
Bab sebelumnya.
Disisi lain. Di tempat parkir motor yang jaraknya jauh dari tempat Arkana. Seseorang wanita yang juga bekerja sebagai sales di SmartMall itu. Sedari tadi memperhatikan gerak gerik Arkana dan Nadira. Ia tampak tersenyum sinis sambil menatap ponselnya.
***
Pukul 15:00. Di ruangan kantin SmartMall, dimana Nadira bekerja minggu itu.
Ruangan kantin penuh oleh Karyawan Mall, Sales promotion girl (SPG), dan Sales promotion boy (SPB) yang sedang menikmati makan sore mereka.
Nadira duduk di pojok kantin bersama dua temannya yang sama-sama SPG.
Dari depan sana, Zain datang dengan membawa nampan makanya. Dia meminta izin untuk duduk di kursi dekat Nadira. Tentu saja Nadira mempersilahkan Zain dengan ramah. Begitu pula dengan dua teman wanita Nadira, Putri dan Feni.
Dari tadi pandangan Putri dan Feni tertuju kepada pasangan di depan mereka itu. Dua teman Nadira selalu berpikir jika mereka berdua sangat serasi. Sampai-sampai mengira, jika-
"Kalian pacaran?" celetuk Putri.
"Huh?"
Nadira dan Zain sama-sama kaget.
Sekilas Zain tersenyum tipis. "Aku sih, pinginnya gitu..." kata Zain kecil di dalam hatinya.
Dengan ujung matanya. Nadira tidak sengaja melihat senyuman Zain itu.
"Haha. Ngacok kalian! Ya enggak lah..." Nadira segera menepis pertanyaan itu. Mengingat fakta jika Zain memang pernah mengungkapkan perasaannya dan ia menolak. Itu membuat Nadira jadi tidak enak hati.
Melihat Nadira yang berusaha menutupi fakta bahwa Zain memang menyukainya. Senyum Zain berubah getir. "Menurut kalian gimana?"
Putri dan Feni tersenyum penuh tuduhan. "Hayo!!! Kalian pasti pacaran, 'kan?"
Zain menyulut sumbu itu lagi dengan api. Karena Zain tidak ingin menyerah sampai disitu untuk 'Mengejar cinta Nadira'.
Nadira terheran. Melihat Zain dengan senyum tipisnya. Apa maksud Zain dengan ini semua. "Kita gak pacaran!" begitu tegas Nadira menjelaskan. Tapi-
"Aishh... jangan bohong!" sela Putri yang sama sekali tidak percaya, begitu juga dengan Feni.
"Kalau emang kalian pacaran, juga enggak apa-apa... Gak ada yang larang! Ya 'kan Fen?"
"Heum, betul! Kita berdua orangnya rapet, kok!" jemari Feni membuat gerakan mengunci di depan bibirnya. "Gak perlu ada yang dirahasiain dari kita berdua. Kalian bisa pacaran dengan tenang... Kita gak akan bocorin, kok. Ya 'kan put?" kata Feni manja di ujung kalimatnya. Sambil menyenggol lengan Putri dengan sengaja.
"Iya."
Feni dan Putri saling menatap dengan senyuman lebar. Keduanya tertawa sangat bahagia saat tau kecurigaan mereka selama ini ternyata benar tentang 'Nadira dan Zain pacaran'.
Zain tidak mengelak sama sekali. Ia memang ingin itu menjadi kenyataan.
__ADS_1
Zain menatap Nadira dengan senyum hangat.
Seolah Zain sedang berkata 'Biarkan saja mereka'. Jadi Nadira diam seribu bahasa, hanya sekilas senyum simpul tercetak diwajahnya.
"Terserah kalian deh, mau ngomong apa aja. Suka-suka kalian lah, situ!"
Nadira sudah capek jelasin. Kalian masih tidak percaya, disitu Nadira hanya bisa diam.
Di waktu dan ruangan yang sama. Enam orang berkumpul di satu meja, sedang menikmati makanannya. Salah satunya, sedari tadi terus mencoba memengaruhi mereka untuk menggunjingkan Nadira. Sambil menunjukkan sesuatu dari ponselnya sebagai bukti. Semua orang di meja itu menggeleng hampir tidak percaya. Sampai salah satu dari mereka berkata-
"Tampilannya aja yang kalem dan sederhana. Ternyata, kelakuannya luar binasa... Nggak nyangka!"
"Iya... aku juga gak nyangka kalau dia begitu." jawab satunya lagi.
"Aku juga gak nyangka, loh! Tapi kalian udah liat sendiri 'kan videonya. Kalian juga tau siapa lelaki di dalam video ini. Siapa yang tau, dia perempuan begitu, selama ini." Tambah Lia si penyebar rumor tentang Nadira.
"Iya... Dasar perempuan munafik!" begitu celetus mereka sama untuk menyimpulkan Nadira.
Dengan wajah getir Lia mengiyakan ungkapan itu seolah tidak ingin percaya dengan bukti yang diperolehnya. Tetapi nyatanya di dalam hati ia tertawa begitu senang. Senang karena rencananya untuk merusak citra Nadira telah berhasil. Lia berharap, dari lima orang ini rumor buruk tentang Nadira akan menyebar dengan cepat.
"Ini salahmu, karena terlalu genit jadi perempuan... Beraninya menggoda Zain ku." Batin Lia dari tempat duduknya yang terus melihat ke arah Nadira dan Zain yang duduk di pojok kantin dengan senyum sinis. Hatinya penuh dengan rasa kebencian terhadap Nadira.
