MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Nasehat untuk Cilla


__ADS_3

Jam 4 sore Cilla, tante Siska dan Theo akhirnya menyusul ke rumah sakit setelah om Rio mengabarkan kalau dokter meminta papi Rudi untuk rawat inap semalam karena tidak cukup waktu sehari untuk menyelesaikan serangkaian tes yang akan dijalani oleh papi Rudi.


Atas permintaan papi Rudi juga, Theo dan tante Siska tidak berani menyinggung apapun masalah sakit papi Rudi.


“Papi kok sampai harus dirawat segala, sih ? Memangnya papi sakit apa ?” tanya Cilla setelah sampai di kamar ruang rawat papi Rudi.


Theo, tante Siska dan om Rio saling berpandangan, berharap cemas menunggu jawaban papi Rudi.


“Cilla ingat cerita tante Siska kalau salah satu ginjal papi adalah milik mami, kan ?” tanya papi Rudi sambil tersenyum dan membelai kepala putrinya. Cilla mengangguk, mengiyakan pertanyaan papinya.


“Jadi papi harus rajin-rajin tes kesehatan untuk memantau fungsi ginjal papi.”


“Terus apa segitu parahnya sampai harus dirawat seperti ini ?”


“Semoga aja nggak ada masalah,” sahut papi Rudi. “Semoga papi sehat-sehat aja. Kan papi mau lihat Cilla menikah dengan Arjuna dan kasih papi cucu yang banyak.”


“Iihh papi dari kemarin omonginnya cucu melulu. KTP aja belum punya, Pi. Masih bau kencur,” sahut Ciila dengan wajah tersipu.


Terlihat helaan nafas kecewa dari Theo dan tante Siska. Mulut mereka gatal karena ingin menyampaikan masalah yang sebenarnya pada Cilla.


Namun ada perasaan sedih di hati keduanya saat teringat perbincangan mereka dengan papi Rudi sesaat setelah papi Rio menghubungi Theo. Kebetulan saat itu Cilla masih berada di kamar mandi.


“Tolong jangan bicara apapun dengan Cilla soal penyakitku ini. Ijinkan aku memiliki kenangan indah di hari raya dan tahun baru ini. Aku telah kehilangan momen ini selama sebelas tahun, jadi tolong biarkan aku merasakan kebahagiaan bersama Cilla di tahun ini. Semoga saja ini bukan yang pertama dan terakhir setelah sebelas tahun menghindarinya.”


Tante Siska langsung menangis setelah menutup sambungan telepon dengan papi Rudi. Theo hanya bisa memeluk mami Siska dan menenangkannya.


Sejak kepergian mami Sylvia, papi Rudi memang terpuruk dalam kesedihan dan penyesalannya. Melewati setiap hari raya dan tahun baru dengan putri tunggalnya tanpa sesuatu yang spesial.


Bahkan sejak divonis sakit kanker getah bening, papi Rudi benar-benar menghindari perayaan hari raya, tahun baru bahkan ulangtahun Cilla, meski tidak pernah absen mengirimkan banyak hadiah untuk Cilla.


“Memangnya kamu nggak mau kasih papi cucu yang banyak ?” ledek papi Rudi sambil tertawa.


“Memangnya Cilla anak kelinci atau kucing ? Sekali melahirkan langsung dapat banyak,” sahut Cilla sambil terkekeh.


“Cilla itu anak bebek, Om,” celetuk Theo sambil tertawa. “Anak bebek kesayangannya Arjuna.”


“Kak Theo iri ya ? Makanya jangan kelamaan jomblo,” cebik Cilla.


“Nggak ada teman kamu yang bisa dikenalin sama Theo, Cil ?” om Rio ikutan buka suara.


Tante Siska lebih banyak diam dan memperhatikan interaksi Cilla dengan papi Rudi. Ada kesedihan membias di wajahnya, membuat Cilla sempat bingung dibuatnya.


“Memangnya om Rio mau juga punya menantu anak abege ?”


