Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Bismillah.


__ADS_3

Bismillah. Bab ini lumayan panjang.


Di Bali.


Masih di hari dan tempat yang sama seperti bab sebelumnya. Nadira sedang merapikan barang display yang ada di rak gondola. Tiba-tiba staf dari bagian informasi memanggil namanya dengan microfon.


"Di beritahukan kepada SPG Dry food bernama Nadira, untuk segera datang ke ruangan HRD. Sekali lagi saya beritahukan kepada SPG Dry food bernama---"


Mendengar itu Nadira mematung. Netra-nya menatap jajaran botol shampo yang baru di rapikannya. Bibirnya menyungging senyum kecil. "Sudah mulai rupanya?" Nadira menghela nafas panjang, yang akan terjadi ya terjadilah. Begitu pikir Nadira.


Tanpa pikir panjang Nadira segera berjalan menuju ruangan HRD.


"Dira!"


Langkah Nadira terhenti saat mendengar namanya di panggil. Nadira menoleh ke belakang lalu berbalik badan. Melihat Feni dan Putri tampak ngos-ngosan dan sedang berusaha mengatur nafas. Sepertinya mereka baru saja berlari dari gudang belakang karena mendengar nama Nadira di sebutkan lewat pengeras suara.


"Kalian kenapa?" Tanya Nadira santai dengan senyuman.


"Atur nafas dulu..." Nadira memandu. "Tarik nafas. Hembuskan. Tarik lagi. Hembuskan. Udah? " tangannya sambil naik turun.


Feni dan Putri sudah bernafas normal. Keduanya berjalan semakin mendekati Nadira. "Jangan pergi, pura-pura aja kalau kamu nggak dengar." Kata Feni mencegah Nadira pergi ke ruang HRD.


"Nggak dengar?" Jawab Nadira heran. "Jika kita dengar dan pura-pura tidak mendengarnya. Lama kelamaan bisa-bisa, pendengaran kita yang di hilangkan oleh yang Maha Kuasa. Kamu mau aku jadi tuli, karena ini?" Lanjut Nadira hilang akal. Bisa-bisanya dia menjadi ustadzah di saat-saat seperti ini.


Feni dan Putri terdiam. Keduanya hanya bisa memberi semangat untuk Nadira dan tidak bisa membantu sama sekali.


Nadira tersenyum melihat dua temannya yang begitu peduli padanya. Dia merasa lebih semangat dari sebelumnya.


"Kalian tenang aja, aku pasti bisa atasin semuanya. Kalian berdua jangan ikut campur, oke?" Nadira menatap dua temannya. "Takutnya mereka yang lagi mengincar aku jadi nargetin kalian juga... Kalau kalian berdua kena masalah, aku belum tentu bisa bantu. Karena aku nggak punya koneksi." Feni dan Putri hanya diam mendengarkan.


"Kalian paham 'kan? " Tanya Nadira.


"Iya," Jawab Feni dan Putri bersamaan. "Tapi Dir, sorry ya! Kita gak bisa bantu." Keluh Feni bersalah.


"Nggak papa." Nadira tersenyum ceria. "Kalian masih di sisi aku, dan tetap dukung aku walaupun udah dengar berita buruknya, itu udah sangat, sangat membantu."


Feni dan Putri ikut tersenyum melihat keceriaan Nadira meski di saat-saat susah, ada masalah, senyuman manis itu tidak pernah hilang dari wajahnya. 'Dia selalu menjadi Nadira yang kuat dan ceria' sama seperti pertama mereka bertemu.


"Ya udah aku pergi dulu," Kata Nadira.


"Oke," Jawab Feni dan Putri bersamaan. "Kita akan selalu dukung kamu," Kata Putri.


"Fighting!" Febi dan Putri memberi Nadira semangat.


"Fighting!" Jawab Nadira dengan tersenyum menatap Putri dan Feni antusias. "Ya udah aku pergi dulu lah, gak jadi jadi perginya kalau gini terus." Feni dan Putri tersenyum mendengar ini. Nadira pun berjalan pergi.


Feni dan Putri tersenyum getir melihat Nadira berjalan menuju ruangan HRD. Tidak tahu apa yang akan dihadapi oleh Nadira di tempat itu. Kedua temannya hanya bisa berharap agar semua hal baik memihak kepada Nadira.


