
Malam, pukul 21:00. Di kamar Nadira.
Nadira terlihat letih. Ia terbaring di kasur empuknya. Sesekali menguap, ia pun segera mematikan lampu kamarnya berharap bisa tidur lebih cepat. Ia mulai memejamkan matanya.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Pukul 21:30, masih suasana yang sama kamar Nadira.
Nampak Nadira yang masih berbaring di kasur, mengusap matanya lembut. Ia berbalik ke kanan dan ke kiri sembari memeluk boneka panda. Me-nyaman kan posisi tidurnya, dan ia mulai memejamkan matanya lagi.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Pukul 22:30, masih suasana yang sama, di kamar Nadira.
Setengah badannya mulai bangkit dari kasur itu. Ia mengusap wajah dengan kedua tangannya. Ia tampak duduk termenung di atas kasurnya. Tidak tau kenapa, ia merasa gelisah tanpa sebab.
"Aku kenapa sih, ya Allah. Sihir apa yang di rapal kan olehnya. Dari tadi, otak ini terus mikirin Arkana." Lirihnya. Ditarik kedua kakinya, lalu tangannya menahan kakinya bersamaan. Ia meringkuk. Dibenamkan wajah itu ke sela kedua lutut yang berdempetan.
"Ini... Seperti bukan diriku sendiri. Ya Allah, apa aku sudah gila?" Lanjut Nadira bergumam sendiri. Nadira terus menunduk kan kepalanya. Jari jemarinya saling bertautan. Ia terus merenung kan tentang perasaannya kepada Arkana itu. Dalam benaknya, ia mengingat setiap hal romantis yang di lakukan Arkana. Saat mereka jalan berdua pagi tadi.
Dalam ingatan Nadira.
Pagi tadi saat di Sanur Beach, bersama Arkana. Mereka berjalan seiringan di tepi pantai, berjalan di jalanan yang tersusun dari batu-batu besar, yang mengarah ke pantai. Mereka berdua pun berhenti tepat di ujung jalan itu.
"Apa kamu suka dengan pemandangan pantainya?" tanya pria itu. Sepasang matanya menyoroti Nadira.
"Ya, aku suka. Setiap kali aku kacau stress. Aku pasti langsung jalan-jalan ke pantai. Melihat sunset, sunrise. Enggak tau kenapa, auto buat hatiku kembali tenang." Jawabnya jujur, sembari melihat ke arah lautan yang luas. Merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara yang segar, dengan terik matahari yang belum begitu panas.
"Berarti enggak salah aku ajak kamu ke sini?" Tanya Arkana masih terus memandangi gadis itu.
"Enggak, makasih." Jawab Nadira dan sekilas menoleh untuk menatap Arkana.
Angin berhembus kencang, terlihat ombak bergantian menabrak batu-batu besar tempat mereka berdiri.
"Tapi, sebenarnya aku gak suka lihat sunset atau sunrise. Bahkan laut biru ini," kata Arkana rautnya terlihat sangat serius.
"Enggak suka, KENAPA?." Tanya Nadira merasa heran dan penasaran.
Perlahan Arkana menunjukkan senyum manisnya. Wajahnya di majukan ke depan mendekati wajah Nadira. Dengan tenang Arkana berkata. "Aku lebih suka liat wajah kamu." lalu kembali menunjukkan senyum manis.
Nadira terdiam mendengar kalimat itu. Ia tak habis pikir, jika mulut pria ini sangat beracun. Karena, akibat kalimat itu berhasil membuat pipi Nadira merona. Jantungnya berdeguk lebih kencang. Nadira jadi salah tingkah dan memalingkan wajah memerahnya itu ke lain arah.
__ADS_1
Ingatan Nadira selesai. Di dalam kamar. Nadira kembali tersadar dari lamunannya itu. "Ahh.... Bagaimana ini? Aku bisa gila gara-gara dia. A!..." Suara teriakkannya terdengar frustasi.
