Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Yang Sebenarnya.


__ADS_3

Kejadian 11 jam yang lalu.


Di kamar Arkana. Viola terlihat sedang memeriksa luka Arkana. Perlahan dibuka bekas jahitan yang sudah kering di bagian perut.


"Dia siapa, Kak?"


Pertanyaan Viola merusak kesunyian di ruangan itu.


Arkana tau siapa yang dimaksud oleh Viola. Tetapi dia hanya diam. Sangat enggan untuk menjawab pertanyaan dari sepupu Surya ini.


"Pacar? Pembantu?" Selidik Viola penasaran.


"Bukan semua." Nada Arkana terdengar malas.


"Sewaan?" Selidik Viola yang masih mencoba menebak.


"Gak lah." Tegas Arkana jujur.


"Kayaknya dia cemburu, karena aku ke sini. Mau aku bantuin dapetin dia?" Ia mencoba mengajukan sesuatu kali ini.


Arkana menatap serius ke arah Viola. Seolah bertanya, kamu yakin dia cemburu?.


"Beneran. Dari ekspresinya keliatan banget, cembukur!" Kata Viola memprovokasi.


"Gimana caranya?" Tanya Arkana penasaran. Dengan semangat 45 yang mengebu-gebu.


"Ada. Tapi pakek syarat!" Jawab Viola tengil. Dengan sibuk memasukkan beberapa peralatan Dokternya ke dalam tas. Karena kegitannya sudah selesai.


Arkana menggeser tubuhnya, dia mulai bersandar dengan menaruh tumpukan bantal. Setelahnya masih sibuk merapikan bajunya. Dan mulai bertanya.


"Apa?" Ia menatap serius, ke arah Viola yang duduk di kursi. Dekat dengan posisi ranjangnya.


"Beni. Suruh dia dateng ke sini. Kasih dia libur."


Arkana tertegun dengan persyaratan yang di ajukan oleh Viola. Pasalnya, dua hari lagi Beni akan segera libur. Juga ingin datang kemari untuk bersenang-senang. "Apa Beni tidak memberitahu pacarnya soal dia libur?" Batin Arkana, bertanya pada diri sendiri.


"Oke, setuju." Arkana menyungging senyum di ujung bibirnya. Merasa jika dia diuntungkan dengan kesepakatan ini.


"Sekarang kasih tau, gimana caranya?" Imbuh Arkana ingin tau.


"Telepon Beni dulu. Soal caranya! Biar aku yang kerjain."

__ADS_1


Arkana setuju dengan perkataan Viola. Segera di ambil ponselnya untuk menghubungi Beni. Di katakan jika dia ingin Beni segera terbang ke Pulau B. Hari ini juga, dia harus sudah tiba paling lambat nanti malam. Beni yang di seberang sana pun, mengiyakan perintah Bosnya.


Viola tersenyum mendengar percakapan antara Arkana dan Beni. Dia merasa senang, pemintaannya sudah dikabulkan. Sekarang giliran Viola, untuk mencari cara agar Nadira mengungkapkan perasaannya pada Arkana.


Karena Viola sudah selesai memeriksa luka Arkana. Dia diminta menunggu dilantai bawah. Sedangkan Arkana pergi ke kamar kecil untuk panggilan alam.


Ketika Viola hendak keluar dengan membawa tasnya. Dia seperti mendengar suara langkah kaki. Suara itu semakin dekat, terdengar samar-samar langkah itu. Viola yang hendak keluar membuka pintu, seketika terhenti.


Viola mulai memikirkan cara agar Nadira semakin cemburu. Lantas perasaan yang sebenarnya Nadira rasakan. Akan segera dia sadari, lalu diutarakan kepada Kak Arka.


Ting. Viola tersenyum saat satu ide briliant melintasi otaknya.


Dia pun segera melakukanya.


Di dukung oleh keadaan kamar yang sunyi dan tanpa kehadiran Kak Arka. Ia memulai aksi.


"Ahh, emm, ahh, hmm."


Ia berusaha sedemikian rupa, agar suaranya terdengar sexy. Seolah ******* ini nyata, seperti aslinya.


Beberapa detik berlalu, Viola hanya diam di dekat pintu. Dia merasa beruntung akan idenya. Karena Kak Arka belum juga keluar dari ruangan itu.


Viola menunggu, agar Nadira membuka pintu. Berharap Nadira akan marah. Lalu tidak sengaja menunjukkan perasaannya kepada Arkana. Namun sudah banyak waktu terbuang. Nadira tidak juga memasuki kamar itu.


