MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kebohongan Pertama


__ADS_3

Drama bumil di pagi hari sudah menjadi menu harian Arjuna. Sampai minggu ke-10, istri kecilnya itu memang hampir tidak pernah mengalami morning sickness alias mual, muntah dan pusing di pagi hari seperti wanita hamil pada umumnya, tapi susah lepas dari Arjuna hingga akhirnya Arjuna memutuskan untuk mengajak Cilla ke kantor.


Akhirnya Arjuna kembali berperan seperti guru untuk Cilla, tapi bukan lagi mengajar matematika, melainkan ilmu bisnis bagaimana menjalankan perusahaan.


Cilla mulai diperkenalkan dengan urusan internal perusahaan supaya tidak sibuk berselancar dengan media sosialnya. Mood-nya langsung berantakan kalau habis melihat postingan teman-temannya yang sedang hot-hot nya bercerita soal dunia kampus.


Hingga tidak terasa usia kandungan Cilla sudah memasuki minggu ke-20. Tubuh Cilla terlihat tambah berisi dan wajahnya sedikit lebih dewasa namun tetap menggemaskan di mata Arjuna.


“Kenapa sih Cilla nggak boleh ikut ke kantor dari kemarin,” gerutu Cilla dengan bibir mengerucut. Tangannya tetap bergerak memakaikan dasi Arjuna.


“Cilla kan tahu kalau menjelang akhir tahun begini, kerjaan Mas Juna dobel sibuknya. Meeting sana sini buat laporan akhir tahun. Terus pembangunan pabrik di Batang sudah jalan 50%, jadi harus mulai buat tim untuk ditempatkan di sana.”


“Beneran meeting soal kerjaan di luar kan ? Bukan mi-ting yang lain ?” mata Cilla menyipit..


“Iya beneran. Udah punya istri yang muda dan makin seksi begini ngapain cari yang lain lagi,” Arjuna tertawa sambil mencubit kedua pipi Cilla dengan gemas.


“Maksudnya istrinya seksi karena tambah gendut ?” gerutunya dengan wajah masih cemberut.


“Seksi sayang… Beneran deh,” Arjuna membentuk huruf V dengan jarinya. “Sekarang Mas Juna paham kenapa para suami tambah cinta sama istrinya biar terlihat makin berisi saat hamil. Ternyata para istri makin menggoda karena makin seksi.”


“Gombal.. Receh dan garing,” Cilla mencebik.


“Tuh kan nggak percaya,” Arjuna terkekeh sambil menoel hidung Cilla. “Mas Juna aja suka khawatir kalau lagi jalan di Mal sama Cilla. Makin banyak cowok-cowok yang melirik. Tambah dewasa, istri Mas Juna makin cantik dan menggoda.”


“Udah deh, jangan kebanyakan gombalnya, Cilla masih sebal nih soalnya jadi 2 hari ditinggal kerja sampai malam.”


“Iya, maaf kalau Mas Juna nggak bisa ajak. Mas Juna nggak mau Cilla kecapekan terus istirahatnya malah di mobil. Pasti badan Cilla nggak akan nyaman.”


“Jangan macam-macam, ya ! Meetingnya ditemenin sama Om Tino kan ?”


Keduanya sudah turun ke lantai satu dan langsung menuju ke teras depan. Arjuna tidak sarapan karena ada morning meeting di salah satu restoran.


“Hari ini kayaknya nambah 1 karyawan bagian marketing, soalnya mau bertemu sama calon distributor dari Kalimantan.”


“Cewek apa cowok ?”


“Harusnya Pak Bono, kepala divisi yang ikut meeting. Tadi pagi Tino kasih kabar kalau Pak Bono flu berat, jadi stafnya yang akan menggantikan. Cewek dan kalau nggak salah namanya Anggita.”


Arjuna mengeluarkan handphone dan memperlihatkan pesan yang dikirim Tino.


“Suruh duduk depan !” tegas Cilla dengan wajah cemberut. “Giliran istri nggak ke kantor, meeting di luar malah bawa staf cewek.”


