
“Jadi mal-nya ada di sini ?” suara berat Arjuna membuat Cilla dan Yola menghentikan aksi mereka dan menoleh ke arah sumber suara.
Arjuna sudah berdiri di belakang Cilla sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Dan pergi sendiri ?” tanya Arjuna dengan nada menyindir, melirik ke arah Yola yang tersenyum kikuk.
“Memang Cilla pergi sendiri, nggak ada siapa-siapa. Bang Dirman juga nggak ikut nganterin,” sahut Cilla dengan nada santai.
“Terus di depan kamu siapa ? Pasti kalian janjian di sini kan ? Memangnya nggak ingat kalau manusia ini udah berbuat apa sama Mas Juna sampai bikin Cilla emosi level 30 ?” ketus Arjuna.
“Ya ampun Juna, berat amat sih sebut nama gue, takut lidah elo melepuh ?” protes Yola dengan wajah sebal.
”Mas Juna sendiri ngapain siang-siang begini ke cafe ? Katanya hari ini penuh dengan meeting ?” mata Cilla memicing membalas tatapan Arjuna yang terlihat dingin.
Belum sempat Arjuna menjawab, panggilan dengan suara wanita terdengar dari balik punggung pria itu.
Cilla memiringkan badannya, mengintip dari balik tubuh Arjuna yang masih berdiri tegak di belakang kursinya.
Mata Cilla memicing, menatap wanita yang berjalan mendekat ke arah mereka sambil membawa dua paper cup di tangannya.
Cilla langsung bangun dan berdiri di samping Arjuna lalu bergelayut di lengan Arjuna membuat pria itu mengerutkan dahinya.
“Ini siapa, Jun ?” tanya wanita itu sambil mengerutkan dahinya, menatap ke arah Cilla dengan tatapan aneh membuat Cilla jadi sebal.
Cilla sengaja diam saja, menunggu jawaban apa yang akan Arjuna berikan di depan wanita yang masih asing bagi Cilla.
“Kenalin ini istri saya,” Arjuna menatap Cilla sambil tersenyum lalu menoleh ke arah wanita di depannya.
“Istri ? Kamu nggak lagi bercanda kan, Jun ? Cewek ini masih pakai seragam SMA,” suara wanita itu mendadak meninggi.
“Iya istri saya memang anak SMA,” sahut Arjuna dengan raut wajah serius.
“Riana ?” Yola yang penasaran ikut memiringkan badan melihat siapa yang berbincang dengan Arjuna dan Cilla.
“Yola ?” Riana juga terlihat terkejut.
“Nggak nyangka bisa ketemu elo di sini lagi bareng sama Juna dan gue lagi sama istrinya. Ternyata mereka benar-benar berjodoh, bahkan sampai di cafe yang jauh dari tempat tinggal, mereka tetap aja bisa ketemu,” ujar Yola sambil tertawa pelan dan bangun dari duduknya, mendekati Cilla dan Arjuna.
“Selamat atas pernikahan elo dan Cilla, Jun,” Yola mengulurkan tangannya.
Arjuna terlihat acuh, enggan membalas uluran tangan Yola. Cilla mendongak dan memberi isyarat agar Arjuna menerima ucapan selamat dari Yola.
“Terima kasih,” gumam Arjuna menuruti permintaan istrinya dan hanya melirik sekilas pada Yola.
“Cilla ikut Mas Juna aja, ya. Mau ke kantor papi, kan ?” Cilla masih bergelayut di lengan Arjuna dan berbicara dengan nada manja.
Arjuna tertawa dalam hatinya. Sepertinya Cilla sedang dalam mode cemburu pada Riana sampai lupa kalau tadi pagi masih ngambek pada Arjuna.
“Memangnya kalau nggak sama Mas Juna, Cilla mau pulang sama siapa ?” Arjuna menatap mesra istrinya sambil menoel ujung hidung Cilla.
“Sama kang ojol kayak tadi pas ke sini,” sahut Cilla sambil tertawa pelan.
“Nggak boleh !” Arjuna menggerakan jari telunjuknya. “Udah ada suami di depan mata masa malah pergi sama cowok lain. Berduaan lagi.”
