MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Pembicaraan Dua Hati


__ADS_3

Setelah dokter Raymond pergi bersama tim medis lainnya,  Pak Slamet pun ikut pamit karena masih harus mengurus pekerjaan di sekolah. Hanya Dono yang ikut kembali bersama Pak Slamet, sedangkan Arjuna diminta untuk tetap mendampingi Cilla selama papi Rudi masih belum sadar. Untuk masalah tryout, Pak Slamet akan memberikan kesempatan susulan untuk Cilla.


 


Selepas kepergian Pak Slamet dan Dono, papa Arman mengajak semua yang ada di situ untuk makan siang dulu. Cilla bersikeras tetap menunggu meskipun mama Diva dan tante Siska sudah membujuk dan menasehatinya. Akhirnya Arjuna pun memutuskan untuk tetap tinggal menemani Cilla.


 


Sekarang hanya tinggal Arjuna dan Cilla berdua di kursi tunggu depan ruang ICU. Suasana kembali kaku karena Arjuna masih takut-takut untuk memulainya.


 


“Apa karena papi sakit makanya kita dijodohkan ?” Cilla membuka percakapan tanpa menatap Arjuna, pandangannya lurus ke depan dengan kedua tangan memegang pinggir kursi yang didudukinya.


 


“Iya, itu adalah salah satu alasan yang papa pernah sampaikan pada Mas Juna,” sahut Arjuna pelan.


 


“Makanya Bapak merasa berat saat tahu bahwa konsekuensi menerima perjodohan ini bukan saja mendapat istri yang masih anak kecil tapi juga harus menanggung banyak beban yang tidak Bapak duga sama sekali sebelumnya ?”


 


Arjuna mengerutkan dahinya dan menatap Cilla yang sama sekali tidak menoleh. Gadis ini kembali memanggilnya dengan sebutan formal, padahal saat datang ke rumah sakit Cilla sudah memanggilnya Mas Juna.


 


“Tidak bisakah kamu memanggil saya seperti biasa ?” akhirnya Arjuna juga ikutan berbicara formal dengan Cilla.


 


“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi selain guru dan murid.”


 


Arjuna hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban Cilla dan tidak berniat untuk berdebat saat ini.


 


“Saya tidak pernah menyesal sedikit pun telah memilih kamu menjadi calon istri dan melamarmu tanpa paksaan dari siapapun. Kamu juga tahu kalau saya sudah siap menentang papa soal perjodohan dengan perempuan pilihan papa saat saya belum tahu kalau ternyata kalian orang yang sama. Hanya saja saya sempat kaget saat mengetahui kalau Om Rudi menyerahkan semuanya pada saya bahkan menjadikan saya wali sah kamu,” Arjuna menarik nafas panjang dan merasa sedih di hatinya karena harus  berbicara begitu formal dengan Cilla.


 


“Bukankah Bapak berhak menolaknya ? Kenapa harus terpaksa menerimanya ?”


 


“Karena saya cinta sama kamu, SANGAT. Hanya saja saya tidak menduga kalau tanggungjawab perusahaan milik keluargamu untuk sementara harus saya jalani sampai usia kamu memenuhi syarat secara hukum. Sementara papa juga meminta saya meneruskan usahanya. Banyak hal baru yang harus saya pelajari, termasuk belajar lagi tentang bisnis hotel, mengelola pabrik yang baru saja berdiri meskipun hanya pengembangan dari pabrik yang sudah ada.”


 


Cilla hanya terdiam saat Arjuna menjeda untuk menarik nafasnya sejenak, menenangkan hatinya yang campur aduk.


 


“Saat pertama kali terjun membantu papa di perusahaan, tugas saya hanya memikirkan bagaimana menyesuaikan usaha papa dengan teknologi terkini, perkembangan pasar  dan peminatan masyarakat saat ini serta meningkatkan pendapatan. Pabrik masih dipegang langsung oleh papa, fokus saya lebih kepada marketing perusahaan. Desember kemarin papa mengajak ke Batang dan menjelaskan semuanya kalau Om Rudi sudah melebur semua usahanya dan menanamkannya untuk pengembangan PT Indopangan. Salah satunya adalah mendirikan pabrik baru. Hanya usaha hotel yang tidak bisa dilebur karena merupakan warisan keluarga yang dikelola turun temurun. Setelah kita kembali dari Singapura, ternyata Om Rudi sudah menyiapkan semua berkas hukum dan menunjuk saya bukan hanya sebagai suami kamu, tapi juga wali sah yang akan bertanggungjawab berkaitan dengan keputusan-keputusan yang belum bisa kamu lakukan sampai usia kamu mencukupi.”


