MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Dukungan yang Tak Terduga


__ADS_3

Wajah Sherly bertambah geram dengan kedua tangan mengepal di samping.


“Jadi beneran kata Sherly kalau elo memang udah menggoda Pak Arjuna sejak Pak Arjuna diterima menjadi guru di sini ?” tanya Lina kembali.


Sepertinya siswi kelas XII IPA-1 itu sudah menjadi bagian dalam kelompok pendukung Sherly.


“Cinta itu nggak datang mendadak apalagi sampai pada keputusan mau nikah. Soal alasannya kenapa sepertinya kita berdua punya hak untuk tidak membagikannya pada khalayak ramai,” sahut Cilla dengan suara tenang dan senyuman tipis. “Yang pasti kita berdua menikah bukan karena terpaksa dan seperti kalian lihat di foto itu kalau pernikahan kami direstui orangtua.”


“Kenapa harus merahasiakan alasannya segala ?” tanya Sherly sambil memberi isyarat pada Pak Didi untuk menampilkan gambar berikut yang ada di flashdisk.


“Apa karena ini ?” tanya Sherly.


Lagi-lagi foto yang ditampilkan membuat banyak mata tercengang. Terlihat Cilla sedang dirangkul bahunya oleh Arjuna di depan lobby rumah sakit. Mata Cilla sedikit sembab dan mereka berdua sedang berbicara dengan seorang dokter.


“Maksud elo gimana ?” tanya Cilla sengaja pura-pura tidak mengerti.


“Melihat bagaimana kondisi elo dalam pelukan Pak Arjuna, sepertinya ada sesuatu yang membuat elo shock banget.”


“Iya, memang ada sesuatu yang buat gue sedih dan merasa cemas,” sahut Cilla santai.


Kasak kusuk kembali terdengar persis seperti dengungan lebah dekat sarangnya.


“Terus poin yang elo mau tanyain itu soal apa ?” tanya Cilla menatap Sherly.


“Bukan nggak mungkin kalau elo shock setelah tahu kondisi elo sebenarnya,” tantang Sherly dengan wajah penuh keyakinan.


“Apa elo udah memastikan siapa dokter yang lagi ngomong sama gue dan Pak Juna ?”


“Dokter Steven, spesialis anak,” jawab Sherly dengan arogan.


“Terus apa hubungannya dokter anak dengan pernikahan gue sama Pak Arjuna ?”


“Jangan pura-pura ogeb deh,” Merry gantian berdiri dengan wajah kesal. “Elo pasti ngerti maksud Sherly. Kita semua mau tahu apa elo hamidun sampai Pak Arjuna memutuskan untuk menikahi elo secepatnya ?”


Cilla tertawa pelan bukan karena menganggap enteng pertanyaan Merry, tapi harapannya tercapai. Kalimat yang menganggap Cilla hamil duluan bukan keluar dari mulutnya.


“Untuk membuat anggapan seperti itu akan lebih baik kalau kalian punya bukti lebih dari sekedar foto. Lagipula mana ada orang hamil datangnya ke dokter anak bukan obgyn. Jadi sudah pasti anggapan yang kalian pikirkan itu salah banget.”


“Sejak kapan sekolah ini mengijinkan anak didiknya melanjutkan sekolah dengan status sudah menikah ?” suara menggelegar itu muncul dari pintu aula.


Tante Dinda, mama Sherly, bersama 2 orang ibu dan 1 ayah masuk ke dalam aula tanpa permisi lagi.


“Kami ini komite sekolah,” ujar Tante Dinda. “Sepertinya masalah ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Bukankah peraturan dan tata rertib dibuat untuk dipatuhi bersama tanpa memandang status dan kedudukan ?”


Cilla menghela nafas karena urusannya diperpanjang dengan kehadiran komite sekolah, tidak cukup hanya dengan Sherly saja.


“Selamat pagi Bu Dinda, Bu Dian, Bu Tia dan Pak Agus,” sapa Pak Slamet dengan nada sedikit menyindir.


