
Di salah satu Mall besar, Pulau B.
Karena kesal dengan Arkana, Nadira berangkat kerja lebih awal. Pukul 11:30 dia sudah stay di salah satu Mall tempatnya kerja.
Sembari menunggu jam masuk kerja, yang kurang 1 setengah jam lagi. Nadira yang masih menggunakan jaket cokelat. Duduk sendirian di salah satu Kafe yang ada di dalam Mall.
"Dira!" Panggil seorang pria yang belum dia lihat wujudnya.
Nadira memalingkan wajahnya. Mencari sumber suara.
"Ah, Alex!" Setelah melihat wujud temannya.
Lelaki itu menghampiri Nadira. Sekarang dia sudah duduk di depannya. Mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Ngapain loe disini?" Tanya Nadira, dengan tatapan aneh.
"Jalan, sama cewek gue." Jawab Alex, setelah melambaikkan tangan kearah seorang waitress Kafe.
"Es Cappuccino satu!" Kata Alex sedang berbicara dengan waitress. Yang sudah berdiri disampingnya itu.
"Baik, ada lagi?" Tanyanya kembali.
"Itu aja." Jawab Alex meletakkan kartu ATM di meja. Waitress itu pun segera pergi, dengan membawa kartu ATM milik Alex.
"Mana cewek loe?" Tanya Nadira, yang tidak melihat kehadiran dari kekasih temannya ini.
"Lagi ke toilet. Loe ngapain? nongkrong disini sendirian." Tanya Alex balik.
"Enggak ada, Lagi nunggu jam kerja." Jawab Nadira terlihat lesu.
Datang waitress, dengan membawa pesanan Alex ditangannya. Di letakkan pelan minuman yang dia dibawa.
"Silahkan dinikmati." Kata waitress wanita itu ramah.
"Hmm." Kata Alex acuh, sembari memasukkan kartu ATMnya kedalam dompet kulit berwarna cokelat.
Nadira yang membalas senyuman waitress itu. "Terimakasih ya!" Kata Nadira, sebelum waitress itu pergi. Kembali Nadira dan Alex bicara berdua.
"Kenapa loe? Ada masalah." Tanya Alex, setelah meneguk minumannya.
"Lemes amat, kayak lagi puasa." Lanjut Alex, dengan nada sedikit meledek.
"Kalau gue puasa! enggak mungkin nongkrong disini." Jawab Nadira, menunjuk meja dengan satu jari.
"Biasa aja kali!" Alex tersenyum melihat tingkah temannya ini. Biasanya gadis ini sangat ceria, tetapi kali ini dia terlihat berbeda dan jauh dari kata ceria.
"Sayang!" Terdengar suara wanita samar.
Wanita cantik dan sexy berjalan dari kejauhan. Mendekat kearah Nadira dan Alex. Dengan dress hitam, sejengkal dari atas lututnya. Dengan high hells hitam, dan rambut panjang bergelombang. Di kibas kekanan dan kekiri. Bak seorang model dia berjalan.
"Cantikkan!" Kata Alex, menaikkan kedua alis, menatap Nadira yang sama-sama melihat gadis itu dari tempat mereka.
"Ya, kayak Cinderella." Terukir senyum diwajah Nadira. "Kalau dilihat dari atas monas!" Lanjutnya lagi, memasang wajah masam.
__ADS_1
"Asem!" Spontan Alex, setelah mendengar kalimat itu.
"Cewek baru ya?" Tanya Nadira, karena belum pernah lihat kekasih temannya ini.
"Iya. Cewek yang buat taruhan malem itu, pas loe balapan." Jelas Alex.
"Bukannya udah lebih dari seminggu? Kok masih sama loe, sih?" Tanyanya lagi. Sembari tersenyum, melihat kehadiran kekasih temannya.
Yang sudah ikut duduk, bersama mereka berdua. Gadis itu duduk didekat Alex. Karenanya, Dia belum menjawab pertanyaan Nadira.
"Siapa dia?" Tanya gadis itu kepada Alex.
"Teman aku, kenalan dulu lah."
Jawab Alex kepada kekasihnya.
"Hai! Aku Fiona, kamu?" Kata gadis itu kepada Nadira. Seraya mengulurkan tangan.
"Aku Nadira, biasa dipanggil Dira. Temennya Alex!" Jawab Nadira, menjabat tangan Fiona.
Keduanya saling menebar senyuman, saat berjabat tangan. Setelahnya, dilepas tangan itu oleh keduanya. Dan sama-sama membetulkan posisi duduknya.
"Oh iya, minuman aku mana?" Kata Fiona, setelah melihat Es cappuccino milik Alex.
"Pesan aja sendiri disana, nih!" Kata Alex, seraya memberikan kartu ATM kepada kekasihnya ini.
Fiona pun mengangguk, dan lekas pergi membeli minuman untuk dirinya sendiri. Tidak lupa dia membawa ATM milik kekasihnya.
