Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Cemburu 2


__ADS_3

...Assalamualaikum......


Pasti kalian udah lama banget ya, nunggu up MCN?


Kalian bertanya-tanya kenapa lama banget gak up?


Maaf ya, aku emang udah lama banget gak nulis, karena sibuk di dunyat. Entah kenapa juga kemarin-kemarin itu agak males untuk nulis. Sebab itu, aku dengan kerendahan hati minta dukungan dari kalian semua. Tolong kasih Like ya sebelum membaca. Terimakasih..


...Wassalamu'alaikum....


...****************...


Setelah beberapa waktu di perjalanan. Akhirnya mobil Arkana melewati gerbang dan memasuki area teras Villanya.


Dalam perjalanan pulang tadi, Arkana belum bicara sama sekali sejak mengemudikan mobil hingga sekarang ini.


Nadira sudah beberapa kali mengajaknya bicara. Namun, Arkana tetap diam dan enggan untuk membalas sepatah kata pun. Sampai akhirnya Nadira melihat raut wajah Arkana dan mengetahui jika pacarnya itu benar-benar marah. Nadira pun ikut diam seribu bahasa.


Arkana keluar dari mobil dan diikuti oleh Nadira. Arkana memanggil Pak Wan dengan melambaikan tangannya karena enggan bicara.


Pak Wan datang. "Iya Pak bos." Kata Pak Wan di depan Arkana dan saat melihat Nadira, satpam itu menyapa dengan ramah dan hormat. "Non,".


"Iya, Pak Wan." Kata Nadira ramah dan tersenyum.


Entah kenapa sikap ramah Nadira barusan membuat Arkana semakin kesal. Arkana merasa marah tidak jelas saat wanitanya itu bersikap ramah kepada lelaki lain. Apalagi saat melihat Nadira tersenyum kepada lelaki lain selain dirinya, saat itu juga hati Arkana tiba-tiba terasa panas seperti terbakar api.


Karena masih marah dan malas untuk berbicara. Arkana memerintah Pak Wan untuk memasukkan mobil ke garasi, hanya dengan menunjuk ke arah mobil lalu garasi. Arkana pergi dengan langkah besar, ia bergegas masuk ke rumah.


Melihat itu, Nadira hanya bisa menahan rasa ingin tertawanya. Nadira baru saja mengetahui, ternyata Arkana juga bisa bersikap konyol dan lucu ketika sedang marah.


"Non Nadira tertawa?" kata Pak Wan menyadari jika sedari tadi Nonanya itu sedang menahan tawanya.


"Hehe, dikit Pak."


"Awas! Nanti Pak bos makin marah, loh!"


"Hehe, enggak lah Pak wan, kan cuma dikit."


Pak Wan ikut terkekeh juga karena melihat Nonanya yang sudah di anggap seperti anak sendiri itu begitu lucu.


"Shhuut! jangan keras-keras, nanti pak bos bisa denger loh, hehe..." kata Nadira mengingatkan.


Bukannya berhenti, Pak Wan semakin ingin tertawa mendengar kata Nadira.


***


Arkana memasuki rumah.


Langkah Arkana berhenti ketika ia sampai ruangan tengah. Arkana melihat ada Beni, Viola, dan Surya yang sedang menonton siaran langsung sepakbola. Melihat Surya yang belum mengganti baju kerjanya, Arkana jadi mengetahui jika mereka baru datang dan langsung menonton TV bersama.


Arkana semakin marah melihat ruangan itu begitu berantakan. Jas yang di taruh sembarangan. Sepatu dan kaus kaki yang tidak seharusnya di belakang sofa. Tas kerja yang diletakkan begitu saja di meja.


"Eh, Kak Arkana!" Viola yang pertama menyadari kehadiran Arkana.


"Kenapa baru pulang? dari mana?" Lanjut Viola khawatir.


Karena Arkana masih diam dan berdiri tegak bak Monas, Viola pun berkata.


"Sini-sini duduk! kita nonton bareng, ini siaran Live kok. Aku juga bawa cemilan, aku nggak lupa beliin cemilan kesukaan Kak Arka juga."