Sekuat tenaga Viola menahan tawa, karena kelakuannya ini.


Beberapa menit kemudian, di meja makan.


"Kamu pacar Kak Arka?" Viola sengaja bertanya, walau dia sudah tau jawabannya.


"Bukan!" Tegas Nadira. "Kamu?" Ia bertanya balik kepada Viola.


"Bisa iya, bisa bukan. Tergantung kamu, sih." Jawab Viola dengan wajah lugu. Suaranya terdengar sangat imut.


"Maksud kamu, apa? Mau kalian pacaran atau enggak. Bukan urusan ku!" Nada Nadira terdengar kesal.


Di raih gelas berisi milk tea. Lalu Nadira meneguknya beberapa kali. Mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kacau.


Senyuman Viola semakin melebar. Saat sadar jika minuman yang dibuat untuknya. Ternyata diminum sendiri oleh pembuatnya.


Dari gerak gerik Nadira, Viola sangat yakin jika Nadira sedang kacau. Kesal karena rasa cemburu yang tak disadarinya. Cemburu karena kehadiran wanita lain yang tak dikenal. Tetapi terlihat akrab dengan Kak Arka.

__ADS_1


"Kalau kamu suka Kak Arka, aku bisa kasih. Tetapi kamu- "


"Kamu kira aku mau? Cinta gak bisa semudah itu untuk dilepas ke orang lain." Nadira sedikit membanting gelas saat meletakkan di meja.


"Aku cuma- "


"Cuma apa? Kalau kamu udah gak suka. PUTUSIN!. Kenapa cari orang lain untuk gantiin posisi kamu. Apa aku terlihat seperti pengemis cinta?"


Nadira dengan cepat bangkit dari tempat duduknya. Lalu berjalan pergi meninggalkan Viola seorang diri. Sekali pun tidak menengok kebelakang.


"Huh." Viola merasa tidak percaya. Dengan yang baru saja terjadi. Beberapa kali perkataannya disela, dia merasa sangat geram. Ingin marah, tapi orangnya udah pergi.


Terus! Gimana dong? Aku marahnya sama siapa? Mana milk tea ku diminum lagi, sama dia. Kesel!.


Diraih gelas berisi milk tea itu. Lalu diminum olehnya sampai tak tersisa.


Brrak.


Suara gelas yang diletakkan  dengan kuat oleh Viola. Pikirnya. "Bagaimana bisa, sifat dua orang ini begitu mirip. Padahal aku ingin sekali menyebutnya kakak. Jika saja dia benar jadian dengan kak Arka."


Di ruang tengah Villa Arkana.


"Gitu ceritanya." Viola terlihat sedih dan merasa bersalah.


"Tapi! Aku gak tau kalau wanita itu marah sampai pergi dari sini." Imbuh Viola, membela dirinya. Merasa jika tidak sepenuhnya ia bersalah.


"Terus. Kenapa kamu tidak ceritakan semuanya. Saat kemarin ku telepon. Kamu cuma bilang kalau Nadira cemburu, karena kamu mengaku jadi pacarku."


Perkataan Arkana seolah menusuk jantung Viola. Ia merasa mati sedetik karena kalimat panjang ini.


Sedang Sally, Beni dan Surya hanya diam tak bersuara. Sebenarnya Beni ingin membela kekasihnya. Namun dia tau jika ini salah Viola. Maka Viola lah yang harus menjawabnya.


"Aku pikir, itu jawaban yang Kak Arka mau. Lagian aku enggak ngira, wanita itu akan marah beneran."


"Namanya Nadira. Bukan wanita, cewek, gadis atau perempuan!" Arkana semakin marah karena kesalahan Viola dalam menyebut wanitanya.


"Jadi, Kak Arka. Aku minta maaf ya?" Sesal Viola dengan sungguh-sungguh ingin meminta maaf.


"Dengan syarat."


Viola dan semuanya dibuat tertegun dengan jawaban Arkana. Tetapi tidak masalah. Asal Arkana memaafkan kami semua. Syarat apa pun akan kami lakukan untuk itu.

__ADS_1


"Buat Nadira kembali tinggal di Villa ini. Selamanya!" Tegas Arkana dengan syarat yang dia buat.


Ke empat orang ini pun tersenyum. Lalu mengangguk bersamaan. Tanpa menyadari bagaimana melaksanakan syarat itu. Mereka hanya terus menganguk dan berkata. Oke. Baiklah. Setuju. Siap. Mereka mulai tertawa lepas, merasa lega.


__ADS_2