“Kalau bertiga bakalan kena tilang juga sama polisi, Mas Juna. Lagipula kang ojolnya….”
Arjuna langsung mencium bibir Cilla sekilas di depan Riana dan Yola. Kedua wanita itu tercengang bahkan Riana melotot dengan wajah kesal.
“Mas Juna iihh…” Cilla tersipu dan memukul lengan suaminya pelan. Gayanya manja lebay, sengaja membuat Riana makin panas.
“Malu di depan teman Mas Juna,” ujar Cilla sedikit berbisik.
Arjuna hanya tertawa. Sikap manja Cilla yang seakan lupa dengan aksi irit bicaranya langsung dimanfaatkan oleh Arjuna.
“Nggak apa-apa. Mereka ini teman SMA dan bukan jones juga. Toh kita juga sudah suami istri,”
“‘Mau jalan sekarang ?” tanya Cilla yang merasa malu melihat senyum. Yola yang menggodanya.
Arjuna menjawab dengan anggukan sambil meraih tangan Cilla yang bergelayut di lengannya lalu menggandengnya.
“Kak Yola, Cilla pamit dulu. Sepertinya Kak Yola benar, Cilla sama Mas Juna berjodoh banget,” ujar Cilla sambil terkekeh.
“Gue juga mau balik kantor, Cil. Thankyou ya udah nemenin gue makan siang.”
“Kopi kamu, Jun,” Riana mengulurkan satu gelas di tangannya.
__ADS_1
“Mas Juna sudah minum kopi pagi ini, jadi nggak boleh minum kopi lagi,” Cilla sengaja menahan gelas yang diulurkan Riana dengan tangannya.
“Buat gue aja kalau gitu,” Yola langsung meraih gelas yang disodorkan oleh Riana. “Nggak ada peletnya kan ? Bakalan repot kalau obat peletnya kena ke gue,” ujar Yola sambil tergelak.
Cilla tertawa mendengar sindiran Yola dan melambaikan tangannya karena Arjuna sudah menarik tangannya.
“Jun,” Riana menahan lengan Arjuna saat lewat di depannya. Cilla melirik dan Yola masih tertawa pelan.
”Pembahasan kita soal kerjasama tadi gimana ?”
“Kan baru rencana Riana, belum ada proposal dan lainnya. Lagipula kalau masalah hotel, saya harus bicara langsung sama pemiliknya nih,” Arjuna melirik
Cilla sambil tersenyum mesra.
“Maksud kamu ?”
“Cilla ini pemilik hotelnya jadi tentu harus dilibatkan juga kalau sampai mau kerjasama.”
Cilla tersenyum tipis sambil menatap Riana yang terlihat semakin bertambah kesal.
Arjuna melanjutkan langkahnya sambil menggandeng Cilla.
“Berhenti terobsesi sama Arjuna. Kalau memang elo beneran cinta, pasti elo akan bahagia melihat Juna bahagia. Kelihatan banget kan kalau Arjuna udah bucin akut sama istri kecilnya,” ujar Yola mendekati Riana.
“Lebay,” cebik Riana dengan wajah emosi.
“Elo juga lebay,” sindir Yola. “Udah tahu Arjuna punya istri tapi nggak bisa move on. Masih banyak cowok pengangguran di luar,” ujar Yola sambil tertawa pelan.
Yola berjalan meninggalkan Riana yang masih berdiri dengan wajah juteknya.
Begitu sampai di pintu cafe, Arjuna dan Cilla berpapasan dengan Tino yang baru saja selesai menerima telepon.
“Kopi gue mana Jun ?” Tino mengernyit karena tidak melihat boss nya membawa gelas kopi. “Dan gimana ceritanya kamu ada di sini ?” Tino menunjuk ke arah Cilla.
“Ya ampun maaf banget, No. Begitu ngeliat Cilla, fokus gue langsung berubah haluan,” Arjuna senyum-senyum sambil melirik istrinya
“Gimana nggak galfok, dari pagi udah stress aja gara-gara dicuekin 4 hari sama istri,” sindir Tino.
“Punya konselor baru ?” Cilla melirik ke Arjuna yang masih senyum-senyum.
