Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Marah lagi.


__ADS_3

Arkana masih duduk di sana. Menatap punggung Nadira yang semakin menjauh dari tempatnya duduk. "Aku yakin, dia juga suka padaku." Bibirnya ditarik lebar ke samping, sampai membentuk sebuah senyuman.


Dalam hatinya, ia sangat yakin jika gadis itu juga punya perasaan padanya. Tapi ia tidak tau, kenapa gadis itu selalu menolak pernyataan cintanya itu. Selalu saja ada alasan dan pertikaian kecil, saat suasana diantara mereka mulai romantis.


Mungkin kah ia juga menyukai orang lain, selain Arkana? Sehingga gadis itu bingung untuk menentukan kemana arah hatinya. Ya. Mungkin begitu. Jadi Arkana harus lebih sabar untuk mendapatkan hatinya Nadira.


Di lantai atas.


Klak. Brrakk.


Suara pintu yang dibuka, dan langsung ditutup kembali dengan cepat oleh Nadira. Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke pintu. Punggung dan kepalanya menempel ke kayu lebar itu.


Merah. Pipi Nadira merah merona seperti udang rebus. Debar jantungnya terasa semakin cepat saja. Ia memukul pipinya pelan, seraya berdalih. "Kenapa pipi ini selalu merona, setiap mendengar rayuan si gay itu!"


Kepalanya menggeleng pelan.


"Apa benar, aku menyukai dia?" Nadira mencoba menyelaraskan kata, antara mulut dan hatinya. Wajahnya tertunduk. Ia merenungi kalimat yang baru saja ia katakan. Kalimat yang ia tanyakan kepada dirinya sendiri, 'Apa benar aku menyukai dia'.


***


Suara air mendidih. Di angkat panci kecil itu, lalu ia menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah diberi bubuk kopi sachet.


Suara langkah kaki itu terdengar di telinga Arkana. Ia menoleh sebentar, lalu kembali melihat sebuah gelas dan fokus mengaduknya.


"Siapa yang masak?" Suara pria yang sudah berdiri di sebelah kursi, ruang makan. Tangannya menjumput masakan untuk mencicipi.


Arkana melangkah mendekati pria yang ternyata Surya. Menarik kursi untuknya duduk. Lalu, dengan angkuh meletakkan gelas yang ia pegangi. "Nadira," jawabnya dengan suara yang malas.


"Woah!" Surya memukul pundak Arkana. Ia begitu semangat dalam urusan memprovokasi. Wajahnya sudah dipenuhi binar-binar penuh arti. Sahabat yang satu ini, memang suka sekali menjahili Arkana.


"Ternyata seperti itu tipe cewek yang loe suka? Yang jago masak. Kenapa gak pacarin koki aja dari dulu." Surya mencibirkan mulutnya.


Arkana tak berkomentar. Langkah kaki terdengar lagi. Kini sepasang kekasih itu yang mendekati ruang makan. Ya, siapa lagi kalau bukan Beni dan Viola.


Kedua sejoli itu sudah sampai di tempat Arkana dan Surya. "Siapa yang buat sarapan?" Beni bersuara duluan. Mereka langsung menarik kursi dan duduk begitu saja.


Surya hanya memajukan bibir bawah dan menaikkan kedua alisnya. Sedang pria yang sedang berleha itu, tidak bersuara. Ia fokus menatap layar ponsel yang baru saja ia keluarkan dari saku celananya.


"Siapa?" Lirih Beni penasaran.


Surya tersenyum tipis, dan berkata "Nadira." Suara lirih itu menghapus rasa penasaran dua sejoli itu.

__ADS_1


Telinga pria itu mendengar semuanya, namun ia enggan bersuara. Ketiga sahabat Arkana itu pun terkekeh. Mereka suka sekali menggoda pria itu. Sudah cukup berani ternyata ya.


"Boleh dimakan apa enggak, nih?" Surya sedikit ragu, melihat wajah dingin Arkana. Ia merasa, seharusnya mulutnya itu disumpal makanan aja. Biar gak melolongi Arkana melulu.


Tangan Arkana diangkat lalu diayun pelan. Menandakan ia setuju dengan perkataan Surya.


Surya pun merasa senang, akhirnya ia bisa sarapan enak pagi ini. Biasanya ia hanya sarapan roti ber-oles kan selai, sangat bosan.


Kursi itu ditarik dan Surya mulai duduk. Ketiga orang ini segera memulai kegiatan sarapan mereka.


Diangkat gelas itu. Srruup. Satu seruputan dilakukan oleh Arkana.


"Kos Nadira..." kecuali Arkana, semua mulai bergidik. Hawa dingin seakan masuk dari celah mana saja, membuat kaku sekujur tubuh.


"Kerjaan kalian?" Tiga pasang mata itu saling melirik saat ini. Arkana masih saja santai, fokus menatap layar ponselnya.


