MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bab 42 Aksi Menghindar


__ADS_3

Rencana Arjuna membantu Jovan dan Theo  untuk bersaing memenangkan hati Cilla ternyata tidak berjalan dengan mulus. Entah kenapa, sejak insiden ban sobek seminggu lalu, Cilla terlihat menjauh dari Arjuna.


 


Semula Arjuna pikir karena sekolah, khususnya kelas XII mulai disibukkan dengan berbagai tugas dan ulangan sampai Cilla tidak ada waktu untuk bersikap jahil padanya. Namun kejadian saat istirahat kedua membuat Arjuna bahkan Dono mengerutkan dahi. Cilla yang baru saja sampai di ujung tangga depan ruang guru, berbalik badan dan kembali naik ke lantai tiga , saat melihat Arjuna dan Dono sedang berjalan ke arahnya.  Bahkan Febi dan Lili dibuat melongo karena Cilla meninggalkan mereka tanpa bicara apa-apa, dan tujuan mereka mau ke kantin di lantai satu, bukan ke kelas di lantai tiga.


 


“Elo buat kesalahan apa lagi Bro, sampai tuh bocah langsung kabur begitu melihat elo ?” Dono menatap Arjuna dengan wajah serius.


 


Keduanya sudah ada di meja masing-masing dan mulai membuka pesanan makan siang mereka yang diberikan oleh pesuruh sekolah.


 


“Gue juga nggak tahu, Don. Terakhir ngomong sama tuh bocah waktu kejadian ban motornya sobek. Pas ketemu di hari Senin, dia udah mulai menghndar dan nggak jahil seperti biasanya.”


 


 “Mungkin dia tersinggung elo menolak mentah-mentah saran gue buat ajak dia makan,” Dono terkekeh, sambil  menyantap makan siangnya.


 


“Dasar cewek baperan, masa masalah begitu aja tersinggung. Lagipula penolakan gue waktu itu, bukan yang pertama juga kan ?” gerutu Arjuna. Ia pun sama mulai menyantap makan makan siangnya.


 


“Eiittss itu kan dugaan gue doang. Nggak ada salahnya elo cari tahu dong sama dia.”


 


“Hadeeuh ogah banget gue, Don. Bukannya beresin masalah, yang ada tuh bocil malah tambah baperan. Bisa-bisa dia pikir gue malah perhatian. Apa elo nggak inget pas gue bilang minggu lalu muka dia suntuk banget ? Bukannya kasih penjelasan malah bilang gue perhatian sama dia,” dengus Arjuna dengan wajah kesal. Dono hanya tertawa.


 


Selesai makan siang, Arjuna memeriksa jadwalnya. Arjuna menghela nafas karena dua jam pelajaran terakhir, ia akan mengajar di kelas Cilla. Untung saja saatnya ulangan matematika, jadi Arjuna tidak perlu sering tergoda untuk melirik Cilla yang sedikit mengabaikannya saat ia mengajar di depan kelas.


 


Tiba juga waktunya Arjuna mengajar di kelas Cilla setelah selesai dari kelas Jovan di XII IPA-1.


Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum membuka pintu kelas XII IPS-1. Suasana kelas yang sedikit ramai mendadak tenang begitu melihat wajah Arjuna, bahkan sebagian berubah tegang karena akan mengikuti ulangan siang ini.


 


Tanpa banyak protes, para murid membagikan kertas soal yang sudah disiapkan oleh Arjuna. Tidak lupa sesuai aturan yang Arjuna terapkan, setiap kali ulangan matematika, handphone wajib dikumpulkan di mejanya.


 


Arjuna yang memeriksa kertas ulangan kelas lain sambil mengawasi murid kelas XII IPS-1, mengernyit saat melihat Cilla sudah merebahkan kepalanya di atas meja. Tidak terlihat tangannya bergerak seperti orang menulis.


 


Bangun dari kursinya, Arjuna mendekati Cilla yang masih merebahkan kepalanya di atas tangan yang terlipat di atas meja. Tidak terlihat apakah pekerjaannya sudah selesai atau belum karena tertutup oleh tangan dan kepalanya. Arjuna melirik jam dinding yang ada di kelas, masih ada waktu 15 menit yang tersisa,


 


“Kamu sudah selesai, Cilla ? Kenapa nggak diperiksa ulang ?” Dengan tangan berada di belakang pinggangnya, Arjuna menegur Cilla yang tidak sadar kalau gurunya itu sudah berdiri sejak tadi.


