Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Benih Cinta


__ADS_3

Masih di ruang makan.


Dengan tangan kiri Nadira menggunakan sendok untuk makan. Karena tangan kanannya masih merasakan hangat genggaman Arkana.


Wajah Nadira merona, dia merasa Arkana sudah menumbuhkan benih cinta di dalam hatinya ini. Hati yang sudah lama mati, tidak berpenghuni. Selama 5 tahun tidak merasakan kasih sayang, tidak diperhatikan.


Sekarang lelaki ini mampu menggerakkan hatinya. Memberi cahaya terang, walau sedikit perhatian. Dan ucapan manis, tapi dia sangat baik. Belum ada lelaki, selain Rio yang mampu membuatnya luluh.


"Kamu merona?" Rayu Arkana.


"Tidak!" Seketika Nadira melepaskan tangannya.


"Aku sudah bilang! Kamu pasti jatuh hati padaku." Arkana dengan bangga mengatakkan itu.


Nadira hanya diam membisu.


"Lihat sekarang! Berapa kali aku menyentuh tangan kamu. Kamu berusaha menghindari. Bukan karena kamu tidak suka, melainkan kamu takut."


Benar, aku takut tangan mu melepaskan tangan ini. Jadi aku lebih dulu melepaskan diri.


Jawaban ini hanya didalam hatiku. Aku tidak berani mengucapkannya.


"Aku tidak tau apa yang membuat kamu begini. Menyembunyikan semua isi hatimu. Aku tidak akan memaksa, walau aku tau kamu sudah jatuh hati padaku."


Nadira masih diam dalam kebingungan. "Apa aku sungguh sudah jatuh hati pada Arka?" Kalimat ini yang masih berputar-putar dikepalanya.


"Sama seperti yang aku katakan waktu itu. Aku akan mengejar kamu, berusaha agar kamu menerima aku." Masih terus menatap gadis didepannya.


"Kamu tau, setiap orang punya masa lalunya sendiri. Entah menyenangkan atau menyakitkan. Pasti tidak mudah untuk melupakannya."


Arkana terus menatap Nadira yang terus membisu dihadapanya.


"Kalau kamu terus berkutat dengan masa lalu. Bagaimana dengan masa depan kamu? Tidak tau kamu itu mempertahankan kenanganya. Atau orang yang memberi kenangan itu." Nadanya sedikit menekan dikalimat akhir.


Arkana terus mengatakan sesuatu yang membuat Nadira terperangah.


Semuanya tepat, seperti yang dia rasakan. Pikirannya sedikit berubah tentang masa lalunya. "Benar. Apa yang membuat ku terus terpikirkan tentang masa lalu? Mungkin sekarang dia sudah bahagia dengan gadis lain."


"Kenapa kamu bisa mengatakan itu semua?" Tanya Nadira sedikit berat.


"Karena aku sayang kamu!"


Nadira terkejut mendengarnya.


"Aku ngak mau lihat kamu terus terkubur oleh kenangan masa lalu. Lihat! kamu begitu menyedihkan, berapa lama kamu seperti ini?"


Selidik Arkana khawatir.


"5 tahun!"


Hmmm.


Arkana memalingkan wajahnya.


"Lumayan!" Lanjutnya lagi.


"Iya." Jawab Nadira.


"Kamu mikir ngak, Dia yang kamu pikirin selama 5 tahun ini. Apa mungkin mikirin kamu juga, huh?"

__ADS_1


Arkana memajukkan kepalanya. Menatap tajam Nadira.


"Tidak tau." Jawab Nadira lemas.


"Tidak tau? Kalau begitu untuk apa kamu sia-siakan 5 tahun kamu, untuk memikirkan Dia."


Arkana semakin kesal. Tidak tau karena Nadira, atau karena seseorang yang sedang mereka bahas.


"Bego!" Lirih Arkana, membetulkan posisi duduknya.


"Iya, aku emang bego, bodoh! Goblok! Tolol! Semuanya. Aku emang begitu." Tangisan Nadira pecah. Dia tidak sanggup lagi menahan air matanya.


Huh.


Arkana menghela nafas panjang. Tidak tau kenapa dia ikutan sedih melihat gadisnya menangis. Tetapi dia juga kesal, karena gadis ini menangis untuk orang lain.


"Sudah, su dah. Jangan nangis lagi, oke!" Arkana berdiri disebelah Nadira. Menepuk pelan pundaknya.


Suara isak tangis Nadira, membuat sesak dada Arkana. Ingin dipeluk gadis ini dengan erat. Tapi dia takut ditolak.


Greb.


Arkana memeluk Nadira tanpa pikir-pikir lagi. "Bodo amat, yang penting dia diem dulu" Batinya.


Nadira dengan posisi duduk, dan Arkana berdiri disebelahnya. Satu tangan Arkana merangkul bahunya. Dan yang kanan mengelus rambut panjangnya.


Nadira membalas perlakuan lelaki ini. Tangan Nadira merangkul pinggangnya. Wajahnya ditanamkan di dadanya yang bidang. Tangisnya semakin keras, air matanya tak terbendung. Mungkin ini salah satu cara untuk melepas kenangan dari masa lalunya.