”Selamat pagi Pak Slamet,” hanya Pak Agus yang membalas sapaan Pak Slamet.


“Sepertinya masalah ini cukup berat,” lanjut tante Dinda mengabaikan Pak Slamet. “Seharusnya sebagai anak pemilik sekolah kamu bisa menjadi teladan yang baik untuk teman-temanmu, bukan malah membuat masalah seperti ini yang bisa membuat jelek nama baik sekolah ini.”


Tante Dinda berdiri dekat Cilla, menatap gadis itu dengan tatapan sinis. Sebelas duabelas dengan anaknya, suka bersikap pongah dan mencari-cari kelemahan orang lain.


“Apa Tante bisa lebih memperjelas maksud ucapan Tante ? Pernikahan saya dengan Pak Arjuna bukan hal yang memalukan karena kami sama-sama saling cinta, direstui oleh keluarga dan mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.”


“Lalu kenapa disembunyikan ? Tidak berani dipublikasikan.”


“Kalau maksud Tante saya tidak mengundang Tante dan anggota komite bukan berarti pernikahan kami disembunyikan karena ada apa-apanya. Acara sakral itu memang hanya untuk keluarga dan orang-orang yang sangat penting bagi kami. Jangan takut kalau nama Tante tidak ada dalam list saat kami mengadakan pesta nanti.”

__ADS_1


“Kamu pikir saya ada di sini hanya karena masalah undangan pesta ? Suami saya masih sanggup membayar makan di restoran mewah.”


Cilla tersenyum tipis. Cukup menyenangkan memancing orang yang suka pamer dalam keadaan emosi.


“Saya sudah menjawab pertanyaan Tante dan tidak ada niat dari kami untuk menyembunyikan pernikahan saya dengan Pak Arjuna. Semua persyaratan juga sudah kami penuhi. Untuk masalah pemberitahuan secara luas, saya dan Pak Arjuna bukan publik figur yang butuh media massa untuk mengumumkan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan kami.”


“Tidak mungkin orangtua menikahkan anak yang umurnya masih di bawah ketentuan undang-undang kalau tidak terpaksa,” ujar Tante Dinda dengan wajah sinisnya:


Cilla kembali menghela nafas. Rasanya susah memberikan penjelasan pada orang yang niatnya memang sudah tidak baik. Meskipun sudah dijawab, pertanyaan akan kembali berputar-putar di masalah yang sama, hanya saja kalimat yang digunakan berbeda-beda.


“Maksud Tante seperti omongan Lina tadi ? Saya dan Pak Arjuna dinikahkan karena saya sudah hamidun ?”


“Bukannya memang begitu ?”


Cilla tertawa pelan membuat Tante Dinda merasa disepelekan.


”Jangan kurang ajar kamu sama orangtua !” bentak Tante Dinda yang hanya ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Cilla.


“Jadi maksud Tante ?”


“Penyebab masalah pernikahan dipercepat apalagi dengan anak di bawah umur seperti kamu biasanya karena hamil di luar nikah.”


Kena loh Tante Dinda, sorak Cilla dalam hatinya. Untungnya semua masih dalam proses perekaman.


“Menantu saya tidak menikah karena sudah hamil duluan !”


Cilla langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah tercengang. Terlihat ada mama Diva, Amanda dan Theo berdiri di sana.


“Mama,” desis Cilla dengan senyuman.


“Saya bisa menuntut anda atas pencemaran nama baik kalau sampai terbukti menantu saya tidak hamil di luar nikah,” tatapan tajam mama Diva membuat tante Dinda sedikit menciut.


“Ibu…”


Cilla tersenyum dengan tatapan kagum. Tidak disangka kalau mama Diva yang selama ini terlihat tenang dan hanya seorang ibu rumah tangga ternyata terlihat keren saat berhadapan dengan Tante Dinda.


“Bukan maksud saya menuduh Cilla seperti itu,” tante Dinda mulai melunakan suaranya, tidak sekeras tadi.