 


“Kenapa Bapak tidak membicarakannya sama saya ? Apa karena saya hanya anak kecil yang belum bisa diajak diskusi ?”


 


“Om Rudi tidak mau membebanimu, Cilla. Bahkan masalah sakitnya om Rudi, saya sudah membujuk dan meyakinkannya untuk memberitahu kamu apa adanya, tapi om Rudi bersikeras. Beliau ingin menikmati waktu denganmu tanpa kesedihan, tanpa drama yang menguras air mata sampai bisa merayakan ulangtahunmu yang ketujuhbelas. Om Rudi ingin menebus semua kesempatan yang pernah diabaikannya selama bertahun-tahun. Dan saya hanya bisa menuruti permintaan om Rudi kalau memang itu bisa membahagiakannya.”


 


“Bapak yakin kalau memilih saya bukan karena perjodohan ?” Cilla akhirnya menoleh menatap Arjuna yang ikut menoleh dan membalas tatapan Cilla.


 


“Kamu paling tahu bagaimana saya bersikeras meyakinkan papa kalau kamu adalah pilihan hati saya, bahkan saya rela menemui teman papa untuk minta maaf dan memberi penjelasan serta menerima konsekuensi kemarahan teman papa. Maaf kalau ternyata sekarang saya jadi pengecut.” Arjuna mengalihkan pandangannya dan menunduk.


 


Suasana sempat hening beberapa saat, dan tanpa terduga, Cilla menyandarkan kepalanya di bahu Arjuna. Pria itu tercengang dan menoleh ke arah wajah Cilla yang menatap lurus ke depan.


 


“Kenapa Mas Juna tidak menemui Cilla saat mendengar Cilla membatalkan pernikahan kita ?”


 


Arjuna tersenyum tipis. Hatinya kembali menghangat saat mendengar Cilla kembali memanggilnya Mas Juna bahkan bersandar ke bahunya.


 

__ADS_1


“Setelah mendapat amukan papa, meskipun sudah dilarang, malam itu Mas Juna tetap  datang ke rumah Cilla. Bik Mina bilang Cilla sudah tidur bahkan melewati makan malam dan berpesan tidak mau diganggu. Saat itu om Rudi baru sampai dan akhirnya kami berbincang. Om Rudi meminta Mas Juna menjauhi Cilla dan melupakan hubungan yang pernah ada di antara kita berdua. Om Rudi sudah mencabut semua legalitas yang berhubungan dengan kita bedua, bahkan pembangunan pabrik di Batang juga ditunda untuk tahap selanjutnya. Mas Juna sempat memohon untuk diijinkan bertemu Cilla sekali saja, tapi om Rudi melarang keras Mas Juna mendekati Cilla bahkan saat di sekolah. Om Rudi bahkan sempat bilang kalau sejak awal beliau tidak pernah mau menjodohkan kita berdua mengingat perbedaan usia kita cukup jauh dan kita hanyalah dua orang asing yang baru bertemu dan tidak mungkin disuruh bersatu tanpa saling kenal. Perjodohan ini memang permintaan papa yang tidak  disetujui om Rudi. Tapi saat melihat Cilla bisa bahagia dengan Mas Juna akhirnya om Rudi mengijinkan papa untuk melanjutkan perjodohan ini.”


 


“Maaf karena Cilla mengambil keputusan sepihak tanpa mendengarkan penjelasan Mas Juna dulu. Ternyata Cilla memang masih anak-anak ya, hanya mengutamakan emosi hati tanpa mau mendengarkan orang lain dulu,” Cilla menegakan kepalanya dan menatap Arjuna sambil tertawa getir.


 


“Mas Juna yang salah karena terlalu fokus pada diri sendiri sampai mengabaikan Cilla, nggak perhatian sama Cilla. Maaf karena Mas Juna sering lupa membalas pesan atau menelepon memberi kabar pada Cilla , padahal Mas Juna sendiri bahagia kalau diperhatikan sama Cilla. Setiap pesan yang dikirim Cilla adalah penyemangat untuk Mas Juna.”


