
Jam 11 malam Arjuna dan papa Arman tiba di rumah sementara papi Rudi sudah diantar pulang lebih dulu. Malam ini Arjuna dan Cilla masih menginap di rumah papa Arman.
“Cilla udah bobo, Ma ?” tanya Arjuna saat hanya mama Diva yang menyambut kepulangan mereka.
“Iya sudah dari jam 8 masuk kamar dan sepertinya malam ini tidur di kamar Amanda.”
“Loh ? Cilla lagi sakit ? Memangnya tiap malam Cilla tidur di kamar Manda ?”
“Jun, kamu nanyanya kayak polisi aja,” ledek papa Arman yang melihat mama Diva senyum-senyum melihat wajah putranya yang penasaran.
“Biar dulu aja Cilla tidur sama Amanda malam ini,” ujar mama Diva.
“Juna yang nggak bisa tidur tenang. Tahu Cilla ada di dekat Juna tapi nggak bisa tidur bareng.”
“Dasar bucin,” ledek papa Arman.
“Mengikuti jejak Papa,” Arjuna balas meledek papa Arman sambil berjalan ke arah tangga.
“Juna naik dulu Ma, Pa,” pamitnya sebelum meninggalkan kedua orangtuanya yang hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
“Oh iya, Ma,” Arjuna berhenti sebelum menapaki tangga. “Mama keren banget pas di sekolah Cilla,” puji Arjuna sambil mengacungkan jempolnya.
“Udah sana kelonan sama istri kamu,” perintah papa Arman sambil mengibaskan tangannya.
“Papa juga,” ujar Arjuna sambil terkekeh.
Arjuna meletakan tas bajunya di dalam kamarnya sebelum ke kamar Amanda. Sampai di depan pintu kamar adiknya, Arjuna baru teringat kalau Amanda suka mengunci pintu kamarnya.
Perlahan Arjuna mencoba membuka pintu dan langsung tersenyum karena pintu tidak dikunci.
Arjuna berlutut dekat Cilla yang tidur menghadap ke pintu. Dirapikan rambut Cilla yang menutupi wajahnya dan matanya mengernyit saat mendapati sisa-sisa air mata di wajah istrinya.
Perlahan Arjuna menggendong Cilla setelah menyibakkan selimutnya dan membawanya ke kamar Arjuna yang sekarang jadi kamar mereka.
Cilla mengerjap saat mendengar pintu kamar Arjuna tertutup.
“Mas Juna ?”
Arjuna hanya tersenyum tidak menyahut panggilan Cilla.
“Beneran Mas Juna ?”
Cilla langsung memeluk leher suaminya dengan penuh semangat membuat Arjuna hampir kehilangan keseimbangan.
“Sayang, jangan begini,” Arjuna bersandar ke pintu agar tidak terjatuh.
“Turunin,” pinta Cilla dengan senyuman lebarnya. Arjuna pun menurunkan Cilla dengan hati-hati.
“Kangen.” Cilla langsung memeluk Arjuna dan mendusel-dusel di dada suaminya membuat Arjuna tertawa kegelian.
“Jangan mancing-mancing dong, Cil. Mas Juna udah mulai nggak kuat nih nahannya.”
“Siapa takut ?” Cilla mendongak dan tersenyum menggoda Arjuna.
“Beneran nih Mas Juna boleh eksekusi malam ini ?”
“Udah sana mandi dulu,” Cilla melepaskan pelukannya dan segera berjalan ke arah tempat tidur.
“Eh nggak bisa !” Arjuna menahan lengan Cilla dan menariknya kembali ke dalam pelukannya. “Tadi kamu nantangin, Mas Juna terima dan harus dieksekusi. Jangan coba-coba berkelit, ya !” Arjuna dengan wajah tegasnya menatap Cilla yang mulai salah tingkah.
Sadar dengan omongannya yang memancing keinginan terpendam suaminya, Cilla malah bingung harus bagaimana sebagai kelanjutan ucapannya.
“Udah yang penting sekarang mandi dulu. Lihat tuh udah mau tengah malam, nanti repot kalau masuk angin.”
“Iya Mas Juna mandi. Tapi penawaran tetap berlaku malam ini.”
Arjuna menyeringai dengan wajah liciknya dan dalam hatinya menertawakan Cilla yang mulai merona dan semakin salah tingkah.
Dengan wajah penuh semangat, Arjuna langsung masuk ke kamar mandi.
