MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Resmi Pamitan


__ADS_3

Senin pagi semua siswa SMA Guna Bangsa berkumpul di lapangan untuk mengikuti kegiatan upacara rutin.


“Cil, isunya Pak Juna berhenti mengajar ?” tanya Mira saat barisan kelas mereka sudah menempati posisi di lapangan.


“Kok nanyanya ke gue ?” Cilla mengerutkan dahinya.


“Kan elo calon istrinya Pak Juna,” ledek Nino.


Deg


Dada Cilla berdebar. Sudah pasti kalau mereka hanya melendeknya sebagi calon istri Arjuna. Bagaimana kalau dua minggu lagi ledekan itu benar-benar jadi kenyataan ?


“Yakin elo semua akan memberi dukungan kalau omongan elo itu jadi kenyataan ?” tantang Febi menatap teman-teman sekelasnya.


“Elo nggak hamil dimuka, kan Cil ?” ledek Aron memicingkan matanya, sengaja membuat Cilla jadi gelagapan.


“Eh s**lan lo !” Cilla langsung memukul bahu Aron sambil melototot. “Mana ada ya gue pakai hamil dimuka. Elo kira gue motor kreditan yang butuh uang muka.”


“Kok mukanya merah, Cil ?” ledek Naya dengan wajah mendekat di samping Cilla.


“Biasa Nay, malu-malu meong. Pasti nggak bisa tidur masih keingetan sama pelukannya Pak Juna,” ledek Nico sambil pura-pura berpelukan dengan Aron


“Heran ya elo pada nggak boleh banget ngeliat temannya bahagia,” ujar Lili dengan suara ketus.


“Bukan nggak boleh, Li. Justru kita semua tuh mendukung. Apalagi kalau Pak Juna udah keluar dari sekolah, statusnya kan udah bukan guru sama murid lagi. Jadi sah-sah aja kalau Cilla beneran pacaran sama Pak Juna,” sahut Nino dengan senyuman meledek di wajahnya.


“Pak Juna nggak mau cari pacar, No, langsung cari istri,” ledek Mira kembali.


“Cie..cie…” ledekan langsung menyambung ke yang lainnya disertai tawa teman-teman Cilla.


“Jangan lupa undang kita-kita pas pesta makan-makannya, Cil,” ledek Nico.


Pembicaraan terputus karena terlihat para guru sudah memasuki lapangan. Suasana sedikit riuh saat Arjuna masuk bersama Dono di barisan paling belakang.


“Calon suami lo, tuh, selalu bikin ciwi-ciwi melehoy,” ledek Lili dengan suara berbisik sambil cekikikan.


“Katanya anggap aja Song Joong-Ki,” sahut Cilla dengan suara berbisik juga. Matanya terus menatap Arjuna yang asyik mengobrol dengan sobatnya.


“Diihh cakepan Jong-Ki kemana-mana, lah,” Febi mencebik.


Upacara dimulai dan ledekan untuk Cilla dan Arjuna terhenti sementara. Tapi tidak berlangsung lama, begitu tiba saatnya Arjuna berpamitan pada semua murid, suasana riuh kembali terutama di kelas XII IPS-1.


“Jadi elo sudah mengikrarkan diri sebagai calon istrinya Pak Juna ?” Jovan si mantan ketos sudah menjadi penyusup di barisan kelas XII IPS-1 dan berdiri di samping Cilla yang hanya bisa menahan malu dengan wajah kemerahan.


“Jovan !” Febi langsung melotot mendengar suara Jovan yang cukup keras.


“Duuhh mantan penggemar cemburu tingkat dewa nih,” ledek Aron saat melihat Jovan sudah berdiri di samping Cilla.


Bukan rahasia lagi bagi siswa Guna Bangsa yang sudah bersekolah di sana sejak kelas 7, kalau Jovan selalu berusaha mendekati Cilla setiap ada kesempatan.


Mereka hanya berpikir kalau Jovan mengerjar cinta Cilla yang selalu mengabaikannya. Masalah sebenarnya tidak ada seorang pun yang tahu, termasuk Febi dan Lili yang akhirnya tahu di saat mereka sudah akan lulus.


