MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bukan Tanda Restu


__ADS_3

Suasana makan malam terasa canggung meskipun Pak Darmawan tidak menyinggung apapun soal pernyataan Arjuna tentang statusnya dengan Cilla yang bukan lagi sekedar guru dan murid.


 


Perbincangan lebih banyak membahas soal pekerjaan dan masalah perkembangan sekolah, hingga akhirnya Arjuna memilih untuk pamit pulang sekitar jam 8.30 malam.


 


“Kamu pulang naik apa Arjuna ?” tanya Pak Darmawan yang sudah memanggil  pacar anaknya itu hanya dengan nama saja.


 


“Biasa dengan ojol, Om,” sahut Arjuna masih dalam situasi canggung sudah memanggil pemilik sekolah itu dengan sebutan Om. Itupun atas permintaan Pak Darmawan langsung.


 


“Tunggu sebentar,” Pak Darmawan kembali masuk dan meminta Arjuna bersama Cilla menunggu di ruang tamu.


 


Keduanya saling menatap sambil menautkan alis.


 


“Papi kamu marah ?” tanya Arjuna dengan nada sedikit cemas.


 


“Nggak kok, sejak dulu papi tidak pernah marah sama Cilla. Sekali-kalinya ngamuk pada saat Kak Luna dan Tante Sofia laporan kalau Cilla sudah membuat Kak Luna celaka.”


 


“Tapi sepertinya…..”


 


“Memangnya Mas Juna belum pernah menghadapi orangtua pacar ?” Cilla tertawa melihat raut wajah Arjuna yang cemas.


 


“Kamu lupa ?” Arjuna mengusap kepala Cilla.


 


Sontak gadis itu langsung membeku diperlakukan begitu manis oleh pria yang sudah mendeklarasikan dirinya  sebagai kekasih, bukan sekedar guru.


 


“Aku baru pernah pacaran sama Luna, dan papinya Luna itu ya ternyata papinya kamu juga. Jodoh memang tidak pernah ada yang tahu,” sahut Arjuna sambil terkekeh.


 


Ia buru-buru  menjauhkan tangannya dari kepala Cilla saat melihat Pak Darmawan sudah kembali dari dalam.


 


“Saya pinjamkan motor untuk mempermudah kamu bepergian sekaligus mengajar.” Pak Darmawan menyodorkan sebuah kunci lengkap dengan STNK nya.


 


“Tapi bukan berarti saya sudah menyetujui hubungan kamu dengan putri saya. Anggap saja ini fasilitas dari sekolah,” lanjut Pak Darmawan saat melihat wajah Arjuna tercengang tidak percaya.


 


“Saya mengerti, Pak… eh Om,” sahut Arjuna mengangguk dan menerima kunci motor yang diberikan oleh Pak Darmawan.


 


“Besok datang lagi kemari jam 8 pagi, saya perlu teman ngobrol. Jadi kamu kemari bukan untuk bertemu Cilla lagi” ujar Pak Darmawan dan diangguki oleh Arjuna.


 


“Kok hanya ketemu papi doang ? Memangnya kenapa nggak boleh ketemu Cilla ?” protes gadis itu sambiil cemberut.


 


“Urusan lelaki,” sahut Pak Darmawan sambil tersenyum penuh rahasia.


 


Cilla menggerutu, tapi tidak protes kembali. Malah matanya melirik dan menyipit melihat papi Darmawan memberikan kunci motor kesayangannya. Motor model sport yang hanya terparkir apik di garasi. Meski selalu dirawat oleh Bang Dirnan dan Bang Toga, motor itu sudah lama tidak melaju di aspal. Tidak ada yang diijinkan untuk membawanya termasuk Cilla.


 


“Kamu temani Arjuna ambil motornya, Cil. Papi mau mandi dulu,” ujar Pak Darmawan sambil tersenyum pada putrinya yang juga masih memasang wajah bingung dan tidak percaya.


 


Cilla hanya menggangguk dan memandang papinya yang kembali masuk ke dalam. Sebelum Pak Darmawan masuk, Arjuna sempat pamit sekali lagi.


 


“Gila !” desis Cilla sambil melangkah keluar rumah

__ADS_1


 


“Gila kenapa, Cil ?” Arjuna mengernyit sambil berjalan di sebelah Cilla.


 


“Motor yang dipinjamkan pada Mas Juna adalah kesayangan papi dan belum pernah ada yang diijinkan meminjamnya.”


