Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Gadis Kuat


__ADS_3

Masih terlihat suasana basemant. Arkana tampak berada di dalam mobilnya. Diambil ponsel dari jok di sebelahnya. Terus memandangi layar ponselnya, dengan penuh senyum di wajah.


"Untung otak gue nggak kalah pinter, lawan cewek cuek. Dapet juga nomornya." Arkana menunjukan senyum liciknya.


Ternyata mobil Arkana dalam keadaan baik. Ia meminjam ponsel Dira untuk menelpon bengkel, adalah alasan agar dia mendapatkan nomor Nadira. Yaitu dengan cara menelpon nomor Arkana sendiri. Sedangkan ponsel Arkana di letakkan di dalam mobil dalam mode silent.


Selesai menatap ponselnya, Arkana pun mulai menyalakan mobil dan melaju keluar dari basemant untuk pulang ke Villa.


Di sisi lain terlihat Nadira sedang berada di persimpangan lampu lalu lintas. Lampu mulai berwarna hijau menandakan 'Boleh mulai berjalan dengan hati-hati' Nadira nampak me-starter motornya. Namun mesinnya tak mau menyala.


"Kenapa nih motor, kok gak mau hidup sih?" Tanya Nadira pada diri sendiri.


"Kenapa dek?" Tanya pengendara motor lainnya.


"Mogok Buk." Nadira menolehkan wajahnya sebentar.


"Oh. Bawa ke tepi jalan dulu aja, keburu macet yang di belakang tuh!" Kata ibu itu menasehati, sambil menunjuk ke arah belakang.


Nadira pun menengok kebelakang. "Waduh. Iya deh. Maksih buk ya."


"Sama-sama." ibu itu pun pergi melaju dengan motornya.


Sedangkan Nadira, mulai mendorong motornya ke tepi jalan.


Tinn .. Tinn. Tinn.


Terdengar suara klakson mobil mulai mendekat dan berhenti.


"Hai cewek, kenapa motornya?" Tanya salah satu pria di dalam mobil itu.


"Mogok kak." jawab Nadira, berharap akan dibantu.


"Mau kita anter gak? motornya tinggal aja." Kata Pria yang lain dari kursi belakang.


"Terimakasih, tapi tidak perlu." jawab Nadira santai. Merasa salah, jika berharap dibantu.


Tiga pria yang di dalam mobil tampak turun dari mobilnya dan menghampiri Nadira.


Nadira yang bersikap acuh tak acuh, masih sibuk dengan mengotak atik motornya itu.


"Udah ikut kita aja, kita anter sampei rumah. Pasti aman kok, tenang aja!" kara salah satu Pria yang lain.


"Terimakasih. Tapi maaf, saya tadi sudah katakan, TIDAK PERLU. Jadi! kalian pergi saja." Jawab Nadira tegas.


"Jangan gitu dong, kita kan cuma mau menolong kamu." Ucap Pria yang satu lagi dengan nada rayuannya.


"Maaf! Saya sudah katakan tidak perlu." Tegasnya, cuek.


Ketiga Pria itu pun terlihat kesal, mereka masuk kedalam mobil.


"Gimana, kalau kita paksa aja itu cewek. Kita bawa ke bar, bisa buat mainan kita malam ini. Sayang kan kalau di tinggal gitu aja." Ide salah satu Pria dengan senyum liciknya.


"Lagian lihat mukanya, cantik banget!" Lanjutnya.


"Boleh juga, lagian siapa suruh dia sombong sama kita." Jawab kedua Pria lain menyetujui perkataan temannya itu.


Mereka pun mulai berjalan lagi menuju Nadira. Dengan penuh niat jahat, mereka pun menarik tangan Nadira dengan paksa. Mencoba membawa Nadira masuk ke dalam mobil mereka.


***


Disisi lain Arkana sedang mengendarai mobilnya dengan pelan. Sembari mendengarkan musik regae. Tiba-tiba Arkana sepintas melihat Nadira di pinggir jalan sedang di kelilingi oleh tiga pria.


"Kenapa dia di situ! Tiga cowok itu?" Kata Arkana. Melihat suasana didepan sana dari tempatnya.


"Apa-apaan itu?" Arkana tampak kesal melihat Nadira di tepi jalan, bersama tiga pria.