Tangan Viola meraih sesuatu dari bawah meja. Lalu menaikkan dua keresek besar warna putih itu ke atas meja. Viola sebutin satu persatu rasa dari cemilan yang ia bawa sambil mengeluarkan dari kereseknya. "Ada rasa jagung, balado, original, rumput laut, pedas manis, keju, barbeque. Aku juga beli cokelat, terus aku juga udah pesan pizza. Sebentar lagi mungkin dateng." Viola diam saat melihat Arkana dan tampak tidak ingin mendengarkan. Sia-sia saja aku bicara, sial. Kata Viola dalam hatinya.

__ADS_1


Arkana hanya diam tidak menjawab satu kata pun. Bahkan tersenyum pada Viola, tidak mungkin. Arkana melangkah kecil menuju sofa pribadinya. Tidak ada yang berani duduk di sofa itu, karena hanya untuk Arkana seorang.


Beni yang mengetahui jika Arkana keluar untuk menjemput Nadira. Beni merasa aneh saat melihat Arkana kembali seorang diri. "Dimana Nadira?" Tanya Beni, setelah melihat Arkana tampak sudah lebih tenang.


"Nadira?" ulang Surya yang baru sadar jika ini sudah larut malam, tetapi Nadira belum pulang juga.


"Ah, iya! kemana bocah itu? apa belum pulang dari kerja?" Surya melihat Viola dan Beni. Keduanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.


"SATU." hitung Arkana dalam hati.


Ketiganya lalu menatap Arkana. Arkana sedang memejamkan matanya, mana tau dia kalau ketiga temannya itu menatap ke arahnya.


"Kemana ya, Nadira? apa lembur?" Kata Viola.


"Sepertinya tidak mungkin." Jawab Beni.


"Terus kemana dong, ini udah jam sepuluh malam. Lebih malah!" Kata Viola.


"Udah mau jam sebelas kali. Jam sepuluh dari Hongkong!" kata Surya sinis.


"Lagian bocah itu pergi kemana? udah malam begini belum pulang juga." lanjut Surya.


"DUA." hitung Arkana dalam hati.


"Gimana kalau Nadira kenapa-kenapa di jalan. Aduh! aku jadi khawatir sama Nadira." Kata Viola.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Positif thinking aja." Kata Beni, mahluk super tenang diantara yang lain.


"Tapi...." Kata Surya terjeda. "Bagaimana kalau bocah itu beneran kenapa-kenapa." Lanjutnya. Membuat suasana di ruangan itu semakin tidak nyaman.


"TIGA." hitung Arkana dalam hati.


Beni, Viola dan Surya terus ribut menanyakan keberadaan Nadira. Arkana sedari tadi menutup mata, mencoba menenangkan diri. Eh, malah semakin kepengen marah gara-gara suara ketiga temannya itu.


"Kalian gak bisa diem, apa?" Kata Arkana keras dan membuat kaget ketiga temannya sampai tidak bisa berkata-kata.


Arkana membuka mata lebar dan bangkit dari sofa. Berdiri tegak. Memberi tatapan tajam kepada semua orang dan mulai mengomel.


"Kalau kalian emang khawatir sama Nadira, kenapa gak kalian cari aja sana! ngapain tanya-tanya ke gue terus! emang gue bapaknya apa, ha? Ribut terus, kalau nggak ada tindakan percuma."


Beni, Viola dan Surya hanya bisa diam dan mendengarkan saat Arkana murka seperti saat ini. Mereka mah bisa apa, dia Bosnya. Apalagi jika Arkana sudah mengganti bahasa aku menjadi gue, sudah! bisa habis ketiga orang ini di marahi.


"Lihat!" Tangan Arkana menunjuk ke semua arah ruangan TV.


"Ini sebenarnya rumah? apa kapal pecah, ha?" Bentak Arkana.


"Berantakan semuanya! Kalian kira rumah ini kandang sapi, apa? Makan doang! gak mau beresin." masih dengan suara keras.


Tangan tiga orang itu segera menarik barang terdekat, yang diyakini Arkana membuat berantakan ruangan ini. Walaupun tidak langsung rapi sih, ya berkurang lah, dikit.


"Apa kalian lupa tiga syarat untuk tinggal di sini?"


Semuanya menggeleng.


"Kalau kalian masih ingat. Sebutin!"


