Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Pertemuan kedua


__ADS_3

Sedangkan Arkana dan Nadira yang masih di area briefing.


Nadira berdiri agak jauh dari Arkana. Dira mulai merasa canggung karena Arkana tak berucap sama sekali.


Arkana hanya memandang wajah Dira yang terlihat cantik. Tak lama, Arkana mulai bicara.


"Hei, kenapa diam saja?" Arkana bertanya layaknya teman akrab.


"Maaf pak." Jawab Dira.


"Oh ya, mari Pak saya tunjukkan lokasi-lokasi yang ada di store kita."


Dira mempersilahkan kan Arkana. Wajahnya menggambar senyum yang tulus dan manis.


"Yuk."


Arkana mengangguk lalu mulai berjalan mengimbangi Dira.


Mereka terus berjalan bersandingan. Dira dengan cermat menjelaskan lokasi lokasi yang ditunjukannya.


Sedangkan Arkana, tidak menghiraukan penjelasan Nadira. Arkana hanya terus memandangi wajah Dira yang sangat cantik ketika berekspresi serius.


Nadira yang tau, bahwa Arkana terus memandanginya sedari tadi.


Lama-lama dia merasa kesal.


"Maaf pak," Nadira menghentikan langkah nya.


"Apa di wajah saya ada sesuatu?"


Tanya Dira, sembari mengacungkan jari kearah wajahnya.


"Tidak."


Jawab Arkana sambil tersenyum kecil mengalihkan pandangan.


"Lalu, sepertinya dari tadi bapak tidak mendengar kan perkataan saya. Hanya terus-terusan memandangi wajah saya." Kata Nadira sangat kesal, sembari menyilangkan tangan ke depan dadanya.


Arkana tidak menjawab, hanya diam tanpa kata, dan mulai memandang wajah Nadira lagi.


Nadira tampak kesal, hendak pergi meninggal kan Arkana. Namun dengan cepat tangannya diraih oleh Arkana.


"Hais." Langkah Dira terhenti. Karena tangan Arkana yang menahannya.


"Baru semalam saya tidak melihat kamu. Semakin cantik saja." Imbuh Arkana.


"Apa?"


Batin Nadira, yang kesal ditambah rasa bingung. Tangannya dihempas dengan cepat. Tangannya langsung terlepas. Dari genggaman Arkana.


Arkana berjalan mendekati Nadira.


Gadis ini merespon dengan berjalan mundur. Sampai terhenti karena sudah mentok ke dinding.


"Jangan macam-macam ya Pak."


Bentak Nadira. Dia mulai merasa cemas sekarang.


"Semakin di lihat semakin cantik!"


Arkana mengangkat dagu Nadira, dan memandang kedua mata indahnya yang besar. Namun hanya tatapan benci yang diberikan oleh Nadira kepada Arkana.


"Maaf Pak."


Nadira menepis tangan Arkana dengan cepat. Tangannya sedikit sakit karena itu.


"Coba kamu lihat wajah saya baik-baik."


Arkana mengangkat kembali dagu Nadira.


Mereka saling menatap wajah satu sama lain tanpa berkata. Nadira yang mulai berpikir keras. Seperti pernah melihat Arkana. Namun dimana dan kapan? Nadira tidak begitu yakin.


Tuh kan beneran, kayak pernah lihat. dimana tapi?


Batin Nadira yang masih tidak dapat mengingat. Jika pernah bertemu dengan Manager barunya ini.


"Ya ampun, ini pertemuan kedua kita. Tapi ekspresi wajah kamu itu. Sungguh terlalu."


"Apa wajah saya sangat sulit untuk di ingat?" Arkana melepas tangannya dan berbalik.


"Kayaknya bapak salah orang." Jawab Nadira menyangkal karena tidak dapat mengingat. Pernah bertemu dengan Arkana.


"BAR."


Kata Arkana sambil membalikkan badannya lagi kearah Nadira.


"Hah. BAR?"

__ADS_1


Nadira terlihat bingung. Masih terus mengingat sesuatu.


"Cantik cantik pelupa."


Arkana menepuk jidatnya sendiri, merasa lucu bercampur kesal.


"Kayaknya waktu di Bar, saya sudah bilang untuk mengingat nama saya kan!"


"Arkana Reynaldie." Pria ini dengan muka datar. Menyebutkan namanya.


Suasana diantara keduanya mulai sunyi.


Krik. krikk. kriikk.


Beberapa menit kemudian.


"Huwa. Kamu. Kamu cowok gay yang di bar semalam!" Teriak Nadira kaget. Baru sadar. Setelah berusaha keras untuk mengingatnya.


"Biasa aja ekspresinya mbak, kayak lihat setan aja." Jawab Arkana sedikit kesal di buatnya.


"Dihh." Nadira menyeringai jijik.


"Mirip." Gerutu Nadira dengan lirih.


"Apa?" Tanya Arkana. Dengan wajah serius.


"Kamu bilang apa, barusan?"


Arkana mengambil tangan Nadira, dan menyudutkannya ke dinding.


Mereka berdua saling bertatap muka, wajah Nadira pun perlahan mulai merona.


"Dasar gay mesuum. Minggir."


Nadira mendorong sekuat tenaga.


Namun tenaga Nadira tak sekuat Arkana. Arkana menahan dan semakin mendorong gadis ini ke dinding.


"Shhut. Jangan sembarangan teriak kamu." Sembari meletakkan telunjuknya di bibir Nadira.


Nadira menatap dengan tatapan tajamnya. Menandakan amarahnya.


"Saya tidak gay, dan masalah di bar kemarin malam, itu hanya salah paham."


Arkana menurunkan tangannya.


"Terserah Bapak ngomong apa."