Nadira menatap pintu ruangan HRD sebelum dirinya masuk. "Bismillahirrahmanirrahim." Kata Nadira lalu masuk ke dalam ruangan itu. Sesuatu yang baik harus di awali dengan yang baik juga.


"Sudah datang rupanya?" Kata HRD, yang bernama Siska.


Nadira mematung di tempat kakinya terakhir berhenti melangkah. Bukan hanya Siska yang ada di ruangan itu, ketiga manager Dry food termasuk Zain berkumpul disini.


Zain duduk di kursi kayu. Dia melihat kedatangan Nadira dan tampangnya keheranan. Keduanya saling menatap satu sama lain, Zain melihat dan seolah bertanya kepada Nadira 'Ada apa ini?'.


"Silahkan duduk, Nadira." Kata Siska membuyarkan adegan Zain dan Nadira.


"Iya." Jawab Nadira dan lekas duduk di kursi yang dekat dengan Zain. Di depannya ada dua menager lain yang juga duduk di kursi kayu tesekat oleh meja panjang. Sedangkan Siska duduk di kursi dekat ujung meja sebelah kiri Zain.


"Orangnya sudah datang, sebaiknya kita mulai sekarang." Kata Siska memoderatori.


"Mulai? Apa yang dimulai?" Tanya Zain kebingungan.


"Begini Pak Zain. Nadira ini sudah mencoreng dan mencemari nama baik store kita." Jelas Siska.


"Benar." Jawab Made dan Deni seraya menganggukkan kepala. Keduanya adalah manager Dry food juga.


"Apa yang dilakukannya sampai-sampai mencoreng nama store?" Tanya Zain mendadak merasa kesal.


Siska memberikan smartphone miliknya kepada Zain. "Silahkan Pak Zain lihat sendiri."


Zain mengambil smartphone milik Siska. Di layar yang menyala itu Zain melihat artikel yang terpampang foto Nadira dan Arkana. Zain menyungging senyum di ujung bibirnya. Lalu ia menertawai berita itu karena merasa tidak percaya.


Nadira yang duduk di sebelah kanan Zain hanya menghela nafas melihat Zain dan reaksinya.


Zain menoleh untuk melihat Nadira. "Apa benar semua ini, Dir?" Tanyanya kepada Nadira dengan lembut.


"Dia cowok waktu itu kan?" Lanjut Zain memohon jawaban.


"Dir?" Kata Zain lagi.


Nadira enggan menjawab Zain kali ini. Kenapa juga Zain harus ada di ruangan ini? Membuat Nadira kesulitan untuk menyangkal semuanya. Apa lagi Zain pernah bertemu dengan Arkana, waktu dulu di rumah makan pinggir jalan. Nadira takut jika Zain akan menghancurkan segala rencana yang telah dia susun. "Aku harus bagaimana?" Batin Nadira kebingungan.


"Pak Zain kenal dengan pria di foto ini?" Tanya Siska penasaran.


"Bu Siska gak perlu tau, saya sedang bertanya kepada Nadira. Bisa Bu Siska diam sebentar?" Kata Zain masih menatap dan menanti jawaban Nadira.


"Silahkan jika kalian ingin bicara, tapi tolong bicarakan nanti jika masalah di sini sudah selesai." Tegas Siska tidak peduli. Dia hanya ingin masalah ini cepat selesai agar Nadira cepat pergi dari tempat ini. Siska sudah muak melihat Nadira.

__ADS_1


"Benar kata Bu Siska," Kata Nadira sambil menatap lurus ke arah Siska. "Sebaiknya kita bicarakan masalah di sini dulu." Ini bukan saatnya untuk menjelaskan tentang Arkana kepada Zain.


"Oke! Setelah ini kita bicara berdua." Kata Zain dan Nadira mengangguk menjawab kalimat ini.


Karena suasana sudah kembali normal, Siska pun berkata. "Keputusannya, Nadira akan dikeluarkan dari store kita."


"Apa?" Kata Nadira dan Zain kaget.


Sedangkan dua manager di depan Nadira yaitu Made dan Deni hanya diam saja. Seolah keduanya sudah tahu tentang keputusan ini.


"Kita bahkan belum bicara sama sekali, Bu Siska. Kenapa sudah keluar keputusan seperti ini?" Kata Zain tidak terima.