Melupakan sosok Mario dari ingatannya. Menghapus namanya yang terukir di dalam hati. Mebuang jauh pikiran tentangnya. Semua kenangan indah, kenangan buruk. Hanya jadi kenangan, tidak dapat diulang. Cukup sampai disini, aku akan mencoba membuka hati ku kembali.


Suara tangisan Nadira mengisi penuh seluruh ruangan ini. Sedang Arkana, masih membelai lembut rambut Nadira. Tidak tau kenapa, dia jadi begitu sabar dengan gadis ini.


Suara bel, yang menandakan ada seorang tamu didepan.


"Sepertinya itu Surya."


Kata Arkana membalas tatapan Nadira, yang mendongakkan kepalanya.


Nadira segera melepas tangannya dari pinggang Arkana. Menghentikan tangisnya dan menyeka sisa air mata di pipinya.


Matanya terlihat sebam, wajahnya juga bengkak sekarang.


"Lega! sudah menangis?"


Tanya Arkana yang belum mau membuka pintu untuk tamunya.


"Hmm, iya." Jawab Nadira dengan tersenyum, tangannya masih sibuk menyeka air mata.


"Bagus kalau begitu." Tangannya membantu menyeka pipi Nadira.


Pipi Nadira merona karena perlakuan lelaki ini. Dia tersipu malu, perlahan menundukan kepalanya.


"Tatap aku!" Perintah Arkana, sembari menaikkan dagu Nadira.


Perintah ini tidak dapat ditolak.Kepalanya mendongak memandang wajah Arkana sekarang. Melihatnya tersenyum, meluluhkan hati Nadira.


"Ingat! Ini terakhir kali kamu menangisi Dia. Hmm?"


Ini terdengar seperti perintah, juga seperti permintaan yang amat memaksa. Begitu tanggapan Nadira.

__ADS_1


"Iya!" Jawab Nadira yakin, bahwa ini yang terakhir.


Nadira bangkit ingin membuka pintu. Karena seseorang sudah menunggu lama didepan sana.


"Biar aku yang membuka pintunya."


Kata Arkana.


"Kamu lebih baik cuci muka dulu. Lihat wajah mu ini." Satu jari Arkana menyentuh pipi Nadira.


"Baiklah." Jawab Nadira, segera menuju toilet.


Arkana pun lekas pergi untuk membuka pintu. Di lihat seorang laki-laki menunggunya di depan. Dia berdiri disana, melayangkan senyuman ramah saat melihat Arkana.


"Selamat pagi." Kata lelaki itu.


"Pagi." Jawab Arkana.


"Benar dengan Pak Arkana?" Tanya lelaki itu lagi.


"Benar, saya sendiri. Ada perlu apa?" tanya Arkana balik.


"Saya kurir dari Toko tempat Bapak memesan furniture." Jawab lelaki itu.


"Oh, kalau begitu bawa masuk. Apa kamu sendiri?" Kata Arkana melihatnya seorang diri.


"Tidak, 3 rekan saya ada di dalam truk." Jawabnya menunjuk kearah truk putih.


"Hmmm. Kalau begitu cepat pindahkan kedalam." Kata Arkana.


Lelaki itu segera meisyaratkan rekannya untuk mulai menurunkan barang. Keempat kurir itu membawa furniture masuk kedalam kamar. Yang telah ditunjukan oleh Arkana.


"Wah! ada apa ini?" Tanya Nadira yang baru keluar toilet, setelah mencuci muka.


Gadis itu berjalan menuju ruang tengah. Menghampiri Arkana yang sedang duduk berleha di sofa.


"Siapa mereka?" Tanya Nadira, melihat 4 orang lelaki yang turun dari lantai dua.


"Kurir." Jawab Arkana singkat. Masih sibuk dengan ponselnya.


"Oh, kamu beli barang? Kayaknya sudah penuh vila kamu. Mau isi apa lagi?" Tanya Nadira, mulai ikut duduk disofa.


"Kamar yang dilantai dua masih kosong." Jawab Arkana, belum berpaling dari ponselnya.


"Mmm. Oh iya, nanti siang aku kerja. Kamu enggak apa-apa kan, aku tinggal sebentar." Tanya Nadira.


"Enggak apa."


Nadira jadi kesal sendiri karena Arkana. Dia terus menatap ponselnya. Tidak melihat Nadira, walau sedang berbicara.


"Ya sudah. Aku siap-siap dulu."


Nadira bangkit dari sofa.


"Baru jam 10, sudah mau siap-siap aja." Kata Arkana, menghentikan Nadira yang hendak pergi.


"Time is money!" Jawabnya kesal, lalu pergi begitu saja.


Arkana mengalihkan pandangan ke Nadira. Melihat gadis itu berjalan dengan hentakan kaki yang keras. Masuk kedalam kamar, yang ada dilantai satu. Kamar itu adalah kamar Nadira. Selama dia tinggal di villa ini.

__ADS_1


"Dasar! Ngambekan."


__ADS_2