Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Gak berjudul.


__ADS_3

Ngak ada judulnya, thor?


..


Iya... Bingung mau kasih judul apaan. 😅😂


..


Masih di ruangan yang sama. Lantai dua, Kafe Sunrise. Arkana dan Nadira sedang menikmati makan malam mereka.


Arkana sedang mengunyah makanan yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya. Dari awal ia mulai makan, netra Arkana tidak pernah melepaskan Nadira. Tanpa berpikir, apakah Nadira nyaman dengan tatapannya itu.


Mengetahui Arkana terus memperhatikkannya, Nadira cuek saja. Ia memasukkan satu suapan terakhirnya. Ia menelannya dengan perasaan lega, akhirnya kenyang.


Tangan Nadira meraih gelas minumnya, lalu meneguk isinya sampai ia merasa cukup. Nadira meletakkan gelas, ia melihat Arkana yang terus menatapnya.


"Masih laper, gak?" tanya Arkana, memastikan. Ia berniat meminta Chef Kafe untuk mengeluarkan hidangan penutup, jika pacarnya ini masih lapar.


Nadira menggeleng kecil. "Alhamdulillah, udah kenyang." Senyum Nadira mengembang bebas.


Arkana menarik bibirnya ke samping, sampai tercetak sebuah senyuman. Tubuhnya condong ke depan. Dilap sisi kanan bibir Nadira dengan tissue. Ada sisa makanan yang menempel di sana.


Nadira melebarkan matanya kaget. Mendapati Arkana mengelap bibirnya. Ia baru saja tertunduk untuk mengambil tissue dari dalam tasnya, dan saat ia mendongak sudah keduluan oleh prianya ini.


Nadira diam seribu bahasa. Debar jantungnya semakin kencang. Diimbangi dengan pipinya yang memanas, tampak memerah. Cepat ia menoleh ke sisi kiri sambil menutupi setengah wajahnya.


Arkana menarik tanganya kembali duduk dengan benar. "Lucu banget, sih! kamu, yank." Gemas Arkana melihat reaksi kikuk Nadira. Bahkan ia sudah berani menyebutkkan 'yank'.


Nadira melirik Arkana dengan ujung matanya. Kedua tangan masih setia menempel di pipi. Memang mudah sekali ia merona. "Apanya yang lucu?"


"Kamu." Jawab Arkana diikuti senyumnya yang cepat mengembang.


Perlahan Nadira menurunkan tangannya. Merasa pipinya sudah normal.


Nadira menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Lucu?..... kamu tu ada-ada aja, deh!" Nadira terkekeh geli. Apanya yang lucu dari dirinya. Bayi baru lucu!


Arkana menatap serius. "Ya 'ada' lah." Arkana melihat Nadira tampak tidak percaya.

__ADS_1


"Bener-ran. Kamu kok gak percaya, sih! sama aku." Imbuh Arkana lebih serius.


Nadira mencebik. Lalu tersenyum dengan anggukan kecil sambil berkata. "Ya... ya... aku percaya. Aku itu emang 'lucu' dari bayi malah." Tanpa sadar bibir itu tertarik ke samping sampai senyumnya melebar. Ia sendiri tak sanggup menahan tawa, setelah selesai bicara.


Arkana ikut tertawa kecil dengar guyonan Nadira. Keduanya masih tertawa kecil sambil saling menatap. Beberapa lama keduanya tertawa, akhirnya selesai. Lalu Arkana berkata.


"Menurutku, lebih lucu kamu yang sekarang. Ketimbang masih bayi." Kata Arkana yang terdengar seperti pujian. Benar ia sedang memuji pacarnya ini.


Namun Raut Nadira tidak percaya, Arkana masih membahas ini.


"Karena?" selidik Nadira datar.


"Karena-" bibir Arkana ditarik ke samping sampai terbentuk sebuah senyuman. "aku gak tau, gimana lucunya kamu waktu bayi. Jadi menurutku lebih lucu kamu yang sekarang." Katanya memuji. Namun Nadira mendengarnya seperti guyonan.


Nadira terkekeh. "Iya juga, ya?" Nadira melihat Arkana mengangguk menyetujui.


"Iya lah." kata Arkana cepat. "Kita kan belum kenal, waktu bayi." imbuhnya. Dan itu lagi-lagi berhasil membuat Nadira tertawa.


"Gimana juga kenalannya, kalau masih bayi? lagian gak tau juga, waktu bayi aku dimana.. kamu dimana.." Nadira berkata diiringi tawa kecilnya.


"Aku tau bayinya kamu..." Arkana melihat Nadira menatapnya tidak percaya. Ia melihat Nadira mencebik sambil mengerutkan alis.


"Iya kan? .... Aku tau itu."


Nadira tertawa kecil mendengar kata Arkana. "Semua bayi juga gitu kali, Ka. Gak cuma aku..... barangkali kamu juga, 'ada-ada aja'. Soto!" Nadira pikir pria ini cukup lucu juga. Tapi tentu tidak masuk akal, jika pria ini tau masa bayinya. Kan mustahil, ibu mereka 'kan tidak saling kenal.