"Benar Bu, lagi pula bukan saya yang menulis artikel dan memposting di situs resmi perusahaan. Saya juga korban atas artikel itu. Jadi, kenapa saya juga harus kena imbasnya?" Kata Nadira membela diri.


"Benar." Kata Siska.


Nadira dan Zain pun tersenyum. Nadira pun mulai berpikir positif tentang Siska. "Mungkin Bu Siska tidak seburuk yang aku pikirkan, demi membela Lia dan Leni sampai harus memecat ku". Batin Nadira senang.


"Tapi, bagaimana menurut kalian? Pak Made? Pak Deni?" Tanya Siska kepada dua manager itu dengan bijaksana.


"Menurut saya," kata Made. "Memang benar yang menulis bukan kamu, Nadira. Tetapi, gara-gara kamu! Image store kita jadi buruk... Banyak customer kita yang pindah karena ini. Apa kamu pikir, nama store kita akan semakin bagus jika kita masih memperkerjakan kamu?" Kata Made semakin memperkuat dorongan itu agar Nadira mundur.


Siska menatap Nadira. "Bagaimana?" Tanyanya kepada Nadira.


Nadira menarik nafas dalam lalu berkata. "Bukankah artikel itu bisa dihapus? Lagi pula mana tanggung jawab kalian untuk melindungi pekerja?"


"Huh!" Siska ingin sekali tertawa mendengar kalimat Nadira.


"Pekerja, Kamu bilang?" Siska menatap Nadira geram. "Apa kamu pikir jika kamu itu pekerja kami?"


"Dia pekerja kita di sini." Jawab Zain menyela.


"Dia itu SPG... Apa Pak Zain masih belum paham struktur tatanan Store kita?" Tanya Siska berpaling melihat Zain dengan senyum tipisnya.


Zain terdiam oleh pertanyaan Siska. Nadira memang bukan pekerja tetap atau magang di Store ini, jadi sulit bagi Zain untuk membantunya.


"Satu-satunya cara adalah mengeluarkan Nadira dan menggantinya dengan sales lainnya dari kantor kalian. Itu pendapat saya." Kata Deni unjuk suara.


"Ya. Menurut saya itu bagus. Bagaimana Nadira?" Tanya Siska lagi-lagi dengan senyuman tipisnya.


Nadira menelan ludah dan amarahnya sekaligus. "Saya akan menghubungi kantor lebih dulu, untuk memberitahukan tentang masalah ini." Kata Nadira mengeluarkan smartphone miliknya hendak menghubungi pihak kantornya.


"Tidak perlu." Kata Siska menyela kegiatan Nadira.


"Sebenarnya saya sudah menghubungi manager kantor kamu, dan dia telah setuju dengan ini."


"Cok tenan!" Batin Nadira geram. Tebakan Nadira benar. Siska sengaja melakukan ini untuk di pertunjukan kepada Zain. Agar Zain membencinya dan tidak menyukainya lagi. Nadira menyesal karena tadi dirinya sempat mempercayai kinerja Siska yang bijaksana. Ternyata Nadira ditipu habis-habisan.


"Ya, sudah selesai. Silahkan kembali." Jawab Siska ramah kepada Made dan Deni yang langsung pergi meninggalkan ruangan HRD.


Zain juga bangkit dari duduknya. Melihat Nadira yang masih duduk di kursinya lalu berkata. "Aku tunggu di luar." Nadira mengangguk sebagai jawaban.


Sebelum pergi, Zain melihat Siska dengan tatapan tak senang. Ingin sekali Zain menampar wajah Siska dengan tangannya. Namun dia khawatir dengan posisinya jika melakukan itu kepada Siska. Siska hanya tersenyum membalas tatapan Zain yang menghunusnya di tempat.


Sekarang hanya tinggal Nadira dan Siska di ruangan HRD.


Nadira menyimpan kembali smartphone miliknya. "Jika keputusannya sudah di ambil lebih awal. Kenapa harus melakukan ini?... Bu Siska sengaja?" Nadira masih duduk tenang di tempatnya.


"Jika iya! Kenapa? Kamu marah?" Kata Siska ketus dan saat melihat Nadira melotot kepadanya, dia pun berkata. "Jangan melotot gitu dong! Aku kan jadi takut." Keluh Siska sangat kentara jika hanya pura-pura.