 


Arjuna merubah posisinya dengan bersandar pada kursi dan merentangakan sebelah tangannya untuk merengkuh Cilla yang kembali menyandarkan kepalanya di dada Arjuna.


 


“Apa Cilla mau memaafkan Mas Juna dan menerima Mas Juna kembali ? Rasanya susah untuk bernafas saat tahu Cilla melepaskan Mas Juna. Bahkan saat kita bertemu di café, Mas Juna cepat-cepat pergi karena tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Cilla. Mas Juna kangen banget dan rasanya gimana gitu saat mendengar Cilla menyebut nama Mas Juna. Tapi Mas Juna juga ingin belajar menjadi lelaki sejati yang menghargai permintaan om Rudi.”


 


“Apa Mas Juna nggak takut lagi kalau sampai kita meneruskan hubungan ini ?” Cilla balik bertanya sambil mendongak menatap Arjuna.


 


“Diabaikan dan melepaskan Cilla jauh lebih menakutkan daripada menerima tanggungjawab dari om Rudi dan papa. Karena dengan Cilla di samping Mas Juna, meskipun sedikit menakutkan saat menerima tugas-tugas itu,  tapi Mas Juna selalu punya penyemangat dan vitamin yang memberikan energi baru setiap harinya.”


 


“Gombal, alay,” Cilla mencebik.


 


“Bapaknya bebek nggak bisa jauh-jauh dari anak bebek,” Arjuna mencium pelipis Cilla dengan gemas. “Apalagi kalau tahu ada buaya yang mulai dekat-dekat,”  lanjut Arjuna dengan wajah cemberut karena mengingat tingkah Theo tadi.


 


“Buaya ?” Cilla bangun dari sandaran bahu Arjuna dan menatap pria itu sambil mengernyit.


 



“Apa Cilla nggak lihat kalau sepupu kamu itu separuh buaya ? Theo itu nggak sepenuhnya jones karena waktu SMA dia suka menanggapi cewek-cewek yang mengejarnya.


 


“Ooo,” Cilla tertawa. “Kak Theo bilang dia uncle bebek bukan buaya.”


 


 


Cilla tertawa dan merangkul lengan Arjuna dengan gemas. Entah kemana larinya rasa kecewa dan kekerasan hatinya. Apalagi mendengar penjelasan Arjuna yang ternyata sama tersiksanya dengan Cilla. Sikap acuh Arjuna seminggu ini hanya karena ingin memenuhi permintaan papi Rudi.


 


“Jadi ?” Cilla melipat kedua tangannya di depan dada dengan posisi menyamping menatap Arjuna.


 


“Jadi apanya ?” dahi Arjuna berkerut.


 


Cilla menghela nafas dan wajahnya langsung ditekuk dengan bibir mengerucut. Arjuna tertawa dan mengacak poni Cilla dengan gemas.


 


“Mas Juna akan memperjuangkan ijin dan restu lagi dari papi. Selama itu belum didapat, kita tetap akan jalan seperti biasa. Kali ini Mas Juna mau jadi pria sejati, dong, yang perlu perjuangan keras untuk mendapat restu calon mertua.”


 


“Bukannya supaya punya kesempatan nempel-nempel lagi sama Yola, Yoli atau Yolo  ?” mata Cilla menyipit dengan tatapan curiga menatap Arjuna.


 


“Nggak ada siapa-siapa bahkan juga mantan udah hilang dari hati dan pikiran,” sahut Arjuna sambil terkekeh.


 


“Masih ingat aja sama Kak Mia,” gerutu Cilla mengomel sendiri. Arjuna tertawa kembali melihatnya.


 


“Maafin Mas Juna yang udah lengah sampai kecolongan sama Yola. Sumpah demi apapun deh, Mas Juna tuh benar-benar kaget bukannya malah senang ditempelin bibir cewek. Apalagi Yola itu musuh Mas Juna dari jamannya sekolah.”


 


“Lelaki itu kalau sudah disodori bibir seksi mana menolak ? Kayak kucing di kasih ikan. Apalagi yang nyosor salah satu mantan,” Cilla mendelik.