"Soto?" wajah Arkana bingung melihat Nadira, penuh tanya.


Nadira mengangguk kecil. "Iya... Soto... SOK TAU...." jelasnya, namun lebih seperti tuduhan.


"Sotoy kalik, yank. Kok soto, sih?" Ralat Arkana datar. Suaranya ikut terdengar dingin.


"Ya biarin. Suka-suka aku.... mulut-mulut aku, geh.


"Mau apa, kamu. Haa?" Berkata dengan bibir manyunnya. Seperti ia sedang menantang pacarnya ini.


Sumpah demi apa? melihat bibir mungil itu Arkana langsung bangun. Tubuhnya condong ke depan. Kedua tangan berpegang pada meja untuk menopang tubuh miringnya. Ia kecup bibir Nadira sebentar. Lalu berkata lirih di depannya "Mau ini."

__ADS_1


Nadira tidak mundur. Rautnya lebih ke kaget, sampai tidak bisa berkutik. Ia melihat jauh ke dalam netra Arkana. Entah apa yang tersirat dari tatapan yang lembut ini. Nadira jadi tidak bisa menolak Arkana.


Sedetik dari anggukkannya. Nadira merasakan bibirnya sudah di jelajahi Arkana. Penuh semangat pria ini menggeluti bibirnya. Rasanya lebih nikmat dari yang dulu. Nadira pikir, mungkin karena status mereka yang sudah berubah. Nadira jadi terbawa oleh naluri prianya ini.


Tanpa melepas ciumannya. Nadira melihat Arkana keluar dari sela meja dan kursi. Pria ini sudah berdiri di dekat kursi yang ia duduki. Tentu wajah Nadira mengikuti kemana gerak Arkana.


Pinggul Nadira diraih oleh Arkana. Tanpa tersirat pria ini memintanya untuk bangkit. Kini keduanya sudah berdiri dengan bibir yang masih bertaut.


Wajah Arkana mundur sebentar untuk berkata. "Gerakkkin lidahnya, yank." pintanya lembut, lebih ke perintah.


Nadira mengangguk dengan mata sendunya. Seolah ia tau pasal permintaan itu. Padahal ia tidak mengerti sama sekali. Ia memilih mengangguk karena suaranya tidak mau keluar, kalah dengan nafas memburunya.


Di ciuman babak kedua ini Nadira mulai ikut menjulurkan lidah di dalam, memainkannya bersama Arkana. Tapi jelas ia masih awam, butuh bimbingan seniornya, Arkana.


Tangan kiri Arkana meraih pinggul Nadira menyatukkan tubuh bagian bawah mereka. Sedang tangan kananya menelusuri tengkuk Nadira. Ia menekan maju tengkuk itu untuk mendapatkan lebih.


Sulit bagi Nadira untuk mengimbangi Arkana. Ia lebih ke pasrah sambil sesekali menggerakkan lidahnya. Merasakan *******, hisapan, yang dilakukkan Arkana pada bibirnya.


Dulu, ia pikir ciuman dengan ******* itu 'menjijikkan' namun sekarang beda. Ia merasa nikmat, merasakan darahnya ikut mendidih kala tubuhnya jadi panas. Merasa merinding, kala bulu-bulu halus di tengkuknya mulai berdiri. Ini pertama bagi Nadira, belum pernah ia lakukkan dengan pria lain selain Arkana.


Arkana menarik dirinya. Melepas tautan itu meski ia belum puas. Arkana satukan dahinya dan dahi Nadira. Dengan jelas keduanya saling berebut oksigen untuk waktu yang agak lama. Arkana semakin ingin yang lain, saat ia merasakan deru nafas panas Nadira yang menerpa wajahnya. Sungguh 'ajaib' gadis di dekapannya ini.


Nafas mereka kembali normal. Arkana tersenyum melihat Nadira tersenyum padanya.


Arkana pikir ia tidak akan pernah melihat senyum indah lain, selain milik Nadira. Senyum gadisnya ini luar biasa manis. Ia tidak sanggup untuk tidak terus melihatnya lekat-lekat. Entah kenapa juga, selalu ada rasa semriwing dihati saat melihat senyum dan tawa Nadira.


Padahal sebelumnya tidak seperti ini. Apa mungkin, karena status mereka yang sudah berubah. Nadira sudah jadi pacarnya. Tapi, akan lebih asik lagi jika gadis ini sudah berubah status jadi 'istri'.


..


..


**Isinya kok mulai mesoom gini, thor?


Iya... aku lg belajar bikin yg mesoom mesoom... Karena menurut penelitian, novel yg 21+ pasti banyak yg baca.. ya kan??


Jujur. Kalian juga suka 'kan?

__ADS_1


aku tau itu 😁😁😁**


__ADS_2