"Loh loh, kenapa Nadira di tarik-tarik gitu?" Arkana terkejut, melihat ketiga pria itu menarik paksa gadis yang ia sukai.


"Gue kira temannya, Ssiit!" Gerutu Arkana penuh emosi. Ia menginjak gas mobilnya. Dengan cepat melaju ke depan sana.

__ADS_1


Arkana pun turun dari mobilnya. Melihat mobil itu bergoyang-goyang. Arkana tampak khawatir dan emosi. Dia pun mencoba membuka pintu mobil itu.


"Sial, di kunci dari dalam. Gimana nih?"


Arkana terlihat bingung. Wajahnya memerah karena amarah.


Sedangkan mobil itu masih terlihat begoyang-goyang tanpa henti. Arkana semakin khawatir terhadap Nadira yang ada di dalamnya.


Drakk. Draakk.. Dakk.. Prakkk.


Dipukul kaca mobil itu dari luar.


"Buka pintunya." NjiiiR.


"Sialan kalian. Awas aja kalau sampai Nadira kenapa-kenapa, BAKAL MATI KALIAN. Cepat buka pintunya." Arkana terus berteriak sembari mengintip di jendela namun tak terlihat. Tampak hitam saja dari luar.


Arkana yang tak kehabisan akal. Ia mulai berjalan ke arah mobilnya. Terlihat ia membuka bagasi belakang dan mengambil donkrak. Digenggam oleh tangan kanannya.


Arkana berdiri tepat di depan mobil itu. Ia mengarahkan dongkrak yang di tangannya kearah kaca mobil.


Duuakk. Duakk. Duarrrk.


Arkana terus memukul kaca depan mobil itu.


DUAK. DUAK. Bruaak. Prraang.


Pecah lah kaca depan, Arkana tampak senang.


"Akhirnya. Tapi kok mobilnya gak goyang-goyang lagi?" Arkana bingung. "Jangan-jangan Nadira..." Arkana kembali khawatir.


Klek. Bruaak.


Terdengar suara pintu mobil itu terbuka.


Muncul Nadira yang keluar dari dalam mobil. Ia tampak membersih kan dan merapikan pakaiannya yang kusut.


Arkana yang melihat Nadira keluar dari dalam mobil, seketika terkejut. "Kamu.. Kamu enggak apa-apa?" Arkana berjalan cepat mendekati Nadira.


Arkana tak menghiraukan Nadira, Arkana melihat kedalam mobil. Terlihat ketiga Pria tadi semua tergeletak tak bergerak sedikit pun. Sepertinya mereka pingsan.


Arkana menunjuk pria yang ada di dalam mobil. "Mereka?" Tanya Arkana sembari melihat Nadira.


"Cuma pingsan kok, jangan panik." Jawabnya santai. "Lagian salah mereka sendiri, cari gara-gara sama aku." Imbuhnya cuek.


"Aku terkejut kamu bisa beladiri, buat aku makin penasaran." Kata Arkana kagum dengan menatap mata Nadira penuh senyum pujian.


"Cuma seni pertahanan diri, kenapa sampai buat kamu penasaran? Aneh Banget!" Jawab Nadira sembari menaikan sebelah alisnya. Ia merasa aneh dengan kalimat pria itu.


"Aku takut itu bukan hanya sekedar seni pertahanan diri biasa. Sampai membuat tiga pria terkapar." Jawab Arkana kagum.


"Kayaknya gak penting deh bahas itu." Jawab Nadira tegas.


"Hmm. Ya, yang penting kamu gak kenapa-kenapa. Soal mereka, nanti aku telepon polisi. Kayaknya mereka habis minum-minum juga, bau mobilnya nyengat banget." Kata Arkana.


"Hm." Nadira mengangguk setuju saja.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu di sini?" Tanya Arkana.


"Motorku mogok," jawab Nadira.


"Oh, aku kira kamu lagi kerja!" Kata Arkana dengan nada mengejek.


"Maksud kamu apa, huh?" Ketus Nadira.


"Yah, cewek cantik di tepi jalan, di kelilingi tiga cowok." Imbuh Arkana seraya memutar bola matanya.


"Kamu! Jangan sembarangan ngomong." Nadira melebarkan matanya dan mencubit lengan Arkana.


