
Di kamar Arkana.
Arkana terlihat sedang duduk di pinggiran tempat tidurnya. Satu tangannya me-genggam ponsel. Yang di tempelkan ke sisi kanan pipinya. Dia terlihat sedang berbicara dengan seseorang via ponselnya.
Selang beberapa waktu. Ponsel itu di letakkannya ke atas meja kecil di samping ranjang. Dia terlihat gelisah setelah menerima panggilan. Entah apa, yang dikatakan oleh seseorang di dalam panggilan itu.
Kedua telapak tangan Arkana cukup lebar, untuk menutupi wajahnya. Menutup dan menekan rasa gelisahnya.
Di lantai bawah Villa Arkana.
"Viola. Kamu sendiri?"
Kata tamu wanita dengan senyum manis. Mengakui dirinya adalah Viola, di hadapan Nadira.
"Nadira."
Begitu jawabnya seraya menjabat tangan Viola.
Dalam beberapa detik. Keduanya hanya diam. Saling menatap satu sama lain. Ketegangan mulai terasa diantara mereka.
Viola menyungging senyum di ujung bibirnya. Mencoba menghapus suasana yang menegangkan ini.
Nadira membalas dengan senyuman getir. Dia masih merasa aneh, dan bingung dari kedatangan wanita ini.
Keduanya saling melepaskan tangan. Viola masih mempertahankan mode senyum ramahnya. Sedangkan Nadira, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain membalasnya dengan perlakuan ramah dan tulusnya.
"Lalu dimana kamar Pak Arka?"
Tanya Viola lagi. Membuat Nadira menghela nafas panjang.
Ini bukan urusan ku. Kenapa harus marah, karena persoalan kamar. Lagi pula, tidak tau juga wanita ini siapa. Bisa jadi pacarnya. Bodo amat lah.
"Hei. Kamu melamun?"
Kata Viola menyadarkan Nadira dari lamunan. Dengan beberapa kali melambaikan tangannya di depan wajah Nadira.
"Hah. Tidak. Kamarnya di atas. Biar aku tunjukkan- "
"Biar aku sendiri. Tidak perlu merepotkan kamu." Viola menyela perkataan Nadira yang belum rampung.
Segera Viola berlari menaiki anak tangga. Dengan wajah riang dan penuh semangat. Wajahnya terlihat begitu cantik dan polos.
Sedangkan Nadira. Dia mulai merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Rasa curiga dan tidak percaya mulai menenggelamkannya.
Dia mencoba menyadarkan dirinya. Dengan menepuk kepalanya pelan sebanyak tiga kali. "Sadar. Sadar. Sadar." Begitu kata Nadira, bebarengan dengan gerakkan tangannya.
Nadira berjalan menuju dapur. Tangannya perlahan membuka kulkas. Diraih botol air mineral dari dalamnya. Lalu beberapa kali, dia menegguknya. Air mineral itu cukup membantu, untuk menjernihkan pikirannya.
Beberapa menit kemudian.
Nadira sedang duduk di sofa ruangan tv. Beberapa kali dia mengganti chanel di layar itu. Tangannya sangat lincah menekan tombol-tombol kecil di remot.
Kali ini dia berhenti. Mulai menonton acara yang ada di layar tv.
__ADS_1
Setelah beberapa detik. Nadira menekan tombol off. Melihat acara tv membuatnya semakin frustasi. Kini wajahnya terlihat semakin gelisah.
Pandangan Nadira mengarah ke tangga. Rasanya, dia ingin sekali menaiki anak tangga itu satu persatu. Untuk menuju lantai dua dan pergi ke kamar Arkana. Namun ada perasaan ragu yang menahannya.
Jakarta. Perusahaan Arkana.
Beni baru keluar dari ruang rapat diikuti oleh beberapa karyawan lain. Ponselnya di dalam saku celana bergetar. Tangan Beni segera merogoh saku celananya. Segera di jawab panggilan telepon itu setelah melihat layar ponselnya.
"Sekarang? Kenapa?" Tanya Beni, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia kaget dengan berita yang didengarnya.
Tanpa memberi alasan. Tiba-tiba Arkana menyuruh Beni pergi ke Pulau B. Padahal Beni masih punya waktu dua hari lagi untuk menyelesaikan tugasnya di Perusahaan.
Namun perintah Tuan Arkana pantang dibantah. Paling lambat nanti malam, Beni harus sudah sampai di Pulau B.
Villa Arkana.
Kaki Nadira perlahan mulai menaiki anak tangga. Selangkah demi selangkah, dia mulai bertekad menuju kamar Arkana.
"Ohh.. Ahh. Oh hm."
Suara aneh itu terdengar sangat jelas di telinga Nadira. Suaranya berasal dari kamar Arkana. Hatinya semakin gusar sekarang.
Nadira menghentikan langkahnya. Dia berdiri tepat di depan pintu kamar Arkana. Tangan yang sudah memutar gagang pintu. Seketika ikut berhenti.
Pandangan Nadira mendadak kosong. Di benaknya muncul banyak sekali pertanyaan. Apa yang kedua orang ini sedang lakukan di dalam sana? Apa mereka melakukan itu? Apa mereka berdua pacaran?
Nadira menghela nafas yang terlihat berat. Pikiran shu'uzhon mulai menenggelamkan dirinya.
Tubuhnya diam bagai patung di depan pintu kamar itu. Telapak tangan Nadira mulai basah karena keringat. Rasa curiga memenuhi pikirannya. Perasaan yang bercampur aduk membuatnya bimbang.