“Mas Juna kok nggak bawa baju ?” Cilla mengernyit saat melihat Arjuna melenggang masuk ke kamar mandi.
“Nggak perlu baju, nanti juga dilepas semua,” sahut Arjuna sambil mengedipkan matanya.
Blush
Wajah Cilla kembali memerah mendengar ucapan Arjuna. Jantungnya makin berdebar dan Cilla langsung memukuli kepalanya sendiri lalu memukul mulutnya beberapa kali, menyesali ucapannya yang asal keluar.
Cilla sudah memejamkan mata saat Arjuna keluar dari kamar mandi. Arjuna hanya tertawa melihat istrinya pura-pura tidur di balik selimut.
“Jangan pura-pura tidur,” Arjuna menoel-noel pipi Cilla bergantian kiri dan kanan sambil tertawa. “Penawaran yang sudah diberikan tidak boleh dibatalkan. Pokoknya malam ini dengan sukarela atau dipaksa Mas Juna nggak peduli.”
Cilla langsung membelalakan matanya mendengar ancaman Arjuna. Dipaksa ? Wajah Cilla langsung mengernyit dan bahunya bergidik.
Cilla sempat membaca beberapa artikel tentang malam pertama sejak resmi menikah dengan Arjuna. Secara normal saja pihak perempuan akan mengalami sakitnya malam pertama, apalagi kalau dilakukan dengan cara dipaksa.
“Kamu kenapa ?” Arjuna mengerutkan dahinya saat melihat Cilla melamun dan bergidik. Ia pun menyentil kening Cilla.
__ADS_1
“Jangan dibayangin sakitnya, nikmati aja enaknya,” ledek Arjuna. “Kebanyakan cari tahu malah pusing. Sakitnya sebentar, sisanya malah nagih, bikin kecanduan.”
“Kok Mas Juna tahu ?” Cilla langsung bangun dan duduk berhadapan dengan Arjuna. Matanya menyipit, menelisik wajah Arjuna.
“Sudah pengalaman, ya ?” nada curiga masih terdengar di suara Cilla.
“Nethink !” Arjuna kembali menyentil kening Cilla. “Ini juga yang pertama buat Mas Juna.”
Arjuna meraih tangan Cilla dan dibawa ke dadanya.
“Mas Juna sama deg deg kan kayak Cilla. Tapi hubungan suami istri itu anugerah, jadi pasti akan bisa dengan sendirinya. Jangan terlalu pusing dengan baca banyak artikel. Kita jalanin dulu aja versi Arjuna dan Cilla.”
“Tapi…”
Arjuna langsung meraih tengkuk Cilla dan memberikan ciuman yang dalam. Malam ini Cilla tidak lagi sekaku sebelumnya, sudah semakin pintar hanya dalam beberapa hari belajar saat mereka tinggal berdua di apartemen. Arjuna tersenyum tipis namun tidak melepaskan pagutannya.
Lama kelamaan Cilla mundur dan Arjuna mulai naik ke atas ranjang dan perlahan Arjuna merebahkan tubuh Cilla lalu mengukungnya.
“Mas Juna, geli,” Cilla mendorong Arjuna yang mulai menciumi lehernya namun pria itu tidak menggubrisnya dan tetap melanjutkan aksinya di leher Cilla.
“Mas Juna, ini geli beneran,” Cilla terkekeh sambil berusaha melepaskan ciuman Arjuna di lehernya.
“Cilla,” Arjuna melepaskan ciumannya namun tidak berpindah dari atas tubuh Cilla. “Jangan gelinya yang dirasain, tapi sensasi ciuman Mas Juna-nya. Kalau perlu mendesah yang kencang buat menghalau rasa gelinya.”
Cilla masih cekikikan sambil mengusap lehernya. Masih ada rasa geli di sekitar lehernya.
“Cilla,” panggil Arjuna dengan wajah kesal. “Pokoknya malam ini harus jadi malam pertama kita !”
“Tapi Mas Juna…”
Arjuna tidak lagi memberi kesempatan Cilla untuk mendebat. Bibir gadis itu kembali dibungkam dengan ciuman Arjuna yang begitu memabukkan.
Cilla meremas seprai menahan rasa geli dan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Fokus menikmati sentuhan Arjuna membuat Cilla tidak sadar kalau Arjuna mulai bergerak membuka kancing piyamanya.
