Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Malming


__ADS_3

Nadira dari pagi sudah jalan ke tempat kerja. Sebenarnya, kalau hari sabtu jadwalnya masuk siang. Tetapi, Arkana tiba-tiba menelponnya semalam.


Dan dia bilang. 'Nanti malem aku tunggu kamu di sunrise kafe. Dandan yang cantik dan jangan sampai telat. Aku mau dengar jawaban kamu'. Begitu kata Arkana di dalam panggilan.


"Ah. Aku harus dandan gimana untuk nanti malem. Aku kan gak punya baju cewek." Nadira menggebrak rak susun di depannya. Membanting produk yang sedang ia pegang.


Rata-rata baju Nadira hanya kaos lengan pendek dan panjang. Ia tidak punya dress atau pun gaun.


Itu membuat Nadira merasa frustasi sejak pagi hari. Itu kenyataannya, cuma karena ingin tampil cantik di depan Arkana.


Siang hari, Nadira pulang ke Villa Arkana.


Nadira berjalan sangat lambat sampai masuk ke rumah. Seolah beban berat sedang terikat di kakinya.


"Non!" panggil bik Tun. Yang merasa aneh, melihat raut wajah Nadira. Kayak ada yang beda gitu.


Nadira berdehem. Melewati bik Tun yang berdiri menungguinya.


"Kata Den Arka, non di suruh-"


"Dah tau." Nadira memotong perkataan bik Tun. Ia sudah tau, apa yang akan disampaikan oleh bik tun.


"Kirain gak tau." lirih bik Tun. Sambil tersenyum melihat kepergian Nadira ke lantai atas.


krek


Nadira masuk ke kamarnya. Melempar asal ranselnya ke arah ranjang.


Tubuhnya berjalan mendekati lemari di kamarnya ini.


Coba kita liat. Apa ada baju yang cocok, untuk nanti malem.


Nadira menatap baju-bajunya yang terlipat rapi. Meraih dan melebarkan bajunya satu persatu yang menurutnya paling bagus. Menempelkan ke tubuhnya sendiri.


"Ini, baju-bajuku yang paling bagus. Tapi, kenapa masih gak cocok, sih! Terlalu biasa..."


Baju yang sudah dilihat. Ia lempar ke arah belakang tubuhnya.


Nadira menghela nafas. Berjalan ke ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya.


Nadira bingung. Memutar kepalanya beberapa kali. "Eh! itu..." Nadira bangkit lagi dari ranjang.


Nadira sudah berdiri di depan lemari besar, dengan dua pintu. "Ini. Punya siapa?"


"Kok aku baru sadar, kalau ada lemari besar di sini? pas masuk tadi, kayaknya gak ada deh."


Nadira merasa tidak melihat lemari itu saat ia memasuki kamar. Mungkin saja Nadira terlalu galau, sampai tidak melihat dengan jelas.


"Coba kita buka... Biar tau, lemari punya siapa ini."


krek


Wow. Seketika mata dan mulut Nadira melebar. Ia takjub dengan barang yang mengisi lemari itu. "Ngerik..... Ma hal semu aaa."


"Mending aku tanya bik tun. Punya siapa ini? dan, kenapa bisa ada di kamarku?"


Nadira berjalan turun ke lantai satu, untuk menghampiri bik Tun.

__ADS_1


Bik Tun berdiri di dekat Nadira.


"Iya, non... Itu baju punya non Dira. Den Arka yang kasih. Kan, tadi bibik mau ngomong. Katanya, non Dira udah tau."


Nadira menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Yah.... kirain tadi mau ngingetin tentang yang lain."


Nadira merasa canggung. Ujung matanya melirik bik Tun. "Terus, apa lagi katanya?"


Bik Tun sumringah. "Den Arka bilang. Non, disuruh pilih baju yang paling disuka untuk di kenakan. Nanti malam jam tujuh, bakal ada supir yang jemput non."


Nadira memutar bola matanya. "Oh. Gitu. Ya udah, aku ke atas lagi ya."


"EHH." tahan bik Tun.


"Kenapa bik?" wajah bingung Nadira.


"Makan dulu. Non kan, belum makan siang."


"Udah tadi di Mall. Aku ke kamar dulu, mau cobain baju." bibirnya di tarik ke samping, sampai tercetak sebuah senyuman.


"Oh.... Mau bibik bantuin milih."


"Boleh." Jawab Nadira senang. Ia akan merasa terbantu jika bik Tun bisa mengomentari penampilannya.


