
Nadira masih berdiri didepan drug store. Nadira mulai mendapat kepercayaan dirinya kembali dan berani mengangkat wajahnya.
"Aku mau pinjam gunting, ada Kak?", tanya Nadira dengan tenang tanpa ekspresi.
"Oh, gunting?! Ada, Tunggu sebentar ya," Angga berbalik dan mencari gunting di laci.
Sedangkan Arkana terus memandang Nadira dengan senyuman, jauh di lubuk hatinya ia berharap jika wanita itu melihat kearahnya. Namun siapa sangka Nadira malah menatapnya dengan tatapan tajam yang menusuk meski hanya sepintas.
"Dira, nih guntingnya." Kata Angga menyerahkan gunting itu.
"Emm, makasih ya aku pinjem dulu," Kata Nadira, meraih gunting itu dengan tangan kanannya.
Nadira melangkah kecil meninggalkan drug store, menuju kearah Rini dan kedua teman yang lainnya. Nadira menyerahkan gunting itu kepada Rini dengan wajah cemberut.
"Kenapa kamu?" Tanya Rini merasa heran dengan ekspresi Nadira.
"Enggak kenapa-napa." Jawab Nadira datar masih dengan wajah cemberut.
Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka. Sampai waktunya pulang untuk pegawai shift pagi. Karena jam sudah menunjukkan pukul 14:10, sudah lebih 10 menit dari jam pulang.
Terlihat semua para SPG dan SPB satu per satu meninggalkan pekerjaan. Mereka mencari manager yang bertugas siang untuk minta tanda tangan.
"Dira kamu nggak pulang?" Rini menatap Nadira sekilas. Karena Nadira bekerja jadwal pagi.
"Em, pulang lah. Btw, siapa manager sip siang?" Kata Nadira sambil merapikan pakaiannya.
"Pak Arkana," Kata Rini singkat. Pulang sana... seru nadira dengan keras.
.
Nadira berjalan dengan bergumam kecil. "Ah, males banget mau minta tanda tangan. Oh iya-- ||
Sejenak terpikirkan ide bagus.
.
Tik tok tik tok
.
Sesaat setelah Nadira mengambil tas di loker. Dia duduk di kursi tunggu yang berhadapan tepat dengan ruang satpam.
Tak lama, datang seorang perempuan dengan tubuh langsing, tingginya sekitar 161cm. Ia melangkah menghampiri Nadira.
"Nih, absen nya!
Mengulurkan kertas absen persegi panjang berwarna putih-biru.
"Loh ... dengan ekspresi bingung,
Nadira Menatapnya seakan bertanya-tanya.???!!"
"Enggak boleh nitip, disuruh minta sendiri tanda tangan nya ||
Dengan ekspresi datar.
"Ah menyebalkan" batin ku kesal.
Nadira bangkit dari duduk nya melangkah pergi.
"Nadira !!! Pak arkana ada di informasi depan," teriak perempuan tadi.
"Iya, || jawab nadira pelan, sambil terus berjalan.
.
.
Sampainya di tempat informasi. Nadira malah bingung sendiri karena tak tampak di manapun sosok pak arkana.padahal ia sudah mondar mandir mencarinya, hingga pegawai lain yang melihatnya merasa heran.
"Nadira, cari siapa ?!" seru salah satu pegawai lain sambil menghampiri Nadira.
"Lihat pak arkana, enggak ?
Dengan ramah bertanya.
"Oh, baru aja pergi ke gudang belakang. Sambil menunjuk dimana gudang tersebut.
"Terimakasih! ||
Dengan senyum lebar.
Nadira pun lanjut berjalan menuju gudang barang. Dia berjalan menyusuri gudang, matanya melihat sekeliling tempat tanpa terlewatkan. Namun masih tak dilihatnya wujud pak arkana.
__ADS_1
"Ya Tuhan.... dimana sih nih orang dari tadi dicari nggak ketemu- ketemu.||
Kesal efek kaki mulai lelah berjalan.
.
Nadira melangkah berjalan keluar, nampak terlihat banyak mobil truk barang serta orang-orang yang sedang menurunkan barang dari truk tersebut.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun masih jua tak nampak sosok pak arkana. Ia segera masuk lagi kedalam mall. Tiba-tiba.....
"Nadira, kenapa kesini.
"Kan enggak ada barang masuk!?.
Terlihat lelaki hitam manis dengan mata sipit, tinggi nya sekitar 175cm, ia di kenal dengan sebutan Gede.
"Ah, lagi cari orang,"
Jawab nadira membalik kan badan.
"Aku,?"
Dengan percaya diri mode tinggi.
"Bukan kamu, " hela nafas memalingkan pandangan.
"Kata kamu cari orang,
aku juga orang Dir...." Jawab Gede sembari
Menebar senyuman manis.
"Siapa bilang kamu tikus,"
Ketus nadira.
"Aku pergi dulu, bye...."
Berbalik dan berjalan meninggalkan Gede.
"Huh, lihat wajah cantik nya nadira, Jadi semangat kerja lagi."
"Coba saja ada cewek cantik yang kerja di bagian input barang, pasti setiap hari kerja, jadi semangat terus," celoteh si Gede.