 


Cilla masuk ke dalam garasi dan memanggil Bang Dirman dari pintu samping untuk membantu membuka garasi.


 


“Dijaga baik-baik, Mas Juna,” ujar Cilla sambil menatap Arjuna. “Sepertinya motor ini punya kenangan tersendiri buat papi. Bik Mina pernah cerita kalau semasa pacaran sampai sebelum mami hamil, papi dan mami lebih suka naik motor kemana-mana. Tapi sepertinya motor ini bukan yang dulu dipakai untuk mereka pacaran. Seingat Cilla, motor ini belum lama dibeli sama papi.”


 


Bang Dirman membantu mengeluarkan motor itu ke depan garasi setelah meminta kuncinya dari Arjuna.


 


“Wah Pak Guru, kalau sampai Tuan memberikan motor kesayangannya ini, berarti restu sudah di tangan, tinggal di gas pol aja,” goda Bang Dirman sambil tertawa.


 


Arjuna masih tidak percaya dengan kuda besi yang sedang dibersihkan oleh Bang Dirman di depan garasi. Bukan motor model sport terbaru, tapi memang terlihat sangat terawat. Bahkan saat Arjuna melihat speedometernya, kilometer penggunaan motor juga masih terbilang minim.


 


“Mas Juna,” Cilla menepuk bahu Arjuna sambil tersenyum. “Jangan kebanyakan melamun, nanti Cilla jadi cemburu. Jangan-jangan Mas Juna lagi mikirin cewek lain.”


 


“Satu anak bebek aja sudah bikin pusing, mau tambah yang lain, bisa-bisa gagal lulus kontrak di tahun ajaran baru nanti,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


 


“Jadi ceritanya udah cinta beneran nih sama anak bebeknya ?” Cilla berdiri di depan Arjuna dan mendongak dengan tatapan puppy eyesnya.


 


“Jadi kamu pikir aku cuma cinta monyet ? Nembak asal-asalan ? Belum cukup stempel di bibir kamu ?” sahut Arjuna sambil menyentuh bibir Cilla.


 


Cilla membelalak sambil melirik Bang Dirman yang sudah senyum-senyum mendengar ucapan Arjuna soal stempel bibir.


 


 


“Mas Juna iihh… ngomong nggak lihat-lihat tempat,” omelnya dengan wajah cemberut. “Main asal ceplos di depan Bang Dirman. Kalau nanti sampai dilaporin ke papi, bisa-bisa usaha Mas Juna langsung gagal sebelum berjuang.”


 


“Jadi punya malu juga  ?’ ledek Arjuna sambil mencibir. “Padahal waktu di Semarang, nggak ada malu-malunya ngomong suka sama aku di depan Pak Trimo sama Bik Mina. Waktu ban kamu sobek, nggak malu juga ngajak aku pergi di depan Dono dan Bang Diman.”  Arjuna tertawa sambil mengacak poni Cilla dengan gemas.


 


“Itu kan sebelum jadian,” sahut Cilla mengelak. Kakinya mulai terasa lemas diperlakukan begitu manis oleh Arjuna. Hatinya langsung melehoy dan sekujur badannya mulai panas dingin.


 


“Loh bukannya lebih malu karena belum jadian ? Kesannya kamu tuh cewek agresif banget,” ledek Arjuna sambil tertawa.


 


“Eh mana ada ya aku ini cewek agresif,” Cilla melotot menatap Arjuna yang tertawa.


 


“Buktinya di sekolah sengaja nabrak aku, sampai-sampai kita jatuh berpelukan di lantai,” ledek Arjuna sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Cilla yang mulai merona.


 


“Kalau yang itu kan bukan maunya Cilla. Itu kerjaan Febi sama Lili yang sengaja mendorong supaya Cilla jatuh di pelukan Mas Juna. Jangan mulai kambuh deh virus over pe-de nya,” gerutu Cilla dengan bibir yang tambah mengerucut.


 


Dalam hati, Cilla membenarkan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Arjuna. Hatinya mulai kepincut sejak duduk semeja berdua saat Arjuna masuk ke dalam kelasnya pertama kali dengan Pak Wahyu.


 


Arjuna hanya tertawa melihat Cilla diam saja. ia melihat Bang Dirman sudah mengambilkan helm dan jaket yang tadi dibawanya dan diletakkan di kursi penumpang mobil.


 


“Aku pulang dulu,” Arjuna kembali mengusap kepala Cilla sekilas.