"Huh!" Nadira membuang muka untuk menertawai keadaan ini. "Apa Bu Siska gak takut sama karma?"


"Karma?" Kata Siska bertanya balik.


"Aku memang orang susah, Bu. Dan nggak punya koneksi untuk membela diri. Tapi, apa yang di tanam maka itu juga yang akan di tuai. Ibu membela orang yang salah, suatu saat ibu pasti ngerasain apa yang saya rasakan hari ini. Semoga ibu cepat bertobat... Saya permisi." Nadira bangkit dari tempat duduknya. Nadira pergi tanpa melihat Siska sedetikpun.


Siska masih duduk di tempatnya. "Huh! Karma?" Dengus Siska sambil melihat punggung Nadira sebelum hilang di balik dinding. "Apa karma masih berlaku untuk orang seperti ku?" Katanya percaya diri.


***


Nadira sudah di loker. Dia berdiri di depan lemari penyimpanan barang. Di buka gembok laci miliknya dengan kunci. Di ambil tasnya dari dalam sana, juga mukena yang biasanya dia tinggal untuk shalat. Pokoknya semua barang yang ada di dalam laci itu di keluarkan semua untuk di bawa pulang.


Selesai membereskan barang miliknya. Nadira berjalan menuju pintu keluar dan berhenti dulu di depan security penunggu. Nadira mengambil absennya dan minta tanda tangan security itu.


"Baru jam segini, Nadira mau kemana?" Tanya security itu selesai menanda tangani absen Nadira.


"Mau pulang Mbok," jawab Nadira kepada security wanita itu.


Kata Mbok adalah bahasa Bali. Sama artinya dengan Mbak, yaitu panggilan untuk wanita yang lebih tua umurnya.


"Kenapa? Kamu sakit, Nadira?"


"Nggak, Mbok. Nadira dipecat." Jawab Nadira tersenyum.


"Hah? Kok bisa?"


"Ya, Mbok tau sendirilah gara-gara apa." Nadira mengambil absennya dan memasukkan kedalam tas. "Ini kunci lokerku Mbok, titip buat sales yang gantiin aku nanti ya." Kunci loker itu di letakkan di atas meja. "Pamit ya... Dah!" Dengan senyuman getir Nadira melambaikkan tangan dan pergi begitu saja tanpa menoleh kebelakang.


Nadira berjalan dan sudah sampai di basemant tempat parkir. Nadira menuju motornya dan segera menaikinya.

__ADS_1


Zain datang dari arah belakang dengan terburu-buru.


"Nad! Tunggu!" Panggilan Zain itu menghentikan kegiatan Nadira sejenak.


Nadira menoleh dan Zain sudah berdiri di dekat motornya.


"Kenapa?" Tanya Nadira datar dan sudah memakai helmnya.


"Aku mau ngomong sama kamu."


"Aku mau pulang, gak ada waktu." Jawab Nadira.


"Sebentar aja, Dir. Please." Pinta Zain.


"Waktunya gak tepat, aku masih harus ke kantor untuk ngurusin masalahku. Lain waktu kita ngomongnya, oke?" Jawab Nadira sambil memutar kunci motornya.


"Sebentar aja Dir." Tangan Zain menahan tangan Nadira yang sedang memutar kunci motor itu. "Kalau kamu gak tau artinya please. Aku mohon deh, sebentar aja." Pinta Zain lagi.


Nadira tertawa kecil. Siapa juga yang gak tau artinya please? Zain ini ada-ada aja deh kalau ngomong. "Oke, tapi di sini aja. Kak Zain mau ngomong apaan?"


"Apa berita itu benar?" Tanya Zain datar.


"Nggak."


Zain mulai tersinari oleh sedikit cahaya. "Apa karena pria itu kamu nolak aku?"


"Enggak juga."


Zain tersenyum dan merasa cahaya terang tengah menyinari dirinya. "Syukurlah kalau gitu." Zain merasa sangat senang sekarang.


"Udah?" Tanya Nadira.


"Hehe iya, udah. Kalau gitu kamu pulangnya hati-hati ya. Jangan ngebut-ngebut." Kata Zain memperingati.


"Iya. Aku pulang dulu. Sampai jumpa Kak Zain."


