Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Galau.


__ADS_3

Siang ini Arkana berniat pergi ke Mallnya. Karena hari ini ada schadjule Nadira untuk pergi kerja di Mall. Dia rasa jika ia kesana, pasti bisa bertemu dan melihat gadis pujaannya itu.


Jujur saja. Perasaan kangennya terhadap Nadira sudah tak terkontrol. Nyatanya ini sudah hari ketiga, setelah Nadira melangkah pergi keluar dari Villa Arkana. Ia sudah tidak sanggup untuk menahan diri, jika tidak melihat wajah yang cantik itu. Tolong pertemukan lah kami di sana.


Arkana segera keluar dari Villa. Di depan, sudah ada Surya yang bersiap jadi supirnya. Dia bersandar di mobil sambil terus mengesap sebatang rokok, yang ia selipkan diantara kedua jarinya. Pintu sudah ia bukakan untuk Bos besarnya itu. Ia hanya menunggu.


Langkah Arkana terlihat angkuh. Dari situ lah, sisi maskulinnya terlihat. Tubuh tinggi tegap, pundak yang lebar, ia terlihat sangat bagus menggunakan setelan jas hitam. Warna rambut hitam pekat, dengan hair style disisir rapi ke sisi kanan. Entah berapa jam lamanya, untuk menyisir rambut itu. Hingga serapi buku di perpus.


Berapa jam di perjalanan yang macet. Akhirnya mobil biru yang dinaiki Arkana memasuki parkiran Mall ArStar. Surya dengan cekatan turun dari mobil, dan segera membuka kan pintu untuk Arkana.


"Berhenti jadi Manager. Jadi supir gue!" Ledek Arkana kepada sahabatnya itu. Surya menghela napasnya. "Ini juga, udah jadi sopir." Keluh Surya. Berjalan mengikuti langkah Arkana dari belakang. Batinya terus menerus menggunjing Bosnya ini.


Siang itu Arkana ikut breffing. Dia berharap bisa melihat Nadira dalam jarak pandang yang dekat. Namun, gadis itu tidak muncul sama sekali. Arkana ingat betul jadwalnya untuk masuk kerja di Mall ini. Itu setiap hari senin dan kamis. Tetapi. Kenapa gadis itu tidak ada diantara mereka.


Arkana kembali ke ruangannya. Setelah sekian lama menunggui Nadira, di lorong Body Care tempatnya biasa bekerja. Menyusun produk-produk milik Perusahaan tempatnya.


Arkana merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Dengan tubuh terlentang mengikuti bentuk sofa. Satu tangan menutup sebagian wajahnya. Menghalang cahaya untuk masuk ke sorot matanya. Sesekali ia juga memejamkan matanya pelan. Perasaannya tidak karuan saat ini.


"Lemes amat?" Tanya Surya dengan heran. Yang baru saja masuk ke ruangan itu.


Arkana memiringkan kepala sebentar, untuk melihat sosok orang yang baru masuk itu. Lalu kembali ke posisi semula, setelah yakin itu Surya. Baru ia membuka mulutnya.


"Dia gak masuk kerja. Apa dia sakit ya?" Nadanya terdengar penuh rasa khawatir yang teramat.


"Mustahil. Setauku? Dia gak pernah absen. Kalau pun sakit. Pasti dia ijin sama Manager." "Ntar..."


Surya mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia terus melihat layar ponselnya itu. Entah apa yang sedang ia lakukan sekarang. Arkana hanya terbaring di sofa panjang, sambil memejamkan matanya. Tanpa mau tau kegiatan Surya.


"Dia masuk kerja kok." Jelas Surya, memberikan info berdasarkan fakta yang baru saja ia dapatkan.

__ADS_1


"Tapi, dari tadi gue nunggu dia lama banget di lorong. Dia gak muncul-muncul juga." Keluh Arkana merasa frustasi.


Surya mulai ikut duduk di sofa. Ia mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya. "Coba cek cctv." Ia mulai menyulut ujung rokoknya dengan api.


Masukan Surya sangat membantu kali ini. Arkana langsung bangkit dari posisinya. Garis di wajahnya membentuk senyum lebar tak terkira. "Gue pergi dulu." Arkana segera pergi dengan langkahnya yang lebar. "Makasih!" Kata Arkana berhenti sebentar di mulut pintu. "Heem!" Timbal Surya dengan menyungging senyum di ujung bibir.