__ADS_1


 


“Mantan penggemar yang ditolak,” Arjuna tergelak. “Mas Juna aja kaget pas ketemu lagi di kantor. Ternyata pakai jalur khusus untuk masuk ke perusahaan papa. Tapi sekarang sudah dipecat dengan tidak hormat sama papa begitu tahu Yola itu membuat calon menantu papa menangis sampai membatalkan pernikahannya.”


 


Cilla hanya mencebik dengan bibir masih manyun. Arjuna mencubit kedua pipinya dengan gemas.


 


“Sekarang harus fokus sama tryout, ujian praktek dan ujian-ujian lainnya. Mas Juna janji akan segera mendapatkan restu dari papi Rudi setelah papi sudah sehat.”


 


“Cilla mau ngerasain dicium sama cowok lain dulu selain Mas Juna, biar seimbang. Udah dapatnya bekas Kak Mia, sekarang bekas Yola juga,” omel Cilla.


 


“Eh mana boleh begitu,” Arjuna menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X. “Dilarang keras !” matanya melotot menatap Cilla.


 


“Curang kalau begitu namanya. Masa posisi kita 2-0. Cilla mau bikin skornya sama.” Cilla kembali melipat kedua tangan di depan dada dan membalas tatapan Arjuna sama galaknya.


 


“Nggak bisa ! Mas Juna akan cuci bibir kalau perlu pakai air kembang tujuh rupa biar jejaknya Luna dan Yola hilang. Awas aja kalau coba-coba !”


 


“Lelaki memang egois, mau menangnya sendiri,” Cilla mencebik.


 


“Sayang,” Arjuna mulai merayu dan memegang kedua bahu Cilla. “Luna itu kan masa lalu sebelum Mas Juna ketemu Cilla, kalau Yola itu ibarat kata kayak tisu yang buat ngelap bibir habis makan terus dibuang.”


“Alasan ! Kalau begitu Cilla mau punya tisu kayak gitu. Ada Jovan sama Dimas,” ujar Cilla sambil pura-pura serius berpikir.


“Mas Juna aja yang jadi tisu Cilla kapanpun dibutuhkan. Sekarang juga boleh,” Arjuna menaik turunkan alisnya.


“Nggak boleh !” Cilla langsung menutup bibirnya. “Mana ada pak guru cium-cium muridnya. Melanggar etika dan bisa dilaporkan sebagai pelecehan.”


“Memangnya nggak kangen dicium Mas Juna ?” Arjuna kembali mengerling menggoda Cilla.


“Jangan ganjen ! Cilla masih marah nih sama Mas Juna, belum memaafkan seratus persen !” omel Cilla dengan wajah ditekuk.


“Iya, Mas Juna nggak lupa. Mas Juna akan berjuang untuk mendapatkan maaf dan cinta Cilla lagi sekalian restu dari papi.”


Cilla mengernyit saat melihat Arjunamenegakan duduknya dan menyandarkan kepalanya ke dinding. Terlihat beberapa kali Arjuna menghela nafas bahkan memejamkan matanya.


“Mas Juna kenapa sih ?” tanya Cilla dengan alis menaut. Wajahnya berubah khawatir saat melihat Arjuna masih diam saja.


“Mas Juna, yang bener nih, Mas Juna kenapa ?” Cilla memegang kening Arjuna yang ternyata aman-aman aja.


Arjuna membuka matanya yang sempat terpejam dan menoleh perlahan menatap Cilla dengan sendu.


“Mas Juna kenapa sih ?” Cilla menyentuh lengan Arjuna karena merasa khawatir.


“Mas Juna lapar banget belum sarapan dari pagi. Sengaja tiap hari datang sebelum jam enam biar bisa lihat Cilla datang ke sekolah. Sekarang lapar banget dan lemas juga habis diperlakukan manis banget sama anak bebek kesayangan Mas Juna.”


“Mas Juna iiihh,” Cilla memukul bahu Arjuna dengan cukup keras hingga pria itu meringis .”Cilla lagi serius malah diledekin terus, Sebel aahh !”


Cilla beranjak bangun dan mengambil tas ranselnya lalu hendak berjalan.


“Mau kemana ?” tanya Arjuna sambil mengernyit.


“Katanya lapar, ya kita cari makan,” omel Cilla sambil berjalan meninggalkan Arjuna.


Pria itu bergegas bangun mengikuti Cilla dengan senyuman mengembang. Bahagianya anak bebeknya sudah bawel kembali.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2