Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Menginap.


__ADS_3

Update-nya lama thor!!!


Maaf kan ya 😊😊😊


..


Dan aku minta apresiasinya dari pembaca dengan menekan gambar like di pojok kiri bawah. Makasih 😊


..


Pak Wan membukkan gerbang untuk Nadira. Nadira dengan motor gedenya langsung menuju garasi.


Nadira mematikan mesin motornya. Menoleh kebelakang. "Kamu gak turun?" tanyanya kepada Rini.


"Takut." rengek Rini.


"Ada aku. Masih takut aja." tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya pelan.


Akhirnya Rini turun dari motor dan disusul Nadira. Nadira berjalan masuk ke Villa dan Rini mengekor di belakang. Dengan memegangi ujung baju Nadira.


Nadira terpaksa mengajak Rini ke Villa Arkana. Karena temanya itu terus-menerus meminta Nadira untuk tanggung jawab atas kejahilan yang ia buat. Rini benar-benar ketakutan oleh kebohongan Nadira.


Bik Tun menghampiri Nadira yang baru saja datang dari kerja.


"Non Dira sudah pulang. Makan siangnya sudah saya siapkan."


Nadira hampir lupa jika di Villa ini sudah ada bik Tun. Dan ia mengajak Rini untuk menginap, itu juga tanpa sepengetahuan Arkana.


Ah. Bodo amat. Nanti telpon aja untuk minta ijin sama dia. Lagian dia masih di Jakarta, baru pulang hari sabtu.


Bik Tun dan Nadira masih berdiri berhadapan.


Pandangan bik Tun tertuju ke arah seseorang yang berada di belakang Nadira.


Seolah tau dengan isi kepala bik Tun Nadira pun menjelaskan. "Dia Rini, temen di tempat kerja. Gak apa kan, kalau menginap di sini semalem aja?"


Sebuah senyuman di torehkan di wajah yang sudah mulai keriput itu. "Tentu saja boleh. Den Arka tidak melarang itu. Kecuali teman pria."


Nadira tersenyum getir. "Bik Tun suka becanda." Siapa juga yang mau ngajak temen cowok ke sini.


Nadira menggandeng tangan Rini. Sedikit menarik temanya itu dengan paksa.


"Kita ke atas dulu ya, bik Tun."


"Iya, Non. Jangan lupa turun untuk makan siang."


Nadira yang sudah menaiki anak tangga ke tiga pun berbalik sebentar. "Oke," jawabannya untuk bik Tun.


Di kamar Nadira. Rini yang baru saja keluar dari toilet. Berjalan dengan handuk kecil putih yang digunakan untuk mengelap wajahnya yang basah.


Rini duduk di tepi ranjang milik Nadira. Manatap serius ke arah Nadira, yang baru saja selesai shalat dzuhur.


Nadira berdiri. Membuka mukenahnya satu persatu. Melipat mereka dengan rapi dan meletakkan di lemari yang tidak berpintu.


Nadira merinding. Merasakan tatapan Rini yang begitu tajam. Seolah sedang menghunusnya dari belakang.

__ADS_1


Nadira berjalan ke arah Rini.


"Gak usah melotot," menjeda bicara untuk mengusap bagian wajah Rini yang terus melihatnya. "Entar lepas itu mata." canda Nadira dengan senyuman.


Nadira berjalan lagi menuju pintu keluar kamarnya.


"Tunggu!" tangan Rini menangkap pergelangan tangan Nadira, yang membuat Nadira terhenti.


"Mau kemana?" imbuh Rini bertanya.


Nadira yang sudah menoleh. Menaikkan kedua alisnya bersamaan. "Mau makan."


Tangannya dilepas oleh Rini.


"Aku mau ngomong dulu. Makannya nanti aja!" perintah Rini dengan serius.


"Makan dulu. Ngomongnya nanti aja. Laper!" jawab Nadira dengan keluhannya.


Rini berdiri. Mendekati Nadira, lalu meletakkan tangan kirinya di pundak temanya itu dari belakang.


"Habis makan. Kita harus ngomong." Pinta Rini tegas. Seakan-akan ada hal yang sangat penting untuk di bicarakan.


"Oke oke. Kita ngomong. Tapi nan ti, abis makan."


Nadira berjalan keluar dari kamar. Dan di susul Rini di belakangnya.


"Aku juga tau, apa yang mau kamu omongin." Gerutu Nadira lirih, agar tidak didengar Rini.


Di meja makan. Nadira dan Rini sudah duduk di kursi yang bersebelahan.


Bik Tun sibuk melayani dua gadis itu.


Diletakkan sendok itu di atas piringnya.


Menarik nafas pelan sambil menutup kelopak matanya.


"Bik tuuun," panggilku dengan lembut ala sinden jawa.


"Ya non," jawabnya masih sibuk menuang air ke gelas.


Menarik nafas lagi. "Bik Tun mendingan ikut makan deh, sama kita. Jangan mondar mandir gitu, aku jadi hilang ***** makan." keluh Nadira.


