
“Mau apa lo kemari ? Mau ngetawain kebodohan gue ? Gue nggak masalah, tapi satu hal yang perlu elo tahu kalau perasaan gue ke Cilla bukan asal-asalan,” sinis Glen saat Arjuna datang menemuinya di kantor polisi.
“Kenapa jadi cowok sensi banget ?” ledek Arjuna balas tertawa mengejek.
“Gue datang sebagai sahabat atau mantan sahabat, terserah elo mau kasih gue julukan apa.”
Glen melengos kesal sementara Arjuna sudah menarik kursi yang ada di hadapannya.
“Sebagai atlit basket andalan sekolah, ternyata mental elo nggak sekuat di lapangan saat bertanding,” ujar Arjuna.
“Ini semua nggak ada hubungannya dengan basket,” gerutu Glen.
“Tentu saja ada. Elo lupa gimana pelatih kita ngajarin supaya kita bukan hanya jago drible, bikin skor tinggi dan mengecoh lawan, tapi juga tahu menghargai anggota lain sebagai satu tim karena dalam permainan basket lawan yang kita hadapi bukan satu. Basket bukan pertandingan satu lawan satu.”
“Mau ceramah di sini ? Gue nggak butuh.”
“Kejadian ini membuktikan kalau elo hanya menganggap gue sahabat di mulut aja.” Glen hanya tersenyum sinis, tidak menanggapi ucapan Arjuna.
”Kenapa elo nggak tanya langsung sama gue atau Gina saat melihat kejadian surat cinta itu ? Kalau memang elo laki-laki dan merasa adik lo udah dihina, seharusnya saat itu juga elo samperin gue kalau perlu langsung pukul baru nanya.”
“Dan bikin elo tambah gede kepala ?”
“Setidaknya elo menunjukkan sama adik lo kalau sebagai kakak, elo akan membela dia sekalipun harus kehilangan teman di sekolah.”
Glen terdiam, rahangnya masih mengeras dan kebencian masih terlihat dalam tatapan matanya.
“Gue selalu menganggap elo sahabat, Glen, bukan karena elo satu-satunya yang mendukung saat gue bilang mau mendekati Luna, tapi karena gue merasa klop sama elo saat kita satu tim basket.
Gue sangat kehilangan saat elo menjauh dan selalu menatap gue penuh kebencian tanpa mau menjelaskan apa penyebabnya meskipun gue udah coba tanya sampai berkali-kali.”
“Nggak usah jadi cowok melow,” cebik Glen.
“Bukan melow tapi sejak mengenal Cilla, gue belajar untuk jujur tentang perasaan sendiri. Kalau mau orang lain tahu, jangan malu-malu untuk mengatakannya.”
Glen menghela nafas saat Arjuna menyebut nama Cilla. Dua malam mendekam dalam tahanan membuat Glen punya kesempatan merefleksikan diri apalagi setelah mendengar cerita mama Vina.
Sumber masalahnya sulit memaafkan Arjuna adalah RASA IRI ! Sejak dulu Glen sering merasa kalau Arjuna lebih beruntung darinya. Padahal Arjuna tidak pernah menunjukkan kalau dia lebih dari Glen. Arjuna hanyalah cowok SMA biasa yang kemana-mana sukanya naik motor meski punya mobil untuk pamer.
Arjuna yang urakan dan cuek itu ternyata banyak disukai oleh siswi di sekolah mereka termasuk para adik kelas, padahal di lapangan basket, Glen adalah bintangnya.
“Glen, rasanya sedih bisa duduk dan ngobrol sama elo di ruangan seperti ini. Sorry karena gue nggak bisa membiarkan elo lepas dari tanggungjawab atas perbuatan elo sama Cilla tapi gue janji akan mendiskusikan dengan keluarga gue gimana baiknya karena gue nggak mau hidup elo berakhir hanya karena kesalahpahaman.”
“Nggak usah sok baik atau kasihan. Jalan hidup gue nggak ditentukan sama keputusan elo !” sahut Glen dengan suara tinggi. Arjuna hanya tersenyum tipis.
“Gue balik dulu. Semua memang terserah elo sendiri. Jangan menyimpan dendam kelamaan karena nggak ada gunanya juga, hanya menghalangi hal-hal baik datang dalam hidup lo.”
Arjuna beranjak dari kursinya. Semula ia ingin mengajak Glen berjabat tangan tapi melihat wajah pria itu, Arjuna urung dan hanya tersenyum tipis sebelum meninggalkan Glen.
__ADS_1
“Arjuna Hartono !”
Arjuna yang sudah memegang pegangan pintu menoleh dan menatap Glen yang sudah beranjak dari kursinya.
”Jangan lengah karena gue akan selalu mencari celah untuk mendapatkan Cilla.”
“Nggak bakalan,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan dan langsung keluar meninggalkan Glen.
Sambil berjalan keluar Arjuna tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala. Aura kebencian sudah mulai berkurang saat Glen berbicara tadi dan tidak terlihat kalau ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
*****
Masalah Glen yang ditangkap karena kasus penculikan Cilla dirahasiakan oleh pihak kampus atas permintaan Arjuna. Setidaknya jangan sampai mental Glen jatuh dan terpuruk sebelum keputusan pengadilan dijatuhkan.
“Elo udah masuk kampus lagi ?” tanya Lili saat berpapasan dengan Cilla di lorong lantai 1.
“Udah, gue aman-aman aja kok.”
“Masih ada kelas ?” tanya Lili kembali. Cilla menggelengkan kepala.
