Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Genggaman tangan.


__ADS_3

Pagi hari di Villa Arkana.


Pukul 05:00 pagi Nadira sudah bangun dari tidurnya. Semalam dia menjaga Arkana sampai jam 21:00.


Setelah itu dia baru bisa tidur dengan tenang.


Setelah Surya mengantar Nadira kemarin. Sorenya Surya sudah pamit untuk kembali ke rumahnya. Tidak tau hari ini dia akan datang kemari atau tidak. Sangat canggung kalau hanya aku dan Arka di Villa ini.


Nadira terkejut setelah dia benar-benar tersadar. Dia terbaring diranjang yang sama dengan Arkana.


Buru-buru memastikkan keadaannya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki diraba pelan.


"Masih utuh!" Lirih Nadira.


Dia melirik Arkana yang masih terlelap. Bergegas Nadira turun dari ranjang. Greb-


"Kamu sudah bangun?"


Nadira menoleh dan bertanya dengan perasaan takut dan gugup.


Tangan Nadira ditahan oleh Arkana.


Nadira sedikit gugup juga bingung dengan keadaan ini. Sebenarnya bagai mana bisa dia tidur satu ranjang dengan Arkana. Dia sendiri masih berusaha mengingat. Tetapi belum bisa.


"Belum, kalau kamu tidak berisik." Jawab Arkana terdengar marah.


"Ah! Maaf ma af. Kamu tidur aja lagi, aku ngak akan berisik."


Mencoba melepaskan tangannya.


Tangannya terus digenggam erat oleh Arkana.


"Em, to tolong lepasin."


"Tidak mau!" Jawab Arkana ketus.


"Tapi aku mau bangun."


"Aku tidak!" Arkana sama sekali tidak bergeming. Dia sengaja melakukan itu.


"Tolong, le pas! Oke!"


Berusaha melepaskan. Hasilnya nihil.


Arkana masih memandang wajah gadis cantik ini. Terlihat sangat imut kalau lagi marah. Tidak tau kenapa dia sangat suka melihatnya.


"Lepas ngak?" Bentak Nadira.


"Ngak!" Balas Arkana.


"Ihh!!" Nadira menarik paksa tangannya. Kekuatannya sangat besar. Dia berusaha sangat keras.


Dan Bruuuk-


"Aw, sakit banget." Nadira jatuh dengan posisi duduk. Pantatnya terbentur lantai dengan keras.


-tadi Arkana sengaja melepas tanganya. Dia tidak menyangka kalau akhirnya Nadira bisa terjatuh.


"Kamu ngak apa-apa?" Tanya Arkana seketika duduk melihatnya.


"Ngak apa-apa kepala mu!"


Nadira mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Ayo bangun!" Arkana sudah berdiri didepan gadis ini. Mengulurkan tangannya yang terlihat besar dimata Nadira.


"Hemm" Nadira meraih tangan itu.


Di pegangi pantatnya yang terasa sangat sakit itu. Dia duduk diranjang dengan pelan.


"Masih sakit?"


Tanya Arkana yang merasa bersalah saat ini.


"Sakitlah!" Nadira bicara ketus, karena itu benar-benar sakit.


"Maaf ya." Mohon Arkana, memandang jauh kedalam mata gadis disebelahnya.


Mereka duduk bersandingan. Saling menatap sekarang. Tangan Arkana masih menggenggam erat tangan Nadira.


"Iya." Jawab Nadira merasakan kesungguhan dari tatapan mata itu. Tidak tau kenapa, detak jantungnya jadi semakin kencang.


Dia merasakan perubahan perasaan saat disamping Arka.


"Maaf!" Arkana melepas tangan Nadira karena gadis itu terus melirik kearah tangan mereka.


"Kamu kerasa sakit lagi dilukanya?"


Cemas Nadira melihat wajah Arkana yang mengernyit tiba-tiba.


"Sedikit. Kamu khawatir sama aku?" Tanya Arkana penasaran.


"E- Ehh, PD banget kamu. Siapa yang khawatir. Aku cuma tanya doang." Elak Nadira dari kenyataan kalau dia memang benaran cemas.


"Bener?" Selidik Arkana.


"Ya iyalah. Heeh!" Sedikit helaan nafas untuk menghimpun kekuatan sebelum bangkit dari duduk.


"Kalau kata perawat gimana?"


Tanya Arkana dengan nada kemayu.


"Bangunlah, keluar vila hirup udara segar di pagi hari. Itu bagus!"


Jawab Nadira panjang terdengar seperti perintah.


"Aku tinggal buka jendela, udah bisa hirup udara segar kok. Ngak perlu keluar vila." Jawab Arkana.


Tangannya menunjuk jendela kaca yang besar begitu juga balkonnya.


Ada kursi dan meja yang terbuat dari rotan di letakkan disana.


"Ah iya! Aku lupa kamu orang kaya, enggak perlu susah-susah kalau mau menghirup udara segar."


Nadira sedikit kesal oleh jawaban Arkana. Merasa dia sedang dibantah.


"Tetapi lebih bagus kalau sekalian jalan-jalan. Biar cepet sembuh! Olahraga juga."