 


 Ia berjalan menghampiri Bang Dirman yang masih berdiri di samping motor. Arjuna mengenakan jaketnya dulu, sebelum mengambil helmnya.

__ADS_1


 


Merasa Cilla tidak mengikutinya, Arjuna menoleh dan menatap pacarnya itu masih bergeming di tempatnya.


 


“Kamu kenapa diam di situ ?” Arjuna menautkan kedua alisnya.


 


“Sepertinya Cilla butuh CPR,” ujarnya dengan wajah sedih. “Jantungnya berasa nggak enak karena detaknya terlalu cepat. Lihat nih sampai tangan Cilla dingin semua.” Cilla mengulurkan tangan dengan posisi kedua telapak terbuka.


 


Bukannya khawatir, Arjuna malah tertawa, begitu juga dengan Bang Dirman yang tertawa pelan sambil membuang muka ke arah lain dan menutup mulutnya.


 


“Lebay,” Arjuna mencebik lalu memakai helmnya.


 


“Iiihh Mas Juna tega benar sih, ini beneran dingin semua” Cilla mengomel sambil menghentakkan kakinya ke tanah.


 


Arjuna masih tertawa dan mulai naik ke atas motor dan menghidupkan mesin. Ia pun membuka kaca helmnya.


 


“Ya udah masuk sana dan siram dengan air hangat di bawah kucuran wastafel. Sebentaran pasti sudah normal. Apalagi kalau aku sudah jauh dari kamu, pasti badan kamu nggak bakalan panas dingin dan jantungmu normal lagi,” ujar Arjuna sambil terkekeh


 


Cilla makin cemberut dengan bibir makin mengerucut. Matanya menatap Arjuna dangan kesal karena pria itu tidak ada peka-pekanya membujuk atau merayunya bahkan kalau perlu memegang tangannya.


 


“Kalau begitu Cilla mau suruh Jovan kemari aja,” sahutnya sambil berlari kecil kembali ke dalam rumah.


 


Mendengar nama Jovan, Arjuna langsung mematikan mesin motor dan bersiap membuka helm untuk mengejar Cilla. Hatinya tidak rela kalau sampai pacarnya menghubungi laki-laki yang begitu setia menanti cinta Cilla. Sudah pasti Jovan tidak akan menolak kalau sampai Cilla meneleponnya dan memintanya datang .


 


Belum sempat Arjuna turun dari motor, Bang Dirman mendekat dan memberi kode pada Arjuna untuk mengurungkan niatnya.


 


“Pak Guru lanjut pulang aja, nanti Non Cilla juga baik lagi. Maklum sudah lama tidak ada yang memberikan perhatian khusus, jadi sekali merasakan maunya tambah terus,” ujar Bang Dirman sambil tertawa, diikuti oleh Arjuna.


Apa yang dikatakan Bang Dirman memang ada betulnya. Beberapa hari terakhir, Arjuna melihat sisi lain Cilla. Sisi kanak-kanaknya yang manja, suka ngambek dan mencari perhatian.


Keadaan yang harus dijalani selama ini, membuat kekasih kecilnya itu berusaha terlihat tegar dan dewasa lebih dari umurnya.


 


“Besok-besok Pak Guru bisa balik lagi, kalau sekarang lebih baik pulang dulu. Soalnya Tuan masih memperhatikan dari jendela atas. Tapi Pak Guru jangan menoleh,” ujar Bang Dirman dengan pelan, seolah takut ada yang mendengar.


 


“Pak Darmawan ?” tanya Arjuna sambil mengerutkan dahi.


 


“Iya, saya melihat kalau Tuan memperhatikan Pak Guru sama Cilla dari jendela kamarnya. Daripada nanti tidak dapat restu, lebih baik Pak Guru langsung pulang saja.”


 


Arjuna menurut dan tidak berani mendongak ke lantai dua bangunan rumah Cilla. Ia percaya dengan ucapan Bang Dirman dan tidak ingin restu dari papi Cilla terhambat karena kelakuannya.


 


“Kalau begitu saya titip Cilla, Bang. Jangan sampai dia ngambek terus kabur,” ujar Arjuna sambil tertawa pelan.


 


Bang Dirman mengangguk dan memberikan jempolnya. Arjuna sempat mengangguk sekilas kemudian melajukan motornya meninggalkan rumah Cilla.


 


Melihat Arjuna sudah jauh dari rumahnya, Pak Darmawan tersenyum dari lantai dua dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2