Arjuna tertawa dan mengangguk. Mobil yang dibawa Pak Pujo, sopir papa Arman sudah siap di depan teras. Dirman sengaja diminta tinggal di rumah untuk mengantarkan anak bebek kesayangan Arjuna itu kemanapun Cilla mau. Sejak Cilla hamil, Arjuna tidak mengijinkan istrinya itu membawa mobil sendiri.


“Iya nanti Mas Juna suruh duduk depan, Tino yang duduk belakang sama Mas Juna.”


“Nanti siang Cilla mau ketemu Dimas dan Pak Wahyu,” ujar Cilla.


“Bahas soal sekolah malam ?”


“Iya, sudah lama Cilla nggak ke sana”


“Ya udah, diantar sama Dirman, ya, nggak boleh setir sendiri apalagi boncengan motor sama Dimas. Mas Juna…”


“Mas Juna nggak mau Cilla dan baby kenapa-napa,” Cilla melanjutkan ucapan Arjuna yang sudah dihafalnya luar kepala.


“Anak pintar !” Arjuna tertawa sambil menjepit hidung Cilla.


Arjuna memeluk Cilla dan mencium kening istri kesayangannya lalu lanjut membungkuk dan berbicara di depan perut Cilla.


“Papi pergi dulu, baby. Temani dan jagain mami hari ini, ya,” ujar Arjuna lalu mencium perut Cilla.


“Mas Juna pergi dulu, ya. Jangan lupa kasih kabar kalau jadi pergi nanti.”


Cilla mengangguk sambil tersenyum. Cilla menunggu sampai mobil yang ditumpangi Arjuna keluar pagar.


Cilla kembali masuk ke dalam rumah dan langsung ke dapur. Sejak hamil, setiap pagi perutnya minta diisi meskipun secara rutin Arjuna sendiri yang menyiapkan susu khusus ibu hamil setiap bangun pagi dan sebelum tidur.

__ADS_1


Cilla meraih handphonenya yang ada di meja makan dan menikmati sarapan sambil membaca-baca pesan yang masuk.


Bibirnya langsung tersenyum membaca pesan di grup para sahabatnya dan grup lain yang anggotanya teman-teman kelas XII IPS-1.


Lalu beralih lagi ke pesan yang dikirimkan Dimas sekitar jam 6 pagi tadi yang mengabarkan kalau pertemuan mereka dengan Pak Wahyu diundur ke jam 2 karena Dimas diminta bertemu Pak Sebastian di hotel keluarga Pratama sampai jam makan siang.


Cilla langsung berpikir untuk menemui Dimas di hotel sekalian membicarakan rencana surprise party untuk Arjuna yang akan berulangtahun dua hari lagi. Cilla sudah memesan satu ruangan VIP di restoran hotel.


Jam setengah sebelas Cilla sudah siap berangkat ke Hotel Pratama diantar Bang Dirman. Butuh waktu 40 menit untuk sampai di tempat itu.


Cilla langsung menuju restoran dimana Mbak Sisi, staf F&B sudah menunggunya di sana. Rencananya ingin mematangkan pilihan menu makanan pesta ulangtahun Arjuna.


Wajah Cilla terlihat sumringah, membayangkan pesta kejutan untuk Arjuna. Tahun lalu Cilla juga memberi kejutan dengan kehadirannya yang tiba-tiba di acara makan-makan dan hari itu juga mereka bertunangan.


Tahun ini, bukan hanya keluarga, para sahabat Arjuna dan Cilla yang diundang, keluarga Pratama, tiga partner kerja Arjuna juga masuk dalam daftar tamu undangan.


Mata Cilla menyipit saat melihat sepasang pria dan wanita masuk ke dalam restoran. Dari jauh pun Cilla sudah hafal bentuk tubuh dan gerakan pria itu tanpa harus melihatnya dari dekat.


Hati Cilla tidak langsung emosi mengingat Arjuna sudah bilang kalau meeting ini akan mengajak staf cewek, namun matanya mengernyit karena tidak melihat sosok Tino.


Cilla menghela nafas dan mencoba menghilangkan pikiran negatifnya, Cilla menunggu, mungkin Tino datang belakangan. Namun hingga 15 menit kemudian tidak ada Tino yang menyusul, hanya terlihat Arjuna, karyawannya dan satu wanita yang Cilla yakin adalah klien Arjuna.


