
“Ada masalah apa lagi sama Kak Juna ?” tanya Amanda yang siang itu bertemu dengan Cilla, Febi dan Lili di kantin kampus.
”Nggak ada. Gue aja kaget pas tahu Mas Juna jadi dosen di sini.”
“Mau ngulang nostalgia SMA nih,” ledek Lili sambil terkekeh.
“Udah jadi istri mau nostalgia apanya ?” timpal Febi.
“Elo nggak pusing punya suami posesif gitu, Cil ?”
“Suami posesif gue itu kakak elo juga, Manda. Udah dari pabriknya gue terima kayak begitu, turunan keluarga Hartono kayaknya,” sahut Cilla sambil tertawa pelan.
Sepertinya Amanda tidak langsung sadar kalau dirinya juga masuk kategori pacar posesif. Rasa curiganya pada Jovan yang kuliah beda kampus sering menciptakan letupan-letupan di perjalanan cinta mereka.
“Nyindir ?” cibir Amanda.
“Nggak nyindir, Sis, emang faktanya begitu. Tapi buat gue pribadi nggak masalah selama Mas Juna masih memberikan gue kesempatan untuk kuliah dan berteman. Gue malah suka kalau sekali-sekali Mas Juna cemburu berat karena tandanya dia cinta banget sama gue.”
“Dasar bucin Pak Juna,” cebik Lili.
“Bikin lo iri kan ? Suruh Dimas bucin kayak Pak Juna juga, dong,” ledek Febi sambil menyenggol bahu sahabatnya.
“LDR, Feb. LDR. Kalau kelewat cemburuan rempong putus nyambung terus. Lagian gue percaya sama kakang Dimas yang lagi berjuang demi segenggam berlian.”
“Nggak sekalian seember, Li ?” ledek Cilla.
“Siap-siap aja dapat musuh baru, Cil. Kan nggak semua penghuni kampus tahu kalau elo itu istrinya Kak Juna.”
“Bukan itu doang, Manda, tingkat kewaspadaan harus jadi siaga 1 soalnya Mas Juna itu suka nggak bisa menolak ciwi-ciwi yang manis manja gitu.”
“Elo-nya tinggal ditambahin gula, Cil, biar tambah manis,” ledek Lili sambil tertawa.
“Ogah ! Sekarang aja suka dikerubutin semut, apalagi kalau tsmbah gula.”
“Bisa Kak Juna pilih jadi dosen permanen yang kerjanya ngawasin elo doang dari pagi sampai sore,”
ledek Amanda.
Usai makan keempatnya keluar kantin untuk lanjut kuliah siang ini. Terlalu asyik berbincang mereka tidak memperhatikan sejumlah mahasiswi senior berjalan ke arah pintu masuk kantin.
__ADS_1
“Maaf,” ujar Cilla saat bahunya bertabrakan dengan salah satu senior.
Sesudah menganggukan kepala sekilas sebagai permintaan maaf, Cilla pun kembali melanjutkan langkahnya.
“Tunggu !”
Cilla berhenti dan membalikkan badan. Ketiga senior itu sudah berdiri menatapnya dengan wajah perang.
“Elo mabar yang pernah bikin heboh dengan Hans kan ?”
“Waktu itu hanya salah paham, Kak,” sahut Cilla masih disertai senyuman.
“Terus kemarin ikut masuk ke ruangan dosen baru juga salah paham ?” sindir senior lainnya dengan senyuman sinis.
Penggemar salah kamar, gerutu Cilla dalam hati.
“Apa ada aturan yang melarang mahasiswa bertemu dengan dosen di ruangannya ?” tanya Cilla balik.
“Nggak ada, tapi nggak sampai lama kayak elo juga.”
“Maksud kakak ?”
Senior yang paling songong dan Cilla yakin pimpinan dari ketiga cewek di depannya, berjalan mendekatinya.
Amanda yang langsung naik darah mendengar kakak iparnya dihina seperti itu sudah bersiap maju namun Febi menahannya sambil menggelengkan kepala saat adik Arjuna itu bersiap protes.
“Sejak kapan kampus ini punya kandang ayam ?” tanya Cilla sambil menautkan alisnya.
“Jangan sok alim !” bentak senior lain sambil mendorong bahu Cilla.
“Satu kampus ini tahu kalau setelah gagal dengan Hans, elo mendekati Pak Glen bahkan keluar masuk ruangan tertutup dengan alasan membantu tugas-tugas dosen. Sekarang dosen baru itu jadi target elo selanjutnya ?” Sekali lagi senior itu mendorong bahu Cilla.
