Ayo makan, aku udah pesankan makanan kesukaan kamu." Zain menyodorkan mangkuk berisi bakso pada Nadira.


"Makasih. Maaf ngerepotin, pake di pesanin segala." Kata Nadira sungkan.


"Enggak apa-apa, jarang juga kita bisa makan bareng." Zain terus tersenyum.


"Hmm." Mencoba membalas senyuman itu dengan lebar.

__ADS_1


Terlihat keduanya mulai makan. Mereka hanya diam tanpa berbicara di saat mereka sedang makan. Setelah selesai makan, Nadira pun mengucap kan terima kasih dan hendak pergi dari kantin untuk kembali bekerja.


"Mmm, tunggu!" Suara Zain menghentikan tubuh Nadira yang hendak berdiri.


"Iya, kenapa kak?" Jawab Nadira dengan menatap Zain. Duduk kembali.


"Lain kali kalau kamu ada waktu luang, aku mau ajak kamu makan di luar, bisa?" tanya Zain dengan mengangkat kedua alisnya.


"Ya itung-itung ganti makanan di kantin ini." Wajah memohon itu membuat Nadira setuju.


"Bisa kok. Tunggu aku ada waktu luang, ya Kak." Ia merasa tidak enak untuk menolaknya.


"Oh iya, nomor kamu masih yang dulu kan?" Tanya Zain lagi.


"Ya, masih."


"Kalau begitu, nanti aku hubungin kamu ya?" Kata Zain Lagi.


"Iya!"


"Oke. Aku tunggu... waktu luangnya." Kata Zain merasa begitu senang.


Setelah makan siang itu. Nadira pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Karena waktu istirahat yang sudah berakhir. Setelah jam menunjukan pukul 15:00, yang berarti sudah saatnya untuk karyawan sift pagi untuk pulang. Nadira pun segera bergegas untuk pulang.


Di kos Nadira, 20 menit kemudian.


Nadira terlihat berbaring di kasurnya sembari memainkan ponselnya. Ia sedang menyerah kan laporan,hasil kerjanya hari ini, lewat chat grup wa.


Tiba-tiba ada nomor tak di kenal menelepon ponselnya. Nadira tak menghiraukan panggilan tersebut. Ia meletakkan ponsel itu di meja kecil dekat ranjangnya. Ia pun mulai merebahkan tubuhnya ke kasur, melepas lelah setelah kerja.


Namun ponselnya tak berhenti berdering. Terpaksa Nadira mengambil ponselnya. Ternyata masih nomor tak di kenal barusan, yang terus menelponnya. Karena penasaran, ia memutus kan untuk mengangkat panggilan tersebut.


Di geser panel hijau.


"Halo, siapa?" tanya Nadira dengan sopan.


"Halo juga, Di ra?" terdengar suara pria dari panggilan itu.


"Kak Zain ya?" Tanya Nadira polos.


"Baru beberapa hari tidak bertemu, kamu sudah lupa sama suara ku?" Tanya pria itu lagi dari seberang sana.


"Sepertinya anda salah nomor, maaf!" Kata Nadira, dengan cepat ia memutus panggilan itu secara sepihak.


Siapa sih. Tapi suaranya kayak enggak asing di telingaku. Kalau bukan Kak Zain, siapa ya? Jadi penasaran.


Jakarta, pukul 14:20.


Waktu di pulau B dan Jakarta selisih satu jam. Arkana yang sedang duduk di kursi kerjanya. Ia terus melihat ponselnya sambil bergumam.


"Belum selesai ngomong, udah main matiin aja." "Terus, berani-beraninya dia samain suaraku sama orang lain. Kayaknya harus cepat-cepat naklukin hati Dira. Biar enggak keduluan sama mahluk, yang namanya Zain itu." Ia merasa kesal saat ini. Berputar bersama kursi kebesarannya beberapa kali.


Sontak ia berhenti berputar.


"Dia punya hutang, janji makan bareng sama aku." Bibirnya melengkung menjadi senyuman..


Arkana pun mengirim pesan kepada Nadira, untuk mengingat kan soal janjinya. Setelah beberapa saat Arkana mendapat balasan pesan dari Nadira. Gadis itu mengatakan dalam pesannya bahwa ia ada waktu luang di hari jum'at. Arkana merasa senang, melihat balasan pesan itu.

__ADS_1


Bersambung...


Berikan jempol kalian padaku. Aku akan merasa senang sekali.😆


__ADS_2