“Mbak Sisi, sementara semua pilihannya tidak ada masalah. Saya bisa minta tolong detilnya dikirim ke alamat email saya ?”


“Oke, segera saya email siang ini.”


“Saya pamit dulu Mbak Sisi.”


Cilla beranjak bangun dan menyalami Sisi, staf Hotel Pratama itu sambil tersenyum. Hatinya mulai gelisah dan mulai tidak fokus berbincang dengan Sisi.


Cilla masih diam di dalam restoran namun berpindah posisi yang agak tersembunyi.


Tangannya mengambil handphone dari dalam tas dan langsung menekan nomor Arjuna. Panggilan pertama berakhir di kotak suara, namun panggilan kedua terlihat Arjuna mulai bangun dari kursinya dan berjalan menjauh sebelum mengangkat panggilan Cilla.


“Halo sayang, Cilla dimana ? Udah mau jalan ketemu Dimas ?”


“Mas Juna lagi meeting di luar ? Dimana ? Sama karyawan yang namanya Anggita itu ?”


“Udah makan,” sahut Cilla berusaha menahan emosinya dan bersikap biasa saja. “Calon distributornya cewek apa cowok ?”


“Cewek, sayang. Tapi Mas Juna nggak sendirian. Mas Juna sama Anggita dan..”


“Om Tino, kan ? Mana Om Tinonya ? Cilla boleh ngomong sebentar ? Dari tadi Cilla wa nggak terkirim-kirim.”


“Ooo Tino nya lagi ke toilet sebentar, sayang. Nanti kalau udah balik, Mas Juna minta hubungi Cilla, ya.”


Deg !


Cilla bergeming di tempatnya berdiri. Arjuna berbohong padanya !


“Ya udah Cilla tunggu Om Tino balik sambil ngobrol sama Mas Juna. Nggak lama kan ke toilet doang ?”


“Halo… halo… Cilla.. halo…. Suara kamu putus-putus.”


Cilla langsung menyudahi panggilannya tanpa bicara apa-apa lagi dengan Arjuna.


Trik basi, cebik Cilla dalam hati sambil tersenyum getir. Bisa-bisanya Mas Juna pura-pura kehilangan sinyal di hotel yang punya fasilitas wi-fi dengan kapasitas lebih dari cukup.


Mata Cilla menyipit saat melihat kedua wanita yang tadi berbincang dengan Arjuna beranjak bangun.


Membaca niat keduanya hendak ke kamar kecil, Cilla mendahului dan masuk ke dalam salah satu toilet lalu duduk di atas kloset yang tertutup.


Berulang kali Cilla menarik nafas untuk menenangkan hatinya sambil mengelus perutnya. Bukan karena melihat Arjuna berbincang dengan dua wanita, tapi Arjuna sudah melakukan kebohongan pertamanya.


“Kamu bener banget, Git, pak Arjuna itu gambaran pria idaman banget. Ganteng, pintar, jabatan mapan dan tajir pula.”


Cilla yakin kalau yang bicara itu bukan Anggita, tapi calon distributor yang Arjuna bilang.

__ADS_1


“Makanya aku cari cara supaya kamu bisa masuk sebagai distributor PT Indopangan. Bisa sekali dayung dua tiga pulau terlampaui,” sahut wanita yang dipanggil Git itu tertawa.


“Kamu bilang Arjuna sudah menikah, tapi tadi aku pancing-pancing soal istrinya, dia nggak mau bicara apa-apa.”


“Kalau yang aku dengar sih Des, istrinya itu partner bisnis papanya Pak Juna Mereka dijodohkan, jadi gosipnya Pak Juna terpaksa menikah. Usia mereka agak terpaut jauh juga.”


“Istrinya lebih tua maksudmu ?”


“Mungkin,” Anggita kembali tertawa.


Cilla mengepalkan kedua tangannya menahan emosi tapi otaknya ikut berpikir memikirkan cara yang terbaik untuk mengusir para ulat bulu ini. Mereka harus dihadapi bukan dihindari.


Cilla pun keluar dari toilet menuju wastafel, mendengarkan perbincangan kedua wanita yang masih asyik membahas Arjuna.


