
"Jangan nangis lagi. Aku gak mau liat kamu ngabisin air mata untuk orang yang udah nyakitin kamu di masa lalu."
Seketika mendengar Arkana yang mengatakan kalimat itu. Bukannya berhenti, tapi Nadira semakin menangis dengan suara yang lebih kencang.
Arkana tertegun. Ia bingung harus melakukan apa, agar Nadira berhenti menangis. Ia pun mengulurkan tangannya. Mengusap punggung Nadira dengan pelan. Ia berharap itu bisa menenangkan perasaan Nadira yang tengah kacau kala itu.
"Jangan nangis lagi. Air matamu bisa abis, loh!" Sambil terus mengusap punggung Nadira.
Bujukkan Arkana tidak berguna sama sekali. Suara isakan Nadira semakin keras sekarang. Air matanya terus mengalir bagai air terjun.
Nadira tidak bisa mengendalikkan dirinya. Ia terlalu hanyut dalam kenangan masa lalunya sendiri. Kenangan yang meninggalkan luka, membuatnya merasakan sakit begitu dalam.
Perih. Hatinya terasa perih bagai tersayat. Luka lama yang semakin perih ketika ia teringat wajah Mario. Pria yang berjanji akan menikahinya. Bersumpah mencintainya seumur hidup. Tidak akan berpisah sampai ajal menjemput mereka. Tetapi semua itu,
"Bohong! Kamu bohong." Desis Nadira lirih.
Ia mengangkat wajahnya. Menatap lurus kedepan. Lalu berteriak dengan kencang. "DASAR PEMBOHONG. AKU BENCI KAMU." Ia masih menangis dan sesekali menarik cairan yang sedikit lagi menetes keluar dari dalam hidungnya.
"Aku benci kamu... Benciiiiii."
Lirih Nadira melanjutkan luapan hatinya. Tubuhnya melemas.
Arkana tidak bisa menahan dirinya untuk diam. Ia mengulurkan tangannya. Menarik pundak Nadira. Mengarahkan kepala Nadira, untuk bersandar dipundaknya. Sebenarnya ia ingin memeluk Nadira, tapi ia takut.
"Menangislah." Menjeda bicaranya, untuk membelai rambut Nadira. "Jika itu bisa mengurangi lukamu." Terus membelai rambut Nadira. Ia tidak tau seberapa dalam luka Nadira. Namun ia tau pasti, jika Nadira sedang sedih saat ini.
"Tapi ingat! Setelah ini, kamu gak boleh nangis lagi karena dia."
Setelah bicara begitu. Arkana bersiap diri menutupi telinganya. Agar telinganya tidak rusak karena suara tangisan Nadira.
3...
2...
1...
Arkana sudah menghitung mundur. Namun, seketika hening menyelimuti keduanya.
"Kamu ngapain?" Tanyanya kepada Arkana yang sedang menutup mata. Dan menutupi kedua telinga dengan masing-masing jari tangannya.
Mengetahui Arkana tidak merespon.
Ia berpindah posisi. Ia jongkok di depan Arkana. Mendekatkan mulutnya ke wajah Arkana. Menghembuskan nafasnya kearah mata Arkana dengan sedikit kencang. Ia memang jahil.
Esshh. Desis Arkana. Ia spontan membuka mata dengan lebar.
"KAMU?" Ia kaget melihat wajah gadis itu berada tepat di depan matanya.
Nadira meringis. Sesekali mengenduskan hidungnya.
Menarik sisa-sisa cairan dari tangisannya tadi. "Katanya mau dengerin aku nangis. Kenapa telinganya ditutup?" Cibirnya dengan mulut sedikit manyun.
Diturunkan kedua tangan itu dengan cepat. Arkana merasa bersalah.
__ADS_1
Tadi nangis kenceng banget. Di suruh diem malah tambah nangis. Giliran di suruh nangis, ehh malah berhenti. Hem. Emang perempuan itu mahluk Tuhan yang paling susah dimengerti.
Tanpa sadar, ia menggelengkan kepalanya.
"Kalau aku beneran dengerin kamu nangis. Bisa-bisa ini," menjeda bicara untuk menunjuk telingannya. "Pecah gendang telingaku!" Imbuh Arkana.
"Kupikir, kamu emang gak punya."
Cibir Nadira. Ia kembali duduk di
depan Arkana. Membelakangi pantai dan menghadap Arkana.
"Iya.. hampir gak punya. Gara-gara kamu."
Nadira terkekeh. Bibirnya ditarik kesamping sampai membentuk sebuah senyuman. Ia baru sadar jika pria didepannya ini. Ternyata bisa kesal juga. Dan....
Aku juga baru sadar. Kalau di liat dari dekat begini, diperhatiin.Ternyata dia tampan juga. Wajahnya juga lucu, kalau lagi kesal. Tanpa sadar ujung bibir itu tertarik ke samping. Membentuk senyuman tipis.
"Kamu kenapa? Senyum-senyum sendiri." Tanya Arkana sambil menaikan tangan. Menempelkan punggung tangan itu di dahi Nadira.
