Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Menunggu.


__ADS_3

Berikan like kalian untukku. Selamat membaca!


Setelah menerima dan membaca pesan dari Surya. Arkana menerapkan instruksi yang tertulis di dalam chat itu. Dan akhirnya ... Arkana berhasil membujuk Nadira untuk pergi ke sebuah tempat.


Restoran yang cukup terkenal, di seberang jalan Pantai Kuta. Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai ke Restoran dengan menyeberangi jalan.


Arkana dan Nadira sudah duduk di salah satu tempat yang kosong. Seorang waiters segera menghampiri mereka.


Dari tempat duduk Nadira. Ia melihat seorang waiters wanita yang berjalan mendekati tempatnya. Waiters itu terus melempar senyum ke arahnya.


Nadira merasa bingung. Ia melihat Arkana, namun pria itu masih fokus dengan ponselnya. Lalu ia menengok ke belakang. Terlihat pengunjung lain yang masih sibuk menikmati makanan mereka. Nadira kembali melihat waiters itu.


Apakah dia tersenyum padaku?


Sepertinya waiters ini terlalu ramah.


Langkah waiters itu sudah sampai di dekat meja Nadira dan Arkana.


"Permisi. Mau pesan apa Tuan dan Nyonya?" Penuh senyum dan keramahan khas waiters Restoran.


Pandangan Arkana tidak beralih dari ponselnya. "Buku menu." Pintanya. Suara itu terdengar sedikit dingin.


"Silahkan, Tuan, Nyonya." Disodorkan dengan sopan buku menu itu kepada Arkana dan Nadira, masing-masing satu.


"Steak. Orange jus." Menjeda bicaranya. Melihat Nadira.


"Kamu, pesan apa?" Suaranya lembut dan hangat.


"Samain aja." Kata Nadira yang bahkan tak melihat semua isi buku menu itu. Ia sekedar membolak balikkan halamannya.


Waitress itu mengambil kembali buku menunya. Ia tersenyum.


"Pesanan Tuan, akan segera kami hidangkan. Mohon ditunggu!"


Tidak ada respon dari kedua orang itu. Waitress itu berbalik. Berjalan meninggalkan tempat Arkana dan Nadira.


"Tunggu!" Suara itu menghentikan langkah si waitress. Waitress itu kembali mendekati meja Arkana dan Nadira.


"Ada yang ingin anda pesan lagi, Tuan?"


"Enggak. Mau tanya, apa di sini ada mushola?"


Nadira melebarkan matanya. Ia seolah tak percaya dengan kalimat yang baru didengarnya dari mulut Arkana.


Waitress itu tersenyum. "Ada. Tapi di belakang. Khusus karyawan. Ada perlu apa ya, Tuan?"


Arkana menatap wajah Nadira. Menaikkan kedua alisnya. "Apa pacar saya bisa menumpang shalat, sebentar?" Kembali menatap waiters itu.


Waitress itu tersenyum ramah. "Tentu saja bisa." Menjeda kalimatnya untuk melihat Nadira.

__ADS_1


"Mari saya antar, Nyonya!"


Nadira sedikit berat untuk menarik senyumannya sampai lebar.


"Ah. Beneran boleh?" Sedikit canggung.


"Tentu saja! Mari saya antar."


Nadira melempar senyum tanda terimakasihnya kepada Arkana. Sebelum ia mengekori waiters itu menuju ke ruang khusus karyawan.


Selang lima menit. Nadira keluar dari ruang mushola. Ia berjalan sendiri. Ingin kembali ke meja tempat Arkana. Sedang waiters tadi sudah kembali mengerjakan tugasnya. Setelah mengantar Nadira sampai di mushola.


Langkah Nadira sudah sampai di depan meja, di mana Arkana berada. Ditarik kursi itu untuknya duduk.


Arkana baru menyadari kehadiran Nadira. Segera ia letakkan ponselnya di atas meja.


"Udah?" "Emm." Jawab Nadira dengan anggukan dan senyum tipis.


"Yuk makan?" "Ya!"


Nadira merasa ini sedikit aneh. Bagaimana bisa pria itu belum menyentuh makanannya sedikit pun. Dan memilih untuk makan, setelah ia kembali.


Padahal. Jika dipikir. Dalam waktu lima menit, tanpa menunggu Nadira. Mungkin pria itu sudah selesai dengan makanannya. Tapi pria itu memilih untuk menunggu gadisnya kembali. Baru ia akan mulai makan.


Tindakan kecil Arkana sedikit menyentuh hati Nadira. Ia merasa senang ada yang rela menunggu untuk kedatangannya.