“Selama Theo-nya cinta dan sama-sama suka sepertinya nggak masalah. Asal jangan anak SD aja,” sahut om Rio sambil tertawa.


“Iya kali aku sukanya sama anak SD,”sahut Theo sambil memutar bola matanya. “Yang ada anak papi yang ganteng ini disangka pedofil.”


Cilla, papi Rudi dan om Rio tertawa, sementara tante Siska hanya senyum-senyum saja.

__ADS_1


“Tante kok melow ?” tanya Cilla sambil mengernyit. “Mikirin jagoan Tante masih belum dapat pacar, ya ?”


“Iya,” sahut tante Siska cepat. Ia menyadari kalau raut wajahnya tidak bisa menutupi perasaannya yang sedang sedih memikirkan nasib putri mendiang adiknya ini.


“Tante juga bingung kenapa belum ada cewek yang dikenalin. Padahal muka ganteng, kantong tebel, mobil mentereng. Nggak tahu sukanya sama cewek model gimana,” gerutu tante Siska sambil menatap ke arah putranya. Ia berusaha bersikap biasa lagi.


“Mami jangan ikutan deh… Rempong kalau emak-emak sosialita mulai buka suara. Theo kan lagi cari sesuai persyaratan yang mami minta,” Theo balas meledek maminya.


“Memangnya kriteria khusus apa yang tante minta, Kak ?” Cilla dengan jiwa keponya langsung mendekati Theo yang duduk di sofa. Ia duduk di pegangan sofa sambil merangkul pundak Theo.


“Yang pintar, cakep dan seksi, jago masak, pintar ngurus suami luar dalam, pintar ambil hati mertua, pintar bikin anak, pintar….”


“Eh kamu jangan ngadi-ngadi, ya !” Protes tante Siska sambil melotot. “Itu mah peryaratan yang kamu buat sendiri. Sejak kapan mami bikin list syarat-syarat calon mantu.”


“Wuuiihh tante Siska ternyata gaul juga, nih. Bukannya memang hobi Kak Theo suka ngadi-ngadi ?” Ledek Cilla sambil mencibir ke arah kakak sepupunya.


“Terus maksudnya gimana Kak, bisa ngurus suami luar dalam ?” alis Cilla menaut.


“Percuma dijelasin, KTP aja belum punya, dijelasin nggak bakalan ngerti,” sahut Theo sambil mencibir membuat Cilla langsung melotot.


“Jadi ada nggak teman kamu yang memenuhi syarat tadi, Cil ?” tanya om Rio kembali.


“Ada sih,” Cilla mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk, ekspresi wajahnya seolah sedang berpikir serius. “Mau Febi atau Lili ?”


Cilla mengerling ke arah Theo yang langsung membelalakan matanya lalu menggeleng cepat.


“Diihh ogah banget deh,” cebik Theo. “Yang satu over limit dan yang satu lagi terlalu pelit bicara.”


“Aahh kalau Arjuna mah cinlok doang… Apalagi begitu tahu kalau anak kecentilan ini ternyata anak yang punya sekolah. Sebagai pria yang sudah berpengalaman, pasti langsung pilih strategi nempelin yang bisa menaikan karir.”


“Iiihh Kak Theo tuh kalau ngomong suka bikin orang nethink melulu. Cilla kenal sama Mas Juna sebelum dia resmi jadi guru di sekolah. Bilang aja iri, boss !” Cilla menjulurkan lidahnya pada Theo dengan wajah cemberut.


”Dasar bocil, diledekin begitu aja udah baper. Anak bebek bucinnya Arjuna,” cebik Theo sambil tergelak.


Cilla langsung bangun dan mencubit pinggang Theo.


“Aaw…aaww.. sakit Cilla.”


“Masih berani ngomong asal pakai ngejelekin Mas Juna ?” tanyaCilla dengan muka galak mendekati wajah Theo yang masih meringis.


”Iya nggak…Nggak ngejelekin calon suami kamu lagi deh,” Theo mengangkat dua jari membentuk huruf V.


“Awas ya kalau masih begitu !” ancam Cilla.