Nadira jatuh tersungkur, ke dalam kamar Arkana. Saat Viola secara tiba-tiba menarik pintu itu dengan kuat dari dalam. Secara tidak sengaja tubuh Nadira ikut tertarik dengan pintu.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan di depan pintu?"
Tanya Viola yang melihat Nadira jatuh dengan posisi berlutut di depannya. Sebenarnya pintu itu tidak dikunci, dan Viola secara sengaja sekuat tenaga menarik si pintu. Viola mengetahui keberadaan Nadira lebih awal.
"Hah? Tidak ada."
Nadira segera bangkit dari lantai. Menepuk pelan kedua lututnya yang baru saja terbentur lantai. Rasa sakitnya tidak terlalu terasa. Tapi malunya itu loh, sungguh terasa.
"Aku hanya ingin- " Nadira memutar bola matanya. Otaknya sedang berpikir keras untuk mencari alasan.
"Ingin apa?" Tanya Viola serius.
"Ingin. Ingin menawarkan minuman untuk kamu, tamu Pak Arka?"
"Ha, iya. Menawarkan minuman?" Nadira mulai tersenyum lebar. Mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
"Lalu, mana minumannya?"
Tanya Viola, karena tidak melihat minuman yang di maksud oleh Nadira.
"Huh?" Mati aku. Batin Nadira yang baru saja tersadar jika alasannya begitu terlihat palsu.
__ADS_1
"Aku baru mau bertanya. Kamu suka minuman apa?" Jawab Nadira cepat. Tidak lupa dengan nada yang ramah.
"Heh." Viola menggelengkan kepalanya pelan. Seolah tau tentang drama yang dibuat oleh wanita di depannya ini.
"Orange jus." Jawab Viola serius.
"Oke. Akan aku buatkan untuk mu."
Nadira segera berbalik badan. Hendak ke dapur untuk membuatkan minuman orang jus untuk Viola.
Namun dengan sengaja. Viola menangkap lengan Nadira. Menahan kepergian Nadira, dari kamar itu.
"Kamu belum pergi?"
Tanya Arkana, yang baru saja berjalan keluar dari kamar mandi.
Belum menyadari keberadaan Nadira.
"Belum. Lagi pula ART kamu ingin membuatkan minuman untuk ku." Jawab Viola seraya menatap tajam penuh senyum ke arah Nadira. "Iya kan?" Imbuhnya lagi dengan nada bicara yang ditekan.
Mata Nadira melebar. Dia merasa gelisah. Cepat-cepat dia membalas senyuman untuk Viola. "Iya." Jawab Nadira singkat.
"Kalau begitu biar saya buatkan dulu." Nadira menekan tangan Viola. Agar melepaskan lengannya.
Viola menyeringai sakit dan mengebas-ebaskan tangannya cepat. "Gila nih cewek. Kuat banget tenaganya. Tangan ku sampai sakit."
"Tidak perlu." Kata Arkana.
Menghentikan langkah Nadira.
"Lagi pula, dia tidak suka orange jus. Buatkan saja milk tea untuknya. Setelah dia minum, segera suruh dia pergi." Imbuh Arkana yang masih sibuk mengenakan kemeja putih dengan lengan pendek. Dia sama sekali tidak melihat ke arah dua wanita itu. Masih sibuk membenahi penampilannya di depan cermin besar.
Nadira segera melangkahkan kaki, meninggalkan kamar Arkana. Setelah sampai di dapur. Disiapkan bahan-bahan untuk membuat minuman milk tea. Diambil wadah cetakan es dari dalam frezeer. Dikeluarkan es dari cetakannya. Lalu dimasukan ke dalam gelas kosong. Milk tea yang sudah siap dituang perlahan ke dalam gelas berisi es.
Milk tea sudah selesai dibuat. Nadira membawa minuman itu bersamanya, untuk diberikan kepada Viola. Baru selangkah dia beranjak dari posisinya. Viola terlihat menghampirinya.
Viola berjalan mendekati Nadira. Kedatangannya membuat suasana menjadi sunyi. Kedua wanita ini hanya saling pandang ketika jarak mereka semakin dekat.
Viola memberi senyuman ketika dia sudah berdiri di depan Nadira.
Sedangkan Nadira memasang wajah dinginnya.
Viola melihat milk tea yang dibawa Nadira. Ingin diraih gelas itu dari tangan Nadira. Namun dengan cepat Nadira menggeser posisi tangannya. Senyum Viola memudar. Merasa jengkel dengan tingkah Nadira.
Nadira berjalan ke meja makan. Menjatuhkan tubuhnya ke salah satu kursi yang mengelilingi meja itu. Dari tempatnya duduk, dia melihat Viola perlahan mendekat. Wanita itu ikut duduk di kursi, yang berhadapan langsung dengan Nadira.
"Ada yang ingin kamu tanyakan? Katakan lah. Maka dengan senang hati, aku akan menjawabnya dengan jujur." Kata Viola dengan santai.
Namun tidak sesantai Viola, Nadira sudah terbakar api cemburu. Membuat emosinya meluap dan berpikir dangkal. Hanya saja dia sendiri tidak menyadari itu. Nadira hanya ingin melakukan dan mendengar, apa yang ingin dia lakukan dan dengar.
"Kamu cemburu padaku? apa kamu pacarnya Pak Arka?" Tanya Viola.
"Ya. Aku cemburu dengan kalian berdua. Tapi tidak habis pikir dengan lelaki di atas sana. Aku benci dia!" Ingin sekali aku mengatakan ini. Namun mulutku rasanya terkunci rapat. Aku tidak bisa mengontrol perasaan ini lagi.
__ADS_1
AKU BENCI MEREKA YANG TIDAK SETIA DENGAN SATU HATI.