Cilla hanya mencibir mmebuat Arjuna tertawa.
”Elo beli sendiri ya, gue sama Cilla tunggu di mobil,” ujar Arjuna sambil mengulurkan tangannya meminta kunci mobil.
Tino menggerutu tapi mengikuti juga permintaan Arjuna. Belum juga melangkah, Yola sudah ikut keluar dari cafe.
“Kenapa ?” tanya Yola saat melihat wajah Tino cemberut.
“Nah kebeneran nih,” Cilla langsung memegang gelas yang ada di tangan Yola, pemberian dari Riana. “Kak Yola beneran mau kopinya apa demi menyelamatkan muka Riana aja ?”
“Demi Riana, sih.”
“Kalau gitu boleh buat Om Tino ?”
“Boleh banget,” Yola mengangguk dan menyodorkan gelas kopinya kepada Tino.
“Belum diminum kan ?” Mata Tino menyipit melihat sekeliling pinggiran gelas.
“Duh ternyata boss sama asisten sebelas duabelas, ya,” gerutu Yola. “Curigaan banget sama gue.”
“Udah terima aja, daripada lama lagi,” ujar Cilla mengambil gelas dari tangan Yola dan mendekatkannya pada Tino.
“Aman nggak ?” Tino kembali mengernyit dan wajahnya terlihat ragu.
“Doa dulu sebelum diminum,” ledek Yola sambil terkekeh. “Siapa tahu Riana kasih pelet buat Arjuna, jangan sampai elo yang menanggung akibatnya. Atau mau jadi pahlawan buat boss sendiri, melindungi boss biar dapat bonus.”
“Ternyata kamu cerewet banget, ya,” gerutu Tino.
“Ya ampun Tino, elo kemana aja ? Baru sadar kalau gue ini bawel ?”
“Udah ambil nih,” Arjuna mengambil gelas di tangan Cilla dan memindahkannya ke tangan Tino. “Nggak kasihan istri gue pegangin kopi elo kelamaan ?”
“Dih bucin dan posesif banget,” gerutu Tino. “Memangnya udah baikan ?”
“Memangnya Juna sama Cilla lagi berantem ?” ledek Yola yang menatap Cilla dan Arjuna bergantian, sementara keduanya hanya diam seolah-olah tidak mendengar ucapan Tino.
__ADS_1
”Elo nggak lihat aja gimana melownya muka Arjuna sepanjang pagi ini. Antara kasihan juga ngeselin sih,” ujar Tino sambil tertawa. Yola pun ikut tertawa lagi.
Arjuna hanya melotot menatap asistennya sementata Cilla pura-pura tidak tahu.
“Udah deh, kita masih ada meeting lain,” ujar Arjuna melewati Yola dan Tino sambil menggandeng Cilla.
“Lihat tuh bucin akut,” gerutu Tino di sebelah Yola sambil menatap Arjuna dan Cilla yang bergandengan mesra menuju mobil.
“Kelihatan banget kalau Arjuna bahagia dengan Cilla. Beda banget dibandingkan pas jalan sama Luna,” ujar Yola.
”Iya, bukannya Cilla yang diajar jadi dewasa, Arjuna nya malah jadi kekanak-kanakan.”
“Tapi tetap keren,” ujar Yola sambil terkekeh. Tino langsung menoleh, matanya memicing, menelisik maksud ucapan Yola yang langsung mengangkat kedua bahunya.
Arjuna membukakan pintu belakang untuk Cilla lalu menyalakan mesin mobil sebelum akhirnya ikut duduk di kursi belakang.
“Mas Juna ngapain duduk di sini ?” ketus Cilla.
“Ya di sebelah istri, dong. Mumpung jalan sama istri jadi duduknya sebelah istri.”
“Cilla masih kesel nih sama Mas Juna !” wajah Cilla kembali cemberut.
“Kesal masalah pertemuan sekolah apa cemburu sama Riana ?“ ledek Arjuna sambil tertawa pelan.
“Dua-duanya ! Sana ih, Cilla masih kesal nih,” Cilla mendorong bahu Arjuna yang semakin mendekatinya.