Theo beranjak dari kursinya sambil mengusap pinggangnya yang habis dicubit oleh Cilla. Ia pun berjalan menuju ke pintu kamar.


”Dasar bucinnya Arjuna !” Ledek Theo sambil menjulurkan lidahnya dari balik pintu.


Belum sempat Cilla mengerjarnya, Theo sudah menghilang di balik pintu.

__ADS_1


“Memangnya kamu mau menikah cepat-cepat sama Arjuna ?” tanya om Rio setelah suasana kembali tenang.


“Nggak dalam waktu dekat, Om. Minimal sampai Cilla selesai kuliah, biar layak jadi istrinya Mas Juna.”


“Loh kok kamu ngomongnya begitu, Cil ? Memangnya apa yang buat kamu merasa nggak layak kalau sekarang menikah dan jadi istrinya Arjuna ?” tanya tante Siska sambil mengerutkan dahi.


“Iya Cilla pikir omongan kak Theo ada betulnya. Sekarang Cilla cuma anak kecil yang bisanya merengek dan jadi beban buat Mas Juna,” ujar Cilla sambil tertawa getir.


“Jadi istrinya Mas Juna harus bisa jadi pendamping yang sesuai juga. Apalagi setelah Cilla lulus SMA, Mas Juna akan kembali mengurus perusahaan papa Arman dan kalau papi butuh, harus membantu usaha papi juga. Jadi Cilla mau sekolah yang tinggi biar pintar dan bisa mengimbangi Mas Juna untuk mengurus usaha orangtua.”


Tante Siska terenyuh. Apa yang disampaikan papi Rudi ada benarnya, pikiran Cilla masih sederhana, sesuai dengan usianya saat ini.


“Cilla,” tante Siska mendekat dan meraih satu jemari Cilla ke dalam genggamannya. “Menikah dan menjadi istri bukan berarti kita harus berubah jadi super woman. Suami istri sama-sama bertanggungjawab atas rumah tangga mereka dengan tugas utama yang berbeda. Sudah tugas suami bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya, sementara istri selain melahirkan, punya tanggungjawab mengurus rumah tangga. Mendidik dan membesarkan anak-anak saja merupakan tanggungjawab bersama, bukan hanya tugas istri sebagai ibu, tapi peran suami sebagI ayah dibutuhkan juga.”


“Tapi Cilla ingin jadi wanita karir juga, Tante, biar tetap bisa mengimbangi suami yang pasti butuh teman bicara atau bertukar pikiran.”


“Menjadi teman bicara dan bertukar pikiran tidak selalu tentang pekerjaan, Cilla,” nasehat om Rio.


“Om yakin kalau di perusahaan papi atau papamu pasti sudah banyak staf ahli yang sangat kompeten di bidangnya. Namun begitu sampai di rumah, seorang suami ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa harus menjaga image dan wibawanya sebagai pemilik dan pemimpin di perusahaan. Sebagai manusia biasa, mereka ingin juga dimanja, diperhatikan, dimaafkan saat melakukan kesalahan tanpa menjatuhkan harga diri dan martabatnya, didengarkan keluh kesahnya tanpa dihakimi dan yang utama, seorang suami akan merasa luar biasa bahagia apabila dirinya merasa dibutuhkan oleh istri dan anak-anaknya, bukan karena ia pencari nafkah yang menopang kebutuhan ekonomi, tapi sebagai bagian penting dalam hidup istri dan anak-anaknya. Seperti tantemu tadi bilang, tanggungjawab membesarkan dan mendidik anak tidak hanya milik istri sebagai seorang ibu, tapi peran suami sebagai ayah juga sama pentingnya dan sangat dibutuhkan. Karena anak lahir di tengah keluarga sebagai hasil kerjasama suami istri yang didasari oleh cinta. Apa bisa seorang perempuan punya anak tanpa adanya laki-laki sebagai sumber benihnya ? Atau ada laki-laki yang bisa memiliki keturunan tanpa perempuan yang menjadi tempat persemaian benihnya ?”