"Kamu sehatkan?" Ia merasa khawatir. Takut, tiba-tiba Nadira jadi sakit setelah menangis begitu kencang.
"Ya sehatlah." Jawabnya sedikit keras. Padahal di dalam hatinya, ia merasa senang karena di perhatikan.
"Kamu udah gak sedih lagi?" Ia sedikit ragu saat menanyakan itu.
Nadira tersenyum. "Udah enggak kok. Saat aku berhenti menangis. Di saat itu juga, rasa sakit, perih, rindu, sayang, dan juga cinta... Semuanya hilang."
Suatu hari, jika aku bertemu dengan orang yang sudah melukaimu. Lihat saja! Akan ku buat perhitungan dengannya.
"Hei!"
"Hemm." Ia kaget oleh suara Nadira.
"Kenapa melihatku seperti itu? kayak mau makan orang aja."
"Iya. Pingin makan kamu!"
Nadira terdiam. Arkana juga diam. Keheningan menyelimuti dua insan itu.
Tatapan keduanya berada di satu garis lurus. Keduanya menatap dengan serius. Deburan ombak menjadi satu-satunya suara malam itu.
"Kamu beneran, gak mau jadi pacarku?"
Tanya Arkana tegas.
Deg. Hati ini lagi-lagi berdeguk dengan hebat. Ia merasakan sesuatu bercampur aduk jadi satu di dalam dadanya seperti sedang dimixer. Pria ini memang punya kemampuan, untuk membuat Nadira terus kebingungan.
"Aku...." Satu jari telunjuk menapaki bibir Nadira. Menahan dirinya untuk meneruskan bicara.
Netra itu menatap serius ke Nadira. "Jangan jawab sekarang."
"Tapi aku mau jawab sekarang."
__ADS_1
Ia bicara dengan satu jari Arkana menempel di bibirnya.
Ssst. Menekan lagi jari telunjuk itu ke bibir Nadira. "Enggak. Aku gak butuh jawaban yang sembrono. Aku mau. Kamu pikirin bener-bener pernyataan cintaku ini."
"Karena ini yang terakhir." Tatapan itu menghunus netra Nadira. Semua kalimatnya penuh penekanan.
"Setelah ini. Jika kamu menolakku lagi. Aku janji! Enggak akan ganggu kamu lagi, untuk selamanya!" Imbuhnya.
Deg. Kali ini bukan debar cinta. Ia kaget mendengar kalimat Arkana. Dadanya terasa sesak. Seolah ia mati sedetik. Namun ia dengan tenang mengatakan.
"Baiklah. Akan kupikikan baik-baik. Tetapi satu hal yang harus kau tau...." Ia membalas dengan tatapan yang mantap. Lurus ke netra Arkana.
"Jawaban ku sekarang dan esok. Akan tetap sama."
"Gak masalah. Asal kamu tidak menyesal, jika memberi jawaban yang sama seperti sebelumnya." Tegas Arkana memperingatkan.
Ia menelan salivanya. Tubuhnya bergetar kecil. Ia merasa pria itu sedang memojokkannya. Memaksanya untuk berkata iya untuk pernyataan cinta itu.
Aku harap hubungan kita akan tetap baik. Setelah aku memberikan jawaban untuk pernyataan cintamu ini.
Nadira bangkit. Membalik tubuhnya untuk menghadap pantai. Kakinya berlari kecil kedepan sana. Menghampiri air laut yang meluap ke bibir pantai.
"Aku cinta kamu!" teriaknya begitu keras.
Pandangan itu dinaikkan. Ia tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut gadis itu. Matanya menangkap punggung Nadira yang jauh di depan sana. Tubuhnya bangkit. Kaki itu melangkah perlahan. Mendekati Nadira.
"Apa itu jawaban darimu?"
Nadira bungkam. Sosok Arkana sudah berdiri disebelahnya. Wajahnya menoleh. Melihat sekilas wajah pria itu.
"Tentu saja. BUKAN. Itu hanya luapan dari isi hatiku, yang sudah lama terpendam." Nadanya terdengar hambar.
"Oh. Berulang-ulang aku selalu kecewa, karena kalimat yang keluar dari mulut mungilmu ini."
"Maaf membuatmu kecewa."
"Tidak masalah. Tapi kuharap jawabanmu kelak, tidak akan lagi mengecewakan aku."
"Pasti."
Keduanya saling menatap. Dan memberikan senyuman tipis.
"Ayo pulang..." Ia meraih pergelangan tangan Nadira. "Boleh?" meng-angkat tangannya yang meng-genggam tangan Nadira. Ia sedang meminta izin gadis itu.
"Boleh untuk hubungan pertemanan."
Ujung bibirnya di tarik sedikit. Sebuah senyuman manis terukir disana.
"Baiklah. Untuk hubungan pertemanan. Ayo pulang?"
"Ayo!" jawab Nadira.
Setidaknya untuk malam ini. Aku bisa menggenggam tanganmu. Tetapi untuk esok hari..... Kamu pasti jadi gadisku. Tinggal menghitung jari.
__ADS_1