Surya merasa senang melihat wajah Arkana seceria itu. Sejak tiga belas tahun yang lalu, saat mereka masih SMP. Ini pertama kalinya ia melihat Arkana begitu tulus saat tersenyum, tertawa dan saat meminta bantuan.


"Sepertinya gunung es, akan benar-benar meleleh."


***


Arkana sedang duduk. Menatap sebuah layar komputer di depannya dengan serius. Ia terus senyum-senyum sendiri, saat melihat kegiatan Nadira dari layar itu.


Dia seorang diri di dalam ruangan kontrol CCTV, Jadi tidak perlu malu saat mengekpresikan perasaannya. Petugas security? Tentu saja sudah ia suruh keluar. Arkana tidak sebodoh itu, membiarkan seorang karyawan melihat tindakan konyolnya.


Arkana bertanya pada dirinya sendiri soal itu. Ia merasa dadanya sedikit sesak kali ini.


"Dari tadi dia diam di gudang. Sungguh, gadis batu!" Gerutunya mengarah pada gadis itu.


Baru sedetik bibir Arkana dikatubkan. Dari layar monitor, ia melihat dengan jelas. Gadis itu sedang bersin-bersin, sebanyak tiga kali. Kening Arkana mengernyit. Apa mungkin karena kutukannya barusan. Pikir Arkana, mulai percaya dengan mitos dan takhayul.


Katanya sih, kalau kita bersin-bersin secara beruntun. Sebanyak tiga kali. Itu berarti ada orang yang sedang ngomongin kamu di belakang.


Siang berganti dengan malam dalam waktu singkat, bagi Arkana. Malam ini berlalu begitu saja untuknya. Ia menghapus khayalannya, untuk makan siang bersama Nadira. Di lihat dari gerak gerik gadis itu, yang ia pantau dari CCTV. Sepertinya Nadira sengaja menghindar dari dirinya. Arkana pun tidak bisa memaksa untuk tiba-tiba muncul di hadapan Nadira begitu saja. Akan canggung baginya untuk mengajak gadis itu bicara.


Dia rasa, jika Nadira sangat marah karena kejadian tiga hari lalu. "Hah." Arkana menghempas napasnya dengan keras. Seakan ingin melupakan kejadian saat itu. Dia menyesal tidak ikut turun ke bawah dan melihat reaksi dari Nadira. Mempercayai Viola? sama saja dengan musrik.


Arkana segera bangkit dari duduknya. Dari siang hari sampai jam 21:00 pm. Dia hanya duduk memandangi layar monitor untuk memantau kegiatan Nadira. Ia merasa sudah sangat puas dengan itu.

__ADS_1


Melihatnya tersenyum, tertawa. Bercanda dengan teman sesama spg. Melihat ia cemberut dan marah. Sungguh membuat hati Arkana semakin senang.


Klek.


Pintu terbuka. Arkana melangkah keluar. Dengan wajah datar, ia mengangkat tangannya. Meminta security untuk segera masuk ke ruang kontrol CCTV. Kedua petugas, cewek dan cowok itu pun segera mengikuti intruksi Arkana.


***


Di parkiran, basemant Mall.


Sebuah mobil biru masih terparkir di tempatnya. Di dalam mobil, ada Arkana dan Surya.


"Itu dia keluar!"


Jari Surya menunjuk dari dalam mobil, ke arah sosok gadis bernama Nadira. Yang baru saja berjalan mendekati motor gedenya.


Ssttt.


Arkana mengkode Surya untuk diam. Sahabatnya itu terlalu heboh saat ini.


Arkana yang duduk di kursi belakang. Mengarahkan wajahnya ke kaca pintu, menopang dagunya dengan satu tangan. Menempelkan sisi pipinya ke kaca pintu mobilnya.


Meski pandangannya terhalang oleh kaca hitam dan tebal ini. Namun tidak mengurangi perasaan senangnya. Saat melihat gadis itu. Dia tidak punya cukup keberanian untuk sekedar keluar dan menyapa.


Akhirnya. Nadira pun pergi dengan mengendarai motornya. Dan Arkana masih memperhatikannya, sampai sosok gadis itu benar-benar hilang dari pandangannya.


Arkana menghela napas panjang.


"Ayo! pulang..."

__ADS_1


__ADS_2