"Maaf non." Bik Tun langsung menghentikkan kegiatannya. Ia berdiri dengan kepala tertunduk, dan kedua tangan saling bertautan. Seolah ia mengaku salah dan siap dimarahi saat ini juga.


Tangan Nadira menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Bik tun aku gak marah. Cuma sebel! liatin bik tun kayak tadi." Jelasnya.


"Itu sudah tugas saya, Non." Kata bik Tun rendah.


"Ya. Saya tau. Tapi itu cukup ditunjukkan ke Tuan bibik aja. Ke aku gak perlu, aku bisa kok tuang air sendiri, ambil nasi sendiri, sama lauk sendiri. Bibik gak perlu repot-repot."


"Tapi Den Arka, nyuruh bibik untuk melayani non Dira dengan baik. Bibik takut dimarahin Den Arka, Non."


Sumpah. Arkana apa-apaan sih. Pasti dia sengaja ngasih pembantu di sini untuk bikin aku kesel.


Nadira masih tidak senang. "Iya. Tapi,-"

__ADS_1


"Udah-udah." Lerai Rini untuk perdebatan itu.


"Aku tau maksud kamu." Rini melihat Nadira dengan senyuman.


Rini menoleh ke arah Bik Tun.


"Bibik mending kebelakang aja ya. Kerjain tugas bibik yang belum selesai. Kalau bibik tetep berdiri di sini, non Dira jadi gak ***** makan. Dan kalau Non Dira-nya gak makan dengan bener, Den Arka bisa marah sama bik Tun. Heum."


Tutur kata Rini yang lembut. Akhirnya bisa di pahami oleh bik Tun. Bik Tun menundukkan kepalanya. Sebelum akhirnya meninggalkan kedua gadis itu di ruang makan.


Sebuah senyuman tercetak miring di wajah Nadira. "Gak nyangka bisa lembut juga." Pujinya kepada Rini, namun terdengar seperti ejekan.


Rini membalas senyuman itu dengan licik. "Kalau lawan orang yang tipe ngeyel bin keras kepala gini. Gaya bahasanya harus lembut tapi tegas, dan harus tepat," melanjutkan makannya yang tertunda.


"Gak muter-muter kayak kaset CD." Imbuhnya, belum puas mengkotbahi Nadira.


Ujung mata itu melirik Rini. Mencibirkan bibirnya. "Iya bu gullu," gaya bicara ala-ala anak TK yang mengerti dengan perintah gurunya.


Selesai makan. Kedua gadis itu kembali ke kamar Nadira.


Mereka berdua duduk di kursi yang ada di balkon kamar Nadira.


Menatap ke arah langit yang masih terang, meski waktu sudah sore.


"Ini Villa siapa?" tanya Rini, masih setia menatap langit. Karena enggan melihat Nadira, bosen liat temennya terus.


"Arkana," jawabnya singkat dan jujur.


Wajah Rini menoleh. Tatapannya seolah tak percaya dengan jawaban Nadira.


"Serius? Sejak kapan kamu tinggal di sini?"


"Serius lah. Sejak pindah dari kosan." Nadira masih setia menatap langit. Ia juga malas melihat wajah Rini yang sok serius. Kayak lagi belajar Fisika aja.


Rini menatap wajah Nadira dengan heran.


"Jadi, waktu kamu bilang kalau udah dapet tempat tinggal tu. Maksudnya kamu tinggal serumah sama Pak Arka?"


"Iya." masih asik menatap langit.


"Dir, SADAR!" tegas Rini, sambil menggoyang lengan Nadira.


"Ini juga sadar. Kurang sadar gimana?" Seriusnya Rini, ia anggap sebagai candaan.


"Dir, dia itu laki-laki, kamu perempuan. Dan kalian belum menikah. Jadi enggak boleh tinggal satu atap begini." Ceramah Rini kayak mamah dedeh.


"Tapi aku gak ada tempat lain waktu itu." Dan Nadira merasa tidak ada yang salah jika ia tinggal serumah dengan Arkana. Toh mereka tidak sekamar.


"Aku gak setuju. Besok kamu liburkan?"


"Iya." jawab Nadira.


"Aku temenin kamu untuk cari kosan. Kamu pindah dari sini, secepetnya." Kata Rini sedang memaksa Nadira untuk pindah dari Villa Arkana.


Nadira merasa senang, karena temanya begitu peduli dengan dirinya itu. Tetapi, saat Rini memintanya untuk segera pindah dari Villa Arkana. Kenapa tiba-tiba perasaannya jadi tidak senang. Sedikit perih dan sesak di dada.

__ADS_1


*Seharusnya aku tidak mengajak Rini untuk menginap di sini. Jadi dia tidak akan tau, jika aku tinggal di Villa ini dengan Arkana. Surya, Vio dan Beni. Pak Wan juga. Memang salahku. Tapi aku tidak punya tempat lain.


Seandainya Rini tau, jika aku sudah mencari kosan. Dan tidak berhasil*.


__ADS_2