“Maaf deh. Kalau masalah pertemuan di sekolah, itu semua rencana papi yang melarang keras memberitahu Cilla. Mas Juna udah coba bujukin, tapi papi tetap kekeuh.”
“Kenapa pas Cilla tanya Mas Juna diam aja ?” omel Cilla sambil menatap Arjuna dengan tajam.
”Iya sorry, ya. Pikiran Mas Juna nggak fokus. Lihat Cilla udah ngobrol lagi, Mas Juna pikir semuanya sudah selesai,” Arjuna mengelus wajah Cilla supaya tidak cemberut. “Kalau soal Riana, Mas Juna senang banget loh lihat Cilla cemburu.”
”Apa Mas Juna tahu kalau Riana sudah obses sama Mas Juna sejak SMA ?”
“Yola bilang begitu sama Cilla ?” tanya Arjuna sambil tertawa pelan. “Jangan terlalu dipercaya.”
“Tapi dari sikapnya kelihatan kalau Riana ada hati sama Mas Juna. Posesif banget padahal udah tahu Mas Juna punya istri,” gerutu Cilla.
“Istriku tambah cantik nih kalau lagi ngambek. Jadi makin nggak sabar mau belah duren. Nggak lupa kan sama janjinya ?” Arjuna tertawa sambil menoel-noel pipi Cilla yang langsung melotot.
“Cilla masih kesel ya !” omel Cilla tapi membiarkan tangan Arjuna mencubit kedua pipinya.
“Kata orang, rasa marah suami istri paling cepat diselesaikan di atas ranjang,” ledek Arjuna sambil mengedipkan matanya.
Baru Arjuna mau mencium bibir Cilla yang mengerucut, Tino keburu membuka pintu depan. Tangan Cilla reflek mendorong Arjuna menjauh.
“Bagooss ! Sekarang bukan cuma jadi asisten tapi merangkap sopir cabutan,” omel Tino sambil memasang sabuk pengaman.
“Elo digaji untuk jadi asisten yang serba bisa karena pendapatan elo udah lebih dari asisten biasa,” sahut Arjuna dengan wajah santai.
“Awas elo berdua uwu-uwu di belakang, gue turun nih di tengah jalan.”
“Fokus aja sama jalanan dan nggak usah lihat-lihat spion tengah,” ledek Arjuna.
Tino mendengus kesal dan perlahan membawa mobil meninggalkan parkiran cafe. Di depan pintu cafe terlihat Riana mengepalkan tangannya sambil menatap mobil Arjuna berlalu meninggalkannya. Sekarang dia harus pulang dengan sopir yang mengikuti mobil Arjuna saat pergi ke tempat ini.
“Boleh ya nanti malam,” bisik Arjuna pelan di telinga Cilla membuat bulu kuduk Cilla meremang karena geli.
Cilla melirik dengan wajah jutek untuk menutupi debaran jantungnya yang tidak karuan. Antara siap dan tidak memenuhi tugasnya sebagai istri. Antara cemas dan ingin tahu bagaimana rasanya malam pertama.
Cilla mengeluarkan handphone yang bergetar dari dalam tasnya, begitu juga Arjuna mengambil handphone dari saku kemejanya.
“Om Budi ?” Cilla bergumam sambil mengerutkan dahi.
“Halo, Pa,” Arjuna langsung mengangkat panggilan teleponnya saat melihat nama papa Arman di layar.
“Halo, Om,” suara Cilla sedikit bergetar saat menerima panggilan dari asisten papi Rudi.
Cilla dan Arjuna saling menatap sesaat setelah mendengar ucapan papa Arman dan om Budi dengan wajah tegang.
“No, nggak jadi ke kantor Darmawan Grup. Langsung ke rumah sakit Pratama aja,” pinta Arjuna lada Tino.
Tanpa banyak bertama, Tino mengangguk sambil melirik Cilla dan Arjuna dari spion tengah. Wajah keduanya terlihat tegang sekaligus cemas.
Arjuna meraih tangan Cilla dan menggenggamnya dengan erat, mencoba menenangkan Cilla yang terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
“Ada Mas Juna di sini,” bisik Arjuna saat merengkuh Cilla ke dalam pelukannya.