MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


__ADS_3

Cilla berusaha menahan air matanya supaya tidak keluar saat berdiri di antara Papa Arman dan Arjuna dalam acara pemotongan pita.


Pagi ini, secara resmi pabrik utama PT Indopangan beroperasional di kaawasan Batang, Jawa Tengah.


Cilla mendapat kehormatan bukan karena statusnya sebagai Istri Arjuna atau menantu Papa Arman, tapi sebagai pemegang saham kedua terbesar pabrik ini.


Arjuna menggenggam erat jemari istrinya bahkan membawa Sean dalam gendongannya memasuki area pabrik. Tidak akan ada pabrik ini kalau pernikahan Arjuna dan Cilla terjadi karena Papi Rudi menjual banyak macam usahanya untuk disatukan menjadi pabrik ini bekerjasama dengan Papa Arman.


“Jangan ditahan kalau Cilla mau nangis,” bisik Arjuna saat keduanya masuk ke ruangan yang disiapkan untuk Arjuna.


Sean yang melihat maminya sedih mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Cilla membuat air mata yang sudah sempat menetes akhirnya berhenti dan berganti senyum.


Sean berpindah ke gendongan Cilla dan memeluk maminya sambil menepuk-nepuk punggung Cilla.


“Terima kasih Sean,” ujar Cilla yang semakin melebarkan senyumannya mendapat perlakuan istimewa putranya


“Pipi…” Sean memberi isyarat supaya Arjuna mendekat dan mengajak papinya ikut memeluk sang mami.


“Terima kasih buat semuanya Mas Juna,” ujar Chelsea yang menyandarkan kepalanya di dada Arjuna.


“Mas Juna juga berterima kasih atas cinta Cilla sampai hari ini.”


Arjuna mencium kening Cilla lalu pipi Sean yang tidak mau kalah kalau papinya sedang memanjakan mami.


“Aku mau menunjukkan sesuatu pada kalian berdua.”


Arjuna menggandeng Cilla yang masih menggendong Sean ke satu jendela besar yang tetutup tirai. Ternyata jendela itu menghadap ke area kerja pabrik.


“Wow keren Mas Juna,” puji Cilla dengan mata membola.


“Dari sini Mas Juna bisa melihat langsung jalannya opersional pabrik biar hanya sebagian.”


“Apa berarti Mas Juna akan sering-sering berada di sini ?”


“Nggak sayang,” Arjuna merangkul bahu istrinya yang langsung ditiru oleh di kecil Sean membuat Arjuna dan Cilla tertawa.


“Dimas akan membantu Mas Juna di sini dan ada Erwin yang akan membantu mengawasi keuangannya. Mereka berdua sudah resmi jadi karyawan Indopangan.”


“Terima kasih karena Mas Juna sudah mau menjalankan harapan Papi yang terakhir.”


“Semua berkat dukungan Cilla juga. Ternyata saat di jalani, kondisinya tidak seberat yang Mas Juna bayangkan saat Papi menyerahkan tanggungjawab ini pads Mas Juna, termasuk juga menjadi suami putri kesayangannya.”


Cilla mengangguk-angguk sambil tersenyum dan lagi-lagi gaya Sean yang mengikuti maminya membuat pasangan muda ini jadi tertawa.


***


Rasanya bahagia hari ini begitu sempurna karena yang datang dalam peresmian ini bukan hanya keluarga dan sahabat mereka yang terlibat langsung dalam opersional pabrik, tapi sahabat Cilla seperti Febi, Lili dan Jovan datang juga.


Tamu terakhir yang membuat Cilla kaget adalah kehadiran Pak Wahyu dan Pak Slamet.


“Pak Wahyu sama Pak Slamet masih awet tuanya,” ujar Cilla sambil tertawa.

__ADS_1


“Udah nggak jadi murid, berani kurang ajar sama saya, ya ?” ujar Pak Wahyu, mantan guru matematika yang digantikan oleh Arjuna.


“Akan lebih nggak sopan lagi kalau saya bilang Bapak berdua awet muda padahal rambutnya udah putih semua dan keriput dimana-mana. Itu namanya sindiran bukan pujian.”


Pak Slamet, sang kepala sekolah, tertawa mendengar ucapan muridnya sementara Pak Wahyu mengsngguk-angguk.


“Benar juga sih.”


“Kamu udah nggak suka berantem lagi sama guru matematikamu, kan ?”


“Aman Pak, ini hasil gencatan senjatanya,” sahut Cilla sambil menunjuk Sean yang ada di dalam gendongannya.


“Kalau masalah cetak mencetak anak, Arjuna selalu siap perang sama Cilla,” ledek Theo.


“Kayak Kak Theo nggak bakal begitu kalau sudah nikah. Iya nggak Kak Yola ?”


Yola hanya tertawa mendengar ucapan Cilla, tidak berani menjawab ya atau tidak.


Ternyata kejutan yang disiapkan Arjuna tidak sebatas mengundang mereka dalam peresmian pabrik tapi acara selanjutnya adalah liburan ke Semarang selama 2 malam.


Tino ikut membantu dan para tamu menginap di hotel milik keluarga Papi Rudi yang dipercayakaj pada Theo.