Lanjut Nadira masih dengan nada yang maksa.


"Kata Dokter kan ngak boleh banyak gerak. Biar lukanya tidak bergesakkan dan jahitannya tidak terbuka.."


Jawaban Arkana menghentikkan Nadira untuk berbicara.


Gadis itu pergi dengan kekesalannya sendiri. Meninggalkan aura dingin dibelakang punggungnya.


"Dia marah?" Bertanya kepada diri sendiri.

__ADS_1


Terukir senyuman diwajah Arkana setelah Nadira tidak lagi terlihat. Dia turun kebawah, terdengar langkah kakinya melewati anak tangga.


Di toilet lantai satu.


Suara air mengalir dari dalam. Sepertinya Nadira sedang mandi saat ini. Setengah jam kemudian dia keluar dari dalam sana.


Sudah berganti pakaian yang baru.


Kaos putih oblong, "it's me" begitu tulisan dibaju itu. Terpampang jelas tulisan itu didadanya berwarna hitam. Di padukan dengan celana joger warna hitam. Pakaiannya terlihat sangat santai.


Dia segera berjalan menuju ke dapur. Membuka kulkas silver dua pintu didepannya. Meraih beberapa sayuran dan bahan-bahan lain yang diperlukan untuk membuat sarapan.


Semalam Nadira membeli banyak bahan masakan lewat aplikasi belanja online. Karena villa Arkana jauh dari supermarket dan juga pasar. Walaupun ada minimarket yang lumayan dekat dengan berjalan kaki. Tetapi mereka tidak jual sayuran. Belanja online jadi pilihan terakhir.


Sekarang Nadira sudah mulai memotong sayuran. Lalu mencucinya di wasteful. Sesekali dia bersenandung, wajahnya terlihat ceria pagi ini.


Nadira hendak memasak bubur nasi untuk Arkana. Bahan-bahannya :



Beras 1/4.


Santan kental 100 ml.


Daun salam 2 lembar.


Garam secukupnya.


Air 700 ml.



"Bahan-bahan sudah siap, sekarang kita mulai memasak buburnya." Kata Nadira mulai menghidupkan kompor.


Meletakkan panci ukuran sedang diatasnya. Di masukkan air kedalam panci. Tunggu sampai mendidih. Kalau sudah mendidih kita masukkan beras yang sudah dicuci. Masukkan daun salam dan juga garam.


Sebaiknya masukkan garam sedikit dulu. Jika sudah menjadi bubur baru dicicipi. Jika kurang asin boleh ditambah. Karena masakan yang belum jadi, kalau terlalu banyak diberi garam akan menimbulkkan rasa asin berlebih. Rasa asin bisa berubah jadi pahit dan tidak enak.


Aduk-aduk terus sampai beras berubah menjadi nasi. Lalu berubah menjadi bubur. Selama pengadukkan, usahakan aduk sampai menyentuh dasar panci. Agar, nasi yang di bawah tidak menempel didasar panci dan jadi gosong. Jika nasi sudah mengental jangan ditinggal ya. Aduk terus sampai matang. Kecilkan api kompor sampai yang terkecil.


Setengah jam sudah memasak bubur, akhirnya selesai. Sekarang Nadira mulai menyiapkan masakan yang sudah dia masak sebelum membuat bubur.


Meletakkan semua masakan dimeja makan. Lalu pergi kekamar Arkana. Memintanya turun untuk sarapan.


Nadira menghentikkan langkah kakinya, saat hendak menaiki anak tangga pertama. Memperhatikkan sesosok punggung lelaki yang sedang berdiri di dekat kolam renang. Nadira pergi menghampirinya.


"Hei! Sarapan yuk." Ajak Nadira kepada lelaki pemilik villa ini.


"Sudah selesai masaknya?"


Tanyanya seraya berbalik.


Pandangan keduanya saling bertemu di satu titik. Saling pandang penuh pesona. Mengagumi keindahan yang mereka lihat.


"Sudah. Yuk buruan, nanti keburu dingin makanannya. jadi kurang enak." Ajak Nadira seraya berbalik, menuju dapur.


Wajahnya memerah, jantungnya berdeguk kencang sekarang. Dia mencoba menghindari Arkana saat ini. Lari dari kenyataan yang belum pasti.


Arkana mengikuti langkah gadis didepannya. Langkahnya begitu panjang dan cepat. Sangat terburu-buru seperti ada yang mengejarnya.


Mereka berdua kini sudah duduk dikursi ruang makan. Menyantap hasil masakan Nadira. Sesekali Nadira mencuri pandang kearah Arkana.


Arkana menyadari itu, dia memajukkan tangannya perlahan. Perlahan menyentuh jemari Nadira. Mulai di genggam tangannya lembut.

__ADS_1


Dia merasakan lagi dan lagi. Merasa detak jantungnya menjadi 2kali lebih cepat. Saat dia memandang lelaki di hadapannya ini. Jemarinya terasa hangat saat disentuh. Dia seharunya menolak, tetapi tidak dia lakukan.


__ADS_2