Baru saja tangan Arjuna ingin meneruskan jalur kenikmatannya saat gedoran pintu kamar dan teriakan Amanda mengganggu konsentrasinya.
“Cilla ! Cilla buka pintunya !” pekikan Amands masih terdengar cukup keras dari dalam kamar.
“Mas Juna,” Cilla menahan tubuh Arjuna yang sudah bersiap ingin meneruskan aktivitasnya.
“Biarin aja, nanti juga berhenti sendiri. Manda pasti akan berpikir kalau Cilla tidur.”
Arjuna sempat berdecak kesal dan mulai menciumi kembali leher Cilla.
“Mas Juna,” gerakan tubuh Cilla mulai merasa tidak nyaman karena Amanda masih belum berhenti berteriak memanggil nama Cilla dan menggedor pintu
Arjuna menulikan telinganya bahkan sekarang kembali membungkam bibir Cilla.
“Amanda rese !” gerutunya sambil beranjak bangun dari atas tubuh Cilla.
”Aaahhh…” Cilla memekik sambil menutup matanya saat handuk yang dikenakan Arjuna terlepas.
“Cilla kenapa ?” Arjuna menoleh dengan dahi.
“Handuk Mas Juna,” ujar Cilla terbata. Tangannya masih menutupi wajahnya.
“Besok-besok Cilla juga bakal melihatnya. Live,” ujar Arjuna sambil tergelak. Dia memungut handuknya dan berjalan menuju lemari baju lanjut ke kamar mandi.
“Cilla bukain pintunya dulu gih,” pinta Arjuna. “Berisik banget deh Amanda, sekarang tambah papa lagi,” gerutu Arjuna.
Cilla bergegas turun setelah mendengar pintu kamar mandi ditutup sambil mengancingkan kancing piyamanya yang sempat dibuka Arjuna.
“Elo nggak kenapa-napa kan ?” Amanda langsung memeluk Cilla saat pintu kamar terbuka.
Wajah Cilla terlihat bingung apalagi saat melihat ada papa, mama dan mbak berdiri di belakang Amanda.
“Memangnya gue kenapa ?” Cilla melepaskan pelukan Amanda dan menatap adik iparnya dengan wajah bingung.
“Kalau elo kangen banget sama Kak Juna tinggal video call aja. Jangan di kamar sendirian begini. Kak Juna pasti angkat telepon kalau elo yang telepon.”
“Ngapain gue harus video call sama Mas Juna ?” Cilla masih mengerutkan dahinya.
“Dasar pengganggu,” omel Arjuna yang muncul di belakang Cilla, merangkul bahu istrinya.
“Kak Juna ?” Amanda melongo. “Kok bisa ada di sini ?”
“Nggak boleh ?” Arjuna menoyor kening adiknya. “Ganggu orang aja.”
Papa Arman dan mama Diva tertawa pelan di belakang Amanda membuat gadis itu menoleh dan tercengang melihat papanya sudah ada di situ juga.
“Dari tadi Papa bantuin kamu gedor-gedor pintu,” ujar mama Diva. “Berdiri di samping kamu masih nggak sadar juga.”
“Memangnya ada apaan sih sampai heboh begitu manggilin Cilla ?” omel Juna.
“Manda takut Cilla nangis babak kedua.”
“Nangis babak kedua ?” Arjuna mengernyit.
__ADS_1
“Cilla nangis kenapa ?” Arjuna mengusap-usap punggung Cilla sambil menatapnya penuh kasih sayang.
“Lupain aja,” sahut Cilla cepat.
“Diihh tadi nangis gesor-gesor kangen sama suami,” cebik Amanda.
“Dih siapa yang gesor-gesor,” gerutu Cilla. “Dasar adik ipar lebay,” Cilla balas mencebik.
Amanda memicing, memperhatikan wajah Cilla.
“Ngapain liatin gue kayak begitu ?” Cilla mengerutkan dahi melihat Amanda mulai senyum-senyum.
Papa dan mama masih berdiri di belakang Amanda ikut senyum-senyum, sedangkan bibi sudah kembali ke bawah.
“Ternyata di kamar ini ada lebah jantan yang ganas,” ledek Amanda.
“Seriusan ?” mata Cilla membelalak. “Kok Mas Juna nggak bilang-bilang di kamar Mas Juna ada lebah ?” Cilla menatap Arjuna dengan wajah khawatir.
Arjuna malah melotot menatap adiknya yang masih cekikikan.
“Udah sana balik ke kamar, ganggu orang aja,” omel Arjuna mengusir adiknya.
