MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kamu Tidak Sendirian


__ADS_3

Hari kedua setelah Cilla membatalkan pernikahannya dengan Arjuna , dengan terpaksa keduanya harus bertemu karena di hari Rabu adalah jadwal Arjuna mengajar di kelas Cilla sesudah istirahat pertama.


 


Sebagai sahabat yang mengetahui akan perjalanan cinta sahabat dan guru matematika mereka, Febi dan Lili menatap curiga saat Cilla dan Arjuna tampak saling menghindar. Bahkan sejak kemarin, Cilla yang selalu menjadi penghuni tetap kursi paling belakang dekat jendela sejak kelas XI, tiba-tiba memutuskan duduk di tengah-tengah berbaur dengan teman-temannya.


 


Meski terlihat saling acuh satu dengan yang lainnya, Febi dan Lili sempat geleng-geleng kepala saat menangkap kalau keduanya bergantian mencuri-curi pandang, malah sempat tertangkap basah kalau mereka akhirnya bertemu pandang selama beberapa detik dan akhirnya sama-sama membuang muka.


 


Dengan jiwa kepo yang meronta-ronta dan sinyal detektif yang mulai bekerja di kepala Febi dan Lili, ketiganya duduk berhadapan di kantin sekolah saat jam istirahat kedua. Cilla yang duduk sendirian dan berusaha bersikap biasa saja saat kedua sahabatnya menatap tajam ke arahnya. Cilla menikmati semangkok bakso yang menjadi menu makan siangnya ini.


 


“Ya ampun mata elo berdua, serem banget kayak macan lagi ancang-ancang mau terkam  mangsanya,” Jovan, mantan ketos yang sudah masuk dalam tim pendukung Cilla dan Arjuna ikut begabung saat melihat suasana canggung di meja ketiga cewek sahabatnya.


 


Tanpa permisi, Jovan langsung duduk di samping Cilla sambil membawa sepiring siomay dan air mineral sebagai menu makannya hari ini.


 


“Ada apaan, sih ?” tanya Jovan saat memandangi Febi dan Lili yang masih menatap tajam ke arah Cilla sambil menyuap batagor mereka. Cilla sendiri terlihat santai menyantap baksonya tanpa mempedulikan Febi dan Lili.


 


“Ada yang aneh sama nih anak,” ujar Lili dengan suara datar. “Seumur-umur sekolah demennya duduk sendirian. Mendadak mulai kemarin pindah duduk di tengah-tengah.”


 


“Terus ada masalah buat lo ?” ledek Jovan,


 


“Kelihatan banget kalau lagi perang dingin juga sama Pak Arjuna,” timpal Febi.


 


“Yah namanya juga orang pacaran, wajar lah kalau sekali-sekali berantem. Kata orang biasanya kalau habis berantem, tingkat kemesraan bisa naik sampai 5 level,” sahut Jovan sambil terkikik.


 


“Emang kalian berantem kenapa lagi ?” Lili mencondongkan tubuhnya ke arah Cilla.


 


“Ada yang ketahuan selingkuh,” bisik Jovan sambil terkekeh.


 


“Eh beneran ?” Lili langsung tercengang begitu juga dengan Febi.


 


Cilla mendorong mangkok baksonya yang sudah habis sedikit menjauh lalu mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya dan meneguk air mineral miliknya.


 


“Gue udah putus sama Pak Juna dan itu semua bukan karena perselingkuhan,” ujar Cilla dengan wajah datar menatap sahabatnya satu persatu.


 


Jovan langsung tersedak bumbu kacang siomaynya hingga Cilla menepuk-nepuk punggung mantan ketos itu, sedangkan Febi dan Lili bukan saja membelalakan matanya tapi langsung melongo.


 


“Kok bisa ?” Febi dan Lili bertanya bersamaan.


 


“Gue belum bisa cerita saat ini. Tapi yang pasti bukan kesalahan Pak Arjuna juga, jadi jangan nethink dulu sama dia.”


 


“Pasti putus gitu ? Bukan masa interupsi gitu ?” Lili dengan wajah keponya kembali bertanya pada Cilla.


 


“Eh nenek, interupsi-interupsi, memangnya lagi rapat pakai ada interupsi segala,” Febi langsung melotot sambil menoyor kening Lili. “Interospeksi, Lili !” lanjutnya dengan gemas.


“Yah sebelas duabelas lah, namanya sama teman, kasih aja sih,” gerutu Lili.


“Kalau ulangan Bahasa Indonesia langsung dicoret,” Febi membuat tanda silang di udara. “Bukan nilai setengah lagi tapi langsung nol !”


“Eh udah sih, elo berdua hobi banget berantem. Untung sesama cewek, kalau beda gender udah gue sumpahin biar jodoh seumur hidup,” omel Jovan.