 


Cilla mengangkat kepala lalu menggeser kertas ulangan yang sengaja ditindihnya. Ia mengangkat lembaran soal sekaligus jawaban dan membolak-baliknya, menunjukkan pada Arjuna sebagai jawaban atas pertanyaan guru itu.


 


“Ini kelas bukan kamar tidur,” uajr Arjuna dengan wajah galak. “Masih ada sisa waktu sekitar 10 menit, kenapa kamu nggak periksa lagi jawabanmu ? Kamu yakin sudah betul semua ?”


 


Cilla hanya menoleh sekilas menatap Arjuna lalu membaca kertas ulangannya, namun hanya dalam waktu 2 menit ia mengangguk dan kembali menindih kertas ulangannya di bawah tangan dan kepalanya yang sudah kembali direbahkan dengan pandangan menghadap ke jendela.


 


Arjuna menghela nafasnya dengan kesal. Ingin mengomel seperti biasa, namun suasana hening bisa jadi kacau dan mengganggu konsentrasi anak-anak yang masih mengerjakan soal.


 


Tidak lama bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid mengumpulkan lembaran jawaban mereka dengan berbagai reaksi dan komentar. Arjuna selalu memberikan soal ulangan yang tidak mudah dikerjakan.


 

__ADS_1


“Gue balik duluan besties,” Cilla yang sudah siap dengan tas ranselnya pamit pada Febi dan Lili.


 


“Buru-buru amat, sih ? Nggak jadi ke mal ?” Lili mengomel dengan wajah cemberut.


 


“Eh kutilang, besok itu masih ada ulangan sosiologi. Elo belajar aja nilai di bawah KKM apalagi kagak belajar,” Cilla menoyor jidat Lili sementara Febi hanya tertawa.


 


“Besok tukeran tempat sama Febi, kasih gue contekan,” ujar Lili yang masih merapikan bukunya ke dalam tas.


 


“Ogah bener gue kasih contekan buat elo. Udah sering dikasih contekan pe-er, masa ulangan kudu nyontek juga.  Tahu gitu gue suruh Pak Slamet kagak kasih elo naik kelas, biar sekolah makin untung karena elo kan harus bayar uang sekolah dobel,” Cilla terkekeh.


 


“Emangnya si papi masih kurang kaya, Cil ?” ledek Febi.


 


Ketiganya meninggalkan kelas paling terakhir. Niatan Cilla mau cepat pulang gagal karena ditahan oleh kedua sahabatnya.


 


Arjuna yang masih duduk di meja guru memperhatikan ketiganya. Tadinya ia ingin menahan Cilla dan menanyakan perubahan sikapnya.


 


“Cil,” bisik Febi setelah mereka benar-benar sudah di luar kelas. “Elo lagi perang dingin sama Pak Junjun ? Dari tadi dia ngeliatin elo kayak pengen ngomong gitu. Memangnya elo lagi marahan sama dia ?”


 


“Apa jangan-jangan elo kesel belakangan ini gara-gara ditolak sama guteng itu ?” Lili menimpali.


 


Cilla tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Bukannya ia tidak tahu kalau Arjuna pura -pura membereskan kertas ulangan yang baru dikumpul, untuk menunggunya berjalan melewati meja guru. Cilla juga sempat melirik wajah Arjuna berubah kesal karena ia hanya menganggukan kepala saat pamit, padahal kelas sudah sepi tadi.


 


 


“Hadeuh kayaknya tuh guru musti mandi kembang pakai air ciliwung kalau dapat jodohnya kayak elo,” Febi tertawa meledek Cilla dan membuat Cilla melotot.


 


“S**lan lo pake nyuruh tuh guru mandi kembang segala !” Cilla mengomel dengan bibir mengerucut. “Elo kira gue mahluk gaib yang kaburnya pakai air kembang.”


 


Febi dan Lili malah tergelak melihat wajah Cilla yang mengomel. Dan ternyata Arjuna sengaja berjalan di belakang  dan mendengar semua percakapan mereka, meski jaraknya lumayan jauh. Tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri mendengar semuanya itu.


 


“Pricilla !” panggilan itu membuat ketiga gadis yang sedang bercamda berhemti sebelum kaki menapaki tangga.