“Jadi ceritanya kita mau bernostalgia nih ?” tanya Erwin dengan nada ceria seperti biasanya


Ia mulai berceloteh saat semuanya sudah berasa di dalam bus berkapsitas sedang yang akan membawa mereka menuju kota Semarang.


“Sepertinya begitu, Om,” sahut Cilla.


“Ya ampun Cilla, kalau kamu panggil aku Om berarti Sean panggil aku opa dong,” gerutu Erwin dengan bibir mengerucut.


“Punya pacar belum, apalagi nikah dan punya anak masa udah dikasih status opa. Elo sendiri dipanggil Om Theo sama Sean. Nggak adil !”


“Hidup memang sering nggak adil, Win,” ledek Tino.


Perjalanan menuju kota Semarang terasa singkat karena dipenuhi dengan obrolan yang mengundang tawa. Sean pun sampai enggan tidur dan sibuk tertawa meski ia tidak mengerti arti pembicaraan orang-orang di sekitarnya.


Mama, Papa, Tante Siska dan Om Rio tidak ikut dalam bus yang disiapkan oleh Arjuna. Keeempatnya menggunakan 1 mobil van milik Papa.


Waktu baru menunjukkan pukul 5 sore saat bus berbelok ke dalam hotel. Para tamu diberi waktu istirahat dan akan diajak makan malam di jam 18.30


“Nanti malam Sean biar tidur dengan Mama dan Papa, jadi kalau kalian mau pacaran keluar tidak usah khawatir menitipkan Sean dengan Imah,” ujar Mama Diva.


“Beneran boleh titip, Ma ?” tanya Arjuna dengan esjah bahagia.


“Iya, kalian pasti mau bernostalgia berdua selagi ada di Semarang,” sahut Papa Arman sambil tertawa.


“Papa memang paling mengerti perasaan suami yang mau membahagiakan istrinya,” ujar Arjuna sambil senyum-senyum melirik istrinya.


“Mas Juna apaan sih,” Cilla tersipu memukul bahu suaminya.


”Papa dan Mama akan senang kalau kita kasih tambahan cucu, Sayang. Pas adiknya lahir, Sean udah umur 2 tahun.”

__ADS_1


“Haiis terus kapan kuliahku bisa kelar,” gerutu Cilla.


“Bisa diatur, Sayang,” Arjuna merangkul bahu Cilla lalu mengecup pelipis istrinya itu.


Satu penthouse yang memang disiapkan untuk kunjungan pemilik hotel ditempati oleh Mama, Papa, Tante Siska, Om Rio, Arjuna dan Cilla beserta babysitter yang tidur di kamar pelayan.


Tamu-tamu yang lainnya ditempatkan di beberapa kamar yang ada di lantai 15.


“Mau temani Mas Juna keluar sebentar ?”


“Boleh.”


Sean akhirnya tertidur juga dan untuk sementara menempati kamar Arjuna dan Cilla ditemani babysitter Inah dengan pintu kamar yang dibiarkan terbuka.


Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju salah satu kafe yang hanya berjarak 150 meter dari hotel.


“Cilla mau minum apa ?”


“Strawberry milkshake.”


“Ok. Cilla cari tempat duduk aja, nanri Mas Juna yang bawain.” Cilla mengangguk dan meninggalkan Arjuna yang masih antri depan kasir.


Cilla masih menunggu Arjuna sambil memainkan handphonenya, memeriksa akun medsosnya, melihat postingannya tentang pabrik di Batang.


“Apa kabar Cilla ? Kebetulan banget ketemu di sini, seperti benar-benar berjodoh.”


Mata Cilla membola sebelum mendongak karena dari suaranya Cilla sudah hafal milik siapa.


“Ada perlu apa dengan istri saya ? Sepertinya di luar kampus, dia bukan lagi mahasiswa anda.”


Glen tersenyum menanggapi teguran Arjuna yang ketus dan penuh emosi.


“Apa kabar Arjuna ? Sepertinya aku benar-benar berjodoh dengan istrimu karena dari sekian banyak tempat di kota ini, bisa-bisanya ketemu di tempat ini.”


“Aku yang memilih tempat ini bukan istriku, jadi tidak ada hubungannya dengan jofoh dan hal konyol lainnya.”


Glen tertawa dan malah menatap Cilla dengan lekat.


“Semoga kita akan bertemu di tempat lain, Cilla. Aku permisi dulu dan silakan menikmati strawberry milkshakenya.”


Cilla nampak terkejut saat Glen menyebut dengan benar pesanan minumannya padahal pria itu tidak berada di dekatnya atau saat Arjuna di meja kasir. Selain itu pesanan mereka belum diantar.


“Jangan khawatir, aku bisa menebaknya karena itu adalah minuman kesukaanmu.”


“Tolong anda tinggalkan kami !” tegas Arjuna dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.


Arjuna menggerutu kesal sambil menarik kursi di depan Cilla.


“Cilla pasang status kalau kita lagi di Semarang ?”


“Nggak,” Cilla menggeleng. “Dari sekian banyak kota kenapa bisa pas dia milih kota Semarang juga.”

__ADS_1


“Karena dia punya kenangan yang indah sama kamu di sini,” gerutu Arjuna.


Cila mengerutkan dahi karena tidak mengerti maksud ucapan Arjuna.


__ADS_2