Nadira melihat gadis itu yang berjalan menjauh. Terlihat wajahnya yang menebar senyum tanpa henti.
Dia berbeda, sangat cocok dengan Alex. Kalau itu kekasih Alex yang dulu. Pasti mereka sudah bertengkar sekarang.
"Tumben, dapet cewek agak waras!" Ledek Nadira, dengan senyum pahit.
"Sialan loe!" Umpat Alex, membalas perkataan Nadira.
"Oh iya, kok dia masih sama loe?"
Tanya Nadira lagi, karena tadi belum sempat dijawab oleh Alex.
"Di putusin Dewa, makanya sekarang sama gue!" Jawab Alex, sedikit menyungging senyum.
"Kok loe kelihatan seneng gitu?" Tanya Nadira yang merasa aneh, melihat reaksi temannya ini.
"Ya iyalah. Karena selain loe! Ternyata dia juga masih perawan."
"Kayak loe pernah aja, sial!"
Ketus Nadira, kesal mendengar kata perawan.
kayak loe tau aja kalau gue ini masih perawan. Soto banget loe jadi temen.
"Gue yang pertama, " kata Alex bangga.
__ADS_1
WAH.
Aku kaget bukan main, mendengar perkataan bocah ini. Gila, kenapa juga loe ngomong sama gue soal itu. Nadira menyeka bekas minuman yang tidak sengaja disembur keluar.
"Kenapa kaget gitu sih! Loe juga udah lama, temenan sama gue."
Kata Alex, menilai reaksi Nadira berlebihan.
"Ehh, gue emang udah katam sama sifat loe. Tapi soal itu, cukup bahas sama dia aja!" Tunjuk Nadira, kepada Fiona yang sudah kembali.
"Yah, tadi kan loe tanya. Ya gue jawab." Jawab Alex, pandangan nya teralihkan kepada Fiona.
"Ada apa sih, baru ditinggal bentar. Sudah berantem aja." Kata Fiona, yang menyadari perubahan mimik wajah Nadira. Yang sepintas terlihat kesal.
"Ngak ada, cuma bahas hal yang ngak penting. Kita ngak berantem kok." Jelas Alex pelan.
"Huh, gak penting? Sumpah! Ngak berubah sama sekali ya loe." Ketus Nadira, yang semakin kesal. Karena kalimat ngak penting.
"Loe kenapa sih, Dir? aneh banget hari ini. Enggak kayak biasanya."
Tanya Alex, merasa teman nya agak berbeda.
"Coba loe tanya sama Fiona, penting apa enggak itu buat dia, huh!" Nadira semakin menggebu-gebu sekarang.
Apa yang membuatnya begitu emosian hari ini. Dia dicuekin sama Arkana, sampai harus berangkat kerja lebih awal? Atau karena sekarang dia mendengar temannya berkata, kalau pembahasan soal keperawanan pacarnya tidak penting. Yang mana yang membuatnya seemosi ini.
"Yang kalian bahas itu apa? Kenapa nama aku juga disebut-sebut, ha?" Tanya Fiona dengan lembut. Mencoba meredupkan emosi Nadira.
"Soal kamu masih perawan, aku
yang duluan." Jelas Alex kepada kekasihnya.
"Oh."
Fiona tidak sedikit pun terkejut, mendengar kalimat yang diucapkan oleh Alex. Dia tersenyum tipis, menarik nafas pelan sebelum melanjutkan perkataannya.
"Aku sudah setuju kok. Jadi enggak masalah, dan enggak perlu dibahas lagi." Jelas Fiona pelan.
"Kamu yakin? dia harus tanggung jawab. Kalau kamu hamil! Gimana?"
Fiona menilai reaksi Nadira ini sangat berlebihan. Baginya cukup wajar kalau sebagai kekasih, dia tidur dengan Alex. Atau jangan-jangan gadis ini, menyukai Alex secara diam-diam.
"Buang pikiran kamu jauh-jauh, aku sama Alex udah temenan lama. Dan enggak mungkin buat kita saling suka." Kata Nadira, setelah melihat reaksi Fiona.
"Aku pikir- "
"Ya enggak lah!" Kata Nadira dan Alex secara serentak. Menyela perkataan Fiona yang belum rampung.
"Aku cuma enggak mau, kalau sampai Alex ketahuan Om Rudi. Kalau sampai kamu hamil diluar nikah, Alex bisa tamat! Tau gak?" Jelas Nadira kepada Fiona, yang sangat tau sifat dan watak Ayah dari Alex.
"Oh, apa seserem itu?" Tanya Fiona dengan tampang lugu.
"He em!"
__ADS_1
Alex dan Nadira mengangguk bersamaan.
Membuat hati Fiona menciut takut. Kalau nanti dia harus berhadapan dengan Ayah Alex. Tetapi tidak apa, selama keluarga Alex kaya raya.