“Kamu nggak tertarik punya boss ganteng begitu, Git ? Nggak mau coba-coba menggoda ? Biasanya pria kalau menikah karena terpaksa mudah banget didekatinya. Awalnya mereka jaim, tapi kalau kita perhatian, dengan gampangnya mereka tergoda.”


“Mbak berdua niat banget goda suami orang,” ujar Cilla santai sambil mencuci tangannya.


Kedua wanita itu langsung menatap Cilla lewat cermin besar di depan mereka dengan dahi berkerut.


“Maksud kamu apa ?” wanita dengan pakaian seksi itu terlihat emosi.


“Saya hanya berniat mencegah mbak berdua jadi pelakor. Mbak berdua cantik, pasti nggak susah dapat cowok yang masih single, ngapain juga malah berniat merebut suami orang.”


Anggita menelisik Cilla yang sudah selesai mencuci tangan dan melewati mereka, mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya.


“Apa bedanya sama kamu ?” tanya Anggita dengan tatapan ke arah perut Cilla dan tersenyum sinis.


Cilla menautkan alisnya dan mengikuti arah tatapan Anggita.


“Oh ini,” Cilla mengusap perutnya. “Saya memang lagi hamil, Mbak dari suami sah saya bukan sugar daddy,” ujar Cilla sambil terkekeh.


“Sok suci,” wanita lain itu mencebik. “Sudah kelihatan wajah kamu masih anak-anak, jadi apalagi namanya kalau masih bau kencur sudah melendung.”


“Bukan urusan saya Mbak mau percaya atau nggak karena masalah ini urusan saya dengan keluarga dan Tuhan.”


Cilla tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Saya permisi dulu. Dan coba tolong diingat kata-kata saya, lebih baik mencari calon suami yang masih single daripada merebut milik orang lain.”


Baru tangan Cilla memegang handel pintu, wanita seksi itu menahannya dan melotot pada Cilla.


“Jadi kamu menuduh kami berdua sebagai wanita nggak benar ?”


Cilla tersenyum tipis dan menatap wanita di depannya dengan wajah tenang.


“Saya nggak menuduh, hanya menasehati karena tadi saya dengar mbak berdua membahas soal laki-laki yang namanya Pak Arjuna dan mbak itu bilang kalau Pak Arjuna itu sudah menikah. Jadi pesan saya, kalau mau cari pacar jangan laki-laki beristri seperti Pak Arjuna itu.”


Belum sempat wanita seksi di depannya menjawab ucapan Cilla, handphone Cilla berbunyi dan pintu kamar kecil dibuka dari luar hingga wanita itu harus bergeser.


“Saya permisi dulu,” Cilla kembali tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Cilla langsung mengangkat panggilan Dimas dan meminta sahabatnya itu menunggu di depan restoran, lokasi yang paling dekat dari toilet.


Tidak hanya Dimas, ada Sebastian juga berdiri dan berbincang dengannya. Saat Cilla bergabung, ternyata Arjuna yang melihat Dimas dan Sebastian langsung keluar restoran, menghampiri kedua pria itu dan belum sadar keberadaan Cilla di situ.


“Cilla ?” Arjuna terperanjat mendapati istrinya ada di hotel yang sama dengannya.


Cilla tidak menyahut apapun, hanya tersenyum bahkan malah meminta waktu berbincang berdua dengan Sebastian.


“Pak Arjuna kok di luar ?”


Anggita, staf PT Indopangan yang diajak oleh Arjuna menyapa bossnya yang berdiri bersama tiga orang lainnya.


Dahinya berkerut saat melihat Cilla juga ada di situ, berdiri dekat Sebastian.


Arjuna langsung mendekati Cilla dan merangkul bahu anak bebek kesayangannya karena tidak ingin kedua wanita itu berpikir kalau Cilla adalah istri Sebastian.

__ADS_1


“Kenalakan istri saya, Bu Desi,” Arjuna memperkenalkan Cilla di depan kedua wanita yang sempat beradu mulut dengan Cilla di toilet.


Kedua wanita itu terkejut dan mata mereka membelalak karena tidak menyangka kalau anak kecil yang mereka kira sugar baby itu adalah istrinya Arjuna.


__ADS_2