Viola "1 Jujur."


Beni "2 Setia."


Surya "3 Bersih."

__ADS_1


"Bagus kalau belum lupa. Gue nggak suka tiga syarat itu dilanggar. Gue paling benci orang yang gak jujur, gak setia, apa lagi jorok! gak bersih. Jangankan jadi sahabat atau teman, mau jadi babuk aja nggak bakalan gue terima. Ngerti loe semua!" Kata Arkana tegas.


Disela-sela kemarahan Arkana. Netra Viola melihat Nadira yang sepertinya sudah dari tadi berdiri di dekat gucci besar. "Iiiiii..." Viola ragu dan akhirnya hanya memberi kode mata kepada Arkana.


"i, i, i apa? Jangan alasan. Kalian beresin in," Arkana melihat dan baru saja paham dengan kode mata dari Viola.


Arkana menoleh kebelakang. Melihat Nadira berdiri tegak di sana dengan wajah datarnya.


Agak lama pandangan Arkana dan Nadira berada di satu garis lurus. Nadira pun tersenyum tipis. Melihat Nadira senyum begitu, justru membuat Arkana ingat kembali akan amarahnya yang belum usai. Tetapi setidaknya setengah amarah itu sudah keluar, baru saja. Sekarang emosi Arkana sudah lebih membaik.


Pandangan Arkana berpaling dari Nadira. Arkana menatap tiga temannya dan justru semakin kesal. Arkana tidak habis pikir, ternyata masih lebih baik menatap senyum Nadira ketimbang melihat tiga temannya.


"Beresin dalam waktu 1 menit. Atau minggat dari sini." Tegas Arkana kepada Beni, Viola dan Surya.


Beni, Viola, dan Surya bergegas merapikan ruangan itu.


"Loe beresin baju kerja loe dulu." Viola meminta Surya.


"Beresin tuh cemilan loe, banyak amat! dasar KEBO!" balas Surya tidak terima.


"Loe yang KEBO! SEMUA SAUDARA LOE KEBO." balas Viola.


"Sudah. Cepetan beresin." Kata Beni menengahi.


Nadira yang melihat dari kejauhan tampak terkekeh-kekeh dan menggeleng tidak bisa percaya. Dimana pun tempatnya Arkana selalu berpengaruh.


Arkana pergi untuk menuju ke kamarnya. Langkahnya terhenti di anak tangga yang pertama.


Arkana berbalik badan. "Satu lagi." Kata Arkana.


Semuanya melihat Arkana dan mendengarkan dengan seksama.


"N. A. D. I. R. A. Di baca apa?" Kata Arkana mengeja bak sedang menanyai anak SD.


"Nadira." jawab ketiganya serentak.


Arkana tersenyum puas. "Bagus! Namanya Nadira. Bukan 'bocah itu' atau yang lainnya. Ngerti?"


"Iyaaa." Jawab ketiganya.


"Mulai detik ini juga, tidak ada yang boleh memanggil Nadira dengan sebutan lain, selain namanya. Paham?"


"Iyaaa." Jawab ketiganya.


Arkana tersenyum puas. "Bagus. Bagus. Bagus."


Arkana merasa ada yang sedang menatap ke arahnya. Arkana berpaling wajah melihat Nadira. Benar! gadis itu sedang terkekeh kecil menertawai Arkana.


"Sampai kapan kamu mau berdiri di dekat gucci?"


Nadira kaget lalu melihat Arkana "Ah, mmm...." Nadira jadi gagap karena ketahuan menertawakan Arkana.


"Cepat ke kamar." perintah Arkana.


"Ah, iyaaa..."


Arkana melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju lantai dua. Tanpa sadar Arkana menyeringai lebar. Arkana baru sadar jika hatinya sudah merasa baik dan nyaman, setelah meminta temannya untuk tidak memanggil Nadira dengan sebutan lain selain namanya. Arkana menyimpulkan bahwa ia marah tidak jelas mungkin karena cemburu. Cemburu Nadira tersenyum pada orang lain, lalu marah saat ada yang mengganggunya.


"Ya, cemburu emang bahaya banget." tegas Arkana pada dirinya sendiri.


...#SayangKalianPembacaKu ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2