“Sorry bukan mantan penggemar, ya,” omel Jovan. “Gini-gini gue udah punya pacar,” lanjutnya dengan wajah pongah.


“Ya Jovan, patah hati dong kita,” ledek Reina sambil tertawa dan bergaya seperti perempuan yang sedih ditolak cintanya.


“Tinggal disambung pakai lem,” sahut Jovan asal. “Kalau perlu di las sekalian biar nggak gampang patah.”


Aron, Nico dan teman-teman cowok lainnya tertawa mendengar jawaban Jovan.


Bukan rahasia juga kalau Jovan sama populernyandengan Arjuna. Ketos tampan itu selalu mengundang para ciwi-ciwi untuk mencari perhatiannya.


Bu Retno sempat kewalahan gara-gara banyaknya siswi yang sengaja terlambat kalau tahu Jovan dapat giliran membantu bagian ketertiban sisw.


“Eh elo kira hati perempuan dibuat dari besi ?” Mira mengomel dengan kedua tangannya di pinggang. “Pake acara di las segala. Dasar cogan somplak.”

__ADS_1


Jovan hanya menggedikan bahu sambil mencibir dan membiarkan Aron dan genknya masih tertawa


Terlalu sibuk meledek Cilla, mereka tidak terlalu menyimak akan ucapan pamitan Arjuna dan hanya menangkap di bagian penutupnya saja.


“Jadi untuk anak-anak kelas 12 yang tercinta, tetap semangat belajar mempersiapkan ujian meskipun tidak ada saya,” ujar Arjuna berkelakar. “Ada Pak Irfan yang akan menggantikan dan pastinya akan memberikan semangat luar biasa terutama buat para siswi.”


Suara riuh dan tepuk tangan langsung menyambut ucapan Arjuna dan Pak Irfan sendiri terlihat malu-malu. Guru muda itu memang seumuran dengan Dono dan Arjuna, wajahnya tidak setampan Arjuna tapi cukup membuat para siswi sering melirik diam-diam. Pengalamannya sebagai guru setara dengan Dono tapi bukan di SMA Guna Bangsa.


“Terima kasih untuk kebersamaannya selama setahun ini sejak saya mulai menjalankan masa orientasi di sekolah ini,” ujar Arjuna sebagai penutup ucapan perpisahannya.


“Jangan lupa undangannya, Pak,” teriak Aron dari barisan kelasnya yang akhirnya kembali membuat suara riuh terutama dari barisan kelas 12.


“Ulangtahun saya masih lama, keburu kalian sudah tidak sekolah lagi di sini,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


“Undangan kawinan Bapak, dong,” Nico ikut menimpali dengan suara yang bisa terdengar hingga ke depan.


“Gaji saya nggak akan cukup kalau undang kalian semua. Bisa-bisa habis pesta kalian langsung cuci piring di dapur.”


“Kan calon istrinya anak pemilik sekolah, Pak,” celetuk Aron membuat semua siswa menoleh ke arah XII IPS-1 dengan dengungan kasak kusuk.


Bu Retno langsung menekuk wajahnya. Seakan bukan hanya kepala sekolah yang mendukung pasangan Arjuna-Cilla tapi teman-teman sekelas Cilla ikut memberika support.


“Aron gila !” Cilla bergerak maju mendekati Aron yang berada di barisan agak depan dan siap-siap memukul temannya yang super jahil itu.


Jovan yang sudah balik ke barisannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Insiden pelukan Arjuna dan Cilla di kelas memang sempat menghebohkan SMA Guna Bangsa, seakan mendukung isu yang beredar kalau guru dan anak pemilik sekolah punya hubungan lain di luar sekolah.


“Memangnya kamu kenal sama calon istri saya ?” sahut Arjuna sambil senyum-senyum.


“Cilla !”


Lili memanggil Cilla dan berusaha menarik sahabatnya yang sudah mencubit pinggang Aron. Namun suara Lili yang melengking dan cukup keras membuat murid-murid kelas XII IPS-1 plus barisan yang ada di dekat mereka langsung riuh.