Nadira mendorong tubuh Arkana, dan perlahan berjalan menjauh.


"Benci banget sih. Mimpi apa coba semalem." Nadira menggerutu lirih.


"Tunggu." Arkana meraih tangan Nadira.


"Apa lagi pak?" Tutur Nadira. Merasa lelah.


"Kamu belum bawa saya ke kantin Mall." Arkana berkata dengan memperlihatkan pesona wajahnya yang sangat tampan.


Nadira yang sangat kesal, mendadak hatinya meleleh. Ketika melihat pesona wajah Arkana. Tanpa bisa menolak.


Nadira mengiakan ucapan Arkana dan mengajaknya ke kantin Mall.


Tiba di kantin Mall. Mereka duduk saling berhadapan. Dimana disana terlihat banyak meja, dan kursi yang saling berhadapan. Sebuah meja panjang dengan lemari kaca di atasnya. Terdapat macam-macam olahan masakan, yang diletakkan di piring dan mangkuk. Ada beberapa pelayan wanita juga di sini.


"Mbak."


Kata Nadira, memanggil salah satu pelayan yang di kenalnya, bernama susi.


"Iya mba Dir, mau makan apa?"


Tutur si Susi. Sudah berdiri di sebelah Nadira.


Nadira sontak melihat kearah Arkana, seakan bertanya "Mau makan apa?" Dengan ekspresi wajahnya.


"Bawa kemari semua menu masakan yang ada, oh ya minumnya jangan lupa." Jawab Arkana. Membuat Nadira geleng-geleng kepala.


"Iya mas."


Jawab si Sus. Lalu berjalan menuju dapurnya.


10 menit kemudian, meja penuh dengan makanan. Soto, rawon, mie ayam, bakso, nasi campur, ayam geprek. Minumannya ada es teh, es campur.


"Makan lah yang kamu suka."


Kata Arkana, sembari menatap Nadira.


"Iya Pak." Jawab Nadira

__ADS_1


"Oh iya, kalau lagi berdua nggak perlu panggil bapak. Panggil Arka aja ya."


Tutur Arkana. Mencoba lebih akrab.


"Ngomongnya nyantai aja, nggak usah formal." Jelasnya lagi dengan lembut.


"Iya Pak." Jawab Nadira langsung terhenti.


"Iya  Ar ka." Wajahnya terlihat merona malu.


Arkana hanya tersenyum kecil melihat tingkah Nadira.


Kenapa aku jadi salting gini sih, sial. Sadar Dira. Sadaaar. Jangan kemakan sama muka gantengnya. Please.


Dia itu gay. Gay. Gay. Gay.


Batin Nadira, yang mencoba menenangkan diri. Agar tidak tergoda oleh pesona wajah gantengnya Arkana.


"Kenapa Dir?."


Tanya Arkana. Dengan sekilas menatap gadia di depannya.


"Ngak apa-apa."


Nadira yang mulai perlahan bisa menahan diri.


"Oh ya abis makan, saya mau balik kerja ya Pak." Kata Nadira dengan mulut penuh makanan.


"Kamu suka sekali kerja ya?."


Tanya Arkana. Sembari meletak kan gelas minuman yang baru diteguknya.


"Iya udah tugas saya, mau gimana? Ntar kalau nggak bisa sampai target bulan ini. Saya nggak bisa dapat bonus." Jawab Nadira menjelaskan.


"Oh."


Jawab Arkana dengan menaikan sebelah alisnya.


"Ya udah. Pergi kerja sana."


Kata Arkana, dengan nada mengusir, sembari mengayun-ayun kan tangannya.


"Hah."


Nadira mendadak menghentikan aktifitasnya. Tidak tau dia harus merasa senang. Karena bebas dari pria ini. Atau marah. Karena nada mengusirnya.


"Ya. Permisi Pak Arka."


Nadira berdiri. Lalu berjalan pergi meninggal kan makanannya.


"Dasar. Makan aja belum selesai. Lebih milih kerja dari pada nemenin aku makan. Enggak apa! tunggu aja, sampai kamu jatuh dalam pelukan ku."


"Duh. Kayaknya, aku udah jatuh cinta beneran deh sama cewek itu." Batin Arkana. Merasa aneh dengan perasaannya.


Arrggghhh. Apa ini, yang namanya cinta pada pandangan pertama?


Dia terus mengaduk es campur yang ada di depannya.


"Ngak! Aku harus cepet-cepet naklukin dia. Kalau enggak, hati ini gak akan tenang." Tegasnya. Menyemangati diri sendiri.


Setelah sadar dari khayalannya yang terus mengarah pada Nadira. Arkana pun mengambil ponsel miliknya. Dia sepertinya hendak memanggil seseorang.


"Halo Selly." Kata Arkana. Ketika panggilannya sudah tersambung.


"Iya ada apa Ka?."


Tanya Selly via telepon dari seberang sana.


"Suruh HRD cari juru masak kantin yang baru, mulai besok harus udah ganti."


"Tapi mereka masih ada kontrak 3 bulan lagi loh Ka" Jawab Selly. Dari seberang sana.


"Gak mau tau, besok harus ganti. Rasa masakannya kemana-mana." Raut wajahnya mendadak berubah dingin. Begitu juga nada bicaranya.


"Ok ok. Besok ganti."


Jawab Selly. Menuruti permintaan Arkana.


"Ya sudah kalau gitu."


Arkana menutup panggilannya dengan cepat.


Dari percakapan Arkana dan Selly. Terdengar seperti mereka sangat akrab. Siapa sebenarnya Arkana si pria tampan ini?


Yuk baca next episode.


Biar nggak penasaran. hehe

__ADS_1


Terimakasih Readers setiaku. Sudah membaca Mengejar Cinta Nadira.


__ADS_2