Hening. Sesaat mereka hanya berdiam. Saling melempar perintah untuk menjelaskan. Sekarang kalian baru tau rasa. Siapa suruh kalian mengolok-olok sang singa.


"Em. Iii..ya. Itu rencana kita." Akhirnya Beni yang jadi tameng kali ini.


Setelah beberapa injakan kaki Surya yang ia rasakan. Belum lagi cubitan yang mendarat di perutnya dari sang kekasih. Ia merasa terpojok oleh dua bersaudara ini, nasib malang.


Diangkat wajahnya perlahan, sorot mata itu menatap tajam. Menatap ketiga orang itu, seolah ingin menelan mereka bulat-bulat. "Kenapa kalian tidak mem-beritahuku?"


Beni.


Gawat. Jika sudah berbicara formal seperti ini. Biasanya Bos akan marah.


Surya.


Mampus. Bakalan abis loe Surya. Dipecat, pecat dah loe dari Mall. Jangan harap jadi Manager lagi di sana.


Viola.


Duh. Gimana nih, Kak Arka makin nakutin aja kalau lagi marah. Serem. Untung aku dulu naksirnya sama Beni, kalau sama dia? Mungkin aku dah mati kena serangan mendadak.


Semuanya masih sunyi. Sebenarnya mereka cukup berani untuk buka suara. Tapi lebih baik diam, jika bersuara hanya menambah tingkat amarah Bos itu.


"Kalian tidak bersuara." Dengan tegas. Ia lagi marah, marah hei! Marah. Kalian cuma diem aja, kan makin esmosi jadinya.


Huh. Hembusan nafas yang kasar. "Kenapa kalian tidak bicara? Kalau kalian ngomong, aku bisa tau keadaannya malam itu." Sepasang mata itu menatap ketiga wajah itu bergantian. Ya, mereka masih diam dan tampak gusar.

__ADS_1


"Dia malam-malam mau pindah kos-an. Beruntung aku kesana. Kalau tidak, hari ini. KALIAN TAMAT."


Hawa dingin menjalar ke seluruh tubuh. Sepasang mata itu menyorot tajam. Butuh keberanian untuk menatapnya balik. Rasanya, ini detik-detik terakhir mereka dari novel ini.


"Maaf Ka. Emang kita yang rencanain itu. Tapi soal Nadira pindah kos malem-malem, itu di luar perkiraan kita." Lagi-lagi Beni yang bersuara untuk menjelaskan. Tapi bukan kerana di injek atau dicubit ya! Ini murni kemauan dia sendiri kok.


"Oke." Satu seruputan kopi dilakukan Arkana. "Apa lagi rencana kalian?" Diletakkan kembali gelasnya. Suasana mulai adem nih. Ia merasa, sebenarnya rencana mereka cukup efektif. Mengingat malam itu, membuatnya kembali tenang.


Kini Surya yang akan buka suara. Ia bersiap-siap, karena ini idenya.


Satu kali tarikan nafas panjang.


"Kita sudah hubungi semua pemilik kos-an se-kota Denpasar. Nama Nadira udah di blacklist, jadi gak bakal ada kos-an yang nerima dia."


"So. Nadira bakalan tinggal di sini." Lanjut Beni dan Viola bersamaan.


Arkana mengangguk pelan. Bibir bawah itu dimajukan kedepan. "Oke. Bagus. Gue suka!" Senyuman tipis terukir di wajah tampan itu. Menghapus rupa singa yang sedari tadi menempel di sana.


Hah. Akhirnya ketiga orang itu bisa bernafas lega. Es beku yang membelenggu itu segera pecah seketika. Lega. Kini mereka menghirup oksigen banyak-banyak untuk menghidupkan nyawa mereka kembali.


"Vio. Pergi ke atas, jelasin ke dia."


Baru saja gadis itu bernafas lega. Arkana buka suara lagi, dan ternyata masih ada yang mengganjal.


"Oke.. Aku akan jelasin."


Tubuh itu bangkit. "Jangan sampai salah bicara." Peringatan dari Arkana. "Siap!" Jawab Viola yakin.


***


Kamar Nadira.


Tok. Tok.


Suara pintu itu membuat langkahnya menjadi terburu-buru. Mungkin itu Arkana. Kenapa dia ke kamarku. Cepet buka. Cepet buka pintunya.


Klek. Nadira membuka pintunya. Wajah gadis yang ia kenali itu muncul di sana.


Perasaan yang tadi baik-baik saja, berharap itu Arkana mendadak pudar. Sakit hati yang kemarin ia rasakan, sekarang muncul lagi. Di sini. Di depannya, tepat depan mata.


Tolong berikan jempol👍 dan ❤❤❤ kalian untukku. Jangan sungkan untuk vote, jika kalian suka novel ini.

__ADS_1


__ADS_2