Mereka salah sangka, dipikirnya ucapan Lili adalah jawaban dari pertanyaan Arjuna. Apalagi mereka tahu kalau Lili adalah sahabat baik anak pemilik sekolah. Spontan Cilla melepaskan cubitannya di pinggang Aron dan balik melotot menatap Lili.


“Elo dah gila ?” omel Cilla dengan mata melotot.


“Anak-anak, kita masih dalam rangkaian upacara,” tegas Pak Slamet.


Devan, ketos pengganti Jovan, beserta teman-temannya ikut membantu menenangkan para siswa dan akhirnya upacara kembali dilanjutkan.


Wajah Cilla hanya merenggut sebal, pasalnya bukan hanya teman-teman sekelasnya tapi dari barisan kelas sebelah ikut-ikutan meledeknya.


Jovan langsung mendekat begitu upacara selesai dan barisan dibubarkan.


“Makanya jangan suka nemplok-nemplok kayak anak koala,” ledek Jovan sambil tertawa. “Bikin heboh satu sekolah, kan ?”


“Iihhh siapa juga yang nemplok-nemplok. Banyak saksi kalau itu nggak disengaja,” tukas Cilla.


“Kesal tapi bahagia,” ledek Febi yang langsung diajak tos oleh Jovan.


Baru sampai di pinggir lapangan, tiga dewi jadi-jadian sudah berdiri sambil bertolak pinggang.


“Duh, masalah lagi aja,” gumam Lili.


Cilla hanya melirik lalu melanjutkan perbincangannya dengan Jovan dsn Febi. Tapi langkahnya harus berhenti karena dua kaki tangan Sherly berdiri menghalangi jalannya.


“Jadi elo yang buat Pak Juna berhenti ?” cebik Sherly dengan wajah sinisnya.


“Penting banget buat elo dengar jawabannya ?” sahut Cilla dengan kepala mendongak. Bukan hendak menyombong, tapi karena Sherly lebih tinggi darinya.


Cilla ingin meneruskan langkahnya menerobos Merry dan Susan yang berdiri dengan wajah menyebalkan.


“Jangan elo pikir karena status anak pemilik sekolah jadi elo bisa semena-mena di sini,” ujar Sherly.


Jovan sudah bergerak maju hendak membantu Cilla namun ditahan oleh Febi yang langsung menatapnya sambil menggeleng.

__ADS_1


Selama Sherly baru menggunakan mulutnya untuk menjatuhkan Cilla, seperti biasa Febi dan Lili hanya memperhatikannya. Kalau sampai Merry dan Susan ikut campur, kedua sahabat Cilla baru ikut turun tangan juga.


“Semena-mena apanya ?”


“Membuat Pak Arjuna harus mundur jadi guru ! Apa elo nggak sadar kalau kelakuan lo itu mirip b*tch, gampang memberikan tubuh elo dipeluk-peluk sama cowok. Makanya Pak Juna sampai milih keluar kan ?”


Cilla tertawa sinis sambil menggeleng. Kejadian insiden di kelas XII IPS-1 dianggap sebagai alasan Arjuna keluar dari sekolah ? Tapi bagi Cilla tidak ada faedahnya menceritakan alasan sesungguhnya.


“Hati-hati kalau berkata-kata, jangan sampai jadi bumerang buat elo sendiri,” Cilla mendekat dan tanpa rasa takut menempelkan bahunya pads lengan Sherly.


“Jangan lupa masih ada komite sekolah yang akan memastikan kalau masalah kayak begini nggak bisa dibiarkan begitu saja, apalagi pelakunya anak pemilik sekolah. Gue akan bikin elo menyesal sudah bikin malu siswi di sini dan buat guru sehebat Pak Juna memilih mundur,” ancam Sherly.


“Ah iya,” Cilla tersenyum sambil manggut-manggut. “Gue lupa kalau nyokap lo itu komite sekolah, ya. Pantas aja anaknya belagu bukan main,” Cilla mencebik.