"Hehe." Arkana tertawa. Cubitan itu bahkan tidak terasa sakit. Arkana pun menuju motor Nadira, dan mencoba untuk memperbaikinya.

__ADS_1


Lima menit kemudian.


"Sepertinya mesin motor kamu baik-baik saja." Kata Arkana.


"Enggak mungkin, mesinnya gak mau nyala dari tadi." Jawab Nadira.


"Yah, kalau gitu coba kita lihat tangki motornya." Kata Arkana.


Dibuka tangki bensin motor Nadira. Setelah terbuka, Arkana tertawa terbahak-bahak.


Haha haha.. Haha.


Pria itu tertawa sampai perutnya terasa kaku. "Kenapa?." Tanya Nadira polos.


Tangan Arkana menunjuk tangki. "Coba lihat bensin kamu dulu. Sampai lebaran monyet juga! Motor kamu gak mungkin nyala. Bensinnya aja gak ada." Arkana terus terkekeh. "Ada-ada aja".


Nadira melihat tangki motornya yang kosong melompong. Bahkan bau bensin saja hampir tidak ada. "Sial, kenapa gak terpikir dari tadi sih." Gumam Nadira kesal. "Kan jadi malu." batin Nadira.


"Ayo, aku anter kamu pulang." Kata Arkana dengan senyuman manis.


"Enggak perlu, aku tinggal isi bensin aja kan." Jawab Nadira.


"Yakin? Jauh loh pertaminanya! Apa sanggup jalan kaki sambil dorong motor gede ini sampai kesana, ha?" Kata Arkana memprovokasi, sambil mengelus tangki motor Nadira.


Nadira memanyunkan bibirnya sambil berkata sendiri dalam hati. "Iya juga, aku harus jalan sejauh 2km lagi untuk sampai pertamina. Ah, Gak sanggup bayangin". Dan akhirnya.


"Apa enggak ngerepotin kamu?" tanya Nadira sedikit canggung.


"Ya enggak lah. Yuk!" Ajak Arkana semangat. "Kunci motornya tinggal aja!" Imbuhnya.


"Jangan, nanti hilang." Jawab Nadira.


"Ini BALI, Dir. Nanti aku suruh orang untuk ambil motor kamu. Terus anter kerumah kamu. Gimana?" Kata Arkana.


"Oke deh," jawab Nadira.


Arkana dan Nadira pun meninggalkan tempat itu. Tak lama mereka pergi, datang polisi ke tempat itu. Polisi menangkap ketiga pria yang baru sadar dari pingsan. Membawa ketiga pria itu ke kantor polisi.


Di dekat sebuah gang, mobil Arkana berhenti.


"Terimaksih ya, maaf merepotkan kamu." Ucap Nadira sembari melepas sabuk pengaman.


"Sama-sama, oh ya nanti aku suruh orang anter motor kamu ke alamat ini." Jawab Arkana.


"Iya, makasih sekali lagi." sahut Nadira.


"Kapan-kapan bisa jalan bareng gak?" Tanya Arkana.


"Maaf, aku sibuk banget."


"Ya, hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih. Jalan sekali aja, makan malam atau nonton?" Tawar Arkana.


"Yah, oke lah. Nanti aku kabarin kalau lagi luang. Tapi cuma sebagai ucapan terimakasih, gak lebih!" Tegas Nadira cepat, takut Arkana salah paham.


"Oke, bagi nomor wa kamu."


"Enggak perlu, kalau udah ada waktu luang. Aku yang kabarin ke kamu langsung. Lagian kita juga satu tempat kerja kan." Jawab Nadira.


"Oke, janji ya." Tanya Arkana.


"Iya, janji." "Ya udah, aku turun. Biar kamu bisa pulang, hati hati." Nadira turun dari mobil dan berjalan masuk ke gang tempat kosnya.


"Dasar! bener-bener cuek banget sih dia ini. Minta nomor wa aja, gak di kasih! Haha."


Arkana pun mulai melaju dengan mobilnya, menuju ke arah Villa barunya. 40 menit kemudian. Arkana tiba di Villanya.


Di dalam kamar. Arkana menelpon seseorang untuk membawa motor Nadira ke kosnya. Setelah itu Arkana pergi mandi, lalu tidur dengan nyenyak.


Bersambung...

__ADS_1


Pict Arkana. Pemanis ❤️❤️❤️



__ADS_2