 


“M**pos loh Cil, jodoh elo memanggil,” Lili kerkikik.


 


“Semoga Pak Arjun nggak perlu mandi kembang air sungai Ciliwung.” Febi tergelak dan sengaja menarik Cilla yang sudah siap-siap kabur.


 


Posisi Arjuna sudah dekat dengan mereka dan tangan Cilla masih dipegang oleh Febi hingga sulit baginya untuk kabur.


“Saya nggak nyontek, Pak !” ucapan Cilla yang spontan malah membuat Febi dan Lili terbahak, sementara Arjuna dengan wajah coolnya hanya tersenyum.


 


“Siap-siap dimandiin air kembang sama Cilla, Pak,” celetuk Febi.


 


Cilla langsung menoleh menatap dua sahabatnya yang masih terbahak dengan mata melotot.

__ADS_1


 


“Mau gue sumpel pake sepatu masing-masing satu ?” gerutunya dengan wajah garang.


 


Febi dan Lili tidak menggubris dan masih terbahak. Cilla berusaha melepaskan sepatu pantofelnya, dan tanpa diduga, Febi dan Lili yang sudah saling memberi isyarat mendorongnya ke arah Arjuna.


 


Tidak siap menerima tubuh Cilla yang yang tiba-tiba terdorong ke arahnya, reflek Arjuna melepaskan map yang berisi kertas ulangan dan memeluk tubuh Cilla, Namun karena dorongan Febi dan Lili cukup kuat dan posisi mereka lumayan dekat, Arjuna jadi tidak seimbang dan akhirnya mereka terjatuh dengan posisi Cilla di atas tubuh Arjuna dan tangan guru itu masih memeluk pinggang muridnya.


 


Momen romantis yang tidak disengaja itu masih sempat-sempatnya diabadikan oleh Lili yang memang terkenal paling jahil dan abssurd di antara mereka.


 


Bukannya menolong, kedua sahabatnya malah meninggalkan Arjuna dan Cilla yang masih terkejut dan diam dalam posisi mereka.


 


“Bye bye bestie dan jodoh tersayang,” ledek Lili sambil bergegas menuruni tangga.


 


Cilla yang masih terkejut tidak membalas apalagi protes dengan kelakuan sahabatnya. Wajahnya memerah dan otaknya seperti berhenti tidak tahu harus bagaimana.


 


“Kamu bisa bangun, nggak ? Badan kamu berat, saya nggak bisa bergerak,” ujar Arjuna dengan nada galak.


 


Cilla yang akhirnya tersadar buru-buru bangun dan merapikan seragamnya. Dilirknya kertas ulangan yang dibawa Arjuna berserakan keluar dari dalam map plastiknya. Ia langsung merapikan kertas yang berantakan itu dan memasukan kembali ke dalam map, lalu menyerahkannya pada Arjuna.


 


“Maaf atas keisengan teman-teman saya, Pak,” Cilla menunduk dan sedikit membungkukkan badannya. Wajahnya masih memerah dan bertambah panas menahan malu. Belum lagi detak jantungnya yang terus berpacu makin kencang.


 


“Saya tadi mau tanya, kenapa seminggu terakhir ini kamu menghindari saya ? Kesalahan apa yang saya perbuat sama kamu ?”


 


Cilla mendongak dan memberanikan diri menatap Arjuna. Degup jantungnya semakin tidak karuan. Akhirnya dia cuma bisa menggeleng. Dan belum sempat Arjuna bertanya lagi, handphone Cilla berbunyi.


 


Buru-buru ia mengambil dari dalam tas ranselnya dan mengangkat panggilan dari Lili. Sahabatnya mengabarkan kalau ada cowok yang mencari Cilla dan menungggu di luar pagar sekolah.


 


“Cilla…” Arjuna baru memanggil namanya.


 


“Maaf saya pulang duluan, Pak. Pacar saya sudah menunggu di depan sekolah.” Cilla mengangguk dan tanpa menunggu jawaban Arjuna, ia bergegas menuruni tangga.


 


Arjuna tercengang mendengar ucapan Cilla barusan. Ia memegang dadanya yang mendadak terasa bergemuruh. Entah apa alasannya dadanya terasa penuh sesak dengan debar yang tidak tahu darimana datangnya.


Apa karena tadi jatuh berpelukan dengan Cilla atau mendengar gadis itu berkata kalau pacarnya sudah datang menjemput ?


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2