
Di dalam kamar yang dipenuhi dengan warna biru. Tidak ada seorang pun di dalam kamar ini. Semua tampak sunyi senyap. Sampai Nadira tersadar dan membuka matanya perlahan. Dia yang terbangun di dalam sebuah kamar, terlihat bingung.
Dimana ini? Semua tampak biru dipenglihatan ku.
Nadira terduduk di atas ranjang, yang berukuran besar itu. Tangannya terus meremas rambutnya yang panjang. Wajahnya meringis kesakitan.
Kepalaku sakit banget. Ini sebenernya dimana sih? Siapa yang membawaku ke sini.
Pandangannya terus di edarkan ke sekeliling ruanganan. Dari pojok sampai ke pojok lagi. Ternyata bukan pandangan Nadira yang salah. Melihat semuanya serba biru. Tetapi barang-barang di kamar ini, memang semuanya berwarna biru dan putih. Pandangan Nadira terhenti. Melihat pintu dan jendela bergantian. Itu adalah pilihan. Untuk jalan kabur dari tempat ini.
Aku harus segera pergi dari tempat ini. Tidak tau orang seperti apa dia. Sungguh berani sekali menculikku.
Nadira segera menepiskan selimut yang menutupi tubuhnya. "Masih memberiku selimut." Gerutunya yang tidak habis pikir dengan seseorang yang menculiknya ini.
Nadira berjalan menuju satu satunya pintu di kamar itu. Di putar gagang pintu itu. Saat dia sudah berdiri tepat di depannya. Namun pintunya di kunci.
Dengan cepat. Dia berbalik badan. Mendekati jendela kaca di depannya. Baru saja tangannya membuka horden. Tiba-tiba.
Klek.
Suara pintu terbuka.
Nadira dengan cepat berlari ke arah meja. Diraih vas bunga yang ada di meja itu. Dia terlihat takut. Namun beberapa kali menarik nafas. Untuk mengumpulkan keberaniannya. Sampai seseorang itu memasuki kamar.
"Jangan mendekat."
Tangan Nadira diangkat keatas. Hendak melempar seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar itu.
"Lempar saja."
Jawab seseorang itu dengan santai. Dia terus melangkahkan kakinya memasuki kamar. Dengan membawa nampan. Berisi sarapan untuk Nadira.
"Kamu?"
Nadira tercengang. Melihat seseorang yang masuk ke kamar itu adalah Arkana.
Dengan cepat. Diletakkan kembali vas bunga itu ke posisi semula. Dia berlari kecil menghampiri sosok Arkana.
Di peluk tubuh tinggi Arkana dengan erat. Tangannya yang semula gemetaran. Sekarang mulai normal kembali.
Arkana yang masih membawa nampan. Tangannya segera diangkat ke atas. Saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk oleh tangan Nadira ini. Arkana terlihat bingung dengan sikap Nadira.
Apa gara-gara pingsan. Dia jadi lupa ingatan?
Begitu pikir Arkana merasa aneh. Tidak biasanya sikapnya manja begini. Galaknya sesaat hilang. Namun Arkana, mulai tersenyum kecil. Menikmati rejeki di pagi hari, yang diperolehnya sekarang.
Setelah beberapa lama. Dilepas pelukan itu dari tubuh Arkana. Sekarang Nadira masih berdiam diri di depan Arkana. Menatap netra Arkana. Sangat dalam, jauh sampai menusuk hati Arkana.
Arkana merasa ada yang salah. Dia mencoba mengembalikkan sifat Nadira yang semula tangguh. Tidak lemah lembut seperti ini. Arkana berjalan ke kiri. Hendak menaruh nampan yang berisi sarapan yang baru saja dibuat Pak Wan. Securitynya.
Tangan Nadira meraih ujung baju Arkana. Membuatnya berbalik melihatnya. Nadira tampak haru. Matanya berkaca-kaca.
"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku." Begitu kata Nadira. Memohon.
"Aku hanya ingin meletakkan ini ke meja. Tidak akan pergi. Tidak akan meninggalkan mu."
Air mata yang bening. Menetes begitu saja di pipi Nadira. Matanya sudah mulai memerah. Dia terlihat takut. Namun sesaat dia mulai berani. Karena perkataan lelaki ini.
__ADS_1
Setelah meletakkan nampan ke atas meja. Arkana berjalan mendekati Nadira. Segera meraih pinggangnya. Memapah Nadira untuk segera duduk di sofa.
Nadira menuruti ajakan Arkana. Dia bahkan tidak masalah dengan tangan Arkana, yang menyentuh pinggangnya.
Keduanya sudah duduk di sofa saat ini.
"Makan ya?"
Tanya Arkana. Dengan lembut dia seperti memohon kepada gadis di sebelahnya.
"Emm." Begitu jawabnya. Air matanya sesekali menetes.
Arkana menyentuh pelan. Pipi Nadira. Berusaha menghapus air matanya yang sesekali menetes. Disuapi gadis itu dengan penuh perhatian.