"Iya, sampai jumpa." Zain tersenyum senang sudah mendengar semua jawaban yang ingin di dengarnya. "Semoga kita selalu berjumpa, sampai kamu jadi pacarku Dir." Kata Zain percaya diri.


"Semoga aja kita nggak akan ketemu lagi Kak Zain." Batin Nadira dengan mengendarai motornya di jalan raya menuju kantornya. Berhubung belum sampai jam 5 sore dan kantor belum tutup. Maka Nadira dengan cepat menuju kantornya untuk menyelesaikan masalahnya ini.


***


Pukul 18:30 malam, di Villa Arkana.


Nadira masuk ke dalam Villa dengan wajah lesu. Sampai di ruang tengah ada Bik Tun yang baru keluar dari kamarnya baru selesai shalat magrib.


"Non," Panggil Bik Tun setengah kaget melihat Nadira sudah pulang. "Tumben sudah pulang." Lanjutnya.


Nadira baru sadar ada Bik Tun setelah disapa barusan. "Iya, Bik Tun. Baru pulang..."


"Non, langsung mau makan apa gimana?" Tanya Bik Tun memastikan.


"Nanti aja Bik, Nadira mau mandi dulu... Nadira naik ya Bik."


"Iya, Non. Silahkan." Kata Bik Tun ramah. Nadira pun pergi ke lantai dua. "Kenapa ya Nona Nadira? Kok tumben banget gak ceria kayak biasanya." Gumam Bik Tun heran bercampur khawatir.


Nadira sudah di dalam kamarnya. Nadira menaruh tasnya begitu saja di atas meja. Nadira duduk di kursi depan cermin riasnya. Lalu melepas jaketnya. Melepas sepatu dan kaos kakinya. Setelah selesai Nadira menatap cermin melihat lekat-lekat pantulan wajahnya sendiri. Nadira menghapus riasan di wajahnya menggunakan tisu basah.


"Kamu harus kuat, Nadira!" Kata Nadira kepada dirinya sendiri sambil terus menghapus make up-nya.


"Terkadang hidup memang terasa berat untuk orang-orang seperti aku ini. Ya Allah... aku udah di pecat, gimana mau bantu ibu bapak buat bayar sekolah Arya." Tidak terasa air bening menetes ke pipinya.


Nadira menengadah agar aii matanya berhenti menetes. Namun Nadira terlalu sedih sampai air matanya tak lagi dapat di bendung dan terus mengalir deras. Nadira menangis tersedu-sedu. Saat Nadira merasa suara tangisnya terlalu keras maka dia akan mengatupkan dua bibirnya. Nadira takut akan ada yang mendengar tangisannya.


Setelah menagis agak lama, perasaan Nadira lumayan lega. Nadira menghapus jejak air mata di pipinya sampai kering.


Nadira bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Satu jam kemudian.


Di lantai bawah, ruang makan.


Bik Tun duduk di kursi sendirian. Sedari tadi dia menunggu Nadira turun dari lantai dua, namun tidak muncul-muncul sampai saat ini.


"Udah satu jam lebih... Non Nadira ini lagi mandi apa mandi?". Bik Tun menatap atap di atasnya. "Aku liat dulu lah ke kamarnya, kok perasaan ku jadi gak enak gini. Mana gak ada orang di rumah."


Bik Tun sudah sampai depan pintu kamar Nadira. Di putar gagang pintu itu dan ternyata tidak di kunci. Bik Tun masuk ke dalam kamar Nadira. "Permisi. Saya masuk ya Non." Kata Bik Tun minta izin.


Bik Tun sudah di dalam kamar. Melihat ke semua sudut ruangan dan tidak ada Nona Nadira. "Apa lagi mandi?"


Bik Tun berjalan menuju toilet. Di depan pintu dia berhenti dan mulai mengetuk kayu itu. "Non, Non Nadira... Non, Non Nadira ada di dalam?" Bik Tun diam sejenak dan menempelkan telinganya ke pintu supaya dapat mendengarkan suara di dalam toilet.


Klek. Pintu toilet terbuka. "Loh! Gak di kunci." Bik Tun masuk ke dalam toilet. "Astaghfirullah.... Ya Allah Non Nadira.... Kenapa tidur di lantai?"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung dulu ya (◠‿◕)


Terimakasih kasih atas dukungan kalian. LoveYou❤️


__ADS_2