Jakarta. Di dalam mobil sedan, Arkana duduk di kursi belakang. Mereka sedang menuju Bandara.


"Gimana?" tanya Arkana. Kepada seseorang yang sedang mengobrol denganya via telepon.


"Sudah siap semuanya."


"Baik, Bos."


"Oke."


Tut.


Arkana memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya.


"Bajunya sudah di kirim?" tanya Arkana kepada Beni, yang duduk di kursi depan fokus dengan ponselnya.


"Udah. Semua merk dan semua model baju." jawab Beni lugas.


"Bagus," Arkana menyungging senyum tipis di wajahnya. "Aku penasaran. Seperti apa penampilanya, jika memakai dress"


Bali. pukul 18:15.


Selesai shalat magrib, Nadira sudah sibuk berdandan. Untungnya dia bisa ber-make up sendiri, jadi tidak perlu memakai orang salon untuk membantunya.


Sunrise kafe.


Mobil sedan hitam melaju perlahan memasuki parkiran kafe. Supir itu turun, lalu membuka pintu mobil untuk Nadira.


Nadira turun dari mobil. Kakinya terlihat menggunakan hells hitam, setinggi 5cm. Dress hitam diatas lutut, membalut tubuhnya dengan apik. Ditambah riasan khas yang biasa ia pakai saat bekerja. Rambutnya sedikit dibuat mengembang dan kerli di bawah. Membuat Nadira terlihat sangat cantik dan berbeda malam ini.


Pelayan kafe pria membukkan pintu, khusus untuk Nadira.


Langkah Nadira berhenti sejenak. Lalu tersenyum kepada pelayan itu, "Terimakasih." Tuturnya sopan.

__ADS_1


"Silahkan lewat sini. Saya akan memandu anda ke lantai dua." Kata seorang wanita yang terlihat seperti manager kafe ini.


Nadira mengangguk. Lalu berjalan mengikuti wanita itu.


Nadira melihat berkeliling. Seluruh kafe ini kosong, tidak tampak satu pun pengunjung di dalamnya. Apa dia memesan seluruh kafe ini?


Hmm. "Orang kaya mah bebas!"


Pelayan wanita itu berhenti. "Apa, kak?" tanyanya. Mengira Nadira bicara padanya.


Ahh. Nadira menggeleng kecil. "Gak apa-apa," ia merasa canggung.


"Oh ya! masih jauh?" Tanya Nadira, merasa jika lantai dua ini terlampau jauh.


Pelayan wanita ini berhenti. "Sudah sampai. Di sana!" Tunjuknya sopan, dengan badan setengah menunduk.


Nadira terdiam. Hanya senyum tipis yang ia berikan kepada pelayan itu.


"Saya hanya mengantar sampai di sini. Saya permisi."


"Ya." Pelayan wanita itu pergi, meninggalkan Nadira yang masih berdiri di tempatnya.


Nadira melangkah perlahan. Pandangannya di edarkan ke segala arah. Sungguh tempat yang indah. Di lantai dua ini, semua dindingnya adalah kaca. Jadi, kita bisa melihat suasana diluar sana dengan jelas dari sini.


Satu lilin berdiri di atas meja bundar tertutup kain putih, dengan dua kursi di dekatnya. Ratusan lilin menyala menghiasi luasnya lantai dua ini. Hanya ada satu jalan menuju meja itu, yang tidak terhalang oleh lilin.


Nadira duduk di kursi. Ia terlihat bingung dengan keadaan ini.


Tentu saja. Nadira datang ke sini untuk bertemu Arkana. Namun pria itu tidak ada di sini, Dimana dia?


20 menit kemudian.


Arkana belum juga muncul. Nadira menjadi sedikit gusar.


Apakah pria ini sengaja? Apa dia sedang balas dendam denganku? Karena aku terus menolak cintanya.


Nadira menggeleng pelan. Ia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak negatif thinking.


"Mungkin dia sedang menyiapkan kejutan yang lain. Aku harus sabar." Begitu katanya, untuk menenangkan diri dan hatinya yang terus bergejolak.


Tap. Tap. Tap.


Telinga Nadira menangkap suara langkah kaki yang semakin dekat. Langkahnya seperti sedang berlari, terdengar sangat keras.


Huh. Seseorang dengan setelan jas berdiri di sana, setelah berhasil menaiki tangga. Ia berhenti sejenak untuk mengatur deru nafasnya yang tidak stabil.


---


.


.


.


.


Terkadang, di saat kita terlalu lama berpikir. Dia. Sudah terlanjur kecewa karena menunggu.

__ADS_1


__ADS_2