“Arjuna pasti sudah memikirkan segala resiko saat memutuskan untuk melamar kamu jadi calon istrinya. Apalagi kamu dipilih bukan karena perjodohan kedua orang tua kalian,” tante Siska mengusap-usap punggung keponakannya dengan penuh kasih sayang.


“Arjuna bahkan berat melepaskanmu saat disuruh memilih oleh papa Arnan antara kamu dan jodoh yang sudah dipilihkan oleh papa Arman karena ia begitu mencintaimu, Cilla,” nasehat papi Rudi menambahkan ucapan tante Siska dan om Rio.


“Saat itu, papa Arman sengaja menunda memberitahu Arjuna tentangmu untuk memantapkan perasaan Arjuna pada Cilla. Dan ternyata meskipun harus menentang kehendak orangtuanya, Arjuna tetap memilihmu bahkan tidak ragu melamarmu untuk menjadi istrinya,” ujar tante Siska kembali.


“Kok tante tahu ?” Cilla mengernyit sambil menatap tante Siska.


“Tentu saja papa Arman bercerita pada kami saat berkumpul waktu itu. Tante juga tahu bagaimana Arjuna marah karena merasa dipermainkan oleh Cilla saat tahu kalau dia adalah orang terakhir yang tahu kalau kamu dan jodoh yang dipilih oleh papa Arman adalah orang yang sama,” sahut tante Siska sambil tertawa pelan.


Cilla mengangguk-angguk sambil ikut tertawa pelan. Dia masih ingat bagaimana Arjuna mendiamkannya sampai berhari-hari.


“Jadilah diri sendiri, Cilla,” papi Rudi memberi isyarat supaya putrinya mendekat.


Cilla menurut dan mendekati papi Rudi dengan tatapan sendu. Cilla pun duduk di pinggir ranjang dekat papi Rudi yang langsung merangkul bahu putrinya.


“Bersikap, bertindak dan bertutur katalah sesuai dengan usiamu. Jangan memaksakan diri menjadi dewasa sebelum waktunya. Kami semua, calon mertuamu dan terutama Arjuna menyayangimu sebagai Cilla yang sekarang. Gadis imut yang belum tujuhbelas tahun. Dan ingat selalu pesan papi semalam. Kamu tidak lagi sendirian, sekarang sudah banyak orang yang peduli padamu. Seperti nasehat om Rio, salah satu cara membahagiakan Arjuna bukan dengan mengerti dan memahami semua tugasnya saat ini, tapi menjadikan Arjuna orang yang terpenting dalam hidupmu. Jadikan Arjuna tempatmu bersandar dan berbagi beban di hatimu. Sebagai pria yang lebih dewasa, Arjuna pasti akan menjadi teman curhat dan penasehat yang menyenangkan. Itulah salah satu cara membahagiakan calon suami, Cilla.”


“Dan Papi juga akan selalu jadi teman curhat Cilla, kan ? Papi nggak akan sering ninggalin Cilla lagi, kan ?”


Tanpa mampu dicegah, buliran air mata mulai menetes dari kedua sudut mata Cilla. Tante Siska menoleh ke arah lain karena ikut terharu dengan pemandangan di depannya. Tante Siska pun tidak mampu menahan air matanya.


Om Rio berpindah duduk di sebelah istrinya. Direngkuhnya bahu tante Siska untuk memberikan kekuatan dan ketenangan.


“Selama Tuhan memberikan papi waktu, sudah pasti papi akan selalu ada untuk Cilla. Maafkan papi karena pernah lama membiarkan Cilla sendirian dan merasa kesepian.”


Cilla menghambur dalam pelukan papi Rudi dan terisak di dada pria yang menjadi cinta pertamanya itu.


“Ya Tuhan, semoga Kau berikan yang terbaik untuk putriku ini. Sekalipun aku tidak memiliki waktu lebih lama lagi, berikan orang-orang yang selalu mencintainya tanpa membuatnya kesepian dan merasa sendirian lagi.”

__ADS_1


Papi Rudi berdoa dalam hati sambil memeluk erat putrinya dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2