“Jangan di kantin sini, cari tempat lain aja. Elo berdua masih ada kelas ?”
Febi dan Lili kompak menggeleng. Ketiganya langsung menuju parkiran mobil dan naik ke mobil Lili mencari tempat nongkrong yang jauh dari kampus.
“Dikasih ijin kan sama Pak Juna ?” tanya Febi sambil menoleh ke belakang.
“Bukan cuma ngambek, alamat Pak Juna puasa sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan,” ledek Lili sambil tertawa.
“Nah itu tahu,” sahut Cilla.
15 menit kemudian, mobil Lili sudah parkir di salah satu kafe yang lumayan sering mereka datangi. Ketiganya langsung masuk dan mencari tempat yang agak pojok.
“Jadi gimana nasib lo waktu diculik sama dosen ganteng ?” tanya Lili.
“Gue nggak diapa-apain selama nggak bikin dia marah, hanya dikunciin di apartemennya. Tetap dikasih makan dan dibawain baju ganti, tapi gue ogah banget mandi apalagi pas tahu ada pakaian dalam yang ukurannya bisa pas banget sama gue. Kayaknya ngeri-ngeri gimana gitu, takut kalau ada CCTV tersembunyi di dalam kamar mandi.”
“Takut udah dijampi-jampi ? Efek kebanyakan nonton film penculik psycho,” canda Febi sambil tertawa.
”Who knows ?” sahut Cilla.
“Sayang ya, ganteng-ganteng ternyata psycho !” Lili sampai menggedikan bahunya.
“Makanya Papa tetap menjalankan proses hukum dan gue setuju banget, tapi Mas Juna minta supaya jangan dipublikasikan dulu apalagi di kampus. Gue lihat Mas Juna sedih banget pas tahu masalah yang sebenarnya. Dia menyesal membiarkan Om Boni dan teman-temannya menertawakan surat cinta yang diterimanya saat Ospek.”
“Itu artinya Pak Juna peduli banget sebagai sahabat. Dia nggak mau masa depan Pak Glen berantakan hanya karena rasa dendam yang salah alamat,” ujar Febi.
“Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga,” gumam Lili.
__ADS_1
“Terus Bu Susan nggak sekalian dibawa juga sebagai partnernya Pak Glen ? Biar bagaimana tuh dosen pernah membuat nama elo jelek di kampus,” ujar Febi.
“Itu terserah Mas Juna sama Papa aja, deh. Gue nggak mau terlalu pusing, apalagi bentar lagi udah mau semesteran lagi.”
“Halo my angels.”
Febi dan Lili langsung menoleh, hanya Cilla yang senyum-senyum. Jovan yang baru datang dengan wajah tersenyum langsung menarik kursi kosong yang tersisa.
“Kalo Cilla yang suruh elo pasti datang, giliran gue yang minta elo selalu banyak alasan,” sungut Lili dengan wajah cemberut.
“Baru bubar kelas dapat tawaran makan siang gratis siapa yang nolak, apalagi ditemani cewek-cewek cantik.”
“Sejak kapan gue masuk hitungan cantik. Elo ngejek ?” tanya Febi sambil melotot.
Jovan hanya tertawa dan melambaikan tangan pada pelayan. Tanpa sungkan ia langsung memesan makanan dan minuman.
”Jadi ceritanya gimana ? Elo masih aman dan tetap perawan Kak Juna setelah diculik semalaman ?”
“Dasar dokter sableng ! Sejak kapan emak satu ini masih perawan,” Lili langsung memukul bahu Jovan.
“Sakit Lili ! Badan gue nggak sama kayak Dimas yang suka fitnes,” Jovan mengusap bahunya sambil meringis.
“Jadi gimana ceritanya ?” Jovan mengulang pertanyaannya. Cilla pun menceritakan detil penculikannya sampai Arjuna bisa menemukannya di apartemen dan perbincangan mereka di kantor polisi.
“Kasihan memang kalau dengar cerita yang sebenarnya tapi Pak Glen salah banget karena nggak nanya langsung sama Kak Juna. Kalau gue di posisi dia, pas kejadian adik gue nangis gara-gara surat cintanya dibuang, gue akan langsung samperin terus tarik kerah bajunya dan kalau perlu gue tonjok sampai berdarah baru gue tanyain alasannya. Begitu juga pas adik gue ditemukan bunuh diri, tanpa nunggu besok, gue langsung samperin yang namanya Arjuna.”
“Gue setuju !” timpal Febi.
“Iya gue sempat mikir begitu pas ketemu di kantor polisi dan gue lihat Pak Glen malah jadi kayak orang psycho gitu,” ujar Cilla.
“Hati-hati aja alasan kelainan jowa itu dipakai untuk mengakhiri kasus ini.”
“Hhmmm… Gue yakin Mas Juna dan Papa udah mengantisipasinya.”
“Ngomong-ngomong elo nggak lagi hamil kan, Cil ?”
“Jangan ngadi-ngadi deh,” gerutu Cilla sambil melotot.
Jovan mengerutkan dahi, menyipitkan matanya dan memegang dagunya sambil mengamati Cilla.
“Kenapa firasat gue bilang kalau elo lagi hamil lagi, ya ?”
“Jovan !” Cilla makin melotot membuat Lili dan Febi tertawa.
”Punya suami ini, ngapain juga khawatir kalau hamil lagi,” celetuk Febi.
Cilla masih cemberut dan meraih gelas minumannya lalu meneguknya sampai tandas.
__ADS_1