“Heh, ngapain lo ngerekam segala ?” senior yang lain membentak Lili saat melihat sahabat Cilla itu menggerakan handphonenya seperti sedang merekam.
“Aduh !” teriak Lili cukup keras padahal tidak ada yang menyentuhnya namun cara itu berhasil membuat mahasiswa yang melintas atau berdiri dekat situ menoleh.
Senior yang tadi membentaknya urung mendekat dan merebut handphone yang ada di tangan Lili.
“Melakukan kekerasan di kampus bisa dianggap melanggar aturan dan hukum, Kak,” ujar Lili sambil menggerakan handphonenya.
__ADS_1
Senior paling songong itu memberi isyarat pada kedua temannya untuk menyudahi aksi mereka dan meninggalkan Cilla sambil tersenyum sinis dan berdecih.
“Yang sabar Cil, mereka bukan yang pertama,” ujar Lili sambil merangkul bahu sahabatnya.
Sampai di ujung tangga lantai 1 keempatnya berpisah. Febi dan Lili akan masuk ke kelas yang sama sedangkan Amanda dan Cilla masing-masing ke kelas yang berbeda.
“Apa kabar Priscilla ?”
Cilla menarik nafas dalam-dalam saat melihat sosok menyebalkan itu berdiri di ujung tangga dengan senyuman yang membuat banyak mahasiswi meleleh.
“Siang Pak,” Cilla menganggukan kepala sambil menyapa balik dan berjalan ke arah berlawanan.
“Kelasmu bukan ke arah sana,” ujar Glen dengan cukup keras supaya Cilla mendengarnya.
Cilla berhenti dan menghela nafas. Tentu saja memang arah yang dipilihnya bukan menuju kelas selanjutnya dan sangat menyebalkan karena kelas Glen yang jadi jadwalnya setelah ini.
“Semester baru, Pak, saya sampai lupa jadwal,” ujar Cilla tersenyum saat berdiri di samping Glen.
“Gagal fokus karena suami kamu yang super posesif itu jadi dosen di kampus ini ?” sindir Glen tanpa senyuman sinis.
“Tidak perlu menjadi dosen di kampus ini Mas Juna selalu membuat saya gagal fokus karena perhatian dan cintanya yang tidak pernah habis untuk saya dan keluarga kecil kami,” sahut Cilla sambil tersenyum.
“Jadi kamu suka dengan laki-laki yang posesif ?” mata Glen menyipit.
“Saya sama sekali tidak suka dengan pria posesif apalagi terobsesi dengan perasaannya sendiri. Saya suka dan cinta pada seorang Arjuna Hartono dengan segala kepribadiannya. Bagi saya apa yang dilakukan Mas Juna bukan sekedar posesif tapi karena ia sangat-sangat mencintai saya.”
“Jangan suka berlebihan dalam segala hal,” ujar Glen sambil tertawa. “Sakitnya akan berkali-kali lipat kalau pikiranmu itu tidak jadi kenyataan.”
“Pengalaman pribadi, Pak ?” sindir Cilla berdiri di samping Glen.
Glen bergeming, tidak membalas tatapan Cilla yang duluan berjalan ke kelas meninggalkannya masih berdiri di dekat tangga.
Glen tersenyum tipis dan membalikkan badan menatap Cilla dari kejauhan. 2 temannya yang Glen tidak ingat namanya sudah bergabung dengan wanita mungil itu.
Tidak bisa disangkal kalau Glen sudah jatuh cinta pada Cilla sejak pertama kali mereka bertemu. Senyuman wanita yang duduk sendiri menatap ke arah para pemusik jalanan di taman sekitar Gereja Blenduk membuat hatinya yang dipenuhi rasa marah dan benci karena kematian adik dan ayahnya mendadak redup dan tenang.
Glen melihat ketulusan di dalam tatapan wanita yang ternyata tengah hamil itu hingga akhirnya Glen langsung memutuskan untuk menepis bayangan Cilla dari pikirannya.
Tapi takdir membuat mereka kembali bertemu dan kali ini perasaan itu harus bercampur dengan dendam lama yang berusaha dikuburnya bertahun-tahun.
__ADS_1
Glen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia tersenyum tipis sambil melangkah ke arah kelas yang akan diajarnya siang ini.
Glen berharap Cilla akan menjadi keajaiban dalam hidupnya dan membuatnya merasakan cinta sekaligus menghapus kebencian pada Arjuna yang sudah mendarah daging dan menyatu dalam setiap hembusan nafasnya.