“Kenapa ? Takut ?” Sherly melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Cilla dengan wajah pongah.


“Kenapa harus takut kalau nggak salah ?” Cilla mendongak, menatap Sherly dengan wajah datar.


“Tunggu aja sampai elo harus menanggung semuanya dengan rasa malu,” sinis Sherly dengan tatapan mengintimidasi.


“Cilla ! Sherly !” teguran Dono membuat kedua siswi itu saling menjauh.


Cilla langsung berdecih saat melihat eskpresi wajah Sherly berubah jadi sok manis dan berbicara lembut saat melihat ada Arjuna berdampingan dengan wali kelas XII IPS-1 itu.


Cilla menoleh ke arah dua sahabatnya dan mengajak mereka meninggalkan tiga dewi jadi-jadian itu yang sedang mencari muka di depan Arjuna.


Jovan pun berlari kecil mengikuti ketiga cewek itu dan berjalan di sebelah Cilla.


“Cemburu ?” ledek Jovan sambil terkekeh.


“Nggak !” sahut Cilla dengan wajah galak dan cemberut menatap Jovan.


“Ngapain cewek begitu dicemburuin, cuma malas aja. Apalagi kalau udah bawa-bawa posisi emaknya buat ngancam orang. Asal jangan beneran aja dia angkat masalah keluarnya Pak Juna gara-gara kejadian sama gue.”


“Kenapa ? Kan elo bilang sendiri tadi kalau banyak saksi yang melihat kejadian elo itu nggak disengaja.”


“Apa elo lupa gimana emaknya Sherly itu ? Bukan cuma ngeselin tapi ambis banget. Mungkin dalam benaknya pengen jodohin anaknya sama Pak Juna. Dan masalah itu gue yakin kalau Pak Juna nggak akan terpengaruh.”


“Terus apa masalahnya ?” Febi ikut bertanya dengan dahi berkerut.


Cilla menghentikan langkahnya dan memutar badan berhadapan dengan ketiga sahabatnya.


“Cuma satu orang yang disegani sama emaknya Sherly dan bisa membuat tuh emak diam nggak berkutik. Bokap gue. Tapi masalahnya kondisi papi saat ini lagi drop. Gue nggak mau masalah sepele begini bikin papi pusing dan membuat kesehatannya terganggu.”


Febi dan Lili terdiam. Mereka memang tahu kelakuan mamanya Sherly yang sebelas duabelas dengan anaknya.


“Jangan khawatir,” Jovan merangkul bahu Cilla .”Gue akan jadi yang pertama membela elo.”


“Jovan !”


Pria itu berdiri dengan mata melotot dan kedua tangan di pinggang.


“Mampus ! Pawangnya Cilla datang,” gumam Jovan, buru-buru melepaskan tangannya dan sedikit menjauh dari Cilla sambil tersenyum kikuk.


Cilla tergelak, diikuti oleh Febi dan Lili yang menatap Arjuna sekilas lalu ganti melihat Jovan yang sedang mengusap tengkuknya.


“Masalahnya pawang gue itu calon kakak ipar elo,” ledek Cilla. “Mau dikeluarin larangan mendekati Amanda ?”


Jovan menoleh ke arah Arjuna dengan kedua tangan menangkup di depan wajah.


“Kalau ujung-ujungnya ke sana sepertinya gue menyerah,” bisik Jovan namun masih bisa didengar oleh Febi dan Lili.


“Maaf Pak Juna… Maaf,” Jovan masih menggerakan tangannya yang menangkup. “Hanya berusaha menenangkan hati calon kakak ipar.”


Arjuna sudah mendekat masih dengan mata melotot namun tangannya tidak lagi bertolak pinggang.

__ADS_1


”Calon kakak ipar darimana ? Memangnya saya sudah memberi restu kamu sama Amanda ?”


Jovan hanya tertawa canggung sambil menggeleng dan kembali mengusap tengkuknya. Ketiga sahabatnya masih tergelak melihat interaksi kedua pria di depan mereka.


__ADS_2