Di luar Mall, seluruh langit sudah berubah hitam menunjukkan jika hari sudah semakin malam.
Nadira melihat jam dinding yang berada di belakang kasir sudah menunjukkan pukul 21:00 WITA. Ini sudah waktunya para SPG dan SPB untuk pulang.
Tidak lupa mereka akan membersihkan make up terlebih dahulu sebelum pulang. Feni dan Putri sedang melakukannya sekarang.
"Make up kamu gak dibersihin dulu, dir?" tanya Putri yang merasa aneh mengetahui Nadira mengeluarkan lipstik bukannya cleansing water.
Nadira menggeleng. Ia memang tidak berniat untuk menghapus make up-nya. Malah ingin memperbaiki riasan wajahnya, untuk ditunjukkan kepada Arkana yang akan menjemputnya.
"Kenapa?" tanya Putri penasaran.
"Tumben!" Tambah Feni.
Nadira hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Karena ia memang tidak berniat untuk menjawab pertanyaan itu.
Senyum Nadira menambah kecurigaan Putri dan Feni. "Aissh. Pasti mau pulang bareng Pak Zain 'kan?" Tebak Putri sangat yakin.
"Ah, iya..." Feni tersenyum. Ia baru tersadar akan fakta keduanya pacaran setelah mendengar kata Putri. "Kalau gitu dandan yang cantik. Biar pak Zain makin klepek-klepek sama kecantikan kamu."
"Hahahaha." Putri dan Feni tertawa senang sekali.
Tiba-tiba Nadira cemberut. Menatap Putri dan Feni dengan mata menyipit. "Berisik." katanya ketus. Lalu kembali tersenyum sambil menatap cermin untuk memastikan make up-nya sudah bagus.
Putri dan Feni melihat Nadira menyambar tasnya lalu beranjak pergi dari tempatnya. "Kemana?" tanya keduanya bersamaan.
__ADS_1
Nadira menoleh lalu berkata. "Pulanglah! kemana lagi." Nadira berbalik melanjutkan langkahnya. Disusul oleh Putri dan Feni dari belakang.
Beberapa saat kemudian Nadira sampai di depan meja satpam penjaga sift malam. Ia sedang mengisi absen kepulangannya.
Lia dan temannya berada di belakang Nadira sedang mengantri untuk mengisi absen juga.
"Dasar lacur..." celetuk teman Lia sinis sambil melirik Nadira yang baru saja beralih dari tempatnya berdiri.
Nadira dan semua orang di tempat itu terdiam keheranan. Karena sama sekali tidak paham dengan apa yang perempuan itu bicarakan.
Nadira tidak merasa jika perkataan Leni ada hubungannya dengan dirinya, maka ia pun pergi.
"Sekali lacur. Ya lacur aja. Munafik! Sok suci. Padahal kotor. Sok alim. Tampang aja polos! dalamnya ****** kung ****** kek." Leni mengatakan itu dengan jelas dan dengan sengaja mengarahkan pandangannya ke Nadira. Berharap agar Nadira sadar diri.
Putri dan Feni menyadari jika Leni sengaja berkata begitu untuk menjelekkan Nadira. Keduanya sangat geram dengan Leni ini.
"Kamu ngomong apa sih?" tegur Putri sambil melebarkan matanya ke arah Leni dan Lia.
"Tau nih orang! gak jelas banget sih." Tambah Feni coba mendukung putri.
"Ckckck" kata Leni memandang dengan senyum meremehkan ketiganya. Sedang Lia hanya diam mengamati kerja Leni.
"Sudah berapa lama kalian temenan sama Dira?" tanya Leni sok penasaran.
Putri dan Feni saling menatap Nadira.
"Kenapa?" tanya Putri ketus. Ia sedari dulu memang tidak suka dengan Leni dan Lia, karena sikap sombong keduanya.
"Udah lama, ya." tebak Leni benar. "Sebagai sesama SPG di sini. Aku kasih tau kalian berdua... Mending jauh-jauh dari perempuan kotor ini. Sebelum kalian nyesel karena udah temenan sama dia." Kata Leni memperingati.
Nadira, Putri dan Feni membisu. Memberi waktu untuk otak mereka mencerna semua perkataan Leni yang sedang mengisi absennya.
"Maksud kamu apa? ngomongin aku kayak gitu?" tanya Nadira tegas. Dan Leni hanya diam, enggan untuk menjawab pertanyaan itu.
Leni mengajak Lia untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Tunggu." cegah Nadira agar Leni dan Lia tidak pergi. "Kamu jelasin dulu sama aku, maksud dari perkataan kamu tadi."
Leni menoleh. Menatap Nadira dengan remeh. Lalu ia berkata. "Aku jelasin juga, kamu gak mungkin ngaku dan merasa salah 'kan?... Jadi renungkan sendiri 'perkataan ku tadi' terus mulai perbaiki diri." Leni pergi dengan Lia tanpa menoleh kebelakang.
Nadira, Putri dan Feni masih diam di tempat mereka berdiri. Nadira dan keduanya sama sekali belum paham dengan pembahasan Leni. Kenapa Leni menjelekkan Nadira dengan perkataan begitu. Nadira sungguh tidak paham intinya. Apa yang harus dia renungkan? batinnya merasa kebingungan.
.
.
Bersambung dulu ya (◠‿◕)
__ADS_1
Kasih ❤️ kalian untuk ku.