"Pelan-pelan. Aku enggak minta kok!"
Kata Arkana yang melihat gadisnya tersedak. Setelah beberapa kali suapan. Dengan cepat. Dia memberikan segelas air untuk Nadira.
Mata Nadira melebar. Saat mengetahui Arkana menahan tawa untuknya. Nadira sengaja batuk. Untuk menghentikan kegiatan Arkana. Namun Lelaki itu semakin tertawa terbahak-bahak. Saat melihat galaknya Nadira keluar.
"Aku tersedak. Dan kamu senang."
Nada Nadira terdengar mengintimidasi.
"TIDAK."
Jawab Arkana singkat. Segera dia menghentikkan tawanya.
"Makan lagi?"
Arkana mengakat sendok. Di arahkan ke mulut Nadira.
"Baiklah. Kita buang saja."
Arkana membereskan piring dan gelas bekas Nadira. Meletakkannya ke atas nampan kembali. Lalu membawanya saat dia berdiri. Melangkahkan kakinya. Hendak pergi meninggalkan kamar ini.
"Mau kemana?"
Tegas Nadira. Tidak menghentikan langkah Arkana.
"Hei."
Teriak Nadira. Memanggil Arkana dan. Lelaki itu pun akhirnya berhenti. Tepat di mulut pintu.
"Kesini."
Panggil Arkana. Mengayunkan tangan kanannya. Tangan kirinya memegang nampan.
Nadira sontak berlari mendekati Arkana. Mengingat dia masih merasa takut. Belum merasa aman dengan keadaan ini. Sekarang dia sudah berdiri, tepat di depan Arkana.
Arkana memberikan tangan kanannya. Dan diraih tangan itu oleh Nadira.
"Namaku Arkana. AR KA NA REY NAL DIE. Hmm."
Mulut Arkana didekatkan ke telinga Nadira. Saat dia mengatakan itu. Arkana tidak marah. Namun dia merasa jika kelakuan Nadira, yang memanggilnya hei. Sangatlah tidak sopan. Makanya dia memperkenalkan dirinya kembali.
Meski Arkana sering kehilangan akal saat berada di dekat gadis yang amat disukainya ini. Namun dia tidak lupa akan tata krama.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Arkana dan Nadira sedang duduk di ruangan tv. Arkana dengan menggenggam remot tv di tangannya. Masih asyik mencari acara yang cocok untuk keduanya tonton.
"Jadi semalam aku tidak diculik?"
Tanya Nadira, yang baru saja selesai mendengar penjelasan dari Arkana.
"Tidak. Kan sudah aku katakan. Aku cuma mau kasih kamu kejutan doang. Tapi kamu sudah pingsan duluan."
"Kejutannya?"
Kata Nadira, yang sedari tadi menahan emosinya. Mengingat luka Arkana belum sembuh total. Dia berusaha keras menahan amarahnya.
"Kamar itu." Jawab Arkana seraya menunjuk ke lantai atas.
"Kamu stalker?"
Tanya Nadira dengan tatapan menusuk. Arkana langsung meletakkan remot di tangannya ke atas meja.
"Kamu pikir aku seburuk itu."
Arkana menatap Nadira. Dia tak habis pikir dengan perkataan gadis ini.
"Lalu dari mana kamu tau itu."
"Aku melihat berkasmu di Mall."
Kata Arkana yang mulai merasa bersalah. Namun dia tidak merasa jika ini suatu kejahatan.
"Kamar itu." Nadira menjeda perkataannya. Meneguk orange jus di gelas yang baru diambil dari atas meja.
"Untuk kamu saja."
"Kenapa? itu hadiah untuk kamu."
"Kamar? sebagai hadiah. Hadiah untuk apa? Aku benci warna biru. Yang aku tulis di berkas itu bohong."
Arkana masih mendengarkan perkataan Nadira. Sambil menatap netra wanita ini. Tidak ada amarah. Karena dia merasa ini mungkin salahnya.
"Lagi pula. Aku tidak tinggal selamanya di sini. Kenapa repot-repot memberiku sebuah kamar."
"Ya. Baiklah."
Arkana segera bangkit dari duduknya. Dia berjalan menaiki tangga. Menuju ke kamar yang disiapkan untuk Nadira.
Arkana sudah sampai di kamar itu. Dengan kasar dia meraih sprei dari ranjang. Dilemparnya dengan kasar. Membuang bantal dan guling yang juga warna biru.
Arkana sekarang berjalan mendekati jendela. Ditarik horden yang juga berwarna biru itu secara paksa olehnya.
Tidak suka kan. Kamu benci warna biru? Maka buang saja semuanya! Kenapa harus marah dan menolaknya.
#Bersambung.
Apakah hubungan keduanya akan bertambah buruk?
Setelah beberapa hari mulai membaik.
__ADS_1
Kasih jawaban yang pas. Menurut kalian ya.
Love you Readers setiaku.