Selesai membayar. Arkana dan Nadira berjalan keluar dari Restorant itu.


Kali ini berbeda. Nadira berjalan dengan penuh senyum hangat bagai sinar mentari di pagi hari.


Langkah keduanya berhenti di depan Restorant.


Keduanya berdiri sejajar. "Mau pulang?" Pertanyaan Arkana terdengar seperti petir bagi Nadira.


Ia menoleh. Sedikit mendongak untuk meluruskan pandangannya dengan pria itu. "Huh. Pulang?"


Pertanyaan itu di kembalikan kepada Arkana.


"Iya." Menatap balik gadis itu.


"Tadi bilang mau pulang.... Sekarang kita pulang. Yuk!"


Tangan itu diraih oleh Arkana. Lalu ia semakin melangkah ke depan. Supaya lebih dekat dengan jalan raya, agar lebih mudah melihat taxi.


Langkah Nadira mengikuti pria itu. Ia merasa lega karena keinginan untuk pulang akan segera terlaksana. Tetapi. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul begitu saja. Saat pria itu bersungguh-sungguh mengajaknya pulang.


Arkana mencoba menghentikan sebuah taxi. Namun beberapa kali lewat begitu saja. Karena sudah ada penumpang di dalamnya.


Nadira menggoyangkan tangannya, yang masih digenggam Arkana. Lantas pria itu menoleh.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyanya dengan heran.


EE. Nadira sedikit ragu. "Apa sebaiknya... kita nunggu Beni sama Vio aja.. em?"


Gelengan kecil dilakukkan Arkana. "Gak perlu. Beni barusan chat aku, katanya mereka ada di Nusa Dua... jadi kita pulang duluan, naik taxi aja. Gak pa pa kan?"


Hembusan angin kasar keluar dari mulut itu. "Huh. Gak apa apa sih..." Ia membalas senyuman pria itu dengan senyum yang dipaksaan.


Sebenarnya Nadira sudah tidak ingin pulang. Karena ia sudah selesai menunaikan sahalatnya tadi. Ia ingin bermain sebentar lagi di pantai. Namun begitu sulit mengucapkan itu kepada Arkana.


Sebuah taxi kosong berhenti di depan Arkana dan Nadira yang berdiri di pinggir jalan itu.


Arkana mendekati taxi. Lalu membuka pintu belakang, dan mempersilahkan Nadira untuk masuk lebih dulu. Setelahnya baru Arkana yang memasuki taxi.


Di dalam taxi yang sudah berjalan. Arkana mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Kemana ini, Pak?" Suara supir taxi memecah keheningan.


Tangan itu menyodorkan sebuah ponsel. Yang layarnya di arahkan ke wajah supir taxi.


"Ke alamat ini pak!" Suara Nadira mendului Arkana yang baru membuka bibirnya.


"Bener ke sini?" Supir mencoba memastikan ulang.


"Iya." Jawab Nadira yakin.


Supir itu menoleh ke belakang. Sepertinya dia masih belum yakin dengan petunjuk gadis itu. Dan mencoba menanyai Arkana.


"Iya. Bener ke alamat itu." Suara Arkana akhirnya berhasil meyakinkan si bapak supir taxi.


Di dalam perjalanan pulang. Arkana hanya fokus menatap layar ponselnya. Tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.


Sedangkan Nadira. Ia fokus memandangi Arkana. Ia mengawasi pria itu, agar tetap menatap layar ponselnya. Sampai taxi ini nanti berhenti.


Wajah Arkana hendak menoleh. Segera kedua telapak tangan Nadira mendarat pelan di wajah Arkana. Lalu di arahkan wajah itu untuk menatap Nadira.


Hampir aja!


Ia tak sadar jika sorot mata pria di depannya itu terus memandanginya.


"Sampai kapan kamu mau begini?" Suara Arkana mengejutkan gadis itu.


Ia baru menyadari jika tangannya masih menyentuh masing-masing pipi Arkana. "Ah. Maaf!" Sontak tangan itu ditarik mundur oleh Nadira.


Arkana tersenyum tipis. Melihat Nadira yang jadi salah tingkah karena ulahnya sendiri.


Supir itu melihat dari kaca. Lalu ia berkata jika mereka telah sampai. Arkana dan Nadira pun segera turun dari taxi itu.


Taxi itu telah melaju, pergi meninggalkan kedua orang itu yang berdiri di pinggir jalan. Jalanan itu sedikit gelap, karena minim pencahayaan.

__ADS_1


__ADS_2