“Semua yang terjadi di ruangan ini terekam dengan baik,” mama Diva mengarahkan wajahnya ke dua orang staf OSIS dari seksi dokumentasi yang tadi ditunjuk Devan.


“Jadi harap jangan memutar balikan omongan anda lagi,” tegas mama Diva membuat tante Dinda menelan salivanya.


Tidak lama bel jam istirahat kedua berbunyi, yang artinya jam pulang sekolah untuk anak-anak kelas XII yang memang dijadwalkan pulang cepat.


“Sepertinya masalah ini bisa dilanjutkan di ruang kepala sekolah,” ujar Pak Rachman mendekati Cilla, mama Diva dan Tante Dinda yang berdiri berdekatan.


“Sekarang waktunya anak-anak pulang, jadi kita bisa teruskan di ruangan Pak Slamet,” lanjut Pak Rachman.


“Kami bersedia untuk mengikuti penyelesaian masalah ini, Pak,” Nino, ketua kelas XII IPS-1 bangkit dari tempat duduknya dan buka suara.


“Betul, Pak. Sebagai teman-teman sekelas Cilla, kami bersedia tetap di sini sampai semuanya jelas dan tuntas,” Mira pun ikut bangun menimpali ucapan Nino.


Kompak semua teman sekelas Cilla berdiri di depan kursi mereka.


“Kami semua bersedia mendengarkan penjelasan dari Cilla, Pak,” ujar Reina mewakili teman-temannya.


Anak-anak kelas lain pun ikut buka suara dan setuju dengan permintaan anak-anak kelas XII IPS-1.


Cilla menatap teman-teman sekelasnya yang memberikan senyuman dan semangat untuk Cilla.

__ADS_1


“Terima kasih,” ujar Cilla tanpa suara.


“Kalau begitu silakan anak-anak duduk dan kita lanjutkan sampai 30 menit ke depan,” ujar Pak Rachman setelah berdiskusi dengan Pak Slamet dan para wali kelas yang sudah maju ke depan.


“Halo sayang,” bisik Jovan saat melewati Amanda menuju meja Pak Didi.


Belum sempat Amanda membalas, Jovan sudah menarik kursi dan duduk di sebelah Pak Didi, mengutak-atik laptopnya dan siap membantu mama Diva.


“Selamat siang anak-anak. Saya adalah mama Arjuna, mantan guru matematika kalian yang sekarang telah sah menjadi suami teman kalian Priscilla Darmawan,” mama Diva memulai penjelasannya di depan semua siswa.


Mama Diva menoleh, meminta Cilla mendekat dan menggenggam tangan menantunya.


“Mungkin sebagian tidak menduga soal pernikahan Arjuna dan Cilla yang kesannya mendadak. Kenyataannya tidak demikian, semua sudah direncanakan jauh sebelum Arjuna mengajar di sekolah ini bahkan sebelum Cilla menjadi murid di Guna Bangsa.”


Mama Diva menjeda dan memberi kode pada Jovan yang sudah siap dengan laptopnya.


Cilla mengerutkan dahi dan yakin kalau Jovan sudah tahu soal rencana kedatangan mama Diva ke sekolah.


Cilla bergeser, memposisikan dirinya menyamping agar bisa melihat ke layar sekaligus mudah melihat forum.


Matanya membelalak saat melihat tampilan foto yang terpampang di layar.


“Arjuna dan Cilla sudah saling mengenal sejak mereka masih kanak-kanak. Foto ini diambil saat Ibu Sylvia, istri Pak Darmawan sekaligus mami Cilla meninggal dunia. Foto yang di atas saat berada di rumah duka, kalau yang di bawah tentu saja semua pasti sudah bisa tahu dimana mereka berada, makam maminya Cilla.”


Cilla mengerjap, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Cilla sendiri tidak pernah ingat kejadian yang terpampang di depannya.