Beberapa saat setelah berkeliling mall, tetapi tidak menemukan Arkana. Nadira terdiam sejenak menghentikan langkahnya, kakinya mulai terasa sakit setelah berkeliling mall. Nampak ada lelaki menghampiri nadira, dia terlihat menggunakan baju staf mall. Dia memberitahukan bahwa pak arkana ada di ruangannya nya. Mendengar itu, nadira pun segera bergegas menuju ruangan arkana.
Tok .. tok .. (suara pintu ruangan arkana)
"Masuk !"
Perintah arkana dari dalam ruangan.
Mendengar ucapan itu, nadira segera masuk kedalam ruangan dan berdiri di hadapan arkana. ada jarak 2m diantara mereka.
"Kenapa?"
Tegas arkana, setelah melihat nadira berdiri dihadapannya.
"Mau ambil absen saya pak!"
Pelan nadira.
"apa?!"
Meletakkan tangan nya di telinga, dengan menaikkan sebelah bibirnya.
"Saya mau ambil absen, sekalian minta tanda tangan, pak!"
Ketus nadira keras.
"Oh absen !!
"Kesini ||
Mengayunkan tangan nya, memerintah nadira.
Nadira hanya terdiam, tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Dengan mengerutkan dahi, ia terus menatap tajam kearah arkana menunjukkan kekesalan nya.
"Enggak mau absen mu !
Mengangkat kertas absen ditangan kanan nya.
"Gaji sebulan loh !
__ADS_1
Lanjut arkana dengan menyeru.
Ia pun berjalan mendekati arkana. dengan isyarat tangan arkana memerintah kan nadira duduk di pangkuan nya. Nadira hanya terdiam, dalam hati nya banyak menyumpah lelaki didepan nya itu, entah sudah berapa kali.
"Kamu jangan main-main ya..!!"
Ucap nadira dengan lantang.
"Aku memang mau main sama kamu! ||
Santai arkana menjawab.
"Gimana, Kamu mau?!
Lanjut arkana.
"Enggak berminat sama sekali ||
Dengan membuka lebar matanya.
Membuat arkana tersenyum kecil, menganggap tindakan nadira sangat lucu.
"Sini absen ku !
Kesal nadira seraya meraih absennya.
Seketika arkana memindahkan ke tangan kirinya. Nadira terus mencoba meraihnya, gerakan mereka bergiliran. Ke kanan, ke kiri terus begitu sampai membuat nadira geram. "Sekali ini harus dapet || batin nadira menyemangati diri sendiri.
Dengan hentakan ia bergerak cepat dan meraih tangan kiri arkana. Ia
menggenggam tangan kiri arkana dengan erat. "Akhirnya dapet juga || senang nadira dengan senyuman.
Mengetahui nadira yang telah menggenggam tangan kirinya dengan erat. Sontak arkana menarik tangannya, sehingga membuat nadira jatuh ke pelukannya.
Wajah terkejut nadira, ditepis dengan senyuman mempesona arkana. Mengetahui posisi tubuh mereka sangat intim, nadira bersikeras bangkit. Namun tangan kanan arkana meraih pinggul nadira, menekan tubuh nadira kedalam pelukan nya.
Mata nadira melotot, menatap tajam kearah arkana tanpa berpaling. Begitu pula dengan arkana, terus menebar senyum dengan tatapan mendalam merasuk ke mata nadira. Suasana yang hening seketika kembali rusuh. Bagian bawah badan nadira merasakan sesuatu yang perlahan mengeras. Nadira sangat terkejut oleh itu-
"Wahhh, kamu mesum... Mesum... Mesum.
Memberontak sekuat tenaga.
"Lepas, leeepaasin tanganku !
Bentak nadira memerintah.
Sesaat tangan nya terlepas, namun wajah arkana dengan cepat menghadang wajah nadira. Bibir nya dengan cepat mengecup bibir nadira.
Suasana kembali hening, terdengar suara degup jantung mereka berdua. Melihat wajah kaget nadira, ia tidak mengalihkan pandangan. Terus melihat wajah nadira yang memerah, menunggu respon apa yang akan ia berikan.
Nadira nampak melemas, ia menundukkan kepala nya. Entah mengapa aku yang terkenal tomboi dan keras ini. Tiba tiba hatiku luluh di hadapan lelaki gay ini. Sudah sekian lama, setelah bertahun tahun aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini. Rasanya jantung ku lepas keluar, jantung ku berdebar sangat kencang. Sangat kencang! Sampai telinga ini dapat mendengarnya.
.
.
"Apa wajah ku jelek?
Tanya arkana.
"Hah!
Pertanyaan itu menghancurkan lamunannya.
"Aku tanya, apa wajah ku jelek? Kenapa terus melihat kebawah.
Menaikkan dagu nadira.
"Kamu tertarik sama yang di bawah, hah?
Menyeringai genit.
"Mulut kotor, jangan ngomong sembarangan!
Bangkit dari pelukan arkana yang sudah melepas tangan dari pinggulnya
Seraya meraih absen yang ada di tangan kiri arkana, ia pun bergegas melangkah keluar dari ruangan itu.
sedang wajah arkana dengan senyuman lebar, ia merelakan nadira pergi meninggalkan ruangan tanpa menghambatnya. Senyuman lebar terus terpancar melihat punggung nadira dari kejauhan. "kenapa gue tiba-tiba bereaksi sama dia. sialan! loe itu enggak di kontrol banget ya! bikin malu aja ! || gumam arkana melihat bagian bawahnya.
.
.
__ADS_1
bersambung >>