“Eh si**lan lo !” Febi langsung melotot menatap Jovan yang cuma ngyengir kuda.


 


“Cil,” Jovan merangkul bahu sahabatnya.

__ADS_1


 


“Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan !” Cilla melotot sambil memberi isyarat supaya tangan Jovan turun dari bahunya. Cowok itu kembali nyengir kuda sambil melepaskan rangkulannya.


 


“Elo nggak nyesel ?” lanjut Jovan yang terpotong saat mau bertanya karena pelototan Cilla.


 


“Kan elo yang bilang sama gue, kalau jodoh nggak bakal lari kemana ibarat tak akan lari gunung dikejar,” sahut Cilla sambil tertawa.


 


Meski ada rasa sesak di dadanya, namun sekuat hati Cilla berusaha menutupinya.


 


“Jangan sok kuat di depan kita !” omel Febi. “Kalau memang elo masih anggap kita sahabat, nggak masalah elo mau nangis atau apapun. Jangan coba-coba ngatasinnya sendiri.”


 


“Asal jangan sampai goser-goser di sekolah. Selain nanti rok elo kotor, kalau dilihat sama Pak Arjuna dipikirnya elo nggak bakal bisa move on,” timpal Lili.


 


“Ya kali Cilla mau sampai goser-goser, Neng Lili,” cibir Jovan. “Emangnya kayak elo yang goser-goser kalau nggak dikasih contekan sama Cilla ?”


 


“Eh kok elo tahu kalau gue suka minta contekan sama bocil elo ini ? Cie cie, ternyata Jovan perhatian ya sama Lili,” mata Lili langsung berbinar dan mengerjap-ngerjap menatap Jovan.


 


“Jangan lebay deh, gue mendadak mules dekat-dekat kalau ngeliat mata elo begitu,” cebik Jovan.


 


Wajah Lili langsung cemberut dan mulutnya mengerucut membuat Febi geleng-geleng kepala dan Cilla tertawa.


 


“Udah sih move on napa dari Jovan ? Lagian dia juga udah mantan ketos, nggak punya kuasa lagi buat bantuin elo lepas dari Bu Retno,” ujar Cilla yang mulai berusaha tertawa.


 


“Habisnya elo pelit banget sih,Cil. Punya banya simpanan cowok mateng bukannya dibagi-bagi sama gue dan Febi biar tuh cowok nggak pada busuk, eh malah diperam terus.”


 


Cilla dan Jovan beranjak bangun karena sebentar lagi waktu istirahat akan berakhir.


 


“Emang nih, maunya semua serba gampang aja !” gerutu Febi sambil menoyor kembali kening Lili yang langsung mendapat pelototan dari si pemilik kening.


 


“Febi ! Jangan kurang ajar ya !” pekik Lili sambil mengejar ketiga sahabatnya yang sudah jalan duluan keluar kantin.


 


Dari lantai dua, Arjuna hanya bisa memandang mantan calon istrinya dari tembok pembatas di depan kelas. Ia tersenyum tipis saat melihat Cilla tidak sendirian, ada ketiga sahabatnya yang menemani dan membuat Cilla bisa tersenyum lagi.


 


**


**


 


Pulang sekolah, Cilla berjalan ke arah gerbang dengan Febi dan Lili. Febi dan Cilla sengaja minta tidak dijemput karena akan mampir ke café sekedar chit chat di sana.


 


“Cil, tuh si Jovan lagi ngobrol sama siapa ?” Lili menyenggol bahu Cilla yang berjalan di tengah dan sedang berbincang dengan Febi membahas soal tryout yang akan mulai berlangsung hari Senin depan.


 


Cilla dan Febi langsung menoleh ke arah yang dimaksud oleh Lili. Jovan yang sudah berada di atas motornya tampak berbincang dengan seseorang. Dari bayangan seragamnya, terlihat kalau gadis itu berasal dari sekolah lain.


 


“Cilla !” pekik Amanda begitu melihat sosok Cilla yang semakin mendekati gerbang sekolah.


 


“Manda ? Kok bisa nyasar kemari ?” Cilla tersentak saat Manda memeluknya cukup keras hingga ia sempat terhuyubg.


“Jangan bilang kalau elo mau ketemu calon pacar” ledek Cilla dengan suara berbisik.


 

__ADS_1


“I’m sorry to hear that,” ujar Amanda dengan wajah sedih setelah melerai pelukannya. Cilla hanya mengernyit, belum menangkap dengan ucapan Amanda.


 


“Papa udah cerita kalau elo batal menikah sama Kak Juna dan Mama masih suka nangis sendiri,” ucap Amanda dengan wajah sedih.


 


“Tolong sampaikan maaf gue sama tante Diva karena udah bikin kecewa,” ujar Cilla dengan senyuman getir.


Ada rasa sedih di hati Amanda saat mendengar Cilla menyebut mama Diva dengan panggilan tante lagi. Sepertinya gadis di depannya ini cukup mengeraskan hatinya. Amanda sempat melirik ke gedung SMA dan mendapati kakaknya sedang berbincang dengan Dono dan menatap ke arah gerbang.


“Udah deh, ceritanya lanjut aja di café. Jadi nongki nggak nih ?” Jovan yang masih anteng duduk di motornya memotong drama melow antara Cilla dan Amanda.


 


“Diihh nggak sabaran banget sih nih cowok !” omel Febi sambil melotot.


 


“Cewek itu kalau lagi bagian cerita sedih suka kelamaan bikin endingnya,” cibir Jovan sambil tertawa.


 


“Ya udah, nih elo bawa Amanda duluan sekalian cariin tempat buat kita,” Cilla mendorong bahu Amanda ke arah motor Jovan.


 


“Eh gue barengan aja sama elo bertiga,” tolak Amanda dengan sedikit salah tingkah.


 


“Udah nurut aja,” Cilla menggeleng menolak permitaan Amanda dan memberi kode pada Jovan untuk memberikan helm milik Cilla yang dibawa-bawa oleh cowok itu.


 


“Tuh pake helm gue. Sengaja gue titip kalau mendadak butuh naik ojol. Lagian kapan lagi dapat babang ojol yang ganteng begini. Keburu dicomot orang, nanti elo nyesel deh,” Cilla mengedipkan sebelah matanya pada Amanda.


 


“Eh elo kira gue gorengan kantin yang suka dicamat comot anak-anak,” gerutu Jovan.


 


“Udah deh bang ojol jangan protes !” Cilla mendelik. “Nyesel kalau nggak mau angkut nih penumpang cantik.”


 


Jovan hanya mencibir dan membiarkan Cilla memaksa Amanda ikut dengan Jovan bahkan sampai memakaikan helm untuk adik Arjuna itu. Akhirnya Amanda pun dengan sedikit repot naik ke atas motor sport Jovan.


 


Cilla menepuk-nepuk bahu Jovan membuat cowok itu menoleh dan mengangkat kaca helmnya.


 


“Copot jaket elo !” perintah Cilla. “Masa elo rela orang-orang menikmati paha mulus calon pacar, “ ledeknya sambil tertawa.


 


Jovan menggerutu namun tetap melepaskan jaket miliknya dan membiarkan Cilla membantu Amanda menutupi kakinya.


 


“Jangan ngebut-ngebut, Bang. Gagal sama calon mertua kalau sampai anaknya lecet sedikit aja,” ledek Cilla sambil kembali menepuk bahu Jovan menyuruhnya jalan.


 


Selesai dengan drama Jovan dan Amanda, Cilla kembali pada Febi dan Lili yang sejak tadi hanya menjadi penonton.


 


“Sorry Li, bukan bermaksud berkhianat sama sohib sendiri. Tapi justru gue peduli dan sayang sama elo. Sangat menderita kalau elo maksain orang tetap bersama elo meskipun dia nggak cinta,” ujar Cilla merangkul bahu Lili sambil melangkah menuju halte di depan sekolah.


 


“Kayaknya gue udah mulai bisa nerima kalau Jovan memang nggak ada perasaan dan nggak bakal bisa menganggap gue lebih dari sahabat,” sahut Lili sambil tersenyum. “Makanya elo jangan pelit-pelit keluarin simpanan cowok-cowok mateng elo.”


 


“Dih elo kira gue makelar gi**lo apa ?” Cilla mendelik. “Ngapain gue simpan cowok-cowok mateng kebanyakan, punya satu aja akhirnya musti gue lepas meski dengan berat hati” lanjut Cilla sambil tertawa getir.


 


“Udah sih jangan langsung korslet ke Pak Arjuna,” nasehat Febi. “Pelan-pelan aja, ikutin suara hati elo. Jangan terlalu keras juga menolak. Kan tadi elo bilang sendiri, kalau sudah jodoh siapa yang mampu menghindarinya.”


 


“Duh tumben bijak,” cebik Lili.


 


“Eh otak gue masih lurus lempeng !” Febi mendelik menatap Lili. “Memangnya kayak elo yang punya otak sama mulut kadang-kadang kagak sinkron. Setelannya harus sering-sering di refresh biar nggak ngaco.”

__ADS_1


 


Lili mencibir namun akhirnya ikut tertawa bersama Cilla. Febi memang paling tidak sabaran dan sering komplain dengan kelakuan Lili yang suka ngasal, meski dalam hati dia sayang pada kedua sahabatnya ini.


__ADS_2