Foto pertama saat di rumah duka terlihat Arjuna sedang berlutut di depan Cilla yang duduk di kursi sendirian. Arjuna sedang mengusap kepalanya, sementara wajah Cilla sendiri basah dengan linangan air mata.


Foto kedua membuat Cilla berusaha mengingatnya kembali. Arjuna sedang menggendong Cilla yang merangkul leher Arjuna dan merebahkan kepalanya di atas bahu remaja pria itu. Tubuh Arjuna mulai terlihat tinggi sementara Cilla masih bertubuh mungil meski usianya sudah lima tahun.


“Lama tidak pernah lagi saling bertemu, keduanya tidak lagi saling mengenali saat dipertemukan kembali di sekolah ini dengan status sebagai guru dan murid. Tidak perlu dibahas siapa dulu yang jatuh cinta, kami para orangtua yang memang sudah lama ingin menjodohkan keduanya merasa senang karena tanpa dipaksa Arjuna dan Cilla sama-sama saling mencintai. Rencana awal pernikahan keduanya akan dilangsungkan setelah Cilla lulus SMA, tapi karena ada alasan mendesak dan khusus yang sifatnya sangat pribadi, maka pernikahan mereka dilakukan minggu lalu sementara untuk pestanya sendiri menunggu sampai semua urusan Cilla di sekolah ini selesai. Saya berani menjamin kalau alasan yang dimaksud itu bukan karena salah satu dari mereka atau keduanya melakukan perbuatan yang melanggar norma.”


“Tapi tidak diperbolehkan bagi anak yang sudah menikah melanjutkan sekolahnya,” protes tante Dinda namun dengan suara pelan.


“Jadi maksud anda menantu saya tidak boleh menyelesaikan sekolahnya yang tinggal 2 minggu lagi ?”


Tante Dinda tidak berani menjawab langsung apalagi sempat diingatkan soal rekaman yang masih berlangsung.


“Kami tidak setuju kalau Cilla dilarang mengikuti PAS dan ujian sekolah,” Nino kembali bangun dan menjadi wakil teman-teman sekelasnya yang ikut berdiri juga.


“Bagi kami tidak masalah kalau Cilla menikah dengan Pak Arjuna. Sah-sah aja, apalagi pernikahan mereka sudah resmi secara agama dan negara,” timpal Dodi.


“Tidak perlu kita semua mengetahui alasan pribadi Cilla dan Pak Arjuna. Toh tidak ada satu murid pun yang dirugikan dengan pernikahan mereka,” dengan suara lantang Mira ikut berbicara.


Ungkapan teman-teman sekelas Cilla mengundang keberanian murid lainnya yang mendukung Cilla dan Arjuna.


“Selamat menempuh hidup baru buat Cilla dan Pak Arjuna,” ucap Reina.


“Jangan lupa Cil, hutang makan-makannya,” celetuk Aron sambil tertawa.


“Dobel combo buat kelas kita, Cil. PJ sama pesta kawinnya,” timpal Nico.


“Kalau soal begitu mah gampang buat Cilla dan Pak Arjuna,” ujar Lili ikut buka suara. “Asal jangan lupa datang kondangan wajib bawa kado, minimal amplop isi uang biru.”


“Huuuuu…” sambut teman-teman Cilla.


Cilla makin melebarkan senyumannya dengan wajah bahagia. Tidak menyangka kalau teman-teman sekelasnya akan memberi dukungan secara terbuka seperti ini.


Mama Diva ikut tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Theo dan Amanda yang masih berdiri di pinggir ikut merasa lega.

__ADS_1


Mereka yakin kalau bentuk dukungan itu bukan karena mereka mencari muka pada Cilla yang adalah anak pemilik sekolah, tapi murni ketulusan sebagai teman-teman seperjuangan yang sudah bersama Cilla selama dua tahun.


Cilla anak pemilik sekolah yang mereka kenal, tidak pernah memanfaatkan status dan kedudukannya untuk berbuat semena-mena.


__ADS_2