“Papa mama juga diusir ?” ledek papa Arman. “Cilla nggak takut disengat lebah lagi ?”
“Cilla nggak disengat sama lebah kok, Pa,” sahut Cilla dengan wajah bingung.
“Tuh leher elo ada bekas sengatan lebahnya.”
“Amanda !” tegur Arjuna dengan mata melotot. “Udah sana jauh-jauh deh.”
Arjuna menarik tangan Cilla dan menutup pintu kamar, membiarkan Amanda, papa dan mama tergelak di luar kamarnya.
Cilla melepaskan tangan Arjuna dan bergegas ke kamar mandi.
“Mau ngapain ?”
“Pipis.”
Arjuna menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berhitung menunggu reaksi Cilla.
“Mas Junaaaa !” pekik Cilla dari dalam kamar mandi. Wajahnya memerah menahan emosi sambil keluar kamar mandi.
“Ini apa-apaan ?” omel Cilla sambil menunjuk ke lehernya. Ada dua bercak kemerahan di sana.
“Kan tadi Manda udah bilang disengat lebah,” jawab Arjuna santai di atas ranjang, bersandar pada headboard.
“Kesel nih sama Mas Juna,” omel Cilla mendekati suaminya dengan posisi berdiri dan tangannya melipat di depan dada. “Hari Senin kan Cilla mulai PAS, nggak bisa bolos.”
“Kenapa harus bolos ?” Arjuna mengangkat alisnya sebelah.
“Mana mungkin tanda ini bisa hilang di hari Senin.” Wajah Cilla makin ditekuk melihat Arjuna terlihat santai.
Arjuna merubah posisinya lebih tegak dan langsung menarik Cilla hingga terjatuh ke atas ranjang.
“Mas Juna,” pekik Cilla dengan wajah cemberutnya. Tangannya langsung menutupi mulutnya saat melihat pergerakan Arjuna yang bersiap menyosor bibirnya.
“Cilla sayang, jangan ngambek dong. Itu kan tanda cinta dari Mas Juna untuk istri tercinta.”
“Iya tapi kan jangan pas Cilla sekolah juga,” gerutu Cilla.
“Iya janji, nanti nggak bikin tanda di situ lagi. Mas Juna cari tempat yang ketutup.”
“Nggak ada lanjutan buat malam ini,” Cilla mendorong Arjuna dan ia sendiri bergeser ke sisi tempat tidurnya.
“Yaaah masa dibikin tanggung begini,” Arjuna menoel dagu Cilla sambil tersenyum merayu.
“Pokoknya nggak ada, tunggu sampai Cilla selesai ujian sekolah baru boleh seri keduanya.”
Arjuna ingin tertawa, bisa-bisanya malam pertama ada seri satu dan duanya.
“Beneran ya, nggak boleh ditunda lagi,” Arjuna mengangkat kelingkingnya.
Cilla yang tadi dalam posisi membelakangi Arjuna akhirnya berbalik dan menautkan kelingkingnya juga pada Arjuna.
“Kalau melanggar ada sanksinya ya,” ujar Arjuna sambil mengerling. Cilla mengangguk.
“Tapi nggak boleh maksa, ya ! Nggak dipaksa aja sakit apalagi dipaksa,” ujar Cilla dengan bibir mengerucut.
“Iya makanya jangan tegang dan banyak baca artikel supaya nggak kepikiran,” Arjuna mengusap wajah Cilla dan mencium bibir Cilla tanpa **********.
”Terus kenapa tadi nangis ? Tadi Mas Juna pas gendong juga ada bekas air mata di pipi Cilla.”
“Kangen,” sahut Cilla manja. “Masih kesel juga sama Sherly dan tante Dinda. Nyebelin !”
“Ya udah sekarang Mas Juna sudah ada di sini. Bobo peluk, ya,” Arjuna meraih tubuh Cilla ke dalam pelukannya dan mencium kening Cilla cukup lama.
“I love you anak bebek kesayangan Mas Juna,” bisik Arjuna dengan lembut.
__ADS_1
“I love you too Mas Juna,” sahut Cilla malu-malu tapi menyempatkan diri mencium bibir Cilla sekilas.
Meski gagal mendapat malam pertama hari ini, Juna tidak kecewa. Bisa dipersatukan dengan Cilla dan memeluknya setiap saat seperti ini adalah anugerah terindah dalam hidup Arjuna.