Tangan Nadira memukul boneka panda secara terus menerus. Seketika ia berhenti dan mengingat kembali kejadian kecil, saat bersepeda mengelilingi jalan setapak di Pantai Sanur dengan Arkana.
Dalam ingatan.
"Ayo, kamu bisa naik sepeda kan?" tanya Arkana setengah meremehan.
"Bisa dong! Naik motor aja aku jago, masak cuma sepeda tanpa mesin gini, enggak bisa!" Jawab Nadira penuh percaya diri.
Mereka mulai menaiki sepeda yang telah di sewa itu. Mengayun dengan santai, menikmati angin sepoi-sepoi yang datang dari laut.
"Kalau cuma naik sepeda ber-iringan gini lama-lama enggak asik. Gimana kalau kita taruhan?" menatap ke arah Nadira.
"Boleh juga, kayaknya lebih seru! apa taruhannya?" Wajahnya masih lurus kedepan. Ia menjawab sekaligus bertanya.
"Siapa yang kalah, harus terima hukuman dari yang menang. Gimana?"
jelas pria itu.
"Oke.. Hukumannya apa?" Tanya Nadira lagi.
"Bebas, boleh apa aja! Permintaan atau perintah. Semua boleh." jawab Arkana menjelaskan lagi.
"Oke, setuju. Tapi enggak boleh curang ya!" Nadira mengiakan tantangan pria itu. Akan seru jika ia menang.
Arkana mulai menunjukkan senyum liciknya. Sebelum memulai perlombaan, mereka sepakat bahwa finish-nya adalah tempat mereka Start tadi. Setelah 20 menit Arkana terlihat sudah berada di finish. Beberapa lama kemudian Nadira juga mulai terlihat.
Nadira turun dari sepedanya. Ia mengulur kan tangannya ke arah Arkana. Terlihat wajah mereka sama-sama berkeringat. Arkana pun menyambut tangan Nadira.
"Makasih, kamu juga hebat. Emm keringat kamu," ia mengelap keringat di wajah Nadira dengan sapu tangan.
"Ah, makasih." sahut Nadira gugup. Ia merebut sapu tangan itu dan mulai mengelap keringatnya sendiri. Ia takut salting lagi. Padahal seneng sih, keringetnya ada yang ngelapin.
Mereka pun mengembalikan sepeda. Lalu membeli air minum di minimarket, yang masih di area pantai. Mereka duduk berhadapan di depan minimarket itu.
"Karna aku kalah, apa yang kamu inginkan?" Pertanyaan Nadira memecah keheningan.
"Hmm..." Arkana bergaya seolah ia sedang berpikir sangat dalam. "Sebenarnya, aku ingin minta besok. Tapi karna kamu tanya sekarang, aku jadi lebih semangat." Jawab Arkana setelah meneguk air di botol.
"Hukuman atau permintaannya bebas. Tapi gak boleh yang aneh-aneh." Kata Nadira.
"Emangnya?" Arkana menaikkan satu alisnya. "Yang aneh-aneh itu, yang gimana sih?" Kata Arkana enteng dengan senyum menyeringai lebar penuh arti.
"Jangan kurang ajar kamu..." Nadira mulai kesal. Ia memalingkan wajahnya, mengepal tangan di atas meja.
"Aku punya satu permintaan, dan satu perintah. Enggak aneh-aneh kok. Lihat ke sini, dan pejamkan mata kamu!!" Kata Arkana.
Nadira yang mendengar ucapan Arkana, menjadi agak ragu-ragu. Namun di pikirannya, Ia sudah berjanji maka harus di tepati. Menurutnya janji adalah hutang. Nadira mulai memalingkan wajah ke arah Arkana, ia memejamkan matanya.
Arkana pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah Nadira.
Nadira yang merasakan hembusan nafas pria itu. Seketika wajahnya memerah. Terdengar suara detak jantung mereka yang begitu keras. Kedunya saling mendengar deguk jantung masing-masing.
__ADS_1
Pria itu begitu lama memandangi wajah Nadira.
Wajah Nadira semakin merona. Perasaannya semakin tidak karuan saat ini. Deru nafas pria itu membuatnya tidak nyaman.
"Jika ingin mencium, cium saja. Kenapa, lama banget. Nyebelin." gerutu Nadira dalam hati.
Setelah beberapa menit. Arkana merasa sudah puas menatap wajah cantik Nadira. Kepala Arkana maju lagi ke sisi kanan dan berbisik di telinga Nadira.
"Jadilah pacarku." berhenti sejenak. "Jawab, I love you?" imbuhnya lagi.
Deguk jantung Nadira makin cepat dan pipinya merona. Pikirannya melayang-layang entah kemana, Nadira jadi tidak fokus. Bahkan tidak berani membuka mata karena merasa malu, mengira jika Arkana akan menciumnya.
"Dasar otak udang. Konslet ni otak, dah berani mikir yang aneh-aneh." Gerutu Nadira di dalam hati kepada dirinya sendiri.
Wajah Arkana pun mulai menjauh dari Nadira, dan ia kembali duduk. Nadira membuka matanya perlahan dengan wajah canggung bercampur bingung harus bereaksi seperti apa?
"Kalimat pertama itu permintaan ku, sedangkan yang kedua adalah perintah." Kata Arkana dengan nada pelan.
Nadira masih berfikir harus berkata apa, untuk memberi jawaban yang bagus, tepat dan tak menyakiti.
"Yang pertama, kamu pikirin aja dulu. Kamu juga boleh nolak, aku ngak akan maksa kamu! Tapi, yang kedua harus dilakukan sekarang." Kata Arkana, mencoba menenangkan Nadira yang tampak ragu dan gelisah.
"I love you." Sahut Nadira dengan cepat setelah Arkana berhenti berbicara.
"Heh," Senyuman manis terpancar di wajah Arkana.
"Terpaksa, tapi aku suka dengarnya. Hehe." Arkana menatap mata Nadira begitu dalam, penuh kasih.
"Oh iya, aku pastiin itu juga jawaban kamu untuk permintaan ku yang pertama. Dan aku pastiin juga kamu enggak akan nyesel, karna nurutin perintah ku yang kedua." Ucap Arkana menunjukkan pesona wajah tampannya dengan sangat percaya diri.
Nadira kembali sadar dari lamunanya.
"Ohh, OMG aku bisa gila, kenapa aku terus terngiang dengan perkataannya si gay itu."
"Enggak enggak enggak. Aku enggak mungkin suka sama si muka beku itu. Yang senyum kalau moodnya bagus aja." Nadira bergumam panjang. Berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terlena oleh Arkana.
Nadira terlihat semakin gelisah. Tidak bisa tidur bahkan sulit memejam kan mata. Tiba-tiba ia ingat sesuatu yang di pesankan ibunya, tentang apa yang harus di lakukan ketika sulit tidur.
Ia mulai beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Nadira mulai mengambil wudhu. Setelah itu ia kembali berbaring di atas kasurnya.
Nadira mulai membaca doa sebelum tidur. Lalu ayat kursi, doa selamat dunia dan akhirat. Lalu melanjut kan membaca surah-surah pendek lainnya yang ada di dalam al-quran. Ia percaya dengan cara yang di ajar kan oleh ibunya ini. Bisa membuat hati dan pikirannya kembali tenang.
Dan ternyata benar, setelah beberapa menit. Nadira mulai bisa memejamkan mata dan mulai tidur dengan nyenyak.
#**Bersambung...
Assalamu'alaikum readers tercintah ku.. masih betah baca MCN? semoga iya 😆
Salam kenal untuk pembaca baru...
Salam hangat dari aku ya.... 😆
Jangan lupa beri Vote untukku ya cinta..
__ADS_1
Aku